<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020</id><updated>2011-04-21T15:02:52.374-07:00</updated><category term='MANAJEMEN KURIKULUM'/><category term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><category term='EVALUASI PENGAJARAN'/><category term='MANAJEMEN KESISWAAN'/><category term='MANAJEMEN TENAGA KEPENDIDIKAN'/><category term='PEMBIAYAAN PENDIDIKAN'/><category term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>chandra_krenz!blog's</title><subtitle type='html'>semoga blog ini dapat bermanfaat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>110</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-4876269727427984028</id><published>2009-05-18T00:29:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:30:08.023-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Perpustakaan Keliling Masuk Daerah Terpencil</title><content type='html'>06 Februari 2008 08:04&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanjungpinang- Pemerintah Provinsi Kepri, menerima 2 unit mobil dari pemerintah pusat (4/02). Mobil itu terdiri dari 1 unit untuk perpustakaan keliling, serta 1 unit lagi dari Departemen Kominfo buat penunjang operasional biro humas dan protokol Setdaprov Kepri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerahan dilakukan Kepala Perpustakaan Nasional RI (PNRI) Dady P Rachmananta dan Kepala Kominfo Syofyan Tanjung yang diterima langsung Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah. Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah mengatakan, khusus bantuan mobil perpustakaan keliling dan buku-buku bagi perpustakaan umum harus diprioritaskan pada wilayah terpencil dan jauh dari mobilisasi umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini lanjutnya masyarakat masih banyak butuh buku bacaan. Dibanding jumlah penduduk Provinsi Kepri yang mencapai 1,3 juta jiwa, penyediaan buku bacaan masih sekitar 29 ribu jenis judul buku. Idealnya, Provinsi Kepri punya sekitar 100 ribu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait hal ini, Ismeth berencana mewacanakan gerakan mencari buku. Upaya ini perlu digalakkan agar penyediaan buku di Kepri memadai. ”Kita tentu perlu menggalakkan gerakan mencari buku. Tak saja kalangan pegawai, lapisan masyarakat juga harus melakukan,” tutur Ismeth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Perpustakaan Nasional RI (PNRI) Dady P Rachmananta mengatakan, bantuan mobil pustaka keliling merupakan kepedulian pemerintah dalam upaya meningkatkan program wajib belajar. Kantor perpustakaan sebagai leading sector harus berperan maksimal memacu semangat generasi muda. Sasaran alokasi, antara lain daerah terpencil dan jauh dari mobilisasi umum. Kehadiran mobil pustaka keliling diharapkan mampu memberikan semangat warga untuk gemar membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dady P Rachmananta menyebut, alokasi bantuan mobil perpustakaan keliling dan buku-buku bagi perpustakaan umum kabupaten/kota se-Indonesia bersumber dana APBN Tahun Ajaran 2007. Jumlahnya sebanyak 50 unit. Tiap kabupaten/kota yang terpilih menerima hanya kebagian jatah 1 unit. Pengadaan mobil telah dilengkapi sekitar 1.606 judul buku bacaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya minta mobil pustaka keliling jangan disalahgunakan. Jika di lapangan ada yang tak melaksanakan, kita akan beri sanksi tegas pimpinannya. Program wajib belajar dan gemar membaca harus terealisasi hingga ke pelosok,” ujar Dady P Rachmananta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2003 hingga 2008, pemerintah pusat telah mengalokasikan bantuan mobil pustaka keliling plus pengadaan buku bacaan sebanyak 202 unit. Jumlah ini katanya masih sangat minim karena banyak daerah belum kebagian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan tersebut, Dady P Rachmananta memberi pujian pada Provinsi Kepri karena dinilai paling berhasil menggalakkan program gemar membaca. Kontan, puluhan Kepala Kantor perpustakaan dan arsip daerah se-Indonesia, yang menghadiri memberikan aplous. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hanya Provinsi Kepri yang berhasil menggalakkan mobil pustaka keliling. Upaya gemar baca dilakukan secara luas. Saya berharap, pemerintah provinsi lain, mengikuti jejak Provinsi Kepri,” ujar Dady P Rachmananta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Provinsi Kepri dalam menggalakkan minat baca, Dady P Rachmananta memberi penjelasan, karena hanya Kepri yang mau menambah pengadaan mobil pustaka keliling bersumber APBD. Hal inilah katanya tujuan semula pemerintah pusat mengalokasikan bantuan mobil pustaka keliling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Batam Pos&lt;br /&gt;Kredit foto : www.pnri.go.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://melayuonline.com/news/?a=Z291Vi91UGlaM1ZBY2E%3D=&amp;l=perpustakaan-keliling-masuk-daerah-terpencil&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-4876269727427984028?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/4876269727427984028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/perpustakaan-keliling-masuk-daerah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/4876269727427984028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/4876269727427984028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/perpustakaan-keliling-masuk-daerah.html' title='Perpustakaan Keliling Masuk Daerah Terpencil'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-5155145665658201197</id><published>2009-05-18T00:25:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:28:37.131-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN LINGKUNGAN  PERPUSTAKAAN SEKOLAH</title><content type='html'>Tahun 2008 Bagaimana? &lt;br /&gt;Pada tahun 1998-2000 kami melaksanakan penelitian untuk meningkatkan mutu peran teknologi dalam pelajaran bahasa di Sekolah Menengah Umum. Kami mengujungi ratusan sekolah di pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Salah satu hal yang sangat terkait dengan pengembangan teknologi dan bahasa adalah fasilitas dan sumber bahan bahasa yang ada di perpustakaan sekolah. Apakah perpustakaan sekolah anda seperti perpustakaan di foto?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian kami delapan faktor muncul yang sangat mengagetkan: &lt;br /&gt;1. Biasanya tidak ada siswa-siswi di dalam perpustakaan. &lt;br /&gt;2. Perpustakaannya hanya buka pada jam kelas (paling tambah 15 minet). &lt;br /&gt;3. Guru-guru tidak secara rutin menyuruh siswa-siswi dalam jam kelas ke perpustakaan untuk tugas, mencari informasi atau solusi sendiri. &lt;br /&gt;4. Jelas, guru-guru tidak dapat minta siswa-siswi mencari informasi di perpustakaan di luar jam kelas karena perpustakaannya tidak buka. &lt;br /&gt;5. Guru-guru sendiri jarang kunjungi perpustakaan, dan kurang tahu isinya. &lt;br /&gt;6. Seringkali pengelola perpustakaan adalah guru yang juga jarang ada di perpustakaan. &lt;br /&gt;7. Pada umum, pengelola perpustakaan kelihatannya tidak mempromosikan perpustakaannya (atau berjuang untuk meningkatkan minat baca) secara aktif dan kreatif. &lt;br /&gt;8. Lingkungan sekolah (termasuk rakyat) kurang aktif membangunkan perpustakaan. &lt;br /&gt;Sebenarnya Perpustakaan Sekolah Begini Hanya Sebagai "Gudang Buku" !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan ini belum merubah di kebanyakan sekolah sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Perpustakaan Seharusnya Sebagai "Jantung Sekolah".&lt;br /&gt;Banyak siswa-siswi belajar dalam keadaan sulit di rumah, karena tempatnya sempit, ada adik-adik yang suka menggangu, mereka sering harus belajar di meja makan sesuai dengan waktu tidak dipakai, mereka tidak dapat belajar bersama teman-teman sekelas, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perpustakaan sekolah tidak buka satu sampai dua jam setelah jam kelas? Misalnya tutup jam 3 atau 3.30. Dari pengalaman kami alasan-alasan yang muncul adalah banyak! Masalah yang disebut termasuk; biaya karyawan, sekuriti, kendaraan untuk siswa, dll. Tetapi tidak ada alasan sebenarnya, dan untungannya untuk siswa-siswi kalau buka adalah banyak! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan juga sangat cocok untuk sebagai tempat di mana siswa-siswi dapat mengakses sumber-sumber informasi di Internet di luar jam kelas karena di awasi (melindungi siswa-siswi dari situs, kekerasan, porno, dll), dan siswa-siswi dapat dibantu oleh pustakawan/wati tanpa kebutuhan staf khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering perpustakaan diurus oleh karyawan Tata Usaha (TU). Kita hanya perlu salah satu staf TU yang masuk 2 jam lebih siang dan pulang 2 jam lebih sore, tidak kena biaya. Kalau ada staf perpustakaan yang khusus - dibuat shift saja. Seringkali masuk lebih siang dan pulang lebih sore adalah keadaan yang cocok untuk anggota staf tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kami melihat, di kebanyaan sekolah staf sekuriti sudah bertugas sampai sore. Kalau tidak, sistem shift juga dapat dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau masalahnya ada kendaraan, ini dapat dinegosiasi oleh staf sekolah. Biasanya bisnis dari siswa-siswi sekolah adalah sangat penting kepada perusahaan kendaraan, supir angkot, tukang becak, atau tukang ojek, dan mereka akan fleksibel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami belum membahas hal "jumlah atau jenis koleksi buku", yang biasanya sangat kurang. Tetapi selama perpustakaan sekolah hanya sebagai "gudang buka" jumlah buku dan peraturan buku (Sistem/Katalog) tidak termasuk hal-hal utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus berjuang untuk mengatasi isu-isu (1-8 di atas yang tidak kena biaya) dan meningkatkan minat, kesempatan, dan kebiasaan baca. Kalau belum, perpustakaannya akan gagal sebagai jantung sekolah. Kebiasaan baca adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan kita terus selama hidup (lifelong learning). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perpustakaan Online" tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku di perpustakaan sekolah dapat dipinjam dan dibaca kapan saja, di mana saja (di becak, di tempat tidur), dan buku-buku perpustakaan sekolah dapat "diakses oleh semua siswa-siswi secara adil". Ayo, membangun perpustakaan sekolah yang lengkap dengan akses di luar jam kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERPUSTAKAAN LINGKUNGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Community Libraries) &lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu kami membaca salah satu 'contoh aktivitas menulis' untuk ujian bahasa Inggris yang sebagai standar bahasa Inggris internasional: "Discuss the benefits and weaknesses of your local library" (Membahas keuntungan dan kekurangan perpustakaan lokal anda). Ujian ini disebut adalah 'bebas dari "bias" (pengaruh) kebudayaan'. Tetapi waktu kami mencoba bertanya beberapa orang Indonesia "Di mana perpustakaan lokal anda?" tidak ada satupun yang dapat menjawab. Perpustakaan Lokal (Lingkunan) atau "Community Libraries" kelihatannya tidak ada, atau kalau ada masyarakat secara umum tidak menggunakan perpustakaan-perpustakaan itu sampai tidak tahu di mana perpustakaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pertanyaan begini dapat muncul di ujian internasional? &lt;br /&gt;Secara internasional perpustakaan lingkungan sebagai kebiasaan, termasuk di negara yang sedang berkembang. Kalau begitu, mengapa masyarakat tidak biasa menggunakan perpustakaan lingkungan di Indonesia. Mengapa perpustakaan lingkungan yang biasannya sebagai pusat untuk informasi lingkungan dan sumber pinjam buku-buku gratis tidak sebagai hal penting di Indonesia? Di mana masyarakat dapat pinjam buku-buku gratis, bagaimana mereka dapat terus meningkatkan pengetahuan dan pendidikannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti perpustakaan sekolah, dan di luar negeri begitu, perpustakaan lokal dapat sebagai sumber akses ke Internet untuk masyarakat yang murah yang menyediakan bantuan karyawan yang sudah akli mencari informasi, di banding dengan warnet biasa di mana staf biasannya tidak berpendidikan tinggi atau memiliki keaklian mencari informasi. &lt;br /&gt;PERPUSTAKAAN ONLINE&lt;br /&gt;(Perpustakaan Digital) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kami sudah menyebut di atas: 'Perpustakaan Online tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis". Ref: Buku Sekolah Elektronik (BSE). &lt;br /&gt;Ref: "Kebijakan buku elektonik (e-book) dinilai tidak efektif" (Forum Guru FGII) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Online adalah lebih cocok untuk mahasiswa-mahasiswi supaya mereka dapat mencari dan pesan buku di perpustakaan kampus mereka (yang koleksi buku besar). Perpustakaan Online juga bagus untuk mahasiswa-mahasiswi yang melaksanakan penelitian dan mencari sumber dan "reference" secara luas di kampus-kampus lain, di perpustakaan tingkat nasional, atau di perpustakaan di luar negeri. &lt;br /&gt;http://pendidikan.net/perpustakaan.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-5155145665658201197?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/5155145665658201197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/perpustakaan-sekolah-dan-lingkungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5155145665658201197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5155145665658201197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/perpustakaan-sekolah-dan-lingkungan.html' title='PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN LINGKUNGAN  PERPUSTAKAAN SEKOLAH'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-6838986239649271863</id><published>2009-05-18T00:24:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:25:18.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Pendidikan Masih Tertinggal, Syafrizal: Sarana dan Prasarana Masih Minim</title><content type='html'>Wednesday, 01 August 2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan merupakan salah satu sektor yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Dengan meningkatnya mutu pendidikan di satu daerah maka akan lahir SDM berkualitas yang akan menjadi motor penggerak pembangunan. Di bidang pendidikan, Kabupaten Solok Selatan masih tertinggal dibanding daerah lainnya di Sumbar, baik dibidang infrastruktur maupun mutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan pendidikan di Solok Selatan ini diungkapkan Bupati Solok Selatan Syafrizal J, Jumat (27/7) saat menerima kunjungan kerja rombongan direktorat Jenderal (Dirjen) Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK). Rombongan Dirjen PMPTK ini terdiri dari 3 Kepala PPPPTK dan 1 orang Kasubdit, yaitu Hery Sukarman, MSc (IPA Bandung), Dr. Muhammad Hatta (Bahasa Jakarta), Drs. Kasman (Matematika Yogyakarta), Ir. Hendarman, MSC, Ph.A (Kasubdit program direktorat pendidikan dan pelatihan).Dalam paparannya Syafrizal mengatakan, permasalahan pendidikan di Solok Selatan masih berkutat oleh masih minimnya sarana dan prasarana. Selain itu Solok Selatan juga masih kekurangan dibidang tenaga pengajar, “Permasalahan kekurangan sarana dan tenaga pengajar ini tentunya berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan, dan kami berharap dengan kedatangan rombongan Dirjen PMPTK maka persoalan bidang pendidikan di Solok Selatan ini dapat menjadi bahan bagi Departemen Pendidikan Nasional untuk diprioritaskan penyelesaiannya,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan tenaga dibidang pendidikan ini menurut Syafrizal, antara lain tenaga kependidikan untuk tata usaha, pengolah data (computer), pustakawan dan tenaga labor. Sementara itu pada bangunan fisik seperti labor dan ruang perpustakaan juga serba kekurangan. Untuk tingkat SLTA dari 12 SLTA yang ada belum satupun yang memiliki perpustakaan yang representative termasuk peralatannya. Pada tingkat SLTP, dengan jumlah sekolah sebanyak 28 buah juga belum dengan perpustakaan.Sedangkan di SMK yang terdiri dari beberapa rumpun diantaranya teknologi, pertanian, peternakan, administrasi, masih banyak kekurangan sarana pembelajaran untuk pendukung seperti peralatan labor, alat praktek dan lain-lain. Sarana lain untuk peningkatan mutu seperti ketersediaan labor biologi, kimia, fisika dan computer masih banyak sekolah yang belum memilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang bangunan fisik, juga masih memerlukan perbaikan dan penyelesaian rehabilitasi gedung sekolah. Sementara kita terus dituntut untuk menuntaskan wajar 9 tahun peningkatan kwalifikasi guru, pendidikan luar sekolah (PLS), pendidikan anak usia dini (PAUD) dan penuntasan buta aksara. Semua ini merupakan prioritas penting dan penyelesaian persoalan di dunia pendidikan. Kunjungan kerja rombongan Dirjen tersebut dihadiri oleh kurang lebih 424 orang kepala sekolah TK, SD, SMP, SMA serta kepala UPTD Pendidikan dan pengawas Bupati berharap ketertinggalan kabupaten Solok Selatan dibidang pendidikan ini, dapat dijadikan cambuk bagi stakeholder yang berperan dalam menan gain masalah pendidikan terutama dinas pendidikan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salamat, SHi, Ketua Komisi B DPRD Solok Selatan Kelola Dengan Tenaga Yang Berkompeten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BELUM kompetitifnya bidang pendidikan Solok Selatan saat ini bukan hanya disebabkan oleh masih minimnya sarana prasarana dan kurangnya tenaga pengajar. Tapi juga disebabkan oleh manajereal bidang pendidikan yang belum maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terbukti dengan pengelolaan anggaran yang masih sering lamban dan pengelolaan data base kepegawaian bidang pendidikan yang masih kurang baik.Dalam pendataan ini dinas pendidikan seharusnya telah memiliki data yang valid dengan pola up to date yang terencana. Sehingganya, pemetaan kepegawaian bisa terpantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini bisa dilaksanakan dengan baik maka tidak ada lagi penumpukan tenaga guru di satu sekolah, sedangkan sekolah yang lain kekurangan. Dalam program pembangunan yang melalui proses tender, proyek-proyek pembangunan fisik masih juga terdapat proyek terbengkalai. Terbengkalainya pembangunan fisik tak hanya kesalahan dari para kontraktor tetapi juga dari sistem pengawasan yang lemah. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah dalam setiap kegiatan, diharapkan kepada pihak eksekutif yang berwenang mengambil kebijakan untuk dapat menempatkan pimpinan kegiatan yang berkompeten dibidangnya. (mg6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.solok-selatan.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=669&amp;Itemid=1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-6838986239649271863?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/6838986239649271863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-masih-tertinggal-syafrizal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6838986239649271863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6838986239649271863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-masih-tertinggal-syafrizal.html' title='Pendidikan Masih Tertinggal, Syafrizal: Sarana dan Prasarana Masih Minim'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-1337267657888568460</id><published>2009-05-18T00:23:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:24:21.956-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Laboratorium Sekolah Autisme UM Gelar Seminar Nasional "Berdayakan ABK dan Autisme"</title><content type='html'>Selasa, 18 Maret 2008 00:27:23 - oleh : redaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Berkebutuhan khusus (ABK) dan autisme yang selama ini sudah mendapatkan layanan pendidikan dalam sekolah inklusif kini bisa bernafas lega. Mereka diperbolehkan menempuh pendidian di sekolah reguler. Sejak tahun ajaran 2008/2009, sekolah reguler (umum) mulai dari jenjang TK, SD, SMP maupun SMA mulai membuka ruang bagi anak ABK dan autisme. &lt;br /&gt;Kebijakan ini untuk mempercepat proses sosialisasi dan komunikasi kehidupan ABK dan autisme selayaknya kehidupan anak pada umumnya. “Dengan kebijakan ini, ABK dan autisme, bisa berkembang dan berprestasi sesuai dengan bakat mereka masing-masing. Bahkan bila bakat mereka terus diasah, prestasinya melebihi anak pada umumnya,” tutur Kepala Sekolah Autisme Laboratorium Universitas Negeri Malang, Sudarmi Syafii, SPd.&lt;br /&gt;Sudarmi bahkan membawa bukti. “Di SD Sumbersari 1, dua anak yang dulunya menyandang status ABK dan autisme, kini malah bisa menyabet ranking 1 dan 3 di kelasnya masing-masing. Ini membuktikan bahwa sebetulnya anak ABK dan autisme sama dengan anak pada umumnya,” terangnya. &lt;br /&gt;Hanya saja, tujuan mulia ini tidak akan terealisasi jika tidak diiringi dengan dukungan dan pemahaman sinergis yang baik antar stakeholders tentang penanganan terbaik terhadap ABK dan autisme. &lt;br /&gt;Demi menyukseskan agenda besar tersebut, Sekolah Autisme laboratorium Universitas Negeri Malang bekerja sama dengan Bapemas Propinsi Jawa Timur yang didukung oleh KSDP FIP Universitas Negeri Malang serta Advokasi Gender Universitas Negeri Malang menggelar seminar nasional. Seminar ini bertema “Peningkatan Profesionalisme Guru dalam Penanganan Sex Education di Usia Sekolah dan Pemberdayaan Anak Berkebutuhan Khusus” di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang Jl. Semarang Malang.&lt;br /&gt;Menurut perempuan yang juga istri dari mantan Rektor UM itu, sedikitnya ada lima tujuan pokok dalam seminar yang dilangsungkan pada Sabtu 22 maret 2008 itu. Pertama, meningkatan pengetahuan dan pemahaman guru serta masyarakat tentang layanan pendidikan bagi ABK. Kedua, memberikan pengetahuan tentang kiat menanggulangi atau menyiapkan anak/siswa ABK menjelang remaja. Ketiga, membangun sistem pamong yang sejahtera lahir dan batin, baik pada sekolah regular (mainstream) maupun sekolah khusus. Keempat, memberikan pemahaman terhadap masyarakat umum tentang layanan Pendidikan ABK. Kelima, memberikan tambahan wacana, masukkan kepada pengambil kebijakan pendidikan tentang kebutuhan ABK. Keenam, memberikan pengetahuan kepada masyarakat umum dan guru dari jenjang TK sampai SMA.&lt;br /&gt;Acara itu sendiri akan dihadiri beberapa tokoh penting dan representatif dalam membincangkan ABK dan autisme. Di antaranya, dalam materi yang bertajuk “Pemberdayaan ABK di Usia Remaja dan Dewasa” akan diampu oleh Dr Soenyono, SH, MSi yang sekarang menjabat sebagai Kepala Bapemas propinsi Jawa Timur. Kemudian Kasubdit Program Dit. PSLB, Ir. Winarno Sutrisno, MM akan berbicara banyak mengenai materi “perencanaan dan pengembangan direktorat PSLB dalam layanan Pendidikan ABK. Sedang materi “Edukasi Seksual bagi Anak Usia Sekolah” akan dibahas tuntas dokter spesialis kejiwaan anak dan remaja, Dr dr Sasanti Yuniar, SpKj.&lt;br /&gt;Yang ingin mengikuti seminar ini, kata Sudarmi, hanya dikenakan biaya Rp 75 ribu untuk mahasiswa dan Rp. 100 ribu untuk umum. Peserta akan mendapat map, makalah, sertifikat, snack dan makan siang. &lt;br /&gt;Seminar ini sangat cocok untuk para guru (SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB, SMK), para terapis ABK, pemerhati pendidikan. Selain itu, orang tua siswa/masyarakat umum, serta mahasiswa jurusan pendidikan juga bisa mengikuti seminar ini. “Bahkan, bagi peserta luar kota Malang, kami menyediakan wisma atau penginapan dengan harga terjangkau”. &lt;br /&gt;Yang masih memerlukan informasi lebih lengkap, silakan saja datang ke Sekretariat di Sekolah Autisme Laboratorium Universitas Negeri Malang Jl. Surabaya 6 Malang dengan telpon (0341) 566523. “Bisa juga menghubungi Bu Atik di 08885586866 dan Luthan di 0811360638 atau 03416364213,” tambah Dr Ruminiyati, MSi selaku ketua panitia. &lt;br /&gt;Ruminiyati juga berharap kegiatan seperti ini perlu didukung terus mengingat masih rendahnya apresiasi positif masyarakat terhadap keberadaan anak ABK dan autisme di kota Malang. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.koranpendidikan.com/artikel-613.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-1337267657888568460?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/1337267657888568460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/laboratorium-sekolah-autisme-um-gelar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1337267657888568460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1337267657888568460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/laboratorium-sekolah-autisme-um-gelar.html' title='Laboratorium Sekolah Autisme UM Gelar Seminar Nasional &quot;Berdayakan ABK dan Autisme&quot;'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-1673483040625019483</id><published>2009-05-18T00:21:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:22:01.652-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Miskonsepsi Buku Ajar Sains di SD</title><content type='html'>Selasa, 17 Februari 2009 19:48:36 - oleh : redaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANIK SUSANTI *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar sains adalah belajar mengenai fakta-fakta kehidupan di alam ini, untuk mengetahui apa, bagaimana, untuk apa dan mengapa akan sangat efektif jika seorang siswa menemukan sendiri melalui pengalamannya untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah konsep dengan diskusi atau penemuan. Konsep sangat dominan berperan dalam sebuah pengajaran karena itu titik yang harus diketahui siswa agar dapat berlanjut ke materi berikutnya. Tidak mungkin bukan kalau kita mengetahui macam-macam sumber daya alam yang dapat diperbaharui ataupun tidak dapat diperbaharui kalau kita belum tahu konsep mengenai sumber daya alam itu sendiri. Pada dasarnya apakah sebuah konsep itu? Setelah saya sempatkan membaca di beberapa buku dan karya ilmiah saya menemukan sebuah definisi yang tidak jauh berbeda. Konsep merupakan dasar bagi proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Untuk memecahkan masalah, seorang siswa harus mengetahui aturan-aturan yang relevan, dan aturan-aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang diperolehnya.&lt;br /&gt;Menurut Rosser (1984), konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut sama. Oleh karena seseorang mengalami stimulus-stimulus (respons) yang berbeda maka konsep yang akan ia bentuk sesuai dengan stimulus yang diterima. Karena konsep merupakan pemikiran yang berdasarkan pengalaman dan tidak ada dua orang yang mempunyai pengalaman yang sama persis. &lt;br /&gt;Kurikulum dan bahan ajar mempunyai peran penting dalam proses belajar mengajar. Kurikulum dijadikan sebagai pedoman, sedang buku teks pelajaran sebagai salah satu sumber bacaan. Meski buku teks sains untuk SD sudah dibuat sesuai kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP), namun masih ditemukan beberapa kesalahan yang kebanyakan disebabkan oleh kekurang-telitian penulis, penyuntingan, dan pencetakan.&lt;br /&gt;Kesalahan ini bisa membahayakan sebab bisa menyebabkan kesalahan konsep (miskonsepsi). Contoh yang paling sering dijumpai, dalam buku ajar ini amphibi disebut sebagai hewan yang dapat hidup di dua alam misalnya katak. Padahal katak digolongkan ke dalam hewan amphibi karena dalam daur hidupnya mengalami perubahan alat pernafasan dari insang ke paru-paru dan kulit.&lt;br /&gt;Contoh lain disebutkan bila hanya tumbuhan berhijau daun (yang memiliki klorofil) yang mampu melakukan fotosintesis. Padahal beberapa tumbuhan yang kebetulan memiliki zat warna tidak hijau juga mampu melakukan fotosintesis seperti tumbuhan Sirih Merah. Tumbuhan ini memiliki zat warna daun yang disebut redhopil, demikian juga dengan tumbuhan yang memiliki xantophil.&lt;br /&gt;Masih seputar tumbuhan hijau, ada buku ajar sains SD yang menuliskan bahwa klorofil terdapat di daun saja. Padahal dalam sebuah tumbuhan klorofil ini bisa terdapat dimana saja dan menyebar ke seluruh tubuh tumbuhan seperti di batang contoh Bayam dan Kaktus, di buah contoh Pisang dan Semangka jadi zat warna hijau (klorofil) tidak hanya terdapat di daun.&lt;br /&gt;Jika kita beralih pada bab sumber daya alam, akan ditemukan beberapa buku yang menyebutkan bahwa tanah adalah termasuk salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Tanah itu terdiri dari beberapa unsur dan lapisan-lapisan, di mana kesemua bagian memerlukan proses yang yang panjang untuk terbentuk menjadi tanah seperti sekarang.&lt;br /&gt;Ini dapat terjadi karena tanah terbentuk dari bongkahan batu yang melebur yang prosesnya bisa sampai berjuta-juta tahun. Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa tanah tak ubahnya seperti bahan tambang yang harus tetap dipelihara keberadaannya. Sedangkan yang bisa diperbaharui dari tanah adalah kesuburannya yang dapat diupayakan dengan memberi pupuk atau menyiraminya.   &lt;br /&gt;Ada banyak buku yang dapat kita kaji untuk bahan mengajar atau belajar kita, baik sebagai guru maupun siswa. Namun sebagai seorang pendidik sebaiknya kita teliti memilah-milah buku dan penerbit yang baik untuk kita pakai produknya. Dan akan sangat efektif jika seorang guru membuat sendiri modul sebagai bahan pedoman mengajar. Tentu saja dengan menggunakan bahan acuan buku yang bermutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.koranpendidikan.com/artikel/2627/miskonsepsi-buku-ajar-sains-di-sd.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-1673483040625019483?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/1673483040625019483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/miskonsepsi-buku-ajar-sains-di-sd.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1673483040625019483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1673483040625019483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/miskonsepsi-buku-ajar-sains-di-sd.html' title='Miskonsepsi Buku Ajar Sains di SD'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-5497675992405617785</id><published>2009-05-18T00:19:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:20:46.598-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>REVOLUSI TEKNOLOGI HANDPHONE DAN DUNIA PENDIDIKAN KITA</title><content type='html'>Judul: REVOLUSI TEKNOLOGI HANDPHONE DAN DUNIA PENDIDIKAN KITA&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian SEKOLAH / SCHOOLS.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): HIDAYAT RAHARJA, S.Pd. &lt;br /&gt;Saya Guru di SMA NEGERI 1 SUMENEP &lt;br /&gt;Topik: TEKNOLOGI HANDPHONE &lt;br /&gt;Tanggal: 3 DESEMBER 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REVOLUSI TEKNOLOGI HANDPHONE Dan DUNIA PENDIDIKAN KITA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Hidayat Raharja* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi teknologi komunikasi berkembang demikian pesat, selalu mengalami inovasi untuk memenuhi tuntutan kebutuhan manusia, kenyamanan, dan hiburan. Teknologi sebagai hasil aplikasi sains tidak dapat diingkari telah memberikan aneka dampak bagi kehidupan manusia. Dengan aneka bentuk dan produknya teknologi mampu meringankan tugas manusia, serta meniscayakan untuk men ingkatkan kesejahteraan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentangan jarak antar benua berkat kemajuan teknologi selluler dapat diperpendek dengan jalur komunikasi yang sangat luas. Bahkan dengan generasi terbaru - 3G - komunikasi antar personal dapat pula disaksikan wajah antara komunikan dan komunikator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kenyamanan dan melayani kebutuhan Konsumen beberapa produsen memproduksi aneka jenis handphone dengan aneka fasilitas yang disediakan sesuai dengan tuntutan kebutuhan konsumen. Radio FM, Kamera digital, Video, televisi telah teraplikasi dalam perangkat handphone. Kemajuan teknologi yang memanjakan kosnsumennya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan perkembangan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi menjadi sebuah fenomena yang menuntut dan mengharuskan pada stakeholder dan pelaku pendidikan untuk senantiasa mengikuti perkembangan teknologi informasi, serta menerapkannya dalam dunia pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad teknologi, sebuah era yang tidak memungkinkan bagi manusia untuk menghindari dan mengabaikannya. Komputer, LCD / infocus, video, internet, sebagian dari produk teknologi informasi, saat ini bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan, khususnya sebagai media dalam proses pembelajaran di dalam kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasi terhadap fasilitas yang tersaedia dalam perangkat teknologi dan layanan kartu selluler, membuka eksplorasi terhadap luasnya dunia pengetahuan. Perangkat yang mudah didapat dengan aneka fasilitas yang memungkinkan untuk memberikan layanan internal institusi atau lembaga pendidikan, serta antar individu; murid dengan murid, guru dengan murid atau sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangannya Handphone semakin dilengkapi dengan aneka fasilitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan konsumen, kenyamanan, dan kesenangan yang menyenangkan. Aneka fasilitas mulai dari mms, radio fm, internet, tv, mp3, vodeo, kamera digital adalah perkembangan fasilitas yang diaplikasikan dalam perangkat handphone. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini aneka fasilitas yang teraplikasi dalam peramghkat handphone, masih digujnakan sebatas hiburan untuik mengisi waktu senggang, dan semacamnya. Persepsi yang kemudian memunculkan stigma negatif terhadap handphone di dunia pendidikan. Handphone selalu dikonotasikan membawa dampak negatif bagi kehidupan remaja atau pelajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hal dalam sebuah survey kecil dalam sebuah acara tlkshow di metrotv yang mengundang beberapa kalnangan dari berbagai profesi, ternyata yang membuka gambar porno lewat handphone juga dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga dan beberapa kalangan profesional,, di samping juga disitu terungkap beberapa pelajar melihat foto porno bukan karena kehendaknya, tetapi dikirimi temannya, karena fasilitas handphone yang memungkinkan untuk menerima kiriman semacam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas yang tersedia dalam layanan selluler , merupakan pisau bermata dua ; bermanfaat jika arif dan bijak dalam memanfaatkannya, sekaligus mencelakakan jika lalai terhadap dampak yang ditimbulkannya. Semisal; pertama betapa banyak korban yang tertipu layanan sms berhadiah. Kecerobohan yang disebabkan kehilangan akal sehat, ingin mendapatkan sesuatu (hadiah) tanpa harus bersusah payah. Kondisi yang kemudian dmanfaatkan para pemilik modal dengan memanfaatkan artis, agamawan, tukang ramal (paranormal) untuk memberikan layanan sms melalui call sentre dengan tarif yang mahal atau tak wajar, antara Rp.2.000 - 3.000 / sms. Anehnya tawaran semacam itu masih banyak pengkikutnya, penanda makin kuatnya instansi kehidupan dalam sebuah gaya hidup skeptis dan fragmatis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tidak sedikit waktu guru terbuang di kelas saat melaksanakan pembelajaran karena sibuk ber sms dengan seseorang dan bahkan menerima panggilan di saat mengajar di kelas. Sebuah lanskap yang kurang etis dipandang dari sudut pendidikan etika, karena guru memberikan contoh yang tidak baik. Sebaiknya saat aktif mengjaar di kelas handphone harus dalam keadaan non aktif (off) atau kalau pun aktif memakai sinyal getar dan menjawab panggilan dilakukan di luarv kelas denganb meminta ijin terhadap kelas yang ditinggalkan. Sayang, memang kalau teknologi komunikasi yang masuk ke dalam ruang belajar tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas dan efektifitas pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan sangat berbeda apabila fasilitas layanan short message service (SMS) dipergunakan untuk memberikan layanan bagi peserta didik untuk melakukan remedial atau perbaikan pembelajaran yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/hidayat1208.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-5497675992405617785?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/5497675992405617785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/revolusi-teknologi-handphone-dan-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5497675992405617785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5497675992405617785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/revolusi-teknologi-handphone-dan-dunia.html' title='REVOLUSI TEKNOLOGI HANDPHONE DAN DUNIA PENDIDIKAN KITA'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-983195818310770608</id><published>2009-05-18T00:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:19:52.284-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>memfungsikan laboratorium komputer sebagai laboratorium bahasa</title><content type='html'>Memiliki laboratorium bahasa terutama laboratorium bahasa yang mendukung Audio Visual untuk mendukung pembelajaran bahasa (terutama bahasa asing) bagi siswa merupakan impian bagi semua sekolah, terlebih bagi guru bidang mata pelajaran bahasa. Namun sayang karena biaya untuk pengadaan perangkat laboratorium bahasa sangat mahal maka tidak semua sekolah dapat memiliki laboratorium bahasa. Namun sebenarnya dengan teknologi jaringan komputer khususnya teknologi Voice Over Internet Protocol (VoIP) laboratorium komputer dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa. Sebagaimana kita ketahui dijadikannya teknologi informasi dan komputer (TIK) sebagai mata pelajaran wajib di sekolah mulai dari jenjang SMP maka hampir semua sekolah memiliki laboraotrium komputer. Oleh karena itu memiliki laboratorium bahasa sebenarnya bukan hanya impian bagi semua sekolah, tapi merupakan hal yang sangat mudah dimiliki.&lt;br /&gt;Agar laboratorium komputer dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa maka laboratorium komputer harus terhubung dalam suatu jaringan (LAN / Local Area Network), kemudian diperlukan juga software untuk mendukung VoIP, dan headset (Microphone dan Headphone) pada setiap komputer. Jika laboratorium komputer di sekolah belum terhubung (belum di-LAN-kan) maka sekolah perlu menyediakan perangkat jaringan yaitu :&lt;br /&gt;- LANCard untuk setiap komputer&lt;br /&gt;- Connector RJ45 (2 buah per komputer)&lt;br /&gt;- Kabel UTP&lt;br /&gt;- Hub / Switch&lt;br /&gt;Biaya untuk pengadaan perangkat ini tidak terlalu besar, yakni LANCard harganya sekitar Rp. 50.000,00/buah, RJ45 Rp. 1.500,00/buah, Kabel UTP sekitar Rp. 2.500,00/meter, dan Hub/Switch harganya berkisar antara Rp. 300.000,00 s/d Rp. 700.000,00. Setelah tersedia perangkat-perangkat jaringan maka sekolah dapat memasang jaringan dengan menggunakan jasa orang yang ahli dalam pemasangan jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika komputer-komputer di laboratorium sudah terhubung dalam LAN, maka selanjutnya tinggal memasang perangkat lunak untuk mendukung VoIP. Terdapat banyak perangkat lunak untuk mendukung VoIP yang dapat di-download di internet seperti Ventrilo, SpeakFreely, Netphone, dsb. Setelah perngkat lunak tersebut dipasang pada setiap komputer maka laboratorium komputer kini dapat difungsikan sebagai laboratorium bahasa.&lt;br /&gt;Beberapa perangkat lunak menyediakan fasilitas yang dapat memfungsikan sebuah komputer sebagai Server yang dapat mengelola komunikasi komputer yang lainnya, misalnya Ventrillo. Ventrillo juga menyediakan fasilitas “Teks to Speak”, yaitu suatu komputer (pengguna) mengirim pesan dalam bentuk teks kepada komputer lainnya. Tapi komputer penerima menerimanya sebagai pesan suara (Voice).&lt;br /&gt;Untuk melengkapi kecanggihan laboratorium bahasa maka pada setiap komputer juga dapat dipasang program pembelajaran bahasa, seperti Learn to Speak English atau Tell Me More. Kedua program ini memiliki banyak fitur untuk belajar Bahasa Inggris. Salah satunya kemampuan untuk memeriksa ketepatan ucapan pengguna dibandingkan dengan Native Speaker.&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat, selamat mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ventrilo dapat didownload di http://www.ventrilo.com .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://asepsuhendar.wordpress.com/2007/12/16/memfungsikan-laboratorium-komputer-sebagai-laboratorium-bahasa/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-983195818310770608?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/983195818310770608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/memfungsikan-laboratorium-komputer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/983195818310770608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/983195818310770608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/memfungsikan-laboratorium-komputer.html' title='memfungsikan laboratorium komputer sebagai laboratorium bahasa'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-5744772387373935928</id><published>2009-05-18T00:16:00.001-07:00</published><updated>2009-05-18T00:16:57.173-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Layanan Komunikasi Total bagi Tunagrahita</title><content type='html'>Judul: Layanan Komunikasi Total bagi Tunagrahita&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Tarmansyah, Sp.Th, M.Pd. SEN &lt;br /&gt;Saya Dosen di PLB FIP Universitas Negeri Padang &lt;br /&gt;Topik: Special Need Education &lt;br /&gt;Tanggal: 29 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep dasar komunikasi total bagi tunagrahita, membahas tentang pengertian dan proses komunikasi secara umum sebagai pola pengembangan komunikasi bagi tuna grahita digunakan model komunikasi shane. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan tentang istilah komunikasi total yang membedakan antara sistem komunikasi tunarungu dengan sistem komunikasi tunagrahita. Selanjutnya diuraikan mengenai aspek interaksi, aspek ekspresi dan aspek pragmatis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan dengan cara tingkatan non-linguistis, kemungkinan-kemungkinan komunikasi pada penyandang tuna grahita yang mengalami gangguan berat dalam berkomunikasi. Dalam kajian ini membahas tentang tunagrahita, sebab-sebab kesulitan dalam berkomunikasi. Pemeriksaan khusus sifat kesulitan antara lain mengenai kemampuan pendengaran. Pemeriksaan tingkat kognitif, komunikasi resetif dan ekspresif, aspek pragmatis dalam berkomunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian selanjutnya tentang cara-cara menggunakan sistem visual, sistem komunikasi visual, macam-macam komunikasi visual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan sistem komunikasi total. Dalam kajian ini dibahas bagaimana memilih komunikasi yang paling tepat untuk masing-masing klien dengan gangguan komunikasinya. Selanjutnya dibahas jenis-jenis klien yang membutuhkan bantuan komunikasi total terdiri dari 3 kelompok. Terapi komunikasi membahas model-model layanan komunikasi dalam hal kajian ini di bahas 2 model layanan. Sebagai upaya menetapkan suatu diagnosa kelainan komunikasi di sajikan penafsiran formulir skrining gangguan komunikasi. Untuk latihan mendiagnosa jenis kelainan komunikasi bagi tunagrahita di tampilkan beberapa macam kasus klient dengan berbagai macam jenis gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/tarmansyah1208.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-5744772387373935928?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/5744772387373935928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/layanan-komunikasi-total-bagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5744772387373935928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5744772387373935928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/layanan-komunikasi-total-bagi.html' title='Layanan Komunikasi Total bagi Tunagrahita'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-5077940276746429855</id><published>2009-05-18T00:15:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:16:05.183-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Pengelolaan Alat Bermain dan Sumber Belajar</title><content type='html'>Judul: Pengelolaan Alat Bermain dan Sumber Belajar&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Trimo, S.Pd.,MPd. &lt;br /&gt;Saya Dosen di IKIP PGRI Semarang &lt;br /&gt;Topik: ABSB &lt;br /&gt;Tanggal: 8 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGELOLAAN ALAT PERMAINAN DAN SUMBER BELAJAR DI TAMAN KANAK-KANAK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Trimo, S.Pd.,M.Pd. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Taman pada Taman Kanak-Kanak mengandung makna tempat yang nyaman untuk bermain. Berdasarkan makna dimaksud, maka pelaksanaan program kegiatan belajar harus menciptakan suasana nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga pembelajaran tidak seperti di Sekolah Dasar. Oleh karena itu guru TK harus memperhatikan kematangan atau tahap perkembangan anak didik, kesesuaian alat bermain serta metode yang digunakan. Selain itu, guru juga harus mempertimbangkan waktu, tempat serta teman bermain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak didik. Sebelum bersekolah, bermain merupakan cara alamiah untuk menemukan lingkungan, orang lain, dan dirinya sendiri. Pada prinsinya, bermain mengandung rasa senang dan tanpa paksaan serta lebih mementingkan proses dari pada hasil akhir. Perkembangan bermain sebagai cara pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan umur dan kemampuan anak didik, yaitu berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih besar) menjadi belajar sambil bermain (unsur belajar lebih banyak). Dengan demikian, anak didik tidak akan canggung lagi menghadapi cara pembelajaran di tingkat-tingkat berikutnya (Depdikbud, 1999:3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan bermain, itulah sebetulnya proses belajar-mengajar yang diharapkan di dunia pendidikan TK. Namun demikian, realitas di lapangan, ada kecenderungan proses belajar-mengajar pada anak-anak TK sudah berubah menjadi pembelajaran Sekolah Dasar kelas I (satu). Hal ini berarti, proses belajar-mengajar di TK identik dengan SD kelas satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses perkembangan anak melalui bermain, akan ditemukan istilah sumber belajar (learning resources) dan alat permainan (educational toys and games). Mayke (1966) mengatakan bahwa belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembang-kan imajinasi pada anak. Pemahaman mengenai konsep bermain sudah barang tentu akan berdampak positif pada cara guru dalam membantu proses belajar anak. Pengamatan ketika anak bermain secara aktif maupun pasif, akan banyak membantu memahami jalan pikiran anak dan akan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat bermain guru perlu mengetahui saat yang tepat untuk melakukan atau menghentikan intervensi. Apabila guru tidak memahami secara benar dan tepat, hal itu akan membuat anak frustasi atau tidak kooperatif dan sebaliknya. Melalui bahasa tubuh si anak pun kita sudah dapat mengetahui kapan mereka membutuhkan kita untuk melakukan intervensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Konsep Sumber Belajar dan Alat Permainan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AECT menguraikan bahwa sumber belajar meliputi: pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan. Komponen-komponen sumber belajar yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar dapat dibedakan dengan dengan cara yaitu dilihat dari keberadaan sumber belajar yang direncanakan dan dimanfaatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber belajar adalah bahan termasuk juga alat permainan untuk memberikan informasi maupun berbagai keterampilan kepada murid maupun guru (Sudono, 2000:7). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamalik (1994:195), menyatakan bahwa sumber belajar adalah semua sumber yang dapat dipakai oleh siswa, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan siswa lainnya, untuk memudahkan belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudhofir (1992:13) menyatakan bahwa yang termasuk sumber belajar adalah berbagai informasi, data-data ilmu pengetahuan, gagasan-gagasan manusia, baik dalam bentuk bahan-bahan tercetak (misalnya buku, brosur, pamlet, majalah, dan lain-lain) maupun dalam bentuk non cetak (misalnya film, filmstrip, kaset, videocassette, dan lain-lain). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan guru maupun siswa dalam mempelajari materi pelajaran, sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam Sumber Belajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AECT menguraikan bahwa sumber belajar meliputi: pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan. Komponen-komponen sumber belajar yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar dapat dibedakan menjadi dua, yakni sumber belajar yang sengaja direncanakan dan sumber belajar yang dimanfaatkan. Penjelasan kedua hal tersebut sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sumber belajar yang sengaja direncanakan (by design) yaitu semua sumber belajar yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sumber belajar karena dimanfaatkan (by utilization) yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasi, dan digunakan untuk keperluan belajar (Satgas AECT, 1986:9). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa sumber belajar merupakan salah satu komponen sistem instruksional yang dapat berupa: pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar (lingkungan). Sumber belajar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pesan, adalah pelajaran/informasi yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti, dan data. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Orang, mengandung pengertian manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan. Tidak termasuk mereka yang menjalankan funsgi pengembangan dan pengelolaan sumber belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bahan, merupakan sesuatu (bisa pula disebut program atau software) yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Alat, adalah sesuatu (biasa pula disebut hardware) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan di dalam bahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Teknik, berhubungan dengan prosedur rutin atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang, dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Lingkungan, merupakan situasi sekitar di mana pesan diterima (Mudhoffir, 1992:1-2). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semiawan (1992:96) menyatakan bahwa sebenarnya kita sering melupakan sumber belajar mengajar yang terdapat di lingkungan kita, baik di sekitar sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Betapapun kecil atau terpencil, suatu sekolah, sekurang-kurangnya mempunyai empat jenis sumber belajar yang sangat kaya dan bermanfaat, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masyarakat desa atau kota di sekeliling sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lingkungan fisik di sekitar sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bahan sisa yang tidak terpakai dan barang bekas yang terbuang yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, namun kalau kita olah dapat bermanfaat sebagai sumber dan alat bantu belajar mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi di masyarakat cukup menarik perhatian siswa. Ada peristiwa yang mungkin tidak dapat dipastikan akan terulang kembali. Jangan lewatkan peristiwa itu tanpa ada catatan pada buku atau alam pikiran siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, sumber belajar dapat berupa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Barang Cetak, seperti kurikulum, buku pelajaran, Koran, majalah, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tempat, seperti: sekolah, perpustakaan, museum, dan lain-lain &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nara sumber/orang, seperti: guru, tokoh masyarakat, instruktur, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis sumber belajar tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain dalam proses belajar-mengajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian hasil belajar peserta didik pada dasarnya merupakan interaksi antara komponen sistem instruksional dengan peserta peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dan Fungsi Sumber Belajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan sumber belajar bertujuan untuk: &lt;br /&gt;1) menambah wawasan pengetahuan siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan guru, &lt;br /&gt;2) mencegah verbalistis bagi siswa, &lt;br /&gt;3) mengajak siswa ke dunia nyata, &lt;br /&gt;4) mengembangkan proses belajar-mengajar yang menarik, dan &lt;br /&gt;5) mengembangkan berpikir divergent pada siswa (Semiawan, 1992:97)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan sumber belajar sudah barang tentu akan menambah wawasan pengetahuan siswa. Melalui sumber belajar, pemahaman siswa mengenai suatu materi pelajaran akan bertambah. Hal tersebut sekaligus akan mencegah verbalistis bagi siswa. Dengan pemanfaatan sumber belajar maka siswa tidak hanya mengetahui materi pelajaran dalam bentuk kata-kata saja, namun secara komprehensif akan mengetahui substansi dari materi yang dipelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber belajar juga bertujuan mengajak siswa ke dunia nyata. Dalam pengertian, siswa tidak hanya berada dalam bayangan-bayangan suatu materi akan tetapi melalui sumber belajar, siswa langsung dihadapkan ke dunia nyata, yaitu suatu situasi yang berhubungan langsung dengan materi pelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan sumber belajar juga bertujuan mengembangkan proses belajar-mengajar yang menarik. Dalam pengertian, melalui pemanfaatan sumber belajar sudah barang tentu proses belajar-mengajar lebih aktif dan interaktif. Hal menarik yang dapat dijumpai ketika guru memanfaatkan sumber belajar adalah adanya interaksi banyak arah, yakni antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa dan guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir divergent merupakan suatu aktivitas berpikir di mana siswa mampu memberikan alternatif jawaban dari suatu permasahalan yang dibahas. Melalui pemanfaatan sumber belajar diharapkan siswa mampu berpikir divergent. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun fungsi sumber belajar sebagai: &lt;br /&gt;1) sarana mengembangkan keterampilan memproseskan perolehan,&lt;br /&gt;2) mengeratkan hubungan antara siswa dengan lingkungan, &lt;br /&gt;3) mengembangkan pengalaman dan pengetahuan siswa, &lt;br /&gt;4) membuat proses belajar-mengajar lebih bermakna (Semiawan, 1992:100).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan memproses perolehan mengacu pada sesuatu yang dapat diperoleh ketika guru memanfaatkan sumber belajar. Oleh karena itu, fungsi sumber belajar sebagai sarana mengembangkan keterampilan memproseskan perolehan berhubungan dengan aktivitas guru dalam memanfaatkan sumber belajar. Dalam pengertian, ketika guru memanfaatkan sumber belajar sudah barang tentu harus ada sesuatu yang dapat diperoleh oleh siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi sumber belajar lainnya adalah mengeratkan hubungan siswa dengan lingkungan. Hal tersebut berhubungan dengan pemanfaatan sumber belajar yang dilakukan guru. Semakin guru memanfaatkan sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekitar, maka siswa semakin dekat dengan lingkungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman dan pengetahuan siswa akan materi pelajaran yang dipelajari merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu, keberadaan sumber belajar berfungsi untuk mengembangkan pengalaman dan pengetahuan siswa. Melalui pemanfaatan sumber belajar, maka pengalaman dan pengetahuan siswa akan lebih berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi sumber belajar yang membuat proses belajar-mengajar lebih bermakna, berhubungan dengan aktivitas guru dalam memanfatakan sumber belajar. Melalui pemanfaatan sumber belajar yang tepat, maka guru dapat membuat proses belajar-mengajar lebih bermakna. Artinya, guru mampu mengelola proses belajar-mengajar yang berpusat pada siswa, bukan proses belajar-mengajar yang berpusat pada guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Mengembangkan Sumber Belajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses belajar-mengajar, terdapat berbagai macam komponen yang saling berinteraksi untuk mewujudkan tujuan pembelajaran. Salah satu komponen yang berpengaruh dalam mewujudkan tujuan pembelajaran adalah sumber belajar. Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang dirumsukan, maka guru perlu mengembangkan sumber belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan sumber belajar sangat diperlukan guru untuk menambah wawasan dan pengetahuan guru dalam mengelola proses belajar-mengajar agar lebih bermakna. Cara mengembangkan sumber belajar perlu mengacu pada materi pelajaran yang hendak dikembangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdikbud (1990/1991:329), menguraikan beberapa cara yang harus dilakukan oleh guru dalam mengembangkan sumber belajar yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mempelajari Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Identifikasikan kemampuan-kemampuan yang hendak dikembangkan dalam menunjang pencapaian Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menentukan kedalaman dan keluasan pokok bahasan/sub pokok bahasan yang akan dijabarkan dalam mencapai Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menentukan strategi belajar-mengajar yang paling efektif untuk mencapai Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menentukan perlu tidaknya sumber belajar dalam kegiatan belajar-mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Memeriksa apakah sumber belajar yang diperlukan tersedia di sekolah atau di lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Jika sumber belajar yang diperlukan tidak tersedia, usahakanlah pengadaannya. Jika tersedia periksa apakah masih berfungsi, jika tidak berfungsi usahakan pengembangannya agar berfungsi lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Laksanakan kegiatan belajar-mengajar dengan menggunakan sumber belajar secara tepat, sehingga mengoptimalkan pencapaian tujuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Penggunaan Sumber Belajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kriteria penggunaan sumber belajar, menurut Dick and Carey (1985:15-25) antara lain sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Analisis karakteristik peserta didik, dalam pengertian sumber belajar yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik peserta didik.dan isi materi pengajaran serta penyajiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sesuai dengan tujuan pembelajaran, artinya penggunaan sumber belajar perlu mengacu pada tujuan pembelajaran yang dirumuskan, baik Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) maupun Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sesuai dengan materi pelajaran, artinya sumber belajar yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan materi pelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kemanfaatan sumber belajar bagi peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran, dan dalam penggunaan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sumber belajar harus menimbulkan tanggapan bagi peserta didik. Oleh karena itu guru perlu memberi semangat kepada peserta didik untuk memberikan tanggapan terhadap materi pelajaran melalui sumber belajar yang diterima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Bermain dan Alat Permainan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan bermain dengan alat permainan adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi sehingga mereka memperoleh pemahaman tentang berbagai konsep, misal konsep sama, lain, terhadap suatu bentuk warna. Mengingat pentingnya tujuan bermain tersebut maka pemahaman akan fungsi suatu alat permainan menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan. Ketepatan ukuran serta warna harus jelas, misal warna hijau. Kita belum perlu mengenalkan anak berbagai warna hijau seperti hijau tosca, hijau lumut, atau hijau lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep warna yang perlu kita kenalkan secara dini adalah adalah warna baku seperti warna merah, putih, hitam, ungu, coklat, kuning, hijau, biru. Alat permainan yang menunjang proses belajar bukanlah berpatokan pada tinggi rendahnya harga, melainkan ketepetan/keakuratan konsep yang akan kita perkenalkan pada anak dan aman untuk keselamatan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1972 Dewan Nasional Indonesia untuk kesejahteraan sosial memperkenalkan istilah Alat Permainan Edukatif (APE). APE merupakan perkembangandari proyek pembuat buku keluarga dan balita yang dikelola oleh Kantor Menteri Urusan Peranan Wanita. Karena keberhasilan proyek tersebut APE digunakan diseluruh wilayah Indonesia melalui program-program BKKBN dan ibu-ibu PKK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Permainan Edukatif (APE) berupa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Boneka dari kain &lt;br /&gt;. Balok bangunan besar polos &lt;br /&gt;. Menara gelang segi tiga, bujur sangkar, lingkaran, segi enam &lt;br /&gt;. Tangga kubus dan tangga silinder &lt;br /&gt;. Balok ukur polos &lt;br /&gt;. Krincingan bayi &lt;br /&gt;. Gantungan bayi &lt;br /&gt;. Beberapa puzel &lt;br /&gt;. Kotak gambar pola &lt;br /&gt;. Papan pasak 25 &lt;br /&gt;. Papan pasak 100 &lt;br /&gt;. dan lain-lain &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pengelolaan Sumber Belajar dan Alat Permainan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya sumber belajar dan alat permainan yang ada di Taman Kanak-Kanak mensyaratkan guru untuk mengelolanya secara efektif dan efisien. Cherry Clare menyatakan bahwa untuk memotivasi anak menyukai belajar sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah. Oleh karena itu pengelolaan alat permainan pada khususnya dan sumber belajar pada umumnya ditata rapi dan menarik sehingga dapat dinikmati dan dirasakan oleh anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru manakala mengelola sumber belajar dan alat permainan, yakni: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perencanaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang terkait dengan perencanaan meliputi: &lt;br /&gt;(1) jumlah dan usia anak, &lt;br /&gt;(2) menerapkan sistem pengajaran untuk pembiasaan perilaku, &lt;br /&gt;(3) keuangan, dan &lt;br /&gt;(4) persiapan ruangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengadaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang lingkup pengadaan meliputi: &lt;br /&gt;(1) pemahaman tentang alat-alat permainan, &lt;br /&gt;(2) alat permainan yang ada di dalam ruangan, dan &lt;br /&gt;(3) alat permainan di luar ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat permainan yang selalu ada di ruang sekolah adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Balok besar polos atau berwarna &lt;br /&gt;. Balok kecil polos atau berwarna &lt;br /&gt;. Balok yang terbuat dari kardus &lt;br /&gt;. Balok bersusun yang terdiri dari balok yang ukurannya besar sampai dengan kecil &lt;br /&gt;. Balok cuissenaire yaitu balok sepuluh tingkat dari 1-10cm &lt;br /&gt;. Balok kubus yang berukuran 2 cm2 &lt;br /&gt;. Keping-keping kayu dengan bentuk geometri &lt;br /&gt;. Keping-keping kayu dengan beragam bentuk, ukuran, dan warna &lt;br /&gt;. Mozaik kubus yaitu balok kubus berisi 4cm dengan desain di atas bidangnya &lt;br /&gt;. Mozaik bebas yaitu keping bentuk geometri untuk mencipta desain &lt;br /&gt;. Mozaik terbatas di atas papan berukuran &lt;br /&gt;. Mozaik dari karton tebal &lt;br /&gt;. Papan pasak 25, yaitu papan yang berlubang 25 dengan 25 buah pasak &lt;br /&gt;. Papan pasak 25 dari rendah ke tinggi, yaitu papan yang berlubang 25 dengan 25 buah pasak dari rendah ke tinggi &lt;br /&gt;. Papan geometri yaitu papan yang berisi empat bentuk, seperti bujur sangkar, lingkaran &lt;br /&gt;. Papan matematika bentuk kerucut, limas, kubus, silinder 3 dimensi, papan hitung 1-5, dan papan hitung 1-10 &lt;br /&gt;. Papan warna yaitu papan dengan sembilan warna &lt;br /&gt;. Menara gelang lingkaran, segitiga, bujursangkar, segi enam berwarna hijau merah biru kuning &lt;br /&gt;. Tangga kubus dan silinder yaitu papan dengan 5 tongkat dan butir manik-manik besar berbentuk silinder dan kubus &lt;br /&gt;. Meronce, berbagai bentuk butir manik-manik ukuran besar &lt;br /&gt;. Puzel dengan jumlah potongan satu sampai dua puluh lima &lt;br /&gt;. Berbagai bentuk papan yang berlubang untuk menjahit &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kalah penting alat permainan yang berbentuk media cetak yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Gambar benda-benda yang berhubungan dengan tema kegiatan yang mungkin akan dimunculkan &lt;br /&gt;. Permainan papan (game boards)yang akan di gunakan untuk mendalami berbagai konsep &lt;br /&gt;. Berbagai bentuk huruf dan bilangan &lt;br /&gt;. Gambar-gambar untuk mendukung bertemunya suara awal dan akhir &lt;br /&gt;. Berbagai model bentuk yang dibuat sesuai dengan kebutuhan &lt;br /&gt;. Papan permainan yang berisi gambar yang sama, sejenis, atau berpadanan (lotto gambar) &lt;br /&gt;. Gambar-gambar tentang tema yang dapat menarik minat anak, misalnya gambar rumah, sekolah, rumah sakit, lapangan terbang, stasiun, terminal bis, pemandangan gunung, pantai atau hutan &lt;br /&gt;. Gambar berbagai profesi yang ada di masyarakat: &lt;br /&gt;. Peralatan utama dipergunakan oleh berbagai profesi di masyarakat, seperti stetoskop untuk dokter gigi, topi polisi, mobil pemadam kebakaran, kamera, jaring bagi nelayan ikan, gergaji untuk tukang kayu, palu, gunting, untuk tukang pangkas rambut, selendang penari, topeng bagi penari &lt;br /&gt;. Gambar berbagai alat musik seperti pianika, piano, suling, gitar, alat perkusi, kastanet seperti tambur, gendang, simbal, gamelan, marakas, organ &lt;br /&gt;. Berbagai alat musik berekspresi dan melakukan berbagai keterampilan seperti kuas, cat air, lilin, plastilin, dan tanah liat &lt;br /&gt;. Alat bermain seperti kantung biji, bola, tali, ban mobil, bola kecil, berbagai boneka tangan, boneka orang, boneka binatang &lt;br /&gt;. Perabot rumah tangga berukuran kecil seperti lemari, kompor, lemari dapur atau lemari hias. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat permainan yang berada di luar ruangan meliputi: &lt;br /&gt;. Papan jungkit dalam berbagai ukuran &lt;br /&gt;. Ayunan dengantiang yang tinggi maupun ayunan kursi &lt;br /&gt;. Bak pasir dengan berbagai ukuran &lt;br /&gt;. Bak air yang bervariasi &lt;br /&gt;. Papan peluncuran &lt;br /&gt;. Bola dunia untuk panjatanak &lt;br /&gt;. Tali untuk melompat &lt;br /&gt;. Terowongan yang terbuat dari gorong-gorong &lt;br /&gt;. Titian yang beragam tinggi dan lebar &lt;br /&gt;. Bola keranjang dengan bola yang terbuat dari kain &lt;br /&gt;. Ban mobil bekas untuk digulingkan &lt;br /&gt;. Kolam renang dangkal sebagai pengenalan berenang (bila memungkinkan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyimpanan dan Pengawetan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain penyimpanan yang teratur terhadap alat-alat permainan, juga perlu diperhatikan mengenai tingkat kelembaban ruang udara pada sumber belajar, perpustakaan, atau ruang kelas. Tempat yang lembab dapat menumbuhkan jamur yang akibatnya dapat merusak alat permainan. Untuk menyimpan alat-alat permainan dan buku-buku yang jarang digunakan, kita dapat menggunakan rak atau lemari yang tertutup. Sebaliknya bila alat permainan sering digunakan, dapat disimpan dalam kotak tertutup dan beroda sehingga memudahkan anak untuk membawa atau mendorong ke tempat yang lebih luas untuk bermain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penggunaan dan Keteraturan Penggunaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal yang perlu diperhatikan pada sub bab ini adalah konsep keselamatan dan keteraturan kerja. Tempat atau lahan ketika anak menggunakan alat permainan sebaiknya dikondisikan sebagai tempat yang memberikan kesempatan pada anak untuk dapat berkonsentrasi dengan baik dan menjadikan anak-anak tersebut menikmati masa belajarnya. Misalnya tempat tersebut cukup luas dan tidak terganggu dengan tempat-tempat alat permainan lainnya yang mengganggu alur kerja mereka yang memungkinkan mereka juga akan tersandung oleh rak atau alat permainan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Evaluasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi penggunaan dan pengelolaan alat bermain terdiri atas dua tahap yakni pendataan penggunaan dan pendataan cara mengurus alat permainan. Dalam proses pembelajaran sehari-hari dapat kita pantau tingkat kemahiran dan kreativitas anak dalam memainkan alat pembelajarannya. Guru dapat mencatat hasil pantauan itu dengan menggunakan kolom-kolom (chart) yang dapat diisi oleh anak, buku khusus catatan guru, atau kartu yang dikalungi pada leher setiap anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi alat permainan dapat dibedakan atas 3 (tiga) kelompok yaitu: &lt;br /&gt;(1) kelompok alat permainan yang sudah rusak tapi masih dapat diperbaiki, &lt;br /&gt;(2) kelompok alat permainan yang tingkat kerusakannya sudah tinggi, dan &lt;br /&gt;(3) kelompok alat permainan yang sudah waktunya untuk diganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan saat pembetulan alat permainan ini ditetapkan oleh guru sendiri. Meskipun saat terbaik adalah sewaktu liburan kenaikan kelas, tetapi tidak menutup kemungkinan kesempatan itu setiap saat didasarkan pada kebutuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Penutup &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan sumber belajar dan alat permainan di TK dilakukan guru TK dengan serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pengawetan, penggunaan dan keteraturan penggunaan alat permainan, evaluasi penggunaan dan pengolaan alat bermain. Masing-masing tahap pengelolaan merupakan satu system yang saling terkait sehingga guru TK yang cerdas perlu mencermati setiap tahap agar semua sumber belajar dan alat permainan dapat berfungsi secara efektif dan efisien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewujudkan kondisi di mana sumber belajar dan alat permainan dapat berfungsi secara efektif dan efisien, bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, ada baiknya guru TK menjalin koordinasi dan kerjasama dengan murid TK dengan melibatkan mereka mengelola sumber belajar dan alat permainan sehingga anak-anak TK merasa ikut handarbeni segala sesuatu yang menjadi "kekayaan" sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/trimo50708.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-5077940276746429855?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/5077940276746429855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pengelolaan-alat-bermain-dan-sumber.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5077940276746429855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5077940276746429855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pengelolaan-alat-bermain-dan-sumber.html' title='Pengelolaan Alat Bermain dan Sumber Belajar'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-7967730471165452054</id><published>2009-05-18T00:13:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:14:52.226-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN</title><content type='html'>Judul: PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Mohon Pilih bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Hidayat Raharja,S.Pd. &lt;br /&gt;Saya Guru di SMAN 1 SUMENEP &lt;br /&gt;Topik: teknologi multimedia &lt;br /&gt;Tanggal: 27 JUNI 2008&lt;br /&gt;Majunya teknologi informasi merupakan suatu perkembangan yang memberikan akses terhadap perubahan kehidupan masyarakat. Dunia informasi menjadi salah satu wilayah yang berkembang pesat dan banyak mempengaruhi peradaban masyarakat. Radio, Televisi, DVD, VCD merupakan salah satu perangkat elektronik yang menjadi bagian dari perabot rumahtangga. Selain berfungsi informatif, media teknologi tersebut merupakan salah satu media entertainment yang memberikan pilihan hiburan menyegarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kemajuan media teknologi informasi, kehidupan masyarakat memasuki zone rekreatif (hiburan). Tidak dapat dibayangkan, ketika media televisi telah menjadi salah satu media yang menyediakan diri selama 24 jam untuk memberikan hiburan di tengah-tengah keluarga. Setiap sajian acara yang ditayangkan, senantiasa dikemas dalam unsur hiburan. Bukan hanya tayangan sinetron, iklan, bahkan pemberitaan (news) tak lepas dari unsur hiburan. Bagaimana berita kriminal dan mistik menjadi salah satu tayangan di berbagai stasiun televisi yang mampu menghipnotis pemirsa untuk tetap bertahan di hadapan layar televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya teknologi media audiovisual, telah menciptakan budaya masyarakat rekreatif dan konsumtif. Masyarakat memiliki banyak pilihan untuk menghibur diri dan membuang kesumpekan hidup yang makin menjepit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi perubahan peradaban tersebut, telah pula menjadi pemicu terhadap upaya perubahan sisitem pembelajaran di sekolah. Upaya untuk melepaskan diri dari kungkungan pembelajaran konvensional yang memaksa anak untuk mengikuti pembelajran yang tidak menarik, dan membosankan, sehingga meminjam ungkapan Faulo Fraire, sekolah tak lebih merupakan bangunan tembok penjara yang menghukum penghuninya untuk mengikuti (memaksa) menerima segenap ajaran yang berkubang di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neil Postman, salah satu filosof dan pakar pendidikan semakin mencemaskan terhadap kehidupan lembaga persekolahan yang semakin teralineasi dari kultur masyrakat yang kian dinamis, sehingga sampai pada taraf asumtif, matinya nilai-nilai pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi sekolah, senantiasa dituntut untuk terus-menerus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat, sehingga sekolah yang tetap berkutat pada instruksional kurikul;um hanya akan membuat peserta didik gagap meliohat realitas yang mengepungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran teknologi multimedia, bukan lagi menjadi barang mewah, karena harganya bisa dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat untuk memiliki dan menikmatinya. Artinya, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu untuk memiliki teknologi tersebut sehingga bisa menjadikannya sebagai media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mampu mengembangkan kecakapan personal secara optimal, baik kecakapan, kognitif, afektif, psikomotrik, emosional dan spiritualnya. Hal ini amat memungkinkan, ketika ruang belajar di luar gedung sekolah, telah menghasilkan berbagai produk audiovisual yang bernilai- edukatif, mulai dari mata pelajaran yang yang disajiukan dalam bentuk quiz, ataupun dalam bentuk penceritaan dan berbagai permainan yang memukau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sekolah menengah di Jember (SMAN 2) beberapa waktu lalu, telah mempublikasikan diri sebagai salah satu sekolah yang memakai perangkat multimedia untuk pembelajaran. Setiap guru wajib membuat media pembelajaran dengan teknologi multimedia dan menayangkannya (mempergunakan) dalam pembelajaran. Sungguh sangat menarik, dengan peralatan handycam, dan komputer (PC), seorang guru membuat media pembelajaran audiovisual yang akan memancing minat siswa untuk belajar dan tertarik untuk mengembangkan pengetahuannya. Kondisi yang membuat iri, berbagai sekolah untuk memiliki perangkat pembelajaran semacam itu. Bahkan, sudah waktunya pula apabila sekolah memanfaatkan situs-situs pengetahuan di dunia cyber untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah pemanfaatan teknologi multimedia akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik? Bagaimana seharusnya menyiapkan perangkat pembelajaran multimedia sehinggga menjadi tayangan yang menarik, dan efektif dalam pemanfaatannya untuk mengembangkan kemampuan siswa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang ganjil dalam pemakaian teknologi multimedia yang dipergunakan di SMA 2 Jember dalam pemberiataan jawa pos (maret, 2004), diantaranya pembelajaran agama, dengan menyagankan guru agama yang tengah berceramah. Pembelajaran matematika dengan mempergunakan CD dan hanya berisi berbagai keterangan (tulisan) yang berhubungan dengan pembelajaran. Atau di tempat lain, seorang guru menayangkan pembelajaran mempergunakan VCD yang berdurasi selama 90 menit (2 jam pelajaran) dari awal sampai tayangan berakhir siswa hanya diajak untuk menonton, tanpa ada sesuatu yang bisa mengukur pemahaman siswa terhadap apa yang diatayangkan. Contoh tersebut merupakan salah satu bentuk pemanfaatan media audiovisual yang diarasakan kurang efektif. Karena bila kita menengok pada ceramah agama di berbagai stasiun televisi sudah dikemas sedemikian menghibur dan mampu menarik minat pemirsa untuk saling berinteraksi. Artinya, sebelum media teknologi tersebut dipergunakan, terlebih dahyulku dikenali karakteristik dari tiap media, sehingga bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.Vernom A.Magnesen (1983) menyatakan kita belajar, "10% dari apa yang dibaca; 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan dengar, 70% dari apa yang dikatakan, 90% dari apa yang dilakukan" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak kepada konsep Vernom, bahwa pembelajaran dengan mempergunakan teknologi audiovisual akan meningkatkan kemamp[uan belajarn sebesar 50%, daripada dengan tanpa mempergunakan media. Namun dengan melihat pada realitas yang ditemukan pada proses pembelajaran tersebut, maka pencapaian belajar secara efektif akan dicapai apabila: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Guru mengenal keunggulan dan kelemahan dari setiap media teknologi yang dipergunakan. Penggunaan teknologi auditif bukan berarti lebih buruk daripada media audiovisual, karena ada beberapa materi pembelajaran yang akan lebih baik ditayangkan dengan mempergunakan teknologi auditif untuk merangsang imajinasi siswa, dan melatih kepekaan pendengaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Menentukan pilihan materi yang akan ditayangkan, apakah sesuai dengan penggunaan media auditif, visual, atau audiovisual. Misalnya untuk melatih kepekaan siswa dalam memahami percakapan bahasa inggris, akan lebih baik kalau dipergunakan media auditif, sementara untuk mengetahui ragam budaya masyarakat berbagai bangsa tentu lebih relevan dengan mempergunakan tayangan audiovisual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Menyiapkan skenario tayangan, tentu berbeda dengan satuan pelajaran, karena disini menyangkut terhadap model tayangan yang akan disajikan sehingga menjadi menarik, nantinya akan mampu mengembangkan berbagai aspek kemampuan (potensi) dalam diri siswa.. Tidak kalah pentingnya, adalah bagaimana membuat anak tetap fokus kepada tayangan yang disajikan, dan mengukur apa yang telah dilakukan siswa dengan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) menyiapkan lembar tugas atau quiz yang harus dikerjakan siswa ketika menyaksikan tayangan pembelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya membuat anak betah belajar disekolah dengan memanfaatkan teknologi multimedia, merupakan kebutuhan, sehingga sekolah tidak lagi menjadi ruangan yang menakutkan dengan berbagai tugas dan ancaman yang justru mengkooptasi kemampuan atau potensi dalam diri siswa. Untuk itu, peran serta masyarakat dan orangtua , komite sekolah merupakan partner yang dapat merencanakan dan memajukan sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan teknologi merupakan kebutuhan mutlak dalam dunia pendidikan (persekolahan) sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang belajar dan tempat siswa mengembangkan kemampuannya secara optimal, dan nantinya mampu berinteraksi ke tanmgah-tengah masyarakatnya. Lulusan sekolah yang mampu menjadi bagian intergaral peradaban masyarakatnya. Suatu keinginan yang tidak mudah, apabila sekolah-sekolah yang ada tidak tanggap untuk melakukan perubahan. Sejarah persekolahan di indonesia telah mencatat, bahwa upaya-upaya perubahan yang dilakukan pemerintah untuk melakukan pengembangan terhadap kurikulum sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juiga pengembangan terhadap berbagai metode dan proses pembelajaran yang menarik untuk memancing dan memicu perkembangan kreatif siswa pada akhirnya kermbali kepada titik awal; betapa sulitnya perubahan itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya dengan akan diberlakukannya kurikulum 2004 (KBK), pembelajaran di sekolah akan menjadi sangat variatif, rekreatif, dan tentu kontekstual. Jika murid tidak mampu bukan sepenuhnya kesalahan murid, tetapi bisa jadi kesalahan kolektif pihak sekolah yang kurang kondusif. Nyatanya, bila melihat dari faktor usia, siswa memiliki peluang besar untuk mengikuti perubahan yang ada, sementara kata orang bijak justru guru yang paling sulit berubah, karena faktor usia yang merasa lebih tua dan lebih tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi telah hadir di hadapan kita, bagaimana kita memanfaatkannya secara optimal untuk nenajukan dunia pendidikan (bukan pendudukan) yang kita dicintai bersama. Tentunya semua itu amat bergantung kepada dana dan sumber daya, dan penghargaan terhadap manusianya.&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/hidayat10608.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-7967730471165452054?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/7967730471165452054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pemanfaatan-teknologi-multimedia-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/7967730471165452054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/7967730471165452054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pemanfaatan-teknologi-multimedia-dalam.html' title='PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-3542051605272380017</id><published>2009-05-18T00:12:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:13:52.008-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Pengembangan Lab Bahasa Digital</title><content type='html'>Judul: Pengembangan Lab Bahasa Digital&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Kurniawan Basuki, S.Pd.,MT. &lt;br /&gt;Saya Guru di SMK N1 Magelang &lt;br /&gt;Topik: Pengembangan Lab Bahasa Digital &lt;br /&gt;Tanggal: 14 April 2008&lt;br /&gt;Desain Pengembangan Lab Bahasa Digital &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu babak baru dalam zaman modern ini telah datang, dimana kita sangat bergantung pada informasi. Negara-negara maju secara ekonomi, menempatkan informasi dan teknologinya sebagai salah satu point terpenting didalam mempercepat proses transformasi dibidang perekonomian dan kehidupandinegaranya. Dengan penguasaan teknologi informasi yang baik, mereka mampu mensinergikan teknologi informasi tersebut dengan sektor atau bidang lainnya seperti pertanian, kelautan, kesehatan, pemerintahan, perekonomian, pendidikan, dan lain-lain, guna memberikan nilai tambah atau meningkatkan kesejahteraan penduduk di negaranya. Bagaimana dengan negara kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini penggunaan teknologi informasi mulai marak dinegara kita, terutama disektor industri. Namun, dari segi pemanfaatannya, masih belum maksimal. Tidak maksimalnya pemanfaatan teknologi informasi ini, salah satunya disebabkan karena kurang siapnya sumber daya manusia dalam menggunakan, memanfaatkan dan mengantisipasi perkembangan teknologi informasi tersebut. Selain itu, perkembangan teknologi informasi yang pesat serta sifatnya yang global, akan semakin sulit dipelajari bila tidak didukung oleh kemampuan penguasaan bahasa asing. Bahasa sebagai salah satu bentuk alat penyampaian informasi merupakan elemen kunci bagi penguasaan teknologi informasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran serta sektor pendidikan dalam peningkatan kompetensi sumber daya manusia dibidang teknologi informasi dan bahasa dapat menjadi solusi bagi hal tersebut diatas. Oleh karena itu diperlukan suatu tindakan pengenalan dan pembelajaran sejak dini terhadap teknologi informasi dan bahasa asing disekolah-sekolah. Guna tercapai tujuan diatas, banyak sekali hal yang perlu disiapkan diantaranya, sarana prasarana dan juga metoda pengajaran. Seperti, penyediaan laboratorium komputer dan laboratorium bahasa disekolah-sekolah. Besarnya biaya yang diperlukan untuk menyiapkan sarana prasarana seperti, ruang, peralatan lab, dan materi pengajaran menimbulkan ketimpangan atau tidak semua sekolah mampu menyediakan fasilitas tersebut diatas. Masalah yang muncul tersebut tentunya bukan lantas menyurutkan langkah kita untuk turut serta meningkatkan kualitas sistem pendidikan dinegara kita, melainkan menjadi salah satu pemacu agar kita dapat mencari solusi dari masalah tersebut, karena peningkatan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kurang lebih dua tahun kami sebagai pengembang perangkat lunak (software developer) telah bekerja keras guna mencari pemecahan masalah tersebut, dan kami berhasil mengembangkan suatu sistem beserta perangkat lunaknya (software) sebagai suatu solusi efektif bagi masalah diatas. Yaitu dengan memanfaatkan Computerized Laboratories System yang telah dilengkapi oleh perangkat lunak De'Lab Language Laboratory Application Ver 1.6. De'Lab Language Laboratory Application Ver 1.6 adalah software yang dibuat untuk mengoptimalkan kemampuan laboratorium komputer agar dapat pula berfungsi sebagai laboratorium bahasa. Tujuan dari dikembangkannya aplikasi ini adalah untuk menghemat biaya pembuatan laboratorium komputer dan laboratorium bahasa. Dengan adanya aplikasi ini suatu sekolah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan tidak perlu lagi untuk membangun sebuah laboratorium komputer dan sebuah laboratorium bahasa. Cukup dengan membangun laboratorium komputer (computerized laboratories system) yang telah dilengkapi oleh software De'Lab Language Laboratory Application Ver 1.6, maka sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan telah memiliki laboratorium komputer sekaligus juga laboratorium bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi lab bahasa digital dilakukan dengan sejumlah tujuan sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mempersenjatai setiap siswa untuk keberhasilan, yaitu dengan cara membuat siswa menjadi akrab dengan komputer dan perkembangan teknologinya (pengenalan sejak dini terhadap teknologi informasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Proses pembelajaran berbagai bahasa asing dengan lebih baik. Yaitu dengan memanfaatkan kemampuan komputer dalam mengolah gambar dan suara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Efisiensi dalam penyediaan peralatan laboratorium komputer dan laboratorium bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi sebagai salah satu alat untuk menyempurnakan model/metode pengajaran dan pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Diharapkan dengan desain pengembangan ini akan meningkatkan kualitas pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Lingkup Pekerjaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pengerjaan Implementasi Lab Bahasa Digital ini ini terdapat beberapa bagian pekerjaan, yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Instalasi aplikasi De'Lab Language Laboratory Application Ver 1.6 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Pelatihan Pengguna &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Pemasangan jaringan komputer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAMBARAN SISTEM &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi Produk yang Dipakai &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De'Lab Ver 1.6 adalah software yang berfungsi untuk mengoptimalkan kemampuan laboratorium komputer agar dapat pula berfungsi sebagai laboratorium bahasa. Tujuan dari dikembangkannya aplikasi ini yaitu untuk menghemat biaya pembangunan laboratorium komputer dan laboratorium bahasa. Dengan adanya aplikasi ini sekolah, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dapat memiliki laboratorium komputer sekaligus juga laboratorium bahasa. Fitur-fitur yang terdapat pada software De'Lab Ver 1.6 ini sesuai dengan fitur-fitur peralatan lab bahasa pada umumnya, bahkan ada beberapa fitur yang tidak terdapat pada peralatan lab bahasa standar. Fitur-fitur yang terdapat pada aplikasi ini diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Materi pengajaran dapat berbentuk digital baik audio dan video (lab bahasa konvensional materi berbentuk audio analog/kaset, untuk video diperlukan peralatan tambahan). Pada lab bahasa konvensional sering terjadi gangguan mekanik pada pemutar kaset materi. Hal ini menyebabkan biaya kepemilikkan dari materi pengajaran menjadi besar. Pemakaian yang berulang-ulang dapat mengakibatkan sering terjadinya kerusakan pada pita kaset. Dalam format digital hal ini tidak akan terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Terdapat fungsi untuk Manajemen atau pengaturan materi pengajaran, guru tidak perlu bingung memilih kaset materi saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Terdapat fitur komunikasi langsung antara pengajar dengan seorang siswa atau seluruh siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kemudahan dalam updating materi pengajaran dan dalam pembuatan materi pengajaran sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Terdapat fitur dimana siswa dapat memilih sendiri materi yang akan dipelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Penggunaan software yang mudah, diharapkan akan membantu meningkatkan proses belajar dan mengajar yang efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Terdapat database siswa dan pengajar, yang nantinya dapat dikembangkan menjadi system informasi akademik untuk setiap siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Terdapat modul examination/test dalam bentuk multiple choice atau benar salah, dimana hal tersebut tidak terdapat dalam lab bahasa konvensional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Terdapat record nilai ujian siswa, sehingga guru dapat memantau perkembangan kemampuan siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Serta masih banyak lagi fitur-fitur lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skema Jaringan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skema peralatan dan jaringan yang diperlukan untuk mengoperasikan De'Lab Ver 1.6 yaitu menggunakan topologi jaringan berbentuk star yang saat ini sangat umum digunakan. Perangkat Keras &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat lunak De'Lab Ver 1.6 berjalan dalam sebuah jaringan komputer dengan spesifikasi perangkat keras sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. SERVER/komputer pengajar (1 unit), minimum spek : &lt;br /&gt;- Processor Pentium III 800 Mhz&lt;br /&gt;- RAM 128 MB&lt;br /&gt;- 40 GB HDD&lt;br /&gt;- Full duplex sound card&lt;br /&gt;- Ethernet Card 10/100 Mbps&lt;br /&gt;- Headset&lt;br /&gt;- Perangkat lunak pendukung MS SQLServer 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Workstation/komputer siswa (maksimum 34 unit), minimum spek:&lt;br /&gt;- Processor Pentium II 500 Mhz&lt;br /&gt;- RAM 64 MB&lt;br /&gt;- 40 GB HDD&lt;br /&gt;- Full duplex sound card&lt;br /&gt;- Ethernet Card 10/100 Mbps&lt;br /&gt;- Headset&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Peralatan Jaringan&lt;br /&gt;- Switch 10/100 Mbps ( 24 port dan 16 port)&lt;br /&gt;- Rj 45 konektor (1 dus)&lt;br /&gt;- UTP cable (1 roll)&lt;br /&gt;- Ethernet Adapter (sesuai jumlah PC, max 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Luas area masing-masing anak : 3,5 m2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Instalasi listrik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan Sistem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem terdiri dari modul Server (diinstal di server) dan modul klien (diinstal di workstation). Tampilan sistem baik di server (guru) maupun di workstation (siswa) sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting dan Layout Lab &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses set up agar komputer pengajar dapat berinteraksi dengan komputer siswa, dengan mudah dilakukan dikomputer pengajar yaitu hanya dengan memasukkan alamat/protokol komputer siswa (IP Address). Selain itu setting penomoran komputer siswa dapat disesuaikan dengan layout penempatan komputer pada kondisi sebenarnya misalkan: memanjang, berbentuk setengah lingkaran, dan lain-lain seperti gambar dibawah ini. Kemampuan aplikasi ini dapat berkomunikasi sampai dengan komputer siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan layout komputer siswa dikomputer pengajar dan layout komputer siswa dilaboratorium bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Materi Belajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan materi pengajaran sangat mudah dilakukan dan sangat fleksibel. Materi dapat disusun berdasarkan jenis bahasa, kelompok pengguna, berdasarkan jenis materi tersebut (audio atau video), atau membuat kategori pengelompokkan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Consol materi berbentuk trees ini akan mempermudahpengelompokkan materi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Display Materi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajar dapat mengetahui materi (audio dan video) yang sedang aktif dikomputer siswa, karena pada aplikasi yang ada dipengajar telah dilengkapi dengan media player. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel Kendali &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Kontrol panel ini terdapat tombol-tombol (button) yang berfungsi untuk mengatur sesi materi. Control mode: yaitu sesi khusus yang artinya seluruh siswa dilaboratorium menjalankan materi yang sama dan telah ditentukan oleh pengajar, Free mode: yaitu sesi bebas yang artinya siswa dapat memilih sendiri materi yang akan diaktifkan. Selain itu terdapat juga tombol untuk menyampaikan informasi atau komunikasi satu arah dengan seluruh siswa (Broadcast button). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Software ini telah dilengkapi dengan mekanisme interaksi antara guru dengan siswa. Guru dapat berbicara dengan seluruh siswa atau hanya dengan seorang siswa. Begitu juga sebaliknya, siswa dapat bertanya/berkomunikasi dengan guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modul Ujian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keistimewaan dari aplikasi ini yaitu telah adanya modul untuk ujian dalam bentuk multiple choice dan truefalse yang terhubung pada database guru dan siswa serta telah dilengkapi pula dengan system scoring dan pengaturan waktu ujian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU DAN BIAYA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Implementasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi lab bahasa digital ini akan memakan waktu tertentu sesuai dengan tahapan pengerjaannya. Di bawah ini diberikan tabel rencana kerja dalam satuan hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total waktu implementasi 4 hari. Selanjutnya dapat mulai digunakan sesuai dengan kebutuhan dan materi ajar bahasa yang ada (audio atau video). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya Implementasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya implementasi berikut pengadaan perangkat sistemnya diberikan di bawah ini. &lt;br /&gt;Biaya di atas tidak termasuk :&lt;br /&gt;- Biaya pengadaan perangkat lunak di luar De'Lab 1.6 seperti sistem operasi MS Windows, Database MS SQLServer atau aplikasi lainnya (pengolah audio/video). &lt;br /&gt;- Biaya instalasi jaringan dan pengadaan perangkat keras yang diperlukan. &lt;br /&gt;- Biaya transport dan akomodasi untuk implementasi di luar Jawa.&lt;br /&gt;- PPN 10%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan ICT untuk membantu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sudah seharusnya dilakukan di sekolah. Melalui pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut, proses belajar mengajar dapat menjadi lebih menarik bagi siswa sehingga menumbuhkan minat belajar yang pada akhirnya meningkatkan kualitas belajar siswa. Mudah-mudahan desain pengembangan lab bahasa ini dapat memenuhi sebagian kebutuhan, keinginan dan harapan dalam implementasi sistem lab bahasa digital. Dengan demikian harapan akan adanya peningkatan kualitas pendidikan melalui penggunaan ICT akan dapat terwujud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kelebihan yang ditawarkan dengan pengembangan lab bahasa digital ini adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sistim managemen penilaian akan langsung tersimpan dalam server, sehingga pengajar tidak perlu melakukan pencatatan manual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Baik materi ajar maupun bank soal dapat dikembangkan dengan mdah sesuai dengan perkembangan kurikulum, tanpa melakukan perubahan sistem jaringan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lab bahasa jenis ini dapat dipakai tidak hanya untuk keperluan mata pelajaran Bahasa Inggris saja, namun dapat digunakan sebagai lab Komputer mata pelajaran KKPI, lab Fisika dan bahkan mata pelajaran Normatif sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jika diaplikasikan untuk keperluan lab lain kita tinggal memasukkan materi ajar dan bank soal untuk keperluan tes On-Line. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dengan menggunakan sistim ini maka efisiensi akan jauh lebih baik dibandingkan dengan menggunakan lab bahasa konvensional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dengan tes On-Line waktu persiapan, pelaksanaan, koreksi hasil dan sebagainya akan lebih cepat, bahkan paper less.&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0408kurniawan.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-3542051605272380017?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/3542051605272380017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pengembangan-lab-bahasa-digital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/3542051605272380017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/3542051605272380017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pengembangan-lab-bahasa-digital.html' title='Pengembangan Lab Bahasa Digital'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-6721796016831714614</id><published>2009-05-18T00:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:12:34.768-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Internet dan Pendidikan</title><content type='html'>Judul: Internet dan Pendidikan&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Alfajri Alwis &lt;br /&gt;Saya Mahasiswa di (Alumni) Universitas Andalas, Padang &lt;br /&gt;Topik: E-Learning dan E-Teaching &lt;br /&gt;Tanggal: 16 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet dan Pendidikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kita berada pada zaman dimana kita harus bergerak secepat kilat jika kita ingin terus berada pada arus zaman. Segala sesuatunya berubah setiap kali matahari terbit dan tenggelam. Hari esok datang dengan berjuta perkembangan dan hal-hal baru. Begitu halnya teknologi. Teknologi diadaptasikan pada segala aspek kehidupan, membuat hidup jadi lebih mudah dan menarik. Teknologi pun sedemikian rupa diaplikasikan untuk dunia pendidikan. Bagi yang berpendapat bahwa pendidikan online akan berkembang dikemudian hari, mungkin Anda telah ketinggalan kereta, pendidikan online, telah berkembang sedemikian rupa disaat sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Online, Disaat Sekarang dan Disaat Mendatang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, banyak sekolah, universitas dan institusi pendidikan lainnya yang menawarkan pendidikan jarak jauh via internet. Bahkan, beberapa dari mereka hanya menawarkan pendidikan online, dan menjadi institusi virtual. Kitapun sekarang bisa menemukan dengan mudah berbagai situs pendukung pendidikan online. Ada yang menawarkan meeting place, video conference, bahkan sebuah kelas virtual, lengkap dengan video dan audio. Contohnya WiZiQ, dimana siapapun bisa mengajar dan belajar apapun, hanya dengan sign up, atur jadwal sesi, pilih sesi yang kita inginkan, dan gunakan kelas virtualnya. Jadi jelas, pendidikan online bukan merupakan masa depan lagi, tapi merupakan masa kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Kelas Virtual Online? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integrasi pendidikan online memberikan manfaat lebih dibanding kelas tradisional. Melalui kelas virtual, kita tetap bisa berhubungan langsung dengan pengajar, berdiskusi, memberikan komentar, penjelasan atau semua jenis aktivitas lainnya yang biasa dilakukan di kelas biasa. Namun, keunggulannya, semua hal ini sekarang bisa dilakukan kapanpun dari manapun di seluruh dunia, hanya dengan koneksi internet. Waktu pun tidak jadi masalah lagi, seseorang bisa mengambil sebuah kelas online dengan mencocokkan jadwalnya sendiri, sesuai dengan waktu luangnya, karena kelas virtual selalu disitu, aktif 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Anda bisa mengikuti kelas tentang bisnis ekonomi dimalam hari sebelum Anda tidur, atau belajar bahasa Inggris di hari minggu pagi. Inilah kelebihan lain kelas virtual dibanding kelas biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi Untuk Pendidikan Virtual &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, mudah untuk dimengerti kenapa belajar online lebih nyaman dan telah menjadi pilihan. Sebelumnya, kita harus berangkat ke kampus atau sekolah, membuat catatan dan kemudian belajar lagi dirumah. Selanjutnya berkembang, kita belajar dengan powerpoint presentation, penggunaan komputer lebih lanjut, dan pemanfaatan internet untuk sumber informasi. Idealnya, kenapa tidak menggabungkan kedua hal ini agar semua bisa lebih mudah? Inilah yang ditawarkan oleh pendidikan virtual, dan hal ini juga yang menjadi alasan kenapa belajar online menjadi populer belakangan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi pun terus maju pesat. Setiap saat selalu berevolusi dengan tujuan untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan lebih bagi para pengguna pendidikan online. Sebagai contoh, sekarang seorang murid bisa merekam perkuliahan online-nya untuk diakses dikemudian hari, powerpoint presentation bisa diubah ke podcasts dan di transfer ke iPod, dan kemudahan kemudahan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan di Dunia Cyber Solusi Beberapa Masalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan online telah membuat proses belajar menjadi proses yang lebih menarik, kaya akan peluang, keleluasaan dan kenyamanan. Biayapun bukan menjadi masalah lagi dengan begitu banyaknya platform, organisasi dan individual yang peduli akan hal ini dengan memeberikan tool dan layanan gratis. Biaya perjalanan pun bukan merupakan sebuah isu lagi, karena yang dibutuhkan hanyalah computer dengan koneksi internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis eLearning ditahun 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, mari kita lihat hal ini dari segi bisnis. Disadur dari sebuah artikel di thejournal.com, San Jose, peneliti pasar di Global Industry Analysts, sebuah organisasi yang berbasis di California, AS, menyebutkan bahwa rancangan pasar global eLearning akan bernilai $ 52.6 miliar pada tahun 2010. Serta dalam eLearning: A Global Strategic Business Report, sebuah laporan yang dikeluarkan oleh organisasi tersebut, ditahun 2007 saja, industry pendidikan online di AS sudah bernilai $ 17.5 juta. Dalam laporan itu juga diperkirakan bahwa pengguna eLearning di Asia diharapkan akan mencapai pertumbuhan tahunan dari 25 persen menjadi 30 persen ditahun 2010, dan ditargetkan seluruh dunia akan mencapai antara 15 persen dan 30 persen. Dilihat dari laporan ini, sudah dapat diperkirakan bagaimana berkembangnya nanti pendidikan online di dunia dalam beberapa tahun mendatang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Pelajar dan Pengajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terlepas dari semua peluang dan perkembangan ini, semua akan berbalik lagi pada masyarakatnya. Dibutuhkan keinginan dan ketertarikan pelajar untuk mulai memanfaatkan teknologi untuk belajar online, dan kemampuan para pengajar untuk beradapatasi dengan perkembangan teknologi, sehingganya pendidikan online akan terus berkembang dan menjadi lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana Posisi Indonesia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan internet di Indonesia sudah cukup menggembirakan. Jika kita bandingkan pengguna internet di tahun 2000 dengan tahun 2008, sudah sangat jauh berbeda. Hal ini semestinya bisa menjadi peluang untuk lebih mempopulerkan pendidikan online. Mari kita ambil perbandingan dengan negara lain, India. Belakangan India telah menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di Asia. Kemajuan dibidang teknologi sangatlah pesat di negara ini, begitupun dengan perkembangan pendidikan online-nya. Mari kita ambil contoh lagi dengan WiZiQ, salah satu platform penyedia kelas virtual gratis. India adalah pengguna WiZiQ terbanyak di dunia, diikuti oleh AS. Indonesia? Berada pada angka 27 (dari google analytics, per 21 November 2008). Ini baru dilihat dari satu penyedia kelas online. Namun, diikuti dengan kemauan dan kepedulian semua pihak, angka ini tentunya akan bisa manjadi lebih baik, dan pendidikan online di Indonesia akan menjadi lebih popular dan terus berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/alfajri1208.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-6721796016831714614?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/6721796016831714614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/internet-dan-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6721796016831714614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6721796016831714614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/internet-dan-pendidikan.html' title='Internet dan Pendidikan'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-9065228839405514078</id><published>2009-05-18T00:09:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:11:34.110-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Depdiknas Optimistis 2009 tidak Ada Lagi Sekolah Rusak</title><content type='html'>September 30, 2008 - Ditulis oleh rahmatsaripudin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA — Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) optimistis proses rehabilitasi dan renovasi sebanyak 135.194 ruang kelas dan sekolah rusak di tingkat sekolah dasar, Madrasah Ibtidaiah (MI) dan SD Luar Biasa (SDLB) di sejumlah provinsi di tanah air dapat dituntaskan pada tahun 2009 dengan perkiraan biaya sebesar Rp9,07 triliun. “Seiring dengan terpenuhinya alokasi anggaran 20 persen untuk sektor pendidikan, Presiden meminta agar memberikan prioritas salah satunya penuntasan wajib belajar (wajar) sembilan tahun. Untuk menuntaskan wajar sembilan tahun tersebut, maka upaya dilakukan antara lain melalui perbaikan sarana dan prasarana pendidikan,” kata Direktur Pembinaan Tk dan SD Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Depdiknas, Mudjito Ak di Jakarta, Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data tahun 2003 meunjukkan terdapat 531.186 ruang kelas SD/MI atau sebesar 49,50 persen dari 1.073.103 ruang kelas SD/MI yang mengalami kerusakan sedang dan berat. “Perbaikan ruang kelas rusak baik kategori sedang dan berat untuk tingkat SD/MI telah dilakukan sejak tahun 2003 dan jumlahnya cukup besar yakni 531.186 ruang kelas (49,5 persen) di seluruh Indonesia,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki ruang kelas yang rusak adalah melalui program dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan dan non DAK antara lain melalui dana bencana alam, APBN-P, dekonsentrasi, APBD I dan II. DAK bidang pendidikan dimaksud untuk menunjang pelaksanaan wajib belajar 9 tahun dan diarahkan untuk membiayai rehabilitasi ruang kelas SD/MI dan SDLB serta sekolah-sekolah setara SD yang berbasis keagamaan, meliputi juga sarana meubilernya, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, selama lima tahun proses rehabilitasi dan renovasi dilaksanakan setiap tahun hingga tahun 2008 dengan rincian renovasi melalui dana alokasi khusus (DAK) sebanyak 295.548 ruang kelas (27,51 persen) dan dana non DAK sebanyak 100.444 ruang kelas (9,3 persen) sehingga sisa ruang kelas rusak pada tahun 2009 sebanyak 135.194 ruang kelas (12,6 persen). Lebih lanjut Mudjito mengatakan, sisa ruang kelas rusak pada tahun 2009 sebanyak 135.194 ruang kelas tersebar di semua propinsi di tanah air, yakni dengan tingkat kerusakan ringan antara 0-10 persen sebanyak 1.331 ruang kelas terdapat di 19 propinsi, antara lain Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Jambi, Maluku, NTB, Papua, Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang kelas rusak sedang antara 10,2 hingga 20 persen sebanyak 2.282 ruang kelas terdapat di tiga propinsi yakni, Daereh Istimewa Yogyakarta (DIY), Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Rusak antara 20,1 persen hingga 30 persen sebanyak 4.451 ruang kelas terdapat di tiga propinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan sedangkan kerusakan lebih dari 30 persen sebanyak 127.130 ruang kelas terdapat di 10 provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Timur dan Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Mudjito mengatakan, dana yang dibutuhkan untuk renovasi satu ruang kelas rata-rata sebesar Rp50 juta namun seiring dengan kemungkinan terjadinya eskalasi harga, maka perhitungan anggaran untuk rehabilitasi ruang kelas rusak sebanyak 135.194 unit pada tahun 2009 mengalami peningkatan dari Rp9,1 triliun menjadi Rp12,4 triliun.&lt;br /&gt;“Depdiknas optimis dengan tuntasnya rehabilitasi ruang kelas rusak pada tahun 2009, maka pada tahun berikutnya diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) seperti standar pembiayaan, standar kelulusan siswa dan sebagainya,” tambahnya. ant/kp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://rahmatsaripudin.wordpress.com/2008/09/30/depdiknas-optimistis-2009-tidak-ada-lagi-sekolah-rusak/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-9065228839405514078?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/9065228839405514078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/depdiknas-optimistis-2009-tidak-ada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/9065228839405514078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/9065228839405514078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/depdiknas-optimistis-2009-tidak-ada.html' title='Depdiknas Optimistis 2009 tidak Ada Lagi Sekolah Rusak'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-571534820795997236</id><published>2009-05-18T00:06:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:09:20.283-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Pemerintah Jangan Ragu Bangun Sarana Pendidikan</title><content type='html'>By admin&lt;br /&gt;Thursday, March 05, 2009 06:15:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERINTAH yang tidak ragu-ragu dalam membangun sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor majunya pendidikan di Jepang. Pembangunan sekolah-sekolah tingkat menengah dan perguruan tinggi sampai ke pelosok kota kecil di Jepang salah satu wujud keseriusan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut diakui oleh Prof Toru Kikkawa dari Universitas Osaka Jepang dalam seminar pendidikan berjudul 'Education in Indonesia and Japan: Future Challenges and Opportunities' yang diadakan oleh Universitas Paramadima di Jakarta, Rabu (4/3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam presentasinya, Prof. Toru Kikkawa, menyajikan hal-hal apa saja yang mempengaruhi perkembangan pendidikan di Jepang selama ini. Beliau juga memaparkan bagaimana latar belakang pendidikan orang tua sangat mempengaruhi peningkatan level pendidikan masyarakat Jepang pada generasi berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di negara berkembang, faktor gender, etnis dan ekonomi sangat mempengaruhi level pendidikan masyarakatnya, latar belakang pendidikan orang tua tidak terlalu berpengaruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Jepang, justru faktor latar belakang pendidikan orang tua dan status pekerjaan yang sangat berpengaruh pada perkembangan level pendidikan masyarakatnya, tutur Toru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga disambut dengan pernyataan dari Dr. Anies Baswedan yang menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih berupa produk komersil. Masyarakat masih berpikir sekolah itu mahal dan hanya orang-orang berduit saja yang bisa sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran pendidikan yang dipatok 20% pada APBN 2009 sebenarnya masih belum cukup untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia, mengingat demikian luasnya wilayah Indonesia. Hal ini menyebabkan pendidikan level sekolah menengah dan perguruan tinggi masih langka di daerah-daerah terpencil, jelas Anies. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Jepang target program wajib belajar 9 tahun Jepang telah terpenuhi 100% dari populasi penduduk Jepang. Untuk tingkat sekolah menengah, 97% dari populasi penduduk telah mengikutinya dan untuk tingkat perguruan tinggi 50% dari populasi penduduk Jepang telah menempuh pendidikan tingkat perguruan tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari hal tersebut, Anies menambahkan bahwa Indonesia harus memiliki manajemen pengembangan pendidikan yang baik. Indonesia dapat memulai dari meningkatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang sama untuk seluruh rakyat Indonesia, mulai dari level pendidikan sekolah dasar sampai level perguruan tinggi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan jembatan untuk meningkatkan taraf kehidupan menjadi lebih baik. (*/OL-02) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Media Indonesia Online &lt;br /&gt;http://www.mediaindonesia.com/read/2009/03/03/63568/88/ &lt;br /&gt;14/Pemerintah_Jangan_Ragu_Bangun_Sarana_Pendidikan_&lt;br /&gt;http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;cid=20&amp;artid=1348&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-571534820795997236?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/571534820795997236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pemerintah-jangan-ragu-bangun-sarana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/571534820795997236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/571534820795997236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pemerintah-jangan-ragu-bangun-sarana.html' title='Pemerintah Jangan Ragu Bangun Sarana Pendidikan'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-2681679523628512568</id><published>2009-05-18T00:05:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:06:24.609-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN SARANA PRASARANA'/><title type='text'>Akhirnya, Perpus Pedesaan Itu Dikunjungi Wabup "Ditanya Minta Bantuan Apa, Malah Bingung"</title><content type='html'>Selasa, 26 Februari 2008 07:58:36 - oleh : redaksi&lt;br /&gt;Eko Cahyono, lulusan SD yang gigih merintis perpustakaan umum secara swadaya di Desa Sukopuro Kecamatan Jabung Kabupaten Malang (baca KORAN PENDIDIKAN edisi 195), bisa bernapas lega. Perpus sederhana yang dinamai ’Perpustakaan Anak Bangsa’ itu akhirnya dikunjungi Wakil Bupati, Rendra Kresna. Ini diyakini sebagai terbukanya jalan menuju pengembangan perpustakaan yang lebih memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja keras Eko selama hampir 10 tahun, rasanya tak sia-sia. ’’Bayangkan, sejak merintis perpustakaan kecil-kecilan ini di tahun 1998, belum ada satu pun pejabat pemerintahan yang datang ke sini,’’ ujarnya terharu, di sela menerima kunjungan Rendra Kresna, pekan lalu. &lt;br /&gt;Saking terharunya, Eko bingung dan gelagapan saat ditanya Rendra, minta bantuan apa untuk pengembangan perpustakaan yang meski sederhana tapi pengunjungnya banyak dan kontinyu ini. Kebingungannya, juga disebabkan oleh saking banyaknya kebutuhan yang mestinya mendapat bantuan. Perpustakaan yang koleksi bukunya diadakan dengan cara minta bantuan door to door selama bertahun-tahun itu, memang jauh dari memadai sehingga pada dasarnya semuanya butuh bantuan. Tempatnya masih ngontrak, peralatan komputer tak ada, koleksi buku rata-rata ketinggalan zaman, hingga sarana penunjang lain yang juga tak ada. &lt;br /&gt;Camat Jabung Suharno dan Kades Sukopuro Suwendi yang mendampingi Rendra, juga memberi lampu hijau kepada Eko untuk mengajukan permohonan bantuan demi pendidikan masyarakat setempat. ’’Akhirnya saya memprioritaskan permohonan buku demi memperkaya koleksi perpus ini, karena itulah yang paling mendesak,’’ ujar Eko kepada KORAN PENDIDIKAN.&lt;br /&gt;Sementara itu Rendra Kresna juga memanfaatkan kunjungannya untuk bercengkerama dengan para pengunjung perpus yang rata-rata anak usia SD. Pejabat yang dikenal akrab dengan rakyatnya itu, sempat main tebak-tebakan dengan anak-anak. &lt;br /&gt;Kepada Eko, secara khusus Rendra berpesan agar terus bersemangat dan tak berhenti berjuang untuk memajukan pendidikan masyarakat, terutama masyarakat pedesaan. &lt;br /&gt;Sebagaimana diberitakan di koran mingguan ini, seorang lulusan SD warga Desa Sukopuro Kecamatan Jabung, Eko Cahyono, telah menunjukkan pengabdiannya di dunia pendidikan dengan mendirikan perpus sederhana yang disediakan untuk masyarakat umum, terutama anak-anak. Eko rela menjual sepeda motor yang selama ini menjadi sumber penghasilannya dengan disewakan kepada tukang ojek, untuk membangun perpus yang dinamainya Perpustakaan Anak Bangsa. Eko melihat, anak-anak di desanya serta di Kecamatan Jabung dan sekitarnya, sangat kekurangan buku bacaan. Kondisi perpustakaan di SD-SD wilayah tersebut sangat jauh dari memadai, bahkan banyak yang tak punya. sup-KP&lt;br /&gt;http://www.koranpendidikan.com/artikel/437/akhirnya-perpus-pedesaan-itu-dikunjungi-wabup-ditanya-minta-bantuan-apa-malah-bingung.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-2681679523628512568?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/2681679523628512568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/akhirnya-perpus-pedesaan-itu-dikunjungi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2681679523628512568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2681679523628512568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/akhirnya-perpus-pedesaan-itu-dikunjungi.html' title='Akhirnya, Perpus Pedesaan Itu Dikunjungi Wabup &quot;Ditanya Minta Bantuan Apa, Malah Bingung&quot;'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-4980651213876387991</id><published>2009-05-18T00:02:00.001-07:00</published><updated>2009-05-18T00:04:56.866-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>MENGAPA EVALUASI ?</title><content type='html'>11 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi di dalam dunia pendidikan khususnya dalam pelaksanaan pembelajaran merupakan unsur penting yang harus diketahui oleh seorang guru. Evaluasi merupakan satu rangkaian dari suatu proses pembelajaran yang tidak boleh ditingalkan oleh guru, sehingga evaluasi dapat dijadikan indikator terhadap suatu keberhasilan suatu pembelajaran yang telah dilaksanakan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwujudan pola pembelajaran dan pendidikan demokratis dapat dimulai dengan mengubah salah satu komponen penting pendidikan, yakni evaluasi. Evaluasi tidak cukup lagi hanya menagih daya ingat, tetapi harus juga menggali bagaimana anak berproses dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas.&lt;br /&gt;Demikian pandangan pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Prof Dr Anah Suhaenah, mengatakan bahwa pendidikan dan pembelajaran selama ini dinilai kurang demokratis. Peserta didik tidak diberi ruang untuk berimajinasi dan berkreasi. Peserta didik cenderung hanya menjadi obyek dan diposisikan tidak tahu apa-apa sehingga harus dijejali sesuai kemauan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Prof. Anah berpandangan, berbagai metode pembelajaran yang menekankan kreativitas dan kritis, seperti cara belajar siswa aktif atau problem base learning, sulit berhasil karena cara evaluasinya belum sesuai di lapangan. Selama ini anak cenderung ditagih daya ingatnya. Alhasil, guru pun sibuk memberikan berbagai masukan yang harus dihafalkan. Murid tidak pernah diajar untuk belajar, tetapi cenderung berlatih menjawab tes.&lt;br /&gt;Dalam suatu pembelajaran yang diperlukan adalah evaluasi untuk melihat bagaimana anak berproses. Tagihan tersebut terkait kreativitas, praktik, dan evaluasi menggunakan portofolio untuk melihat hasil kerja siswa, bukan yang diingat siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ingin anak-anak lebih kreatif, misalnya, tidak perlu soal pilihan ganda. Tes lebih ditekankan pada mengembangkan materi yang diterima di kelas. Berikan satu kata untuk dijadikan satu karangan atau satu bentuk untuk dijadikan gambar utuh. Intinya, membangun sesuatu dengan bahan terbatas dan eksplorasi,” katanya. Dia mengakui, perubahan model evaluasi tidak otomatis mengubah wajah pendidikan di dalam kelas, tetapi paling tidak akan sangat memengaruhi suasana pendidikan. Sebab, sistem evaluasi merupakan komponen penting dalam proses belajar-mengajar di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat mengevaluasi potensi anak didiknya dengan tepat, guru perlu dibebaskan dari beban yang terlalu berat. Selama ini, misalnya, satu guru mengajar 40 murid sehingga sukar berinteraksi dengan anak didiknya. Untuk itu, guru perlu diberikan otonomi dan tentunya dengan standardisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan oleh Prof Anah Suhaenah sejalan seperti dikatakan Kepala Pusat Penataran dan Pengembangan Guru Terpadu (P3GT) Bandung Abdorrakhman Gintings menambahkan, selama ini bukan tidak ada upaya agar suasana kelas lebih demokratis. Upaya yang dilakukan antara lain memberikan pelatihan berbagai metode pembelajaran kepada guru sehingga nantinya pola kekuasaan di kelas juga berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penataran guru, misalnya, saat ini diadakan apa yang disebut PAKEM atau pendidikan, aktif, kreatif, dan menyenangkan. Yang diajarkan adalah metodologi mengajar interaktif dan menyenangkan.&lt;br /&gt;Banyak teori yang dicurahkan kepada para guru, tetapi setelah selesai pelatihan dan guru ingin menerapkannya di sekolah, justru dianggap keluar jalur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandang perlu gerakan massal dan intensif tentang demokratisasi dalam pendidikan, mulai dari guru, sekolah, hingga instansi pemerintah terkait. Hal itu dapat dimulai dengan teladan perilaku para pemimpin, Sebaik apa pun metodologi yang digunakan, kalau kita tak siap akan sisa-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pendidikan yang demokratis itu salah satunya mendasarkan pada faham humanisme. Secara umum, humanisme terkait dengan kebebasan dan otonomi. Prinsip-prinsip para humanis menekankan pentingnya kebutuhan manusia secara individual. Individu memiliki dorongan terhadap aktualisasi diri dan tanggung jawab pada diri sendiri maupun orang lain.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://xpresiriau.com/teroka/artikel-tulisan-pendidikan/mengapa-evaluasi/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-4980651213876387991?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/4980651213876387991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/mengapa-evaluasi_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/4980651213876387991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/4980651213876387991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/mengapa-evaluasi_18.html' title='MENGAPA EVALUASI ?'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-2936339102596161057</id><published>2009-05-18T00:02:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T00:04:56.634-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>MENGAPA EVALUASI ?</title><content type='html'>11 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi di dalam dunia pendidikan khususnya dalam pelaksanaan pembelajaran merupakan unsur penting yang harus diketahui oleh seorang guru. Evaluasi merupakan satu rangkaian dari suatu proses pembelajaran yang tidak boleh ditingalkan oleh guru, sehingga evaluasi dapat dijadikan indikator terhadap suatu keberhasilan suatu pembelajaran yang telah dilaksanakan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwujudan pola pembelajaran dan pendidikan demokratis dapat dimulai dengan mengubah salah satu komponen penting pendidikan, yakni evaluasi. Evaluasi tidak cukup lagi hanya menagih daya ingat, tetapi harus juga menggali bagaimana anak berproses dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas.&lt;br /&gt;Demikian pandangan pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Prof Dr Anah Suhaenah, mengatakan bahwa pendidikan dan pembelajaran selama ini dinilai kurang demokratis. Peserta didik tidak diberi ruang untuk berimajinasi dan berkreasi. Peserta didik cenderung hanya menjadi obyek dan diposisikan tidak tahu apa-apa sehingga harus dijejali sesuai kemauan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Prof. Anah berpandangan, berbagai metode pembelajaran yang menekankan kreativitas dan kritis, seperti cara belajar siswa aktif atau problem base learning, sulit berhasil karena cara evaluasinya belum sesuai di lapangan. Selama ini anak cenderung ditagih daya ingatnya. Alhasil, guru pun sibuk memberikan berbagai masukan yang harus dihafalkan. Murid tidak pernah diajar untuk belajar, tetapi cenderung berlatih menjawab tes.&lt;br /&gt;Dalam suatu pembelajaran yang diperlukan adalah evaluasi untuk melihat bagaimana anak berproses. Tagihan tersebut terkait kreativitas, praktik, dan evaluasi menggunakan portofolio untuk melihat hasil kerja siswa, bukan yang diingat siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ingin anak-anak lebih kreatif, misalnya, tidak perlu soal pilihan ganda. Tes lebih ditekankan pada mengembangkan materi yang diterima di kelas. Berikan satu kata untuk dijadikan satu karangan atau satu bentuk untuk dijadikan gambar utuh. Intinya, membangun sesuatu dengan bahan terbatas dan eksplorasi,” katanya. Dia mengakui, perubahan model evaluasi tidak otomatis mengubah wajah pendidikan di dalam kelas, tetapi paling tidak akan sangat memengaruhi suasana pendidikan. Sebab, sistem evaluasi merupakan komponen penting dalam proses belajar-mengajar di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat mengevaluasi potensi anak didiknya dengan tepat, guru perlu dibebaskan dari beban yang terlalu berat. Selama ini, misalnya, satu guru mengajar 40 murid sehingga sukar berinteraksi dengan anak didiknya. Untuk itu, guru perlu diberikan otonomi dan tentunya dengan standardisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan oleh Prof Anah Suhaenah sejalan seperti dikatakan Kepala Pusat Penataran dan Pengembangan Guru Terpadu (P3GT) Bandung Abdorrakhman Gintings menambahkan, selama ini bukan tidak ada upaya agar suasana kelas lebih demokratis. Upaya yang dilakukan antara lain memberikan pelatihan berbagai metode pembelajaran kepada guru sehingga nantinya pola kekuasaan di kelas juga berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penataran guru, misalnya, saat ini diadakan apa yang disebut PAKEM atau pendidikan, aktif, kreatif, dan menyenangkan. Yang diajarkan adalah metodologi mengajar interaktif dan menyenangkan.&lt;br /&gt;Banyak teori yang dicurahkan kepada para guru, tetapi setelah selesai pelatihan dan guru ingin menerapkannya di sekolah, justru dianggap keluar jalur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandang perlu gerakan massal dan intensif tentang demokratisasi dalam pendidikan, mulai dari guru, sekolah, hingga instansi pemerintah terkait. Hal itu dapat dimulai dengan teladan perilaku para pemimpin, Sebaik apa pun metodologi yang digunakan, kalau kita tak siap akan sisa-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pendidikan yang demokratis itu salah satunya mendasarkan pada faham humanisme. Secara umum, humanisme terkait dengan kebebasan dan otonomi. Prinsip-prinsip para humanis menekankan pentingnya kebutuhan manusia secara individual. Individu memiliki dorongan terhadap aktualisasi diri dan tanggung jawab pada diri sendiri maupun orang lain.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://xpresiriau.com/teroka/artikel-tulisan-pendidikan/mengapa-evaluasi/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-2936339102596161057?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/2936339102596161057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/mengapa-evaluasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2936339102596161057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2936339102596161057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/mengapa-evaluasi.html' title='MENGAPA EVALUASI ?'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-1310541997025570422</id><published>2009-05-17T23:55:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:58:07.321-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN</title><content type='html'>Oleh: Ardiani Mustikasari, S. Si, M. Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. Kegiatan ini sering disebut juga sebagai refleksi proses pembelajaran, karena kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;Dalam Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:&lt;br /&gt;a. Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses&lt;br /&gt;b. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. EVALUASI DIRI&lt;br /&gt;Evalusi proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan secara mandiri. Guru dapat menuangkan evaluasi yang telah dilakukannya dalam jurnal refleksi pembelajaran. Guru dapat mengisi jurnal ini pada setiap pelajaran yang telah diberikan/ diajarkan atau selama guru tersebut melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai guru&lt;br /&gt;Jurnal merekam renungan dan refleksi dari pikiran, seperti:&lt;br /&gt;• Apa yang saya ajarkan hari ini?&lt;br /&gt;• Apa yang masih membingunkan bagi siswa?&lt;br /&gt;• Apakah saya menemukan masalah dan issu yang tidak diharapkan?&lt;br /&gt;• Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan?&lt;br /&gt;• Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan?&lt;br /&gt;• Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan?&lt;br /&gt;• Apakah saya telah membelajarkan siswa?&lt;br /&gt;• Bagaimana saya memperbaiki tehnik pembelajaran?&lt;br /&gt;• Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi?&lt;br /&gt;• Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya (photo, websites, dll)?&lt;br /&gt;• Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. EVALUASI KOLABORATIF&lt;br /&gt;Guru dapat melakukan evaluasi proses pembelajaran secara kolaboratif. Kolaborasi dapat dilakukan dengan rekan guru atau siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. DOKUMENTASI PROSES PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;Dalam evaluasi proses pembelajaran, yang perlu diperhatikan juga adalah mendokumentasikan berbagai hal yang menyangkut proses pembelajaran. Hal-hal yang perlu didokumentasikan adalah:&lt;br /&gt;1. dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)&lt;br /&gt;2. dokumen hasil diskusi, kliping, laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar&lt;br /&gt;3. dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan difungsikannya sumber-sumber belajar&lt;br /&gt;4. dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan, mengakses internet, kelompok ilmiah remaja, kelompok belajar bahasa asing (bahasa inggris, bahasa arab, bahasa jepang, bahasa mandarin, bahasa perancis, dan lain-lain), mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum, kebun raya, pusat industri, dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber belajar&lt;br /&gt;5. dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti kebun untuk praktek biologi, daur ulang sampah, kunjungan ke laboratorium alam, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab&lt;br /&gt;6. dokumen kegiatan pekan bahasa, seni dan budaya, pentas seni, pameran lukisan, teater, latihan tari, latihan musik, ketrampilan membuat barang seni, karya teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya&lt;br /&gt;7. dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan, konser musik, pagelaran tari, musik, drama, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengapresiasikan karya seni dan budaya&lt;br /&gt;8. dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas, tingkat kabupaten / propinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif.&lt;br /&gt;9. dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah bersama, peringatan hari-hari besar agama, membantu warga sekolah yang memerlukan&lt;br /&gt;10. dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa, seperti: hasil portofolio, buletin siswa, majalah dinding, laporan penulisan karya tulis, laporan kunjungan lapangan, dan lain-lain&lt;br /&gt;11. dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://edu-articles.com/evaluasi-proses-pembelajaran/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-1310541997025570422?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/1310541997025570422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluasi-proses-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1310541997025570422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1310541997025570422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluasi-proses-pembelajaran.html' title='EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-2549449914847268257</id><published>2009-05-17T23:47:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:52:43.498-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>Evaluasi Kinerja Guru oleh Siswa</title><content type='html'>12 Januari 2009 pukul 20:32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam manajemen kinerja, setiap guru harus dinilai kinerjanya sehingga dapat diketahui sejauhmana proses dan hasil kerja guru yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Kendati demikian, selama ini, evaluasi kinerja guru cenderung banyak dilakukan oleh atasannya (baca: kepala sekolah atau pengawas sekolah), sementara siswa jarang dilibatkan untuk menilai kinerja gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian kinerja guru oleh siswa merupakan salah satu teknik penilaian untuk mengidentifikasi kinerja guru, yang hingga saat ini keberadaannya masih kontroversi. Di satu pihak, ada sebagian orang yang berpendapat bahwa pelibatan siswa untuk mengukur kinerja guru kurang tepat. Berbeda dengan kepala sekolah atau pengawas sekolah yang memang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan bagaimana seharusnya guru mengajar, sedangkan siswa dianggap kurang atau bahkan sama sekali tidak memiliki kematangan dan keahlian untuk melakukan penilaian tentang gaya mengajar guru. Selain itu, mereka menganggap bahwa siswa cenderung lebih mengukur popularitas dari pada kemampuan guru itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, tidak sedikit pula yang memberikan dukungan terhadap penggunaan teknik penilaian kinerja guru oleh siswa. Aleamoni (1981) mengungkapkan argumentasi penggunaan teknik penilaian kinerja guru oleh siswa, yaitu:&lt;br /&gt;Para siswa merupakan sumber informasi utama tentang lingkungan belajar, termasuk di dalamnya tentang motivasi dan kemampuan mengajar guru.&lt;br /&gt;Para siswa pada dasarnya dapat menilai secara logis tentang kualitas, efektivitas, dan kepuasan dari materi dan metode pembelajaran yang dikembangkan guru.&lt;br /&gt;Penilaian kinerja guru oleh siswa dapat mendorong terjadinya komunikasi antara siswa yang bersangkutan dengan gurunya, yang pada gilirannya dapat meningkatkan proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;Dalam mata pelajaran tertentu, hasil penilaian kinerja guru oleh siswa dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa-siswa lain dalam memilih mata pelajaran dan memilih guru yang sesuai dengan dirinya.&lt;br /&gt;Dalam pendidikan yang berorientasi pada mutu, siswa pada dasarnya merupakan pelanggan (costumer) utama yang harus didengar pendapat dan pemikirannya atas pelayanan pendidikan yang diberikan gurunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menepis persoalan ketidakmatangan siswa untuk dilibatkan dalam evaluasi kinerja guru, studi yang dilakukan Peterson dan Kauchak (1982) menemukan bukti bahwa evaluasi kinerja guru oleh siswa ternyata dapat menunjukkan konsitensi dan reliabilitas yang tinggi dari satu tahun ke tahun berikutnya. Demikian juga, siswa ternyata dapat membedakan pengaruh pembelajaran yang efektif dan tidak efektif dilihat dari dimensi sikap, minat dan keakraban guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan pemikiran Aleamoni dan hasil studi yang dilakukan Peterson dan Kauchak tersebut, mungkin tidak ada salahnya di sekolah Anda mulai dikembangkan penilaian kinerja guru oleh siswa, baik yang digagas oleh siswa, guru atau kepala sekolah. Selama evaluasi kinerja oleh siswa ini didesain dan diadministrasikan sesuai dengan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip evaluasi, maka data yang dihasilkan akan dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan perbaikan mutu dan efektivitas pembelajaran siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/12/26/evaluasi-kinerja-guru-oleh-siswa/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-2549449914847268257?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/2549449914847268257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluasi-kinerja-guru-oleh-siswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2549449914847268257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2549449914847268257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluasi-kinerja-guru-oleh-siswa.html' title='Evaluasi Kinerja Guru oleh Siswa'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-5617704628892582273</id><published>2009-05-17T23:46:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:47:29.566-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>Sistem Evaluasi Terhadap Pengajar</title><content type='html'>In Manajemen Sekolah, Penelitian Pendidikan, Serba-Serbi Jepang on Februari 20, 2009 at 2:57 pm &lt;br /&gt;Sistem Evaluasi adalah sistem yang menjadi mutlak dalam proses belajar mengajar. Guru mengevaluasi kemampuan siswa adalah hal yang sudah biasa, tetapi siswa yang menilai pengajaran guru barangkali masih langka di negara kita.&lt;br /&gt;Selama menjadi pengajar part time di sebuah lembaga bahasa yang cukup bonafid dengan cabang yang hampir ada di seluruh dunia, saya sudah 3 kali mendapatkan evaluasi. Saya memulai karir di sana dengan kritikan cara mengajar, disiplin waktu, dll yang kadang-kadang membuat saya ingin berhenti saja. Atasan saya kadang-kadang menempatkan saya di ruang bervideo dan mengamati cara mengajar. Tindakan ini semula menyakitkan tapi lama-lama saya bisa menerimanya dengan lapang dada, kritikannya cukup membangun. Siswa biasanya mengisi lembaran evaluasi yang tidak ditunjukkan kepada pengajar. Hasil total evaluasi dalam bentuk persentase hanya disampaikan kepada atasan secara langsung kepada pengajar. Berdasarkan hasil evaluasi yang diberikan oleh siswa dan atasan, maka jumlah jam dan kepercayaan untuk mengampu kelas akan ditentukan.&lt;br /&gt;Saya juga mengajar di sebuah lembaga bahasa kecil dengan manajer yang sudah seperti bapak sendiri. Semula hanya satu siswa yang saya pegang yang kemudian bertambah menjadi dua, dan selanjutnya semakin bertambah. Saya senang mengajar mereka, dan saya lebih-lebih menjadi senang ketika mereka bersemangat dan senang belajar bahasa Indonesia. Banyak yang menjadi murid saya dalam jangka waktu yang lama. Kadang-kadang saya khawatir mereka menjadi bosan, tapi kelihatannya tidak,sebab mereka minta diajar setiap minggu. Penilaian di lembaga ini tidak berlangsung secara resmi, tetapi manajer biasanya menanyakan secara basa-basi kepada siswa dalam obrolan biasa tentang kelas yang diberikan oleh seorang pengajar.Dari situ biasanya manajer secara obrolan biasa juga menyampaikan kepada pengajar hasil penilaian siswa, misalnya : kelas anda menarik, atau karena banyak percakapan, murid-murid sangat senang. Tetapi kadang-kadang pula langsung memuji dan ujung-ujungnya biasanya mempercayakan setiap ada murid baru.&lt;br /&gt;Di semua universitas di Jepang telah diberlakukan sistem evaluasi terhadap dosen yang dilakukan oleh mahasiswa. Sistem evaluasi ini sangat bermanfaat untuk memperbaiki pengajaran, tetapi kadang-kadang mahasiswa mengisinya dengan malas atau sangat dipengaruhi oleh senang tidaknya dia dengan pelajaran bersangkutan.&lt;br /&gt;Ada 4 poin utama yang dinilai yaitu :&lt;br /&gt;1. Partisipasi/Kehadiran/Keaktifan siswa dalam kuliah bersangkutan (ada 3 poin yang ditanyakan)&lt;br /&gt;2. Tentang perkuliahan secara umum (ada 4 poin)&lt;br /&gt;3. Tentang pengelolaan kelas, misalnya ketepatan waktu, keseriusan guru menegur siswa yang terlambat atau melakukan kejahilan di kelas, dll (ada 7 poin)&lt;br /&gt;4. Penilaian secara umum (4 poin).&lt;br /&gt;Dan ada kolom khusus untuk memberikan tanggapan bebas kepada dosen pengajar.&lt;br /&gt;Hasil evaluasi seperti ini sangat bermanfaat bagi para pengajar. Saya biasanya memberikan lembaran khusus kepada mahasiswa untuk menulis apa saja tentang kelas yang saya pegang, sebab saya pikir akan lebih mudah mengetahui keinginan siswa dalam bentuk uraian daripada sekedar angka yang berupa persentasi.&lt;br /&gt;Tetapi selain bentuk formal seperti itu, pernyataan langsung mahasiswa misalnya “kuliah Ibu menarik dan membuat saya ingin mengambilnya lagi semester depan” adalah juga bentuk evaluasi yang jujur.&lt;br /&gt;http://murniramli.wordpress.com/2009/02/20/sistem-evaluasi-terhadap-pengajar/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-5617704628892582273?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/5617704628892582273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/sistem-evaluasi-terhadap-pengajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5617704628892582273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5617704628892582273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/sistem-evaluasi-terhadap-pengajar.html' title='Sistem Evaluasi Terhadap Pengajar'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-335061418333133918</id><published>2009-05-17T23:45:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:46:35.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>EVALUASI PENGAJARAN</title><content type='html'>Written by Hadi Siswoyo    Sunday, 15 February 2009 &lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan Pengukuran/Measurement? &lt;br /&gt;•          Kegiatan yang dilakukan untuk mengukur sesuatu.&lt;br /&gt;•          Kegiatan membandingan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu.&lt;br /&gt;•          Pengukuran bersifat kuantitatif (how much?).&lt;br /&gt;Unsur pokok pengukuran:&lt;br /&gt;1. Tujuan Pengukuran&lt;br /&gt;2. Ada objek ukur: bagaimana ciri-ciri atau sifat dari benda atau orang yang diukur.&lt;br /&gt;3. Alat ukur contohnya tes, atau non-tes&lt;br /&gt;4. Proses pengukuran.&lt;br /&gt;5. Hasil pengukuran, data dan informasi bersifat kuantitatif.&lt;br /&gt;Jenis Pengukuran:&lt;br /&gt;1. Pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu, misalnya pengukuran yang dilakukan oleh penjahit pakaian.&lt;br /&gt;2. Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu, misalnya untuk menguji daya tahan suatu benda.&lt;br /&gt;3. Pengukuran untuk menilai dengan jalan menguji dalam bentuk tes, misalnya mengukur kemajuan belajar peserta didik dalam rangka mengisi nilai rapor dsb.&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip Umum Pengukuran Dalam Pendidikan:&lt;br /&gt;1. Menyeluruh karena didalamnya ada aspek psikologis&lt;br /&gt;2. Adanya kontrol&lt;br /&gt;3. Sasaran harus jelas&lt;br /&gt;4. Objektif&lt;br /&gt;5. Keterbukaan&lt;br /&gt;6. Representatif&lt;br /&gt;7. Aturan skoring&lt;br /&gt;8. Keseksamaan&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan Penilaian/Assessment?&lt;br /&gt;•          Proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan kriteria tertentu (baik-buruk, tinggi – rendah, dsb).&lt;br /&gt;•          Proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran baik  berupa tes maupun non tes.&lt;br /&gt;•          Bersifat kualitatif&lt;br /&gt;Fungsi Penilaian:&lt;br /&gt;1. Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional.&lt;br /&gt;2. Umpan balik bagi proses belajar-mengajar.&lt;br /&gt;3. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tua.&lt;br /&gt;Tujuan Penilaian:&lt;br /&gt;•          Untuk mendeskripsikan sesuatu.&lt;br /&gt;•          Untuk mengetahui keberhasilan suatu proses.&lt;br /&gt;•          Untuk menentukan tindak lanjut hasil penilaian.&lt;br /&gt;•          Untuk memberikan bertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang berkepentingan.&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip dalam Penilaian Pendidikan:&lt;br /&gt;1.       Prinsip Dasar sebagai pedoman kerja dalam melaksanakan penilaian:&lt;br /&gt;                a. Penilaian = alat komunikasi&lt;br /&gt;                b. Tujuan utama untuk membantu siswa                              mencapai perkembangan semaksimal    mungkin.&lt;br /&gt;                c. siswa harus dibandingkan dengan dirinya         sendiri dan jangan hanya dibandingkan                 dengan                 murid lain.&lt;br /&gt;                d. hendaknya menggunakan berbagai macam alat            atau cara-cara penilaian.&lt;br /&gt;                e. Penilaian hendaknya menyarankan langkah-langkah yang diambil.&lt;br /&gt;                2.  Prinsip Pelaksanaan:&lt;br /&gt;                a. Penilaian harus dilaksanakan secara  objektif.&lt;br /&gt;                b. Penilaian harus dilaksanakan secara   kontinu/berkelanjutan. Penilaian tidak hanya    kegiatan tes formal, melainkan           juga sikap dan   keaktifan siswa pada saat PBM.&lt;br /&gt;                c. Penilaian harus dilaksanakan secara    komprehensif = harus mengenai              semua aspek     kepribadian.&lt;br /&gt;Jenis-jenis Penilaian:&lt;br /&gt;•          Formatif = penilaian berorientasi pada proses belajar mengajar (setelah satu pokok bahasan).&lt;br /&gt;•          Sumatif = berorientasi pada produk bukan proses.&lt;br /&gt;•          Diagnostik  untuk melihat kelebihan dan kelemahan-kelemahan berserta faktor penyebabnya, contohnya untuk bimbel, remidial.&lt;br /&gt;•          Selektif untuk keperluan seleksi.&lt;br /&gt;•          Penempatan&lt;br /&gt;Sistem Penilaian:&lt;br /&gt;Cara yang digunakan dalam menentukan derajat keberhasilan hasil penilaian sehingga kedudukan siswa dapat diketahui, apakah telah menguasai tujuan instruksional atau belum&lt;br /&gt;Cara penilaian hasil dan proses belajar dapat menggunakan huruf A, B, C, D, E (gagal) atau dengan menggunakan sistem Angka 1- 10 atau 1-100.&lt;br /&gt;Sistem Penilaian Hasil belajar dibedakan menjadi 2 yaitu&lt;br /&gt;1. PAN ( Penilaian Acuan Norma) yaitu penilaian yang diacukan kepada rata-rata kelompok/kelasnya. Atas dasar 3 kategori diatas rata-rata, sekitar rata-rata dan dibawah rata-rata kelas.&lt;br /&gt;2. PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu penilaian yang diacukan pada tujuan instruksional yang harus dikuasai oleh siswa. Derajat keberhasilan siswa dibandingkan dengan tujuan yang  seharusnya dicapai, bukan dibandingkan dengan rata-rata kelompoknya.&lt;br /&gt;Ciri-Ciri Penilaian dalam Pendidikan:&lt;br /&gt;1. Dilakukan secara tidak langsung. Contohnya mengukur kepandaian melalui ukuran kemampuan menyelesaikan soal-soal.&lt;br /&gt;2. Dari Penilaian pendidikan bersifat kuantitatif artinya menggunakan bilangan sebagai hasil pertama pengukuran, setelah itu diinterpretasikan dalam bentuk kualitatif.&lt;br /&gt;3. Penilaian pendidikan mengunakan unit-unit atau satuan satuan yang tetap.&lt;br /&gt;4. Penilaian pendidikan bersifat relatif.&lt;br /&gt;5. Dalam penilaian pendidikan sering terjadi kesalahan-kesalahan karena berbagai faktor (Arikunto, 2003: 11-16).&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan Evaluasi Pendidikan?&lt;br /&gt;•          Mencakup dua kegiatan yaitu pengukuran dan penilaian.&lt;br /&gt;•          Pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri siswa.&lt;br /&gt;•          Proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai.&lt;br /&gt;•          Proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;•          Berarti usaha untuk memperoleh umpan balik bagi penyempurnaan pendidikan (Sudijono, 2001:5)&lt;br /&gt;Kegunaan Evaluasi Pendidikan:&lt;br /&gt;1. Terbukanya kemungkinan untuk memperoleh informasi tentang hasil-hasil yang telah dicapai dalam rangka pelaksanaan program pendidikan.&lt;br /&gt;2. Terbukanya kemungkinan untuk mengetahui relevansi antara program dengan tujuan yang hendak dicapai.&lt;br /&gt;3. Terbukanya kemungkinan usaha perbaikan, penyesuaian dan penyempurnaan program pendidikan yang dipandang lebih berdaya guna sehingga tujuan yang dicita-citakan tercapai dengan hasil baik.&lt;br /&gt;http://hadisiswoyo.co.cc/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=47&amp;Itemid=39&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-335061418333133918?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/335061418333133918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluasi-pengajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/335061418333133918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/335061418333133918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluasi-pengajaran.html' title='EVALUASI PENGAJARAN'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-4967966962348821905</id><published>2009-05-17T23:44:00.002-07:00</published><updated>2009-05-17T23:45:29.993-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>Menyoal Pra Ujian Nasional : Tinjauan Dari Sudut Pandang Pedagogi, Politik dan Ekonomi</title><content type='html'>Judul: Menyoal Pra Ujian Nasional : Tinjauan Dari Sudut Pandang Pedagogi, Politik dan Ekonomi&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Syamsul Aematis Zarnuji &lt;br /&gt;Saya Kepala Sekolah di Balikpapan &lt;br /&gt;Topik: Ujian Nasional &lt;br /&gt;Tanggal: 25 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela hiruk pikuk pelaksanaan pilkada secara langsung di berbagai daerah di Kalimantan Timur, beberapa hari terakhir ini publik disuguhkan dengan berbagai pemberiataan tentang pelaksanaan Pra Ujian Nasional (Pra-UN) di daerah tersebut. Dari informasi yang dilansir Harian Kaltim Post dan beberapa media lokal lainnya, penyelenggaraan tes tersebut berjalan dengan lancar. Namun demikian, hasil tes yang baru saja dilaksanakan beberapa waktu yang lalu tersebut sungguh sangat menyedihkan. Dari 79.224 peserta yang mengikuti tes pada 13 kabupaten/kota, rata-rata jumlah siswa yang mampu mencapai nilai standar kelulusan secara nasional (nilai minimal pada masing-masing mata ujian adalah 4,26 dengan nilai rata-rata minimal 4,51) hanya kurang dari 50 %. Bahkan di salah satu kabupaten, khusus pada jenjang pendidikan SLTA, tak satupun dari peserta tes tersebut yang mampu meraih standar nilai kelulusan dimaksud (Kaltim Post, 12 April 2006). Pertanyaannya kemudian, apakah yang harus dilakukan untuk menyikapi hasil tes tersebut dalam rangka menghadapi ujian akhir nasional yang akan datang ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini saya akan menguraikan berbagai fenomena penyelelenggaraan tes dimaksud dari sudut pandang pedagogi, politik dan ekonomi serta langkah-langkah strategis yang harus diambil baik oleh pemerintah maupun penyelenggara pendidikan di Propinsi Kalimantan Timur dalam menyikapi pelaksanaanya dan hasil yang telah dicapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. SUBSTANSI DAN MEKANISME PELAKSANAAN PRA - UN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui bahwa tujuan dari penyelenggaraan Pra-UN tersebut adalah untuk melihat sampai sejauh mana kesiapan siswa - siswi kelas 3 SLTP dan SLTA di Propinsi Kalimantan Timur dalam rangka mengikuti Ujian Nasional tahun ajaran 2005/2006. Dari hasil pelaksanaan Pra-UN tersebut diharapkan agar sekolah dapat melaksanakan langakah-langkah strategis guna mengantisipasi ketidaktercapaian standar nilai kelulusan yang telah ditetapkan secara nasional untuk tahun ajaran 2005/2006 ini. Berangkat dari tujuan tersebut maka diputuskanlah untuk dilaksanakan uji coba tes mata pelajaran/diklat yang diujikan secara nasional yang kemudian disebut dengan Pra Ujian Nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Substansi dan mekanisme pelaksanaan Pra-UN tersebut dibuat sama persis seperti Ujian Nasional. Perbedaannya hanya terletak pada wilayah dimana ujian dimaksud di laksanakan. Jika Ujian Akhir Nasional mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia maka Pra-UN dilaksanakan hanya dilingkup wilayah propinsi Kalimantan Timur. Namun demikian, semua sub kegiatan dari program tersebut dilakukan secara sentralistik kecuali pelaksanaan/pengawasan dan pengiriman kembali lembar jawaban tes tersebut yang menjadi tugas dari masing-masing sekolah penyelenggara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan tes tersebut dilakukan kurang lebih satu bulan stengah menjelang Ujian Nasional dilaksanakan. Sedangkan hasil dari tes tersebut disampaikan/tiba di masing-masing sekolah kurang dari satu bulan menjelang pelaksanaan Ujian Nasional - UN (Pelaksanaan UN sesuai dengan jadwal yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional akan dilakukan pada minggu pertama bulan Mei yang akan datang). Hasil dari pelaksanaan Pra-UN tersebut berupa daftar nilai yang telah dicapai oleh masing-masing peserta tes pada sekolah bersangkutan yang hanya dilengkapi dengan keterangan apakah yang bersangkutan telah mencapai standar kelulusan atau tidak. Inilah penjelasan secara garis besar tentang substansi dan mekanisme pelaksanaan Pra-UN tersebut di Propinsi Kalimantan Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TINJAUAN DARI SUDUT PANDANG PEDAGOGI, POLITIK DAN EKONOMI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pedagogis, substansi dan mekanisme pelaksanaan Pra-UN seperti yang saya uraikan tersebut di atas masih memunculkan berbagai pertanyaan berkaitan dengan keefektifitasannya. Dilihat dari tujuan yang ingin dicapai maka substansi dan mekanisme seperti yang telah dijalankan tersebut memiliki beberapa kelemahan jika dikaitkan dengan fungsi tes tersebut yakni sebagai alat diagnosa (diagnostic test) untuk mengetahui kesiapan (kelemahan dan kekuatan) kita dalam mengikuti UN yang akan datang. Kelemahan-kelemahan tersebut anatara lain; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah berkaitan dengan substansi test (test contents). Jika diamati salah satu tes yang digunakan dalam Pra-UN tersebut, sebut saja misalnya mata pelajaran/diklat bahasa Inggris untuk kelompok SMK, ditemukan bahwa aspek pengetahuan dan keterampilan bahasa yang diujikan pada tes tersebut baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya tidak sama dengan apa yang tertera pada panduan pelaksanaan Ujian Nasional tahun pelajaran 2005/2006 yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penilaian Pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional (Lihat Panduan Materi Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006 SMK Kurukulum 1994). Dalam Panduan tersebut pada Gambaran Umum disebutkan bahwa jumlah soal untuk masing-masing bagian tes; listening dan reading adalah 30 butir. Dengan demikian jumlah soal seluruhnya adalah 60 butir. Walaupun dalam Prosedur Operasi Standar - POS Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006 disebutkan bahwa jumlah soal seluruhnya adalah 50 butir yang terdiri dari 15 untuk tes listening dan 35 untuk test reading, informasi ini menurut saya memiliki tingkat kebenaran yang lebi rendah bila dibandingkan dengan informasi yang tertera pada Panduan Materi Ujian Nasional. Kenapa ? Karena POS tersebut hanyalah dokumen yang fungsi urtamanya mengatur prosedur atau teknis pelaksanaan ujian tersebut sedangkan Panduan Materi Ujian Nasional lebih mengarah ke substansi atau isi soal. Dengan demikian, pedoman utama yang seharusnya digunakan untuk menyusun soal Pra-UN tersebut tentu buku Panduan Materi Ujian Nasional, bukan POS Ujian Nasional. Kalau dokumen tersebut yang digunakan sebagai referensi, kenapa jumlah soal Pra-UN hanya 15 butir pada bagian listening dan 35 pada bagian reading ? Inilah perbedaan yang paling mendasar dalam hal kuantitas isi soal. Disamping itu, apabila dibandingkan dengan bentuk dan jumlah soal UN tahun lalu, soal-soal Pra-UN yang diujikan beberapa waktu yang lau pun sangat kelihatan perbedaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pada aspek kuantitas, ketidakkonsistensian juga bisa ditemukan pada tataran kualitas isi tes. Dalam buku Panduan Materi Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006 disebutkan bahwa ada 2 (dua) Standar Kompetensi Lulusan-SKL yang diujikan secara nasional yakni; kemampuan mendengarkan (listening) dan kemampuan membaca (reading). Khusus pada kemampuan membaca disebutkan bahwa ruang lingkup materi yang diujikan meliputi 4 (empat) hal ; menemukan pesan utama dalam teks tulis (1), menemukan informasi rinci tertentu (2), menemukan makna tersurat dan tersirat (3) dan menafsirkan makna kata sesuai konteks (4). Jika diperhatikan keempat hal tersebut tampak dengan jelas bahwa ranah bahasa yang diujikan adalah keterampilan memahami bacaan, bukan pengetahuan terhadap struktur kalimat-kalimat yang biasa dijumpai dalam bahasa tertulis. Kalau mengacu kepada panduan baku yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tersebut sungguh tidak bisa dimengerti kenapa pada tes bahas Inggris SMK Pra-UN tersebut yang katanya dibuat semirip mungkin dengan tes UN masih muncul soal-soal yang substansinya menguji kemampuan seseorang terhadap pengetahuan struktur (structure) kalimat dan tata bahasa (grammar). Dari 35 soal yang diujikan pada bagian kemampuan membaca terdapat lebih dari 50 % atau 20 butir soal mengarah kepada hal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping ketidakkonsistensian penyebaran keterampilan dan pengetahuan bahasa yang diujikan pada tes Pra-UN tersebut, ketidakjelasan dan/atau kesalahan pencetakan pun bisa ditemukan pada beberapa soal. Sebut saja misalnya pada bagian kemampuan mendengarkan. Gambar-gambar yang disuguhkan pada bagian 'interpreting pictures' tidak begitu jelas. Bahkan gambar nomor 1 (satu) samasekali tidak bisa diidentifikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah berhubungan dengan prosedur atau mekanisme pelaksanaan tes (testing mechanism). Seperti diketahui bahwa Pra-UN tersebut dilaksanakan kurang lebih satu bulan setengah mejelang waktu pelaksanaan UN. Sementara dilain pihak mekanisme pelaksanaannya dilakukan secara sentralistik yang tentu membutuhkan waktu relatif cukup lama terutama untuk memperoses hasil yang telah dicapai oleh peserta tes. Karena birokrasinya yang cukup panjang disamping terlalu dekatnya waktu pelaksanaan tes tersebut dengan jadwal pelaksanaan UN maka waktu yang tersisa untuk melakukan persiapan UN setelah menerima hasil Pra-UN tersebut sangatlah sempit. Bayangkan apa yang bisa kita lakukan dalam 3 (tiga) minggu ini ? Tentu melakukan pengayaan terhadap materi-materi yang di-UN-kan. Dengan waktu yang 3 (tiga) minggu pasti kita tidak bisa berharap banyak jika melihat jumlah materi yang harus disampaikan. Konsekwensinya adalah kita tentu tidak akan bisa memperoleh hasil yang optimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kedua aspek yang telah saya uraikan di atas, isi laporan hasil tes (contents of test report) juga menjadi salah satu penyebab ketidakefektifitasan penyelenggaraan Pra-UN tersebut dalam sudut pandang pedagogis. Sebagai sebuah 'diagnostic test', laporan hasil tes dimaksud seyogyanya tidak hanya berisi daftar pencapaian nilai peserta test tetapi juga, dan ini yang amat penting, harus dilengkapi dengan analisis hasil tes (Analysis of Test Result-ATR). ATR adalah penjelasan tentang kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh para peserta tes berkaitan dengan isi tes (test contents) yang diujikan. Bila memungkinkan, penjelasan ini dibuat secara individual. Jika tidak karena pertimbangan waktu dan biaya misalanya, maka analisa tersebut bisa juga dibuat per kelas/jurusan atau minimal per sekolah peserta tes. Hal ini dimaksudkan untuk membantu guru mata pelajaran/diklat bersangkutan dalam menentukan fokus bimbingan persiapan UN di masing-masing sekolah mereka. Karena tidak dilengkapinya laporan hasil Pra-UN tersebut dengan ATR maka para guru merasa kebingungan sehingga tidak fokus pada kelemahan siswa-siswinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tataran politik, kebijakan penyelenggaraan Pra-UN secara sentralistik birokratis sesungguhnya adalah bentuk ketidakkonsistensian pemerintah dalam menjalankan amanat Undang Undang (UU) Otonomi Daerah dan UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003. Kedua produk hukum tersebut dengan jelas mengamanatkan kepada negara agar pola pengelolaan pendidikan dasar dan menengah diubah dari sentralistik (terpusat) menjadi desentralistik (tidak terpusat). Makna kata 'desentralistik' ini tidak hanya ditujukan pada pengalihan kewenangan dari pemerintah pusat ke daerah, tetapi juga dari daerah ke lembaga penyelenggara pendidikan (sekolah/madrasah). Atas dasar pemahaman ini kemudian lahirlah apa yang disebut dengan Manajemen Berbasis Sekolah-MBS (School-Based Management). Inti dari penerapan MBS ini adalah adanya pembagian kewenangan (sharing of power) antara pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota dengan lembaga penyelenggara pendidikan. Dalam hal ini kewenangan yang bersifat kebijakan dan regulasi tentu menjadi bagian dari pemerintah baik pusat maupun daerah sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan teknis penyelenggaraan pendidikan tentu menjadi kewenangan masing-masing sekolah. Harapannya adalah terwujudnya apa yang disebut dengan 'kemandirian sekolah' (autonomous schooling). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan penyelenggaraan Pra-UN ? Dalam hal memutuskan dan membuat regulasi penyelenggaraan kegiatan tersebut tentu menjadi kewenangan pemerintah propinsi yang bisa saja dialihkan ke masing-masing kabupaten/kota sedangkan teknis pelaksanaannya mulai dari pembentukan tim pelaksana, penyusunan soal, pelaksanaan tes, pengoreksian, pembuatan daftar nilai serta ATR dan lain sebagainya semestinya menjadi kewenangan sekolah. Model seperti ini tentu bisa dilaksanakan apabila ada rasa saling percaya antara subsitem yang terkait dalam penyelenggaraan pendidkan tersebut dan melaui persiapan yang matang. Terlepas dari itu semua, tentu 'good will' dari penyelenggara pemerintah untuk mentaati peraturan yang telah dibuatnyalah yang menjadi gerbong utama penggerak perubahan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dalam tataran pedagogis dan politis, tanpa mengurangi kelebihan yang dimilikinya, penyelenggaraan Pra-UN tersebut juga memiliki kelemahan bila dilihat dari sudut pandang ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui bahwa pelaksanaan Pra-UN di propinsi Kalimantan Timur yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya-biaya tersebut bisa saja meliputi kegiatan pra, sedang dan pasca pelaksanaan program. Kegiatan pra pelaksanaan program dapat berupa penyiapan/pembentukan panitia, rapat-rapat koordinasi, penyusunan tes, penerbitan/penggandaan tes, pengepakan serta pengiriman tes ke lokasi ujian. Sedangkan kegiatan yang perlu dilaksanakan pada saat dan pasca pelaksanaan ujian adalah berupa pelaksanaan/pengawasan tes, pengepakan lembar jawaban tes, pengiriman lembar jawaban tes ke tempat pengoreksian, pengoreksian, pengolahan nilai dan pengiriman hasil tes ke masing-masing dinas pendidikan kabupaten/kota dan sekolah-sekolah penyelenggara. Disamping biaya-biaya yang dianggarkan di tingkat provinsi, masing-masing sekolah penyelenggara ujian tersebut juga mengeluarkan dana ekstra minimal untuk panitia internal sekolah bersangkutan. Bila pembiayaan seluruh kegiatan tersebut rata-rata dianggarkan Rp. 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah) saja per peserta tes, maka jumlah anggaran yang harus disediakan untuk penyelenggaraan tes tersebut bagi 80.000 (delapan puluh ribu) peserta adalah 2 (dua) milyar rupiah (Kaltim Post, 05 Maret 2005). Bayangkan saja, untuk mendapatkan gambaran tentang kesiapan mengikuti ujian akhir nasional saja pemerintah harus rela mengeluarkan dana yang cukup besar jumlahnya. Padahal apabila penyelenggaraan kegiatan semacam ini bisa disiasati maka jumlah anggaran yang harus disiapkan tentu bisa ditekan jumlahnya dan yang pasti dengan hasil yang maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya permasalahan yang paling mendasar bukan saja terletak pada seberapa besar anggaran yang digunakan untuk penyelenggaraan Pra UAN tersebut tetapi yang paling utama, dan ini yang lebih penting, adalah berkaitan dengan mekanisme pelaksanaan tes tersebut yang tampaknya cenderung kepada pemborosan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah saya uraikan bahwa mekanisme penyelenggaraan tes tersebut dilakukan dengan pola sentralistik, dimana hampir semua sub kegiatan pengujian dimaksud dipusatkan di propinsi. Konsekwensi logis dari sistem ini adalah adanya birokrasi yang cukup panjang dari pemerintah propinsi hingga ke sekolah penyelenggara. Hal ini kemudian memunculkan relatif lebih banyak sub kegiatan dan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Dengan demikian biaya yang dibutuhkan pun pasti lebih banyak dibanding dengan apabila borokrasi yang panjang tersebut bisa dipangkas. Sebut saja misalnya pendistribusian soal dari propinsi ke masing-masing sekolah penyelenggara. Jika rentang distribusi ini bisa diperpendek maka tentu biaya yang dibutuhkan untuk itupun semakin sedikit. Contoh pemborosan lain dari mekanisme seperti yang telah dilaksanakan pada Pra-UN tersebut adalah munculnya kepanitiaan ganda. Disamping panitia penyelenggara di tingkat propinsi, dimasing-masing sekolah penyelenggara pun dituntut untuk membentuk panitia internal, bahkan mungkin juga di masing-masing Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Munculnya kepanitiaan yang berlapis-lapis ini tentu membuat pembengkakan pada anggaran pembiayaan sehingga secara ekonomis, pola penyelenggaraan Pra-UN seperti ini tidak efisien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keseluruhan paparan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa bila dilihat dari tujuan dan fungsi dilaksanakannnya Pra-UN tersebut maka dapat dikatakan bahwa substansi dan mekanisme penyelenggaraan ujian dimaksud masih lemah baik ditinjau dari sudut pandang pedagogi, politik maupun ekonomi. Dengan demikian, pola yang telah dilaksanakan tersebut harus dibenahi. Pertanyaannya kemudian, seperti apakah model penyelenggaraan kegiatan tersebut sehingga bisa dijamin kualitas dan akuntabilitasnya ? Dan langkah-langkah apakah yang harus dilakukan penyelenggara pendidikan dalam menyikapi hasil Pra-UN yang tidak memuaskan tersebut ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. ALTERNATIF PEMBENAHAN MODEL PENYELENGGARAAN PRA-UN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa elaborasi model penyelenggaraan Pra-UN yang saya tawarkan berikut ini tidak bisa dimaknai sebagai penjustifikasian kebenaran terhadap urgensitas penyelenggaraan Ujian Nasional di Indonesia. Walaupun isu ini masih kontroversial, dari beberapa referensi dan kajian terhadap perlu tidaknya penyelenggaraan UN dengan subsatansi dan mekanisme seperti yang telah diterapka selama ini, saya memandang pelaksanaan UN dengan model tersebut sebaiknya dihentikan dan diganti dengan nama, subsntansi, sistem dan mekanisme yang baru. Alasannya adalah karena nilai tambah (added value) yang diperoleh dari kegiatan tersebut tidak sebanding dengan 'ongkos' pedagogis, politis, ekonomis dan sosial yang telah dikorbankannya (Kompas , 26 Mei 2003 dan Pikiran Rakyat, 04 Februari 2005). Namun demikian, jika pilihannya hanya satu yaitu kebijakan pemerintah pusat tentang pelaksanaan UN tersebut sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga setiap siswa kita tanpa kecuali diharuskan mengikuti ujian tersebut maka minimal pada tingkat pemerintah propinsi perlu kiranya diselenggarakan Pra-UN dengan substansi dan mekanisme yang memiliki tingkat efektifitas dan akuntabilitas yang tinggi dengan harapan agar hasil yang diperoleh dapat dicapai secara optimal. Agar pelaksanaan kebijakan tersebut memiliki tingkat efektifitas dan akuntabilitas yang tinggi, faktor-faktor pedagogis, politis dan ekonomis dalam substansi dan mekanisme penyelenggaraan Pra-UN tersebut menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.1. SUBSTANSI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan dari penyelenggaraan Pra-UN adalah untuk mengetahui kekuatan dan/atau kelemahan yang dimiliki oleh siswa-siswi kita dalam rangka mengikuti ujian nasional. Dengan demikian, tes yang digunakan dalam Pra-Un tersebut hendaknya berfungsi sebagai alat diagnosa (diagnostic test) atas kemampuan siswa-siswi kita dalam mengerjakan soal-soal yang mungkin diujikan pada ujian nasional. Konsekwensi logis dari hal tersebut adalah bahwa substansi dari pengujian tersebut harus meliputi minimal dua hal pokok yakni; isi tes (Test Contents -TC) dan laporan hasil tes (Report of Test Result-RTR). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi tes (TC) adalah cakupan ranah pengetahuan dan keterampilan yang diujikan dalam soal-soal Pra-UN yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan -SKL yang telah ditetapkan. Mengingat pengerjaan soal-soal Pra-UN tersebut dimaksudkan untuk mendeteksi/mendiagnosa kelemahan/kelebihan siswa kita dalam mengerjakan soal-soal yang mungkin diujikan pada UN maka isi tes Pra-UN hendaknya dibuat sama dengan atau paling tidak mirip dengan isi soal-soal yang mungkin diujikan pada UN. Untuk merealisasikan hal tersebut maka penyusunan soal-soal Pra-UN harus mengacu kepada Buku Panduan Pelaksanaan Ujian Nasional yang diterbitkan secara resmi oleh Departemen Pendidikan Nasional. Konsistensi kesamaan/kemiripan bentuk, jumlah, tingkat kesulitan dan ranah pengetahuan dan keterampilan antara kisi-kisi soal yang terdapat dalam buku Panduan Pelaksanaan Ujian Nasional dengan isi tes Pra-UN tersebut menjadi sangat penting karena hal itu merupakan salah satu karakteristik yang harus dimiliki oleh sebuah tes yang digunakan sebagai alat diagnosa (diagnostic test). Bila tidak maka fungsi tersebut dengan sendirinya terabaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping isi tes sebagaimana diuraikan di atas, laporan hasil tes (RTR) juga memiliki peran yang sangat signifikan dalam rangka memfungsikan Pra-UN tersebut sebagai alat diagnosa. Dengan demikian RTR harus dilengkapi dengan perangkat yang bisa digunakan sebagai pemberi informasi terhadap ketercapaian nilai Pra-UN masing-masing peserta tes dan ranah pengetahuan/keterampilan mana saja dari isi tes tersebut yang menjadi kelemahan atau kelebihan masing-masing individu yang mengikuti tes tersebut. Perangkat yang paling tepat untuk itu adalah apa yang saya sebut dengan Deskripsi Nilai (Score Description -SD) dan Analisa Hasil Tes (Analysis of Test Result-ATR). SD berisi daftar nama-nama peserta tes, nilai yang dicapai dan tingkat ketercapaiannya bila mengacu kepada standar nilai kelulusan UN. Sedangkan ATR berisi daftar nama-nama peserta tes yang dilengkapi dengan penjelasan pada ranah pengetahuan/keterampilan mana saja dari isi tes tersebut yang menjadi kelemahannya. Jika ini tidak bisa dilakukan karena terlalu banyaknya peserta tes maka ruang linkupnya bisa diperluas menjadi per kelas/jurusan atau maksimal per sekolah penyelenggara tes Pra-UN. Dokumen-dokumen ini amat sangat penting karena inilah 'senjata' yang bisa digunakan oleh para guru mata pelajaran/diklat yang di-UN-kan untuk melakukan dan memfokuskan materi pengayaan dalam kegiatan persiapan menghadapi UN. Tanpa ini maka mereka tentu tidak akan terfokus pada masalah yang dihadapi masing-masin siswa dan pada kahirnya tentu hasil yang dicapai dalam pelaksanaan UN tidak akan optimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.2. MEKANISME &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan mekanisme pelaksanaan Pra-UN tersebut. Pertama adalah masalah prosedur pelaksanaan. Agar memiliki nilai efektifitas dan akuntabilitas yang tinggi maka prosedur pelaksanaanya harus diubah dari pola terpusat (sentralistik) menjadi tidak terpusat (desentralistik). Konsekwensinya adalah pemerintah propinsi hendaknya dengan penuh keberanian dan elegan menyerahkan urusan ini minimal kepada masing-masing pemerintah kabupaten/kota. Untuk hal-hal yang bersifat teknis sebaiknya langsung diserahkan kepada masing-masing sekolah penyelenggara sedangkan hal-hal yang bersifat kebijakan, regulasi dan pengawasan bisa ditangani langsung oleh pemerintah kabupaten/kota atau bisa juga propinsi apabila pemerintah kabupaten/kota bersangkutan tidak siap menyelenggarakannya. Kenapa demikian ? Karena, seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, prosedur seperti ini mampu memberikan jaminan efektifitas dan akuntabilitas yang tinggi baik ditinjau dari perspektif politik maupun ekonomi. Dalam tataran politik, pemerintah propinsi tentu bisa menjadi contoh bagi propinsi-propinsi lainnya dalam hal pengimplementasian Undang Undang Otonomi Daerah dan Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003, dimana 'otonomous schooling' menjadi salah satu tujuan akhir dari pemberlakuan peraturan tersebut. Sementara dalam tataran ekonomi, pemangkasan birokrasi yang cukup panjang dari pemerintah propinsi hingga ke sekolah penyelenggara tentu akan memperpendek jarak dan waktu dalam pelaksanaan program tersebut. Dengan demikian biaya yang dibutuhkan pun menjadi relatif lebih sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan yang sering digunakan sebagian kalangan untuk menentang wacana di atas adalah adanya kekhawatiran dari pemerintah propinsi tentang kesiapan pemerintah kabupaten/kota atau sekolah penyelenggara untuk melaksanakan kegiatan tersebut agar mampu memberikan hasil yang optimal. Argumentasi semacam ini tentu tidak bisa dibenarkan karena semestinya pemerintah propinsi selaku daerah otonom memiliki tugas dan tanggung jawab untuk membina 'subordinate' nya baik pemerintah kabupaten/kota secara kelembagaan maupun personil yang ditugaskan di lingkup pemerintahan tersebut, termasuk di dalamnya guru mata pelajaran/diklat yang di-UN-kan. Sehingga kata kuncinya adalah apakah pemerintah propinsi memiliki 'good will' untuk memberdayakan mereka dalam melaksanakan Pra-UN tersebut. Caranya bagaimana ? Salah satu alternatif yang bisa ditempuh adalah dengan menggunakan MGMP/D (Musyawarah Guru Mata Pelajaran/Diklat) yang di-UN-kan di masing-masing kabupaten/kota sebagai perpanjangan tangan pemerintah propinsi/kabupaten/kota. Dengan sebuah sistem dan persiapan yang terencana, yang kalau saya uraikan pada kesempatan ini tentu terlalu teknis dan memakan tempat dan waktu yang cukup lama, para guru tersebut bisa menjadi bagian integral dari penyelenggaraan program dimaksud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada paling tidak dua keuntungan yang bisa diperoleh dari pola seperti ini. Pertama adalah bagi pemerintah propinsi itu sendiri, dalam hal ini direpresentasikan oleh Dinas Pendidikan Propinsi. Karena Dinas Pendidikan tersebut bukanlah lembaga pelaksana teknis penyelenggaraan kependidikan maka dengan sendirinya yang bersangkutan tidak perlu lagi merepotkan diri untuk mencari tenaga-tenaga profesional yang bisa ditugaskan untuk mengerjakan hal-hal teknis penyelenggaraan Pra-UN tersebut, misalnya menyusun soal, menganalisa hasil, mengoreksi dan lain-lain. Yang kedua adalah bagi para guru mata pelajaran/diklat yang di-UN-kan. Karena yang bersangkutan terlibat aktif dalam pelaksanaa kegiatan teknis penyelenggaraan program tersebut maka mau tidak mau, suka atau tidak mereka dengan sendirinya akan berusaha untuk meningkatkan kompetensi dan profisiensi mereka agar mereka mampu mengerjakan tugas-tugas tersebut. Dengan demikian secara tidak langsung sebenarnya Dinas Pendidikan telah mendapatkan keutungan ganda yaitu meringankan tugas-tugas mereka baik dalam hal penyelenggaraan Pra-UN dimaksud maupun tugas dan tanggung jawab dia sebagai pembina personil tenaga kependidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain prosedur pelaksanaan, ketepatan waktu penyelenggaraan juga menjadi bagian yang tak kalah penting yang harus diperhatikan. Hal ini disebabkan karena hasil dari pelaksanaan tes pada Pra-UN tersebut akan sangat berguna bagi masing-masing sekolah untuk memfokuskan penekanan materi pengayaan sesuai dengan kelemahan yang dimiliki oleh siswa-siswinya dalam menghadapi UN. Dengan demikian pelaksanaan Pra-UN tersebut hendaknya dilakukan jauh hari sebelum mereka mengikuti UN. Makanya ibarat setali dua uang. Disamping pelaksanaan tes tersebut telah dilakukan jauh hari sebelum UN, penerapan pola desentralistik dengan waktu yang dibutuhkan relatif lebih pendek pada pelaksanaan kegiatan tersebut tentu akan mampu memberi sisa waktu yang cukup lama bagi masing-masing sekolah penyelenggara Pra-UN dalam melakukan persiapan/pengayaan bagi siswa-siswinya sebelum mengikuti UN. Dengan pola ini tentu diharapkan hasil yang akan dicapai akan optimal atau paling tidak lebih baik daripada cara 'konvensional' yang telah dilakukan beberapa waktu yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. TINDAK LANJUT &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model yang saya tawarkan di atas tentu tidak akan pernah mampu mengubah hasil yang telah dicapai pada penyelenggaaraan Pra-UN yang lalu. Yang diperlukan adalah adanya keinginan (good will) dan kemauan politik (political will) dari pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Timur untuk mengimplementasikannya atau mengubah kebijaksanaann pelaksanaan Pra-UN tersebut pada waktu-waktu yang akan datang. Terhadap rendahnya pencapian standar nilai kelulusan yang diperoleh oleh siswa-siswi kita pada Pra-UN yang lalu dengan waktu yang begitu sedikit tersisa, rasanya amat sangat sulit untuk menentukan langkah-langkah apa yang patut kiranya dilakukan oleh pemerintah dan penyelenggara pendidikan baik sekolah penyelenggara maupun masyarakat pada umumnya di Kalimnatan Timur guna menyikapi hasil tersebut. Namun demikian, berikut ini beberapa alternatif kegiatan atau hala-hal yang patut dipertimbangkan untuk dilaksanakan baik oleh pemerintah, sekolah, orang tua siswa maupun siswa-siswi yang akan menghadapi UN yang akan datang; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.1. PEMERINTAH DAN SEKOLAH SEBAGAI PENYELENGGARA PENDIDIKAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memperhatikan hasil pencapaian nilai standar kelulusan pada pelaksanaan Pra-UN tersebut, patut dimaklumi kalau sebagian kalangan baik pendidik, pemerintah dan masayarakat pada umumnya merasa sangat khawatir atas keberhasilan anak-anak didik kita dalam mengikuti UN yang akan datang. Untuk menyikapi hal ini hendaknya kita tidak merasa gamang dan kehilangan arah. Apa yang tersurat pada laporan nilai Pra-UN anak-anak kita tersebut, tanpa mengurangi keberadaannya, tentu tidak bisa dijadikan satu-satunya alat untuk memponis bahwa kegagalan akan dialami oleh sebagian besar dari mereka dalam mengikuti UN yang akan datang. Nilai Pra-UN tersebut hanyalah sebatas prediksi. Namun demikian, tetap juga bisa dijadikan pedoman paling tidak untuk membuat langkah-langkah antisipatif untuk meningkatkan ketercapaian nilai pada UN dimaksud. Untuk itu, pemerintah sebagai pemegang kendali dan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam mengantar mereka meraih kesuksesan dalam mengikuti UN tersebut. Dalam waktu yang tersisa cukup singkat ini sesungguhnya tidak banyak yang bisa kita lakukan. Namun demikian, ada beberapa alternatif kegiatan atau hal-hal yang patut kiranya dipertimbangkan untuk dilaksanakan, antara lain; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memberikan Reward Bagi Siswa dan Guru Mata Pelajaran Yang di-UN-kan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Balikpapan dengan memberikan reward berupa keringanan biaya studi ke jeniang yang lebih tinggi/beasiswa/dana pembinaan prestasi bagi siswa dan guru yang mampu mewujudkan pencapaian nilai 10 terbaik untuk masing-masing mata pelajaran/diklat yang di-UN-kan di masing-masing jenjang pendidikan (Smart Morning News &amp; Radio Talks, SMART FM, 22 April 2006) mestinya bisa menjadi contoh bagi pemerintah propinsi, kabupaten/kota lainnya serta sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Dengan pemberian reward semacam ini sedikit banyak akan memberikan motivasi yang tinggi minimal bagi siswa dan guru bersangkutan untuk berusaha meraih nilai yang setinggi-tingginya. Bukankah dari beberapa kajian dan pengalaman empirik menunjukkan bahwa motivasi kadangkala bisa mengubah dari sesuatu yang dirasa tidak mungkin dilaksanakan menjadi bisa direalisasikan ? Semangat ini hendaknya bisa diberdayakan secara optimal dalam waktu yang cukup singkat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lakukan Persiapan Intensif (Intensive Test Preparatory) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah-sekolah penyelenggara UN hendaknya dapat melakukan persiapan secara intensif (intensive test preparatory) dengan materi pengayaan mengacu keapada kisi-kisi soal pada buku Panduan Pelaksanaan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006 yang diterbitkan secara resmi oleh Puspendik Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia 2005 atau soal-soal Pra-UN. Intensif artinya adalah adanya alokasi waktu yang lebih banyak dan kelompok peserta persiapan yang dibagi bukan berdasarkan kelas/jurusannya, tetapi berdasarkan pencapaian nilai Pra-UN yang dikeluarkan oleh Depdiknas Propinsi Kalimantan Timur beberapa waktu yang lalu. Jika waktu yang tersedia/tersisa dirasa masih cukup, soal-soal Pra-UN tersebut hendaknya dikembangkan dalam berbagai bentuk namun tidak keluar dari ranah pengetahuan dan keterampilan yang telah ditetapkan dalam Standar Kompetensi Lulusan-SKL yang diujikan secara nasional seperti yang tertera pada buku Panduan Pelaksanaan Ujian Nasional tersebut. Ini penting karena dengan cara ini kemungkinan memiliki soal-soal yang sama atau minimal mirip dengan yang diujikan pada UN menjadi sangat tinggi. Dengan demikian, para siswa yang akan mengikuti UN yang akan datang akan terbiasa mengerjakan soal-soal seperti itu yang pada akhirnya tentu akan membuka peluang bagi mereka untuk memperoleh nilai yang setinggi-tingginya pada tes tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping aspek-aspek tersebut di atas, khusus untuk mata pelajaran/diklat bahasa Inggris, fokus pembahasan materi/soal-soal hendaknya dilakukan pada bagian 'Reading Section' karena dari hasil survey menunjukkan bahwa bagian tes tersebut bisa memberikan kontribusi perubahan nilai yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan 'Listening Section' apabila persiapan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teknis, gunakan 'TIP dan TRIK' dalam menjawab soal-soal tertentu. Dengan cara ini, siswa tidak hanya bisa menjawab dengan tepat tetapi juga cepat. Khusus untuk mata pelajaran/diklat bahasa Inggris, 'TIP dan TRIK' dapat diperoleh secara cuma-cuma di ETTC Kota Balikpapan (SMKN 1 Balikpapan) dengan terlebih dahulu mengirim e-mail permintaan kepada : syamsul_etc@yahoo.com. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.2.SISWA DAN ORANG TUA SISWA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa sebagai obyek dari penyelenggaraan Ujian Nasional tentu memiliki peranan yang sangat signifikan dalam menentukan apakah dirinya akan mampu meraih kesuksesan dalam tes tersebut. Dialah yang paling tahu kelemahan dan kekuatan yang ia miliki dalam melaksanakan ujian dimaksud. Dengan demikian, dibawah bimbingan orang tua dan guru-gurunya, dialah pula yang semestinya harus tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kelemahannya tersebut. Walaupun demikian, beberapa hal berikut ini perlu kiranya dipertimbangkan untuk dilaksanakan sebaik mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gunakan waktu sebaik mungkin baik di rumah maupun di sekolah untuk membahas/mempelajari berbagai bentuk soal yang pernah di-UN-kan minimal pada ketiga periode sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam membahas/mempelajari soal-soal tersebut, fokuskan pada hal-hal yang dirasa masih sulit dipahami/dijawab. Skala prioritas seperti ini sangat penting mengingat waktu yang tersisa untuk melakukan pengayaan terhadap materi-materi tersebut sangat sedikit. Jika tidak maka pemahaman terhadap materi-materi dimaksud akan terbawa kemana-mana sehingga penggunaan waktu akan menjadi tidak efisien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apabila mengalami kesulitan dalam memecahkan persoalan-persoalan tertentu pada soal-soal dimaksud, siswa hendaknya berusaha untuk menganalisa sendiri hal tersebut semaksimal mungkin. Ini dilakukan untuk membiasakan diri untuk mengoptimalkan kemampuan berfikir mereka karena dalam mengikuti tes yang sesungguhnya hal seperti ini pasti akan dilaluinya. Ingat, tak seorangpun yang bisa membantu siswa tersebut kecuali diri mereka sendiri. Namun dalam kondisi dimana solusi sama sekali tidak bisa dibuat sendiri, maka siswa bersangkutan dapat meminta penjelasan dari guru mata pelajaran terkait apabila guru tersebut berada bersama dengannya. Jika hal ini dialami dirumah, diamana tidak seorang pun yang bisa membantu maka siswa hendaknya mencatat masalah-masalah tersebut dan tanyakan hal itu segera pada saat mengikuti 'Intensive Test Preparatory'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Orang tua siswa hendaknya ikut terlibat dalam memantau dan mengawasi kegiatan putra-putrinya selepas sekolah. Selalu ingatkan mereka untuk tetap fokus pada pengayaan mata pelajaran/diklat yang di-UN-kan. Berikan mereka pemahaman bahwa kegagalan dalam meraih nilai standar kelulusan pada UN yang akan datang akan membuat mereka tertinggal untuk melanjutkan studinya dan ini tentu menjadi beban ekonomi keluarganya. Lebih dari itu, rasa malu baik sesama komunitas siswa lainnya dan masayarakat sekitar tentu menjadi beban sosial yang harus ditanggungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. KESIMPULAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan Pra-UN dengan substansi dan mekanisme seperti yang telah dilaksanakan di Propinsi Kalimantan Timur beberapa waktu yang lalu memiliki tingkat efektifitas dan akuntabilitas yang rendah baik ditinjau dari sudut pandang pedagogi, politik maupun ekonomi. Dengan demikian, substansi dan mekanismenya harus dibenahi. Pembenahan substansi pelaksanaan tes tersebut hendaknya dilakukan pada dua hal yang paling mendasar yakni; isi tes (test contents) dan laopran hasil test (report of test result). Sedangkan pembenahan dalam tataran mekanisme dapat dilakukan pada hal-hal yang berhubungan dengan prosedur dan waktu pelaksanaan tes. Dengan pembenahan ini, diharapkan test tersebut pada akhirnya benar-benar akan mampu menjalankan fungsinya sebagai alat diagnosa (diagnostic test) atas kekurangan dan kelebihan siswa-siswi kita dalam mengikutu Ujian Nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, hasil dari pelaksanaan tes tersebut tetap juga bisa digunakan paling tidak sebagai acuan umum untuk menentukan langkah-langkah antisipatif dalam menghadapi Ujian Nasional yang akan datang. Untuk melaksanakan hal ini, peran dan keterlibatan aktif semua pihak baik pemerintah, sekolah, orang tua siswa maupun siswa sebagai obyek dan/atau subyek dari penyelenggaraan ujian tersebut sangat diharapkan. Dengan partisipasi dan keterlibatan pihak-pihak dimaksud secara optimal, hasil yang akan diperoleh dalam pelaksanaan UN yang akan datang tentu bisa dicapai secara maksimal. Semoga !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0607syamsul.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-4967966962348821905?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/4967966962348821905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/menyoal-pra-ujian-nasional-tinjauan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/4967966962348821905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/4967966962348821905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/menyoal-pra-ujian-nasional-tinjauan.html' title='Menyoal Pra Ujian Nasional : Tinjauan Dari Sudut Pandang Pedagogi, Politik dan Ekonomi'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-9110366021191445684</id><published>2009-05-17T23:44:00.001-07:00</published><updated>2009-05-17T23:44:43.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>Evaluasi Program Pengajaran</title><content type='html'>Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama (Penulis): afdhee&lt;br /&gt;E-mail (Penulis): afdhee@yahoo.com&lt;br /&gt;Saya Mahasiswa di Pekanbaru&lt;br /&gt;Judul: Evaluasi Program Pengajaran&lt;br /&gt;Topik: Evaluasi&lt;br /&gt;Tanggal: 15 Mei 200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EVALUASI PROGRAM PENGAJARAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pengajaran merupakan suatu rencana pengajaran sebagai panduan bagi guru atau pengajar dalam melaksnakan pengajaran. Agar pengajaran bisa berjalan dengan efektif dan efisien, maka perlu kiranya dibuat suatu program pengajaran. Program pengajaran yang dibuat oleh guru tidak selamanya bisa efektif dan dapat dilaksanakan dengan baik, oleh karena itulah agar program pengajaran yang telah dibuat yang memiliki kelemahan tidak terjadi lagi pada program pengajaran berikutnya, maka perlu diadakan evaluasi program pengajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam tulisan ini adalah: Apakah yang dimaksud dengan evaluasi program? mengapa evaluasi program perlu dilaksanakan? Apakah yang menjadi objek atau sasaran dari evaluasi? dan Bagaimanakah cara melaksanakan evaluasi program? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arikunto (1999: 290) "Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat keberhasilan program". Ada beberapa pengertian tentang program itu sendiri, diantaranya program adalah rencana dan kegiatan yang direncanakan dengan seksama. Jadi dengan demikian melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi program adalah keingintahuan penyusun program untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau belum. Jika sudah tercapai bagaimana kualitas pencapaian kegiatan tersebut, jika belum tercapai bagaimanakah dari rencana kegiatan yang telah dibuat yang belum tercapai, apa sebab bagian rencana kegiatan tersebut belum tercapai, adakah factor lain yang mempengaruhi ketidakberhasilan program tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menentukan seberapa jauh target program sudah tercapai, yang menjadikan tolak ukur adalah tujuan yang sudah dirumuskan dalam tahap perencanaan kegiatan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran evaluasi adalah untuk mengetahui keberhasilan suatu program. Sebagimana yang dikemukakan oleh Ansyar (1989: 134) bahwa ".evaluasi mempunyai satu tujuan utama yatu untuk mengetahui berhasil tidaknya suatu program" Guru adalah orang yang paling penting statusnya dala kegiatan belajar mengajar, karena guru memegang tugas yang amat penting, yaitu mengatur dan mengemudikan kegiatan kelas. Untuk membuat proses belajar mengajar lebih efektif maka tugas guru adalah menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk pembelajara. Untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif tersebut perlu dirancang program pengajaran. Berhasil tidaknya suatu program pengajaran, tentu tidak bisa diketahui begitu saja, tanpa adanya evaluasi program. Oleh karena itu evaluasi program perlu dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengetahui seberapa jauh proram pengajaran telah berlangsung atau terlaksana, dan jika terlaksana seberapa baik pelaksanaan program tersebut. Pendek kata, evaluasi program dilaksanakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari program pengajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan evaluasi program, apanya dari program yang dievaluasi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Input &lt;br /&gt;Siswa adalah subjek yang menerima pelajaran. Ada siswa pandai, kurang pandai, dan tidak pandai. Setiap siswa mempunyai bakat intelektual, emosional, social yang berbeda. Oleh karena itu dalam pembuatan program pengajaran hendaknya guru juga perlu memperhatikan aspek-aspek individu tersebut. Secara umum, hal-hal yang ada pada siswa berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Materi atau kurikulum &lt;br /&gt;Di Indonesia, kurikulum berlaku secara nasional karena kita menganut system sentralisasi. Meskipun penyusunan dan pengembangan kurikulum sekolah sudah dilakukan secara cermat dan melibatkan banyak pihak, namun tidak mustahil bahwa di lapangan masih juga dijumpai kelemahan dan hambatan. Wilayah Indonesia yang sedemikian luas mengandung keragaman yang tidak sedikit. Itulah sebabnya guru perlu dibekali dengan kemampuan untuk melakukan evaluasi program, termasuk mengevaluasi materi kurikulum. Sasaran yang perlu dievaluasi dari komponen kurikulum ini anatara lain, kejelasan pedoman untuk dipahami, kejelasan materi yang terantum dalam GBPP, urutan penyajian materi, kesesuaian antara sumber yang disarankan dengan materi kurikulum dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Guru &lt;br /&gt;Guru merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar. Guru adalah orang yang diberi kepercayaan untuk meciptakan suasana kelas yang kondusif untuk pembelajaran. Guru adalah manusia biasa yang mempunyai banyak keterbatasan. oleh karena itu untuk menutupi kelemahan guru perlu dilakukan pembinaan dan penataran dalmrangka melaksanakan pembelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Metode atau pendekatan dalam mengajar &lt;br /&gt;Berbeda dengan evaluasi terhadap kurikulum, evaluasi terhadap metode mengajar merupakan kegiatan guru untuk meninjau kembali tentang metode mengajar, pendekatan, atau strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi kurikulum kepada siswa. Metode mengajar adalah cara-cara atau teknik yang digunakan dalam mengajar. Sedangkan strategi pembelajaran menunjuk kepada bagaimana guru mengatur waktu pemenggalan penyajian, pemilihan metoda, pemilihan pendekatan dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Sarana &lt;br /&gt;Komponen lain yang perlu dievaluasi oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah sarana pendidikan, yanga meliputi alat pelajaran dan media pendidikan. Sebelum guru memulai kegiatan mengajar, bahkan sebelum atau sekurang-kurangnya pada waktu menyusun rencana mengajar, guru telah memilih alat yang kira-kira dapat membantu melancarkan dan memperjelas konsep yang diajarkan. Selain guru, mungkin siswa juga dapat dijadikan titik tolak dalam menentukan apakah sarana yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar sudah tepat. Mungkin saja pada waktu menentukan alat pelajaran guru berpikir bahwa pilihannya sudah tepat. Tetapi ternyata di dalam praktek pelaksanaan pengajaran, alat tersebut ternyata kurang atau sama sekali tidak tepat. Proses pengajarannya tidak menjadi semakin lancar, tetapi mungkin bahkan kacau balau. Apabila guru menjumpai dalam mengajar atau ketidak berhasilan siswa dengan nilai rendah-rendah, ia dapat mecoba mengadakan evaluasi terhadap sarana yang digunakan. Sasaran evaluasi yang berkenaan antara lain kelengkapannya, ragam jenisnya, modelnya, kemudahannya untuk digunakan, mudah dan sukarnya diperoleh, kecocokan dengan materi yang diajarkan, jumlah persediaan dibandingkan dengan banyaknya siswa yang memerlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Lingkungan &lt;br /&gt;Ada dua macam lingkungan, yaitu lingkungan manusia dan lingkungan bukan manusia. Yang dapat digolongkan sebagai lingkungan masukan lingkungan manusia bukan hanya bukan hanya kepala sekolah, guru-guru, dan pegawai tata usaha di sekolah itu, tetapi siapa saja yang dengan atau tidak sengaja berpengaruh terhadap tingkat hasil belajar siswa. Sedangkan yang dimaksudkan dengan lingkungan bukan manusia adalah segala hal yang berada di lingkungan siswa yang secara langsung maupun tidak, berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Yang termasuk kategori lingkungan bukan manusia misalnya suasana sekolah, halaman sekolah, keadaan gedung dan sarana lain. Pengaruh lingkungan bukan manusia dapat positif maupun negative. Tatanan perabot kelas yang rapi dapat berpengaruh terhadap kesejukan suasana sehingga siswa dapat belajar dengan tenteram. Sebaliknya suasana yang gaduh di luar kelas dapat mengganggu konsentrasi siswa dan menyebabkan siswa tidak dapat seperti yang diharapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila guru ingin melakukan evaluasi program dengan lebih seksama, terlebih dahulu hendaknya menyusun rencana evaluasi sekaligus menyusun instrument pengumpulan data. Instrument pengumpulandat bisa berupa angket, pedoman wawancara, pedoman pengamatan dan lain sebagainya. Sebagai cara yang paling sederhana adalah menagadakan pendekatan terhadap peristiwa yang dialami sehari-hari di kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengevaluasi progam seorang guru tidak perlu dibebani secara sistematis sebagaimana layaknya seorang peneliti. Akan tetapi guru cukup membuat acuan singkat dan sederhana yang disusun dalm bentuk pertanyaan. Dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut guru akan memperoleh umpan terhadap apa yang dilakukan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan objek atau sasaran evaluasi program yang meliputi keenam aspek tersebut di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran dan pembelajaran adalah merupakan suatu aktivitas yang dilaksanakan oleh seorang guru. Agar program pengajaran yang telah dilaksanakan itu baik atau tidak perlu dilaksanakan suatu penilaian, yang sering dikenal dengan evaluasi program pengajaran. Evaluasi program pengajaran ini meliputi 1) Input (masukan), 2) materi atau kurikulum, 3) Guru, 4) Metode atau pendekatan dalam mengajar, 5) Sarana: alat pelajaran ata media pendidikan, 6) lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/afdhee5-07.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-9110366021191445684?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/9110366021191445684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluasi-program-pengajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/9110366021191445684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/9110366021191445684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluasi-program-pengajaran.html' title='Evaluasi Program Pengajaran'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-81989169045543374</id><published>2009-05-17T23:42:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:43:39.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>Evaluation Students</title><content type='html'>Judul: Evaluation Students&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): zhefry ardhy lesmana &lt;br /&gt;Saya Guru di al jabr school &lt;br /&gt;Topik: assessments &lt;br /&gt;Tanggal: 27 april 2008&lt;br /&gt;EVALUATION OF STUDENT &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;for potential use of speech recognition (detailed information) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTRODUCTION AND INFORMATION &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluating student's potential for use of speech-recognition General Assistive Technology evaluation Customtyping.com evaluation of student form Independence vs. Assistance How does this criteria and evaluation form work? Making decisions based on the evaluation &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CRITERIA AND EVALUATION ITEMS &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Work Habits / Behavioral Cognitive Skills Reading and Writing Basic Computer Skills Consistency of Speech Language Support and Training &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Student evaluation form (live form for user logged into account - information can be saved.) Student evaluation form (sample copy for viewing if you do not have an account. You can view it, fill it out and print, but not save information.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMMARY &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IMPORTANCE OF EVALUATING STUDENT'S POTENTIAL FOR USE OF SPEECH RECOGNITION &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How do we know which students have the potential to cope with speech recognition? &lt;br /&gt;How do we know which students would benefit the most from the use of speech recognition? &lt;br /&gt;Can students use speech recognition to experience greater levels of independence with writing and computer control even if they are not completely independent with speech recognition itself? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since voice input is a relatively new and complex technology, requiring intensive training, support and specialized technology, it is essential to have very specific and structured assessment methods in order to determine which students would be most suited to this technology. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Given the extent of training, support and investment required, it is important that we identify students accurately before embarking on trials and training of speech recognition. The use of speech recognition can be an extremely positive and beneficial experience for both student and educational team. Likewise, it can also be an extremely negative and frustrating experience with extensive time and effort wasted if the program does not work well for a specific student. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;top &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GENERAL ASSISTIVE TECHNOLOGY EVALUATION &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before starting any kind of evaluation or investigation into a student's potential use of speech recognition, an overall assistive technology assessment is essential. The use of a specific technology such as speech recognition, should not be implemented in isolation. It should be used as part of an overall assistive or alternative technology plan based on a comprehensive and detailed assessment of the student's needs and challenges. If the student has difficulty with producing written work, there are many different methods, techniques and technologies available to assist with their writing. Even if speech recognition would be a good solution for a student, it is important that the wide range of options available is explored before tackling the challenge of learning how to use speech recognition. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The general assistive technology and writing assessment is detailed and is beyond the scope of this speech-recognition evaluation. Excellent, detailed assistive technology assessment resources are available at the following web sites: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUSTOMTYPING.COM SPEECH RECOGNITION EVALUATION OF STUDENT &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The use of a structured criteria and evaluation system is essential. The evaluation provided by customtyping.com is an example of the type of evaluation which would be performed prior to deciding whether to start a trial of speech recognition for a specific student. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speech recognition is the process of turning speech into actions or text on the computer, replacing or minimizing the need for keyboard or mouse control. It has tremendous potential and benefit for many, many students with disabilities. The technology has improved rapidly, and as it becomes more accurate and more affordable, it opens the door to improved potential for more students than ever before. However, it is important to continually remember that it is not a 'plug and play' technology. It requires extensive training and many hours of support and practice. It also needs ongoing patience, perseverance and persistence before the outcomes of improved performance and independence will be evident. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HOW DOES THIS CRITERIA AND EVALUATION FORM WORK? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Over the past 12 or so years that speech recognition has made an appearance in the educational field, there has been much talk about which students might or might not be appropriate for this technology. Many people have discussed pre-requisite criteria which a student should possess before they would be able to cope with speech recognition. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the technology itself has changed and advanced, the criteria have changed. There are no standards in terms of the criteria and prerequisite needs, however people using speech recognition in education have documented their ideas of what is important in terms of student performance prior to the introduction of speech recognition. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The evaluation and criteria items on this form provided by customtyping.com will provide a basis for determining if participation in a trial using speech recognition would be beneficial for a student. This evaluation system provides a live, online form which can be accessed through the student's account or through the teacher's administration account. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDEPENDENCE VS. ASSISTANCE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This evaluation method aims at providing the broadest approach possible to determine which students would benefit from speech recognition. We do not only focus on students who have the potential to be independent. We also provide information about students who could use speech recognition with some assistance, but still experience greater levels of overall independence in producing written work or using the computer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As you will see on the form, for each skill level or criteria item, three options are available. The scale is as follows: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 = Yes / Good - this skill is present, developed and functional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 = Developing - this skill may not be present or functional currently, however it is developing and there is good potential that the student will master the skill. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 = No / Poor - this skill is not present or not developed. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For each item on this evaluation form, check off 1, 2 or 3 to indicate the functional levels for each of the categories. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKING DECISIONS BASED ON THIS EVALUATION &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deciding whether a student has the potential to cope with speech recognition has become a more complex process as the programs have improved. In previous years, there were many students who were not considered good candidates for speech recognition if they had a reading levels of lower than a third-grade level, or if they had difficulty with articulation or pronunciation of words, or lower cognitive functioning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Experience in the field shows that more students are coping with newer versions of speech recognition. Students who may previously not have coped due to cognitive, reading or speech problems, are now able to cope as the program's accuracy levels have increased. In addition, the use of add-on programs for screen reading and assistance with editing have made a difference in making speech-recognition accessible to students with more challenging reading problems &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another aspect to consider are the requirements for independent versus assisted use of speech recognition. If a student is expected to be fully independent with the use of speech recognition and production of written work, then it is to be expected that performance on these criteria items would be significantly higher than for those students who would be given some assistance while using the program. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Independent speech-recognition user: (score = mostly 1's) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If we look at the continuum of student performance based on the amount of assistance they receive, on a general day-to-day basis in their educational environments, there is a huge variance in amount and type of assistance received or levels of independence. It appears, as educators have considered the requirements that students need in order to cope with speech recognition, that most people view the use of speech recognition to be a technology which students would use independently following a period of training. People considering students for the use of speech-recognition naturally expect that students would use this program independently. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For those students who do have the potential to become independent uses of speech-recognition and who would demonstrate a significant improvement in performance and outputs, the goal of independence is highly appropriate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluation Form: On the evaluation of student form, the student who obtains mostly level 1 scores will be the student that has the most potential to be independent in the use of speech recognition as well as to use the program effectively. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The speech-recognition user requiring some assistance: (score = mostly 2's) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's consider the middle of the road student here. These are the students that would obtain mostly scores of 2 on the evaluation form. For those students where the use of speech recognition is borderline, we have historically been reluctant to use speech recognition as an option for them. Considering how difficult and challenging the implementation of speech recognition has been, it is understandable that we would have been reluctant to try these programs with students who have not exhibited excellent potential for coping independently. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, the technology is changing extremely rapidly, and is exploding in terms of growth and development. Every year, new developments in hardware and software make speech-recognition more and more accessible to a wider range of individuals. It has become more cost effective and more accurate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a result, this criteria and evaluation form has been expanded to include a greater variety of students which may have the potential to cope with the program. In my opinion, we should be looking to include students who may or may not have the potential to become fully independent in the use of speech recognition. For those students who may not become independent using speech recognition, however who may have the potential to produce increased volume and complexity of written work even if some assistance is provided, speech recognition may be an appropriate educational tool. For those students who dictate to a teacher assistant for the purposes of producing written work, providing a speech input program is a significant step towards a greater level of independence in production of written work. A teacher assistant providing assistance for a student while using speech recognition, rather than writing the students work down, is in essence empowering the student in the production of their own work, moving towards the goal of greater independence. In addition, an essential consideration here, is that a student who starts using speech recognition with assistance currently , will see improvements in the program over time. They will most certainly move towards greater independence and in some cases full independence as they become more efficient at using the program, combined with natural improvements in the program over time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WORK HABITS / BEHAVIORAL &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is one of the very first parts of the evaluation. The student's approach to work, and his emotional/behavioral characteristics are an essential component in determining if he has the potential to cope with a demanding program such as speech recognition. As has been discussed extensively in these training pages, speech recognition can only be successful for those who are willing to be patient and who are willing to invest the effort required to be successful. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The students approach and attitude towards work can be considered one of the most important prerequisites to success in the use of speech recognition. Having said that however we showed take into account students who may have become discouraged and demotivated as a result of long-term difficulty with reading, writing and learning. I have observed on many occasions, students who may have previously been reluctant writers, becoming excited about writing and learning while using speech recognition. A student who was previously unable to write or produce written work due to problems with learning disabilities, physical disabilities or other challenges, may achieve significantly through using a different medium for producing written work or for learning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Using speech recognition takes away the mechanical aspects of typing or handwriting, and so providing this program for a student who has difficulty keyboarding or using a pen can make a big difference in their emotional and behavioral approach to work. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a student exhibits poor frustration tolerance or lower levels of patience, the likelihood is that speech recognition will be not only challenging but too much of a frustrating experience for the student to persevere. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COGNITIVE SKILLS &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proficiency in the use of speech recognition requires good levels of concentration, memory and other cognitive skills. In order for a student to use speech recognition independently, good cognitive skills are essential for memorizing commands as well as making effective use of correction strategies. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Users who exhibit borderline or questionable memory skills and concentration may be able to cope with the program given a modified or reduced commands set combined with assistance and reduced expectations in terms of the complexity of voice commands used. As you will note in the speech-recognition curriculum provided on customtyping.com, the commands used in stage three are a basic set of commands that all speech-recognition users should learn and master. Given the accurate use of these basic Stage Three commands, users can produce basic written documents. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;READING and WRITING &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Students who read at a third-grade level or higher, and who achieve scores of 1 on most of the items on the evaluation form, have extremely high potential for using speech recognition independently. In addition those students who are able to accurately isolate word recognition errors and make corrections / edit their work will do well with speech-recognition. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Others, who have difficulty isolating errors and making corrections may still be able to use speech recognition but would need to make use of screen reading programs or assistance from a teacher for the editing process. Dragon NaturallySpeaking (preferred and professional versions) have speech to text built in to the program, however this does not read all parts of the NaturallySpeaking program. A more effective program for speech output / screen reading while using NaturallySpeaking is KeyStone ScreenSpeaker. This program will read the enrollment text as well as the correction list to the student. It also offers a host of other features for students who have difficulty with reading. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BASIC COMPUTER SKILLS &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In order for a student to be independent in using NaturallySpeaking, they would require a good working knowledge of basic computer functions such as opening and closing programs, window management, copying and pasting etc. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A student who requires assistance with basic computer functions would most likely be one who would also require assistance with speech recognition. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONSISTENCY of SPEECH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Consistency of speech and pronunciation is one of the most important prerequisites for success in using speech recognition. As speech recognition programs have improved over the years, more and more people with articulation and pronunciation problems have experienced success in using the program. Current versions of the program seem to cope with a wider variety of speech patterns than previous versions. However a constant requirement over the years has been the need for consistency in speech patterns. As long as any user is able to say words and phrases in the same or similar manner each time, speech recognition programs can learn to recognize individual patterns of speech. For those users with more unusual speech patterns and articulation, additional training of the program may be required. However as the voice file is built and developed, the user's own unique, individual speech patterns are learned. The most important aspect here is that the words and phrases are said in the same way each time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The user's voice quality, such as volume and pitch, and breath control should also be taken into account. Although many users on ventilators/respirators are extremely successful using speech recognition, they have learnt to control breathing and speaking so that their speech is consistent and breath sounds are controlled. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bottom line in terms of speech, is that it should be intelligible and consistent, but it need not be perfect in terms of articulation, pronunciation and quality. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGUAGE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Determining the need for language prerequisites is less important since it is not essential for a student to have the skills of being able to organize thoughts, plan and formulate ideas in order to verbalize them for speech recognition. Since the process of writing using speech recognition is very different to keyboarding or handwriting to produce written thoughts and ideas, students using speech recognition for the first time might find it very difficult to organize their thoughts and ideas and verbalize them with a speech-recognition program. However, it is important prior to embarking on a trial of speech recognition, to evaluate the students current functional skills with a view to deciding if the student has potential to not only learn how to use speech recognition but also how to use the process of dictation and verbalization for producing written work. As any trainer has noted while teaching students how to use speech recognition, the very process of using speech input can be a powerful training tool for developing organization of thoughts and formulation of ideas. Speech recognition itself can be used during the entire writing process including pre-writing, writing and editing strategies. Hence, while evaluating student's abilities to organize thoughts, formulate ideas and verbalize, bear in mind that even if these skills are not strong, the use of speech recognition may in effect be a teaching tool to help with improving these skills. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUPPORT and TRAINING &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An essential consideration in determining the need for a speech-recognition trial, is documenting who would be available for support and training. Implementation of speech-recognition successfully requires a tremendous amount of planning, training, support, record keeping and follow up. Even if a student possesses all of the functional skills required to be a successful speech-recognition user, if support and training is not adequate, the likelihood is that the student will not succeed. In making the decision to start a trial and training period with a student, the people who would be responsible for initial training, planning and also follow up should be documented on this evaluation form. Once the decision has been made to start at trial and training. With the student, then a full action plan should be written up which would include not only the people available for support and training but also the logistics and practical day-to-day information regarding how training and use of the program would be implemented in the educational environment and at home. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMMARY &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluating whether a student has potential to use speech recognition is not a black-and-white process. We can never, through a one-time evaluation, make a determination of whether a student would be able to use speech recognition or not. We can, however, gain a fairly accurate idea of whether a student has the potential to use the program. We can also decide on whether a student has the potential to use speech recognition independently or with assistance. For those students who achieve mostly a score of 1 on each of the criteria items, the likelihood is that they will use speech recognition effectively and independently, following a good structured training program. For those students who mostly achieve 2's, there is a good likelihood that they could cope with speech recognition with some assistance. The levels of assistance would possibly be decreased over time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For students who are functioning at a lower than third grade reading level, the use of screen reading programs is essential. You may find a student achieves scores of mostly 1's on the evaluation form, however it has a severe reading deficit. This kind of student would still cope very well with using speech recognition, however would need to use a program such as KeyStone ScreenSpeaker for screen reading. This program will read everything on the screen, including the correction box in Dragon NaturallySpeaking.&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0408zhefry.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-81989169045543374?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/81989169045543374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluation-students.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/81989169045543374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/81989169045543374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/evaluation-students.html' title='Evaluation Students'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-4730070480960935964</id><published>2009-05-17T23:41:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:42:49.572-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>Sebuah Refleksi Pendidikan Untuk Masa Depan</title><content type='html'>Judul: Sebuah Refleksi Pendidikan Untuk Masa Depan&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Ubedilah Badrun &lt;br /&gt;Saya Pengamat di Jepang &lt;br /&gt;Topik: Pendidikan &lt;br /&gt;Tanggal: 5 Mei 2005 &lt;br /&gt;Sebuah Refleksi Pendidikan Untuk Masa Depan &lt;br /&gt;Oleh : Ubedilah Badrun   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja tulisan ini dibuat untuk sekedar urun rembuk dalam rangka menyambut peringatan hari pendidikan nasional 2 Mei 2005. Hari dimana 116 tahun yang lalu lahir seorang tokoh yang kemudian segenap hidupnya dicurahkan untuk kepentingan pendidikan anak bangsa walau harus menerima resiko merasakan kerasnya penjara kolonial Belanda. Dia pernah membuat Belanda marah dengan tulisanya yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was. Dia adalah Ki Hajar Dewantara, anak Keraton yang tidak mau memakai embel-embel Raden di depan namanya. Ia menangis dan kemudian bergerak ketika melihat anak bangsa tidak bisa sekolah karena sekolah yang dibuat Belanda sangat diskriminatif dan cenderung hanya untuk orang-orang kaya. Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah untuk semua anak bangsa. Di sekolah inilah karakter kebangsaan anak bangsa di bentuk untuk masa depan bangsanya, sebuah kemerdekaan. Inilah salah satu titik penting, betapa pendidikan merupakan wahana yang paling strategis untuk membangun masa depan bangsa sebagaimana yang dicontohkan Ki Hajar Dewantara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ketika kemerdekaan bangsa sudah lebih dari 59 tahun, persoalan pendidikan di Indonesia masih menghadapi banyak masalah dan bahkan mengalami keterpurukan. Banyak para ahli pendidikan mengemukakan bahwa keterpurukan bangsa Indonesia hari ini adalah akibat langsung maupun tidak langsung dari kesalahan kebijakan pemerintah Orde Baru(1966-1998) yang tidak peduli pada pendidikan, misalnya untuk sektor pendidikan hanya dianggarkan 7 % saja dari APBN ( Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), padahal Malaysia dan Thailand pada waktu itu sudah menganggarkan lebih dari 20 % untuk pendidikan dari APBN nya. Persoalan anggaran ini meski tidak menjadi satu-satunya faktor tetapi keberadaanya memiliki dampak yang sangat besar bagi kemajuan bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah runtuhnya rezim Orde Baru, dan kini Indonesia berada pada masa demokrasi yang mulai maju, berbagai masalah masih terus menghantui dunia pendidikan di Indonesia. Seperti yang dilaporkan Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berkantor pusat di Hongkong, mengumumkan hasil surveinya tentang penilaian mengenai kualitas pendidikan di kawasan Asia yang menempatkan Indonesia sebagai negara yang pendidikanya terburuk di kawasan Asia dan bahkan satu tingkat di bawah Vietnam. Selain itu kualitas sumber daya manusia Indonesia juga rendah sebagaimana dijabarkan dalam Human Development Index (HDI) pada tahun 2004 lalu. Pada saat ini Indonesia menduduki peringkat 110 dari 173 negara, terburuk di Asia Tenggara. Variable yang digunakan dalam penghitungan HDI mencakup tiga bidang strategis pembangunan yaitu: pendidikan, kesehatan dan ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana kita mensikapi fenomena keterpurukan bangsa kita di atas? Sulit memang untuk merubah masalah bangsa yang jumlah penduduknya lebih dari 210 juta jiwa. Padahal kedepan bangsa kita akan menghadapi tantangan yang cukup berat, menyangkut kehidupan bangsa Indonesia secara nasional dan dalam kehidupan global diantara bangsa-bangsa di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci utama bagi suksesnya pendidikan untuk masa depan bangsa adalah sejauhmana kita tetap optimis menatap masa depan, tanpa harus kehilangan rasionalitas kita untuk selalu mengoreksi diri dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Secercah optimisme kini sudah mulai nampak, misalnya bisa dilihat dari jumlah anggaran pendidikan yang akan dinaikan menjadi 20 % dari APBN. Tidak tangggung-tanggung kenaikan anggaraan pendidikan ini tertuang dalam amandemen UUD 1945. Meski hingga saat ini realisasinya masih belum nampak, tetapi optimisme akan terwujudnya amanah UUD 1945 itu harus terus dijaga. Apalagi kini bangsa kita menjadi bangsa yang Demokratis di mata dunia Internasional (setelah pemilu 2004 menjadi negera demokrasi terbesar setelah Amerika dan India), dan ini menjadi modal penting bagi identitas kemajuan sebuah bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimisme saja memang tidak cukup kalau tidak diikuti dengan langkah-langkah konkrit. Lalu, langkah konkrit apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita untuk masa depan ? Tentu jawabanya amat sangat banyak, tetapi penulis coba menjawabnya secara sederhana saja. Beberapa jawaban sederhana dibawah ini bisa juga sebagai refleksi untuk sama- sama kita renungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pendidikan itu tanggungjawab semua warga negara, bukan hanya tanggungjawab sekolah. Konsekuensinya semua warga negara memiliki kewajiban moral untuk menyelamatkan pendidikan. Sehingga diandaikan ada warga negara yang tidak bisa sekolah hanya karena tidak punya uang, maka warga negara yang kaya atau tergolong sejahtera memiliki kewajiban moral untuk menjadi orang tua asuh bagi kelangsungan sekolah anak yang tidak beruntung itu. ( ingat ! akibat krisis yang berkepanjangan, jumlah anak putus sekolah pada tahun ini mencapai puluhan juta anak di seluruh Indonesia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penulis meyakini paradigma yang mengatakan bahwa "pendidikan itu dimulai dari keluarga". Paradigma ini penting untuk dimiliki oleh seluruh orang tua untuk membentuk karakter manusia masa depan bangsa ini. Keluarga adalah lingkungan yang paling pertama dan utama dirasakan oleh seorang anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Karena itu pendidikan di keluarga yang mencerahkan dan mampu membentuk karakter anak yang soleh dan kreatif adalah modal penting bagi kesuksesan anak di masa-masa selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kurikulum pendidikan, metodologi pengajaran, sitem evaluasi dan kesejahteraan guru, juga adalah hal penting yang harus terus di perbaiki. Masalah kurikulum misalnya bisa dicermati dari padatnya kurikulum atau terlalu banyaknya pelajaran juga menjadi persoalan tersendiri yang seringkali menghambat kreatifitas guru mapun siswa. Penulis sebetulnya lebih setuju jika sekolah menerapkan sitem SKS ( Sistem Kredit Semester), dimana siswa diberikan kebebasan memilih mata pelajaran wajib dan pilihan dan ada ketentuan batas minimal jumlah kredit yang harus diselesaikan sehingga dinyatakan lulus suatu jenjang pendidikan tertentu.(khususnya untuk tingkat SMP dan SMA). Apalagi jika sistem SKS ini dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), mungkin akan lebih membuat siswa menikmati belajar. Masalah metodologi pengajaran juga perlu terus dikembangkan ( ini kewajiban guru). Sementara masalah sistem evaluasi juga perlu terus diperbaiki, seperti misalnya masalah Ujian Nasional yang hingga kini masih dipermasalahkan. Dan masalah kesejahteraan guru, ini juga perlu di cermati. Sebab, bagaimana mungkin guru akan asyik mengajar sementara urusan kesejahteraannya bermasalah. Atau bagaimana mungkin guru mengajar tidak gagap tehnologi dan informasi, sementara ia tidak punya uang untuk beli majalah, jurnal, buku-buku baru, apalagi beli komputer yang bisa akses dengan mudah ke internet!?. Karena itu kesejahteraan guru juga harus diperhatikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, untuk meningkatkan kualitas pendidikan demi masa depan diperlukan juga ketegasan untuk menegakkan aturan-aturan maen pendidikan yang konsisten dan konsekuen. Sekolah seringkali tidak menghargai siswa yang belajar sungguh-sungguh, buktinya ada banyak siswa yang enggak belajar, malas-malasan, nilainya selalu merah, tapi naik kelas juga?! Pokoknya 100% selalu naik kelas. Ini kan sama artinya tidak menghargai anak yang sungguh-sungguh belajar. Sebab yang santai-santai saja pasti naik kelas. Dan juga sekaligus tidak mendidik anak untuk belajar menghadapi resiko. Karena itu jangan heran jika mental manusia Indonesia cenderung enggak berani mengambil resiko, karena di sekolah tidak diajarkan untuk menghadapi resiko.? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, pendidikan itu tidak hanya untuk mencerdaskan anak dalam satu kategori kecerdasan, misalnya hanya kecerdasan intelektual (IQ) tetapi juga untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan lainya. Seperti kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan rasa (EQ), dan kecerdasan ketahanmalangan (AQ), dan sebagainya. Atau para ahli psikologi menyebutnya sebagai Multiple Intelligence. Sebab, salah satu penyebab bangsa kita berlarut-larut dalam krisis juga karena bangsa kita miskin SQ atau tepatnya miskin ahlak. Karena itu hal-hal yang sifatnya spiritual juga menjadi sesuatu yang penting untuk terus di jaga dan dikembangkan melalui pendidikan. Termasuk juga membentuk semangat team work, pluralism, dan optimistik perlu dikembangkan di sekolah, misalnya bisa melalui kegiatan ekstrakurikuler, OSIS, dan kegiatan keagamaan. Itulah sebabnya Ki Hajar Dewantara sejak awal mendirikan sekolah Taman Siswa juga mengedepankan pendidikan yang memekarkan rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, mulailah merubah dari diri sendiri. Sebab untuk kemajuan masa depan bangsa harus bisa dimulai dari diri sendiri. Tentu saja dengan terus meningkatkan kualitas diri. Bukankah kemajuan sebuah bangsa tidak bisa terwujud dengan perilaku santai dan bermalas-malasan !!!?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubedilah Badrun, Pemerhati Pendidikan dan Praktisi Pendidikan. Saat ini tinggal di Tokyo dan mengajar di Tokyo Indonesian School&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-4730070480960935964?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/4730070480960935964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/sebuah-refleksi-pendidikan-untuk-masa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/4730070480960935964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/4730070480960935964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/sebuah-refleksi-pendidikan-untuk-masa.html' title='Sebuah Refleksi Pendidikan Untuk Masa Depan'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-6646737281643028014</id><published>2009-05-17T23:40:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:41:29.887-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EVALUASI PENGAJARAN'/><title type='text'>Asesmen dalam Pembelajaran Sains SD</title><content type='html'>Judul: Asesmen dalam Pembelajaran Sains SD&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Sekolah Dasar bagian Mohon Pilih.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Edi Hendri Mulyana &lt;br /&gt;Saya Dosen di PGSD UPI Kampus Tasikmalaya &lt;br /&gt;Topik: Penilaian Alternatif &lt;br /&gt;Tanggal: 09 April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASEMEN DALAM PEMBELAJARAN SAINS SD &lt;br /&gt;Edi Hendri Mulyana - Dosen PGSD UPI Kampus Tasikmalaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator utama yang digunakan untuk menilai kualitas pembelajaran dan kelulusan siswa dari suatu lembaga pendidikan, sering didasarkan pada hasil belajar siswa yang tertera pada nilai tes hasil belajar (THB) atau Nilai EBTANAS Murni (NEM). Dampak dari pandangan tersebut yang diperkuat dengan bentuk tes yang digunakan, mendorong guru berlomba-lomba mentrasfer materi pelajaran sebanyak-banyak-nya untuk mempersiapkan anak didik dalam mengikuti THB atau Ebtanas. Akibatnya seperti yang dikemukakan oleh A. Malik Fajar dalam harian Kompas (Mei 1994:4) bahwa yang terjadi kemudian adalah anak didik dipaksa untuk melahap informasi yang disampaikan tanpa diberi peluang sedikit pun untuk melaksanakan refleksi secara kritis. Dalam hal ini anak didik hanya dituntut untuk belajar dengan cara menghapal semua informasi yang telah disampaikan oleh guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pengamatan di lapangan (terutama terhadap pembelajaran Sains di Sekolah Dasar), proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan pada penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tu;is obyektif dan subyektif sebagai alat ukurnya. Hal ini didukung oleh penelitian Nuryani, dkk (1992:8) yang mengemukakan bahwa pengujian yang dilakukan selama ini baru mengukur pengusaan materi saja dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat rendah. Keadaan semacam ini merupakan salah satu penyebab guru enggan melakukan kegiatan pembela-jaran yang memfokuskan pada pengembangan keterampilan proses anak. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan umumnya hanya terpusat pada pen-yampaian materi dalam buku teks. Keadaan faktual ini mendorong siswa untuk menghapal pada setiap kali akan diadakan tes harian atau tes hasil belajar. Padahal untuk anak jenjang sekolah dasar yang harus diutamakan adalah bagaimana mengembangkan rasa ingin tahu dan daya kritis anak terhadap suatu masalah (Mahar Marjono, 1996:10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran Sains di SD menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif dan bertujuan agar penguasaan dari kognitif , afektif, serta psi-komotorik terbentuk pada diri siswa (Moh. Amin, 1987:42), maka alat ukur hasil belajarnya tidak cukup jika hanya dengan tes obyektif atau subyektif saja. Dengan cara penilaian tersebut keterampilan siswa dalam melakukan aktivitas baik saat melakukan percobaan maupun menciptakan hasil karya belum dapat diungkap. Demikian pula tentang aktivitas siswa selama mengerjakan tugas dari guru. Baik berupa tugas untuk melakukan perco-baan, peragaan maupun pengamatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di atas menunjukkan bahwa bentuk atau sistem penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa sangat berpengaruh terhadap strategi pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan guru. Sis-tem penilaian yang benar adalah yang selaras dengan tujuan dan proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran Sains SD pada kurikulum 2004, dapat dirangkum ke dalam tiga aspek sasaran pembelajaran yaitu penguasaan konsep Sains, pengembangan keterampilan proses/kinerja siswa, dan pena-naman sikap ilmiah. Oleh karennya agar informasi tentang hasil belajar siswa dapat mengungkap secara menyeluruh, maka perlu melakukan pe-ngukuran terhadap ketiga aspek tersebut di atas. Dengan demikian sasaran dari penilaian hasil belajar di SD meliputi semua komponen yang men-yangkut proses dan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga target pembelajaran dalam pendidikan Sains SD menuntut kon-sekuensi terhadap alat ukur yang digunakan. Penggunaan tes obyektif dan subyektif semata-mata sangatlah tidak tepat. Kedua bentuk tes ini hanya mampu menggambarkan seberapa banyak informasi yang berhasil dikum-pulkan siswa dan mempunyai kecenderungan membuat siswa lebih pasif dari pada kreatif, karena peserta didik hanya dibiasakan untuk mengingat materi yang sudah dihapalnya (Muh. Nur, 1997:2; Riberu, 1996:4). Agar hasil belajar dapat diungkap secara menyeluruh, maka selain digunakan alat ukur tes obyektif dan subyektif perlu dilengkapi dengan alat ukur yang da-pat mengetahui kemampuan siswa dari aspek kerja ilmiah (keterampilan dan sikap ilmiah) dan seberapa baik siswa dapat menerapkan informasi pengetahuan yang diperolehnya. Alat penilaian yang diasumsikan dapat memenuhi hal tersebut antara lain adalah Tes Kinerja atau Performance Test dan jenis penilaian alternatif lainnya seperti penilaian produk, portofolio, dan penilaian tingkah laku (Stiggins, 1994:159; Depdiknas-Penilaian Kelas, 2004:36). Dengan menerapkan penilaian seperti itu terhadap siswa, dapat dikumpulkan bukti-bukti kemajuan siswa secara aktual yang dapat diguna-kan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya. Selain itu penilaian dengan cara ini dirasakan lebih adil dan fair bagi siswa serta dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Dalam penilaian kinerja terdapat perbe-daan tugas dan situasi yang diberikan kepada siswa serta memberikan ke-sempatan untuk mempelihatkan pemahamannya dan kebenarannya dalam aplikasi pengetahuan dan keterampilan menurut kebiasaan berfikirnya (Wiggins dalam marzano,1993:13) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengkaji kenyataan yang ditemukan di lapangan, nampak ada ketidaksesuaian antara pembelajaran Sains di SD dengan sistem penilai-an yang digunakannya. Proses penilaian yang biasa dilakukan guru selama ini hanya mampu menggambarkan aspek penguasaan konsep peserta didik, akibatnya tujuan kurikuler Mata Pelajaran Sains belum dapat dicapai dan atau tergambarkan secara menyeluruh. Untuk itu perlu diupayakan suatu teknik penilaian yang mampu mengungkap aspek produk maupun proses, salah satu dengan menerapkan penilaian kinerja siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Gronlund (dalam Bistok Sirait, 1985 : 153) bahwa sekalipun penilaian terhadap kinerja siswa itu amat penting, namun berdasarkan hasil observasi di lapangan para guru merasa kesulitan dalam melaksanakan karena belum memahami prosedur peng-gunaannya. Sebagai contoh kasus ialah; bahwa kegiatan pembelajaran yang melibatkan kinerja siswa dalam melakukan percobaan sudah sering dit-erapkan, namun terhadap kinerja siswa tersebut belum pernah dilakukan penilaian. Menurut pengakuan sejumlah guru SD hal ini disebabkan penata-ran atau pelatihan yang secara khusus membahas penerapan penilaian kinerja belum pernah diikuti atau belum pernah diadakan di tingkat pen-didikan dasar. Kondisi tersebut mengakibatkan pengetahuan, pengalaman maupun penguasaan guru terhadap proses penilaian kinerja siswa sangat kurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas menunjukkan bahwa penilaian dengan cara konvensional be-lum mampu mengungkap hasil belajar siswa dari aspek sikap dan proses atau kinerja siswa secara aktual. Oleh karenanya diperlukan penerapan sis-tem penilaian yang dapat mengungkap kedua aspek tersebut. Sistem penilaian yang diasumsikan dapat memenuhi tuntutan tersebut adalah sis-tem penilaian yang digagaskan dalam Sistem Penilaian Kelas Kurikulum 2004 yang antara lain meliputi jenis Penilaian Kinerja (Performance Assess-ment), Penilaian Karya (Product Assessment), Penilaian Penugasan , Penilaian Proyek, dan Penilaian Portofolio. Dari jenis-jenis tersebut tersirat bahwa makna penilaian mencakup hal-hal yang lebih luas dari sekedar penilaian konvensional yang selama ini berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Penilaian dan Tujuan Pembelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana ditegaskan dalam pedoman penilaian untuk sekolah dasar (Depdikbud, 1994:1) penilaian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan dasar maupun penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan pada langkah awal pembelajaran digunakan sebagai acuan dalam kegiatan pem-belajaran dan proses penilaian yang akan dilakukan. Menurut Davis (dalam Sudarsono Sudirdjo dkk., 1991:94) tujuan tidak hanya merupakan arah yang dapat membentuk atau mewarnai kurikulum dan memimpin kegiatan pen-gajaran, tetapi juga dapat menyediakan spesifikasi secara terperinci bagi penyusunan dan penggunaan teknik-teknik penilaian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara je-las dan spesifik akan menunjang proses penilaian yang tepat dan dapat membantu di dalam menetapkan kualitas dan efektivitas pengalaman bela-jar siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Penilaian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku pedoman penilaian kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994: 3), dikemukakan bahwa: &lt;br /&gt;"Penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mem-berikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh ten-tang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan tersebut di atas mengandung makna bahwa jauh sebelum diberlakukannya sistem Penilaian Kelas dari Kurikulum 2004, penilaian ti-dak hanya ditujukan pada penguasaan salah satu bidang tertentu saja, me-lainkan menyeluruh dan mencakup aspek kognitif, afektif maupun psiko-motorik. Hal ini sejalan dengan pandangan Colin (1991: 3), bahwa: &lt;br /&gt;"Assessment as a general term enhancing all methods customarily to ap-praise performance of individual pupil or a group. It may refer to abroad appraisal including many sources of evidence and many aspects of a pu-pil's knowledge, understanding, skill and attitudes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Nana Sudjana (1989:220), penilaian adalah proses untuk menentukan nilai dari suatu obyek atau peristiwa dalam suatu kon-teks situasi tertentu, dimana proses penentuan nilai berlangsung dalam ben-tuk interpretasi yang kemudian diakhiri dengan suatu "Judgment". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian tidak sama dengan pengukuran, namun keduanya tidak dapat dipisahkan, karena kedua kegiatan tersebut saling berhubungan erat. Untuk dapat mengadakan penilaian perlu melakukan pengukuran terlebih dahulu (Suharsimi Arikunto, !991: 1). Pengukuran dapat diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang di-dasarkan pada aturan atau formulasi yang jelas (Asmawi Zainul, 1992: 13). Dari hasil pengukuran akan diperoleh skor yang menggambarkan tingkat keberhasilan belajar siswa berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, berikut adalah penjelasan dari buku Penilaian Kelas pada Kurikulum 2004 tentang beberapa istilah yang sering terkait dengan penilaian (Depdiknas, 2004:11-12). "Banyak orang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi, pengukuran (measurement), tes, dan penilaian (as-sessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan den-gan keputusan nilai (value judgement). Di bidang pendidikan, kita dapat me-lakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru. Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau keterca-paian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Penilaian menjawab per-tanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa. Pengu-kuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang siswa telah menca-pai karakteristik tertentu. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pern-yataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengu-kuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilak-sanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Penilaian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pedoman penilaian Kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994:3) ditegaskan bahwa tujuan dan fungsi penilaian untuk memberikan umpan bail baik kepada guru, siswa, orangtua maupun lembaga pendidikan yang berkepentingan serta untuk menentukan nilai hasi belajar siswa. Bagai guru, hasil penilaian tidak hanya dugunakan untuk memberikan pertanggung-jawaban secara obyektif kepada atasan ataupun sekedar bahan nilai raport. Namun penilaian dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk melakukan instrospeksi diri terhadap proses pembelajaran yang baru saja berlangsung. Bagi siswa, hasil penilaian dapat dijadikan alat untuk memotivasi siswa tersebut agar lenih giat dalam proses pembelajaran berikutnya. Selain itu, dari hasil penilaian siswa mendapatkan informasi tentang seberapa jauh tingkat penguasaan bahan pelajaran yang diberikan guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orangtua, dengan mengetahui hasil belajar siswa (anaknya) orangtua dapat turut berpartisipasi dan mengambil langkah yang tepat dalam memberikan bimbingan dan bantuan serta dorongan bagi putra-putrinya. Selain itu dengan informasi hasil penilaian yang benar, orangtua dapat secara akurat mengetahui kemampuan, kekurangan dan kedudukan siswa secara ril di kelasnya. Bagi pengelola program pendidikan, hasil penilaian merupakan masukkan yang sangat berarti yang dapat digunakan untuk bahan kajian dalam membantu guru meningkatkan kompetensi pro-fesionalnya, khususnya dalam bidang penilaian. Hasil penilaian yang kom-prehensif dapat juga dugunakan untuk tujuan dan kebutuhan lain misalnya penentuan status siswa, pengelompokkan, seleksi, diagnosis dan bimbin-gan, serta menyempurnakan pengalaman pendidik, atau penelitian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip penilaian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kegiatan penilaian dapat memberikan manfaat yang optimal jika di-lakukan dengan mengacu pada prinsip-prinsip penilaian sebagaimana ditetapkan oleh pedoman formal penilaian dari pemerintah (Depdikbud, 1994:5), yakni dilaksanakan secara menyeluruh, berkesinmabungan, berori-entasi pada tujuan, obyektif, terbuka serta mempertimbangkan aspek ke-bermaknaan. Peneilian yang dilakukan secara menyeluruh artinya informasi yang dikumpulkan melalui proses penilaian menyangkut seluruh aspek kepribadian siswa. Penilaian dikatakan menyeluruh jika mampu mengung-kap aspek produk dan proses belajar anak, yakni menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan proses peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target hasil belajar yang diharapkan terjadi pada diri siswa setelah berlangsungnya proses pembelajaran tertuang dalam tujuan pembelajaran sejak tujuan umum pada Standar Kompetensi Mata Pelajaran hingga Kom-petensi Dasar, Hasil Belajar, dan Indikator dari setiap materi pokok pembe-lajaran. Oleh karena proses penilaian bertujuan untuk mengetahui se-jauhmana tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran, maka dalam melaku-kan penilaian harus selalu berorientasi pada tujuan; karena antara tujuan dan penilaian merupakan komponen sistem pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip penilaian selanjutnya adalah bersifat obyektif, artinya dalam melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa, guru berusaha untuk meminimalisasi faktor subyektivitas. Menurut Ign. Masidjo (1995: 25) obyek-tivitas pelaksanaan penilaian dapat dicapai dengan menaati aturan-aturan yang telah ditetapkan. Penilaian yang didasarkan atas kriteria penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya dapat mengurangi faktor subyektivitas dalam melakukan penilaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar hasil penilaian dapat memberikan manfaat baik kepada guru, siswa, orang tua maupun pihak sekolah, maka penilaian hendaknya dilaku-kan secara terbuka. Maksudnya baik proses maupun hasil penilaian hen-daknya diinformasikan kepada pihak-pihak terkait, sehingga hasil penilaian memiliki kebermaknaan bagi pihak-pihak yang memerlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian dalam Pembelajaran Sains &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikemukakan terdahulu bahwa pembelajaran Sains memi-liki tiga dimensi sasaran pembelajaran, yaitu dimensi proses, produk dan sikap yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan dan diabaikan dalam proses belajar mengajar Sains (Moh. Amin, 1987: 16). Target pembelajaran Sains ini selain mengembangkan aspek kognisi juga meningkatkan ket-erampilan proses, sikap, kreativitas dan kemampuan aplikasi konsep (Yager, 1996:9). Mengingat antara belajar dan penilaian mempunyai hubun-gan yang erat, maka agar siswa terdorong untuk mengembangkan daya kreasi dan keterampilan berfikirnya hendaknya penilaian yang dilakukan tidak hanya ditujukan pada aspek penguasaan konsep saja. Namun perlu dilengkapi dengan penilaian terhadap proses belajar siswa atau aktivitas siswa, karya siswa, dan sikap siswa. Instrumen penilaian yang dapat digunakan untuk menilai kinerja siswa tersebut adalah dengan mengguna-kan penilaian berbasis asesmen (Assessment-based Evaluation). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian berbasis asesmen menuntut tertampilkannya kompetensi dan kreativitas serta inisiatif yang lebih luas dari diri siswa. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Niddhi Khattri dkk. (1995: 80), bahwa penilaian ter-hadap berbagai aspek kinerja siswa memiliki pengaruh positif di kelas, karena melengkapi guru dengan acuan pedagogis yang membantu mengembangkan teknik instruksional yang efektif. Selain itu penilaian juga menyediakan informasi secara komprehensif mengenai kemajuan belajar siswa termasuk kekuatan dan kelemahannya. Mengingat begitu besarnya manfaat dan peranan penilaian berbasis asesmen terhadap kinerja siswa serta proses pembelajarannya, maka guru sebagai pengelola utama kegiatan pembelajaran diharapkan mampu memahami, merencanakan sekaligus me-laksanakan jenis-jenis penilaian berbasis asesmen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Dasar Asesmen &lt;br /&gt;Pengertian Asesmen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asesmen dalam pembelajaran adalah suatu proses atau upaya formal pengumpulan informasi yang berkaitan dengan variabel-variabel penting pembelajaran sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh guru un-tuk memperbaiki proses dan hasil belajar siswa (Herman et al., 1992:95; Po-pham, 1995:3). Variabel-variabel penting yang dimaksud sekurang-kurangya meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap siswa dalam pembelajaran yang diperoleh guru dengan berbagai metode dan prosedur baik formal maupun informal, sebagaimana dikemukakan oleh Corner (1991:2-3) sebagai berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A general term enhancing all methods customarily used to appraise performance of an individual pupil or group. It may refer to a broad appraisal including many sources of evidence and many aspect of pupil's knowledge, understanding, skills and attitudes; An assess-ment instrument may be any method and procedure, formal or in-formal, for producing information about pupil . . . . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian asesmen dalam berbagai literatur asing tersebut di atas selaras dengan makna penilaian yang digariskan dalam Buku Pedoman Penilaian pada kurikulum pendidikan dasar. Dalam buku tersebut tertulis bahwa, penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai (Depdikbud, 1994:3). Ada pun yang dimaksud dengan asesmen alternatif (alternative assessment) adalah segala jenis bentuk asesmen diluar asesmen konvensional (selected respon test dan paper-pencil test) yang lebih autentik dan signifikan mengungkap secara langsung proses dan hasil belajar siswa. Herman (1997) memberikan sem-boyan khusus bagi asesmen alternatif dengan ungkapan "What You Get is What You Assess" (WYGWYA). Dalam beberapa literatur, asesmen alternatif ini kadang-kadang disebut juga asesmen autentik (authentic assessment), as-esmen portofolio (portfolio assessment) atau asesmen kinerja (performsnce as-sessment). (Herman,1997:197-198; Niemi,1997:243; Harlen, 1992:6; Marzano, et al.,1993:13; Popham, 1995:142) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dan Peran Asesmen dalam Pembelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama penggunaan asesmen dalam pembelajaran (classroom assessment) adalah membantu guru dan siswa dalam mengambil keputusan propesional untuk memperbaiki pembelajaran. Menurut Popham (1995:4-13) asesmen bertujuan untuk antara lain untuk: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar, &lt;br /&gt;(2) memonitor kemajuan siswa, &lt;br /&gt;(3) menentukan jenjang kemampuan siswa, &lt;br /&gt;(4) menentukan efektivitas pembelajaran, &lt;br /&gt;(5) mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran, &lt;br /&gt;(6) mengevaluasi kinerja guru kelas, &lt;br /&gt;(7) mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penggunaan asesmen alternatif bentuk apapun dicirikan oleh hal-hal berikut: (1) menuntut siswa untuk merancang, membuat, menghasil-kan, mengunjukkan atau melakukan sesuatu; &lt;br /&gt;(2) memberi peluang untuk terjadinya berpikir kompleks dan/atau memecahkan masalah; &lt;br /&gt;(3) meng-gunakan kegiatan-kegiatan yang bermakna secara instruksional; &lt;br /&gt;(4) menun-tut penerapan yang autentik pada dunia nyata; &lt;br /&gt;(5) pensekoran lebih di-dasarkan pada pertimbangan manusia yang terlatih daripada mengandalkan mesin. Untuk memperoleh asesmen dengan standar tinggi, maka peng-gunaan asesmen harus: relevan dengan standar atau kebutuhan hasil belajar siswa; adil bagi semua siswa; akurat dalam pengukuran; berguna; layak dan dapat dipercaya. (Herman,1997:198) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar penggunaan asesmen dalam kelas sesuai dengan pembelajaran dan dapat meningkatkan pembelajaran tersebut Cottel (1991) menggagaskan 5 petujuk bagi guru penggunaan asesmen dalam kelas. Kelima petunjuk tersebut adalah: pertama, senantiasa menganggap bahwa pembelajaran terus berlangsung; kedua, selalu meminta siswa untuk menunjukkan bukti-bukti bagaimana mereka belajar; ketiga, memberi siswa umpan balik tentang re-spon kelas serta rencana pengajar tentang respon tersebut; keempat, melaku-kan penyesuaian-penyesuaian yang tepat untuk meningkatkan pembela-jaran; dan kelima, menilai ulang bagaimana penyesuaian-penyesuaian terse-but bekerja cukup baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Performance Assessment sebagai Asesmen Alternatif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan jenis asesmen yang tepat akan sangat menentukan ke-berhasilan dalam mengakses informasi yang berkenaan dengan proses pem-belajaran. Pemilihan metode asesmen harus didasarkan pada target infor-masi yang ingin dicapai. Informasi yang dimaksud adalah hasil belajar yang dicapai siswa. Stiggins (1994:3,67) mengemukakan lima kategori target hasil belajar yang layak dijadikan dasar dalam menentukan jenis asesmen yang akan digunakan oleh pengajar. Kelima hasil belajar tersebut adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Knowledge Outcomes, merupakan penguasaan siswa terhadap substansi pengetahuan suatu mata pelajaran &lt;br /&gt;(2) Reasoning Outcomes, yang menunjukkan kemampuan siswa dalam meng-gunakan pengetahuannya dalam melakukan nalar (reason) dan meme-cahkan suatu masalah. &lt;br /&gt;(3) Skill Outcomes, kemampuan untuk menunjukkan prestasi tertentu yang berhubungan dengan keterampilan yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan. &lt;br /&gt;(4) Product Outcomes, kemampuan untuk membuat suatu produk tertentu yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan &lt;br /&gt;(5) Affective Outcomes, pencapaian sikap tertentu sebagai akibat mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan. &lt;br /&gt;Untuk lima kategori hasil belajar di atas, Stiggins (1994: 83) menawar-kan empat jenis metode asesmen dasar. Keempat metode tersebut adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Selected Response Assessment, termasuk ke dalamnya pilihan ganda (multi-ple-choice items), benar-salah (true-false items), menjodohkan atau menco-cokkan (matching exercises), dan isian singkat (short answer fill-in items) &lt;br /&gt;(2) Essay Assessment, dalam asesmen ini siswa diberikan beberapa persoalan kompleks yang menuntut jawaban tertulis berupa paparan dari solusi terhadap persoalan tersebut. &lt;br /&gt;(3) Performance Assessment, merupakan pengukuran langsung terhadap pres-tasi yang ditunjukkan siswa dalam proses pembelajaran. Asesmen ini terutama didasarkan pada kegiatan observasi dan evaluasi terhadap proses dimana suatu keterampilan, sikap, dan produk ditunjukkan oleh siswa. &lt;br /&gt;(4) Personal Communication Assessment, termasuk ke dalamnya adalah per-tanyaan-pertanyaan yang diajukan guru selama pembelajaran, wawan-cara, perbincangan, percakapan, dan diskusi yang menuntut munculnya keterampilan siswa dalam mengemukakan jawaban/gagasan. &lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian asesmen alternatif sebagaimana dikemu-kakan di muka, maka kategori asesmen dari Stiggins yang cenderung dapat dipandang sebagai jenis asemen alternatif adalah Performance Assessment dan Personal Commu-nication Assessment. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Performance Assessment dan Personal Communication Assessment ber-cirikan pengukuran secara langsung (direct) dan autentik terhadap pembela-jaran. Yang menjadi objek Performance Assessment (asesmen kinerja) ini adalah segala yang berkaitan dengan 'observabel performance' dari siswa. Kinerja yang memungkinkan untuk diobservasi mungkin saja berkenaan dengan proses kognitif yang kompleks semisal melakukan analisis, meme-cahkan masalah, melakukan percobaan, membuat keputusan, mengukur, bekerja sama dengan yang lain, pernyataan oral, atau mengunjukkan suatu produk. Lebih kompleks lagi kedua jenis asesmen tersebut dapat digunakan untuk mengases cara berpikir (habit of mind), cara bekerja, dan perilaku nilai (behaviors of value) dari siswa dalam kehidupan nyata. Penggunaan jenis asesmen seperti ini sangat berkesuaian dengan efektivitas pembela-jaran. (Borich, 1996:634-640; Baker, 1997:248). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marzano, et al. (1993: 1-5,18) mendasarkan penggunaan performance assessment terhadap lima Dimensi Belajar yang digagaskannya. Kelima di-mensi ini adalah: Dimensi pertama, sikap dan persepsi yang positif tentang belajar (positive attitudes and perception about learning); Dimensi kedua, perolehan dan pengintegrasian pengetahuan (acquiring and integrating knowledge); Dimensi ketiga, perluasan dan penajaman pengetahuan (extending and refining knowl-edge); Dimensi keempat; penggunaan pengetahuan secara bermakna (using knowledge meaningfully); Dimensi Kelima, kebiasaan berpikir yang produktif (productive habits of mind). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian Kinerja Dalam Pembelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian kinerja siswa merupakan salah satu alternatif penilaian yang difokuskan pada dua aktivitas pokok, yaitu: Observasi proses saat ber-langsungnya unjuk keterampilan dan evaluasi hasil cipta atau produk. Penilaian bentuk ini dilakukan dengan mengamati saat siswa melakukan aktivitas di kelas atau menciptakan suatu hasil karya sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Kecakapan yang ditampilkan siswa adalah variabel yang dinilai. Penilaian terhadap kecakapan siswa didasarkan pada perbandingan antara kinerja siswa dengan target yang telah ditetapkan. Proses penilaiannya dilakukan mulai persiapan, melaksanakan tugas sampai den-gan hasil akhir yang dicapainya (Depdikbud, 1993: 8). Sejalan dengan pen-dapat tersebut, Popham (1994: 139) mengemukakan bahwa: "Performance as-sessment is approach to measuring a student's status based on the way that the stu-dent completes a specified task". Stiggins (1991: 85) mengemukakan bahwa dalam penilaian kinerja siswa, guru menghendaki respon yang "authentic" atau yang asli berupa aktivitas yang dapat diamati.Tugas yang diberikan bisa dalam bentuk lisan atau tertulis, yang jenis tugasnya disesuaikan den-gan tujuan pembelajaran. Menurut Popham (1994: 141) penilaian terhadap kinerja siswa setidaknya memiliki tiga sifat, yaitu: kriteria ganda (multiple criteria), standar kualitas yang telah dispesifikasi (prespektified quality stan-dards) dan penaksiran penilaian (judgmental appraisal). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penilaian terhadap kinerja siswa, target pencapaian hasil bela-jar yang dapat diraih meliputi aspek-aspek berikut ini: 1) Knowledge; 2) Rea-soning; aplikasi pengetahuan dalam berbagai konteks pemecahan masalah; 3) Skill; kecakapan dalam berbagai jenis keterampilan komunikasi, visual, karya seni, dan lain-lain; 4) Product; dan 5) Affect; berhubungan dengan perasaan, sikap, nilai, minat, motivasi (Stiggins, 1994: 171). Selanjutnya dikemukakan bahwa diantara kelima target tersebut, penilaian kinerja siswa sangat efektif untuk menilai pencapaian target dari reasoning, skill dan karya cipta. Untuk dapat melakukan penilaian terhadap keterampilan (skill) dan karya cipta siswa diperlukan alat ukur terhadap kinerja siswa yang disebut dengan tes kinerja. Menurut Yacobs (1992:137), bahwa tes ini men-yediakan cara mengukur skill dan kemampuan yang tidak dapat diukur dengan tes tertulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pedoman penilaian di SD, dinyatakan bahwa tes kinerja adalah tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan proses penilaiannya dilakukan sejak siswa melakukan persiapan, me-laksanakan tugas sampai dengan hasil akhir (Depdikbud, 1994: 8). Sebagai alat penunjang dalam melaksanakan tes perbuatan digunakan lembar ob-servasi atau sebuah format pengamatan kinerja atau penampilan siswa. Dalam lembar pengamatan tertera aspek-aspek yang diamati sesuai dengan target pembelajarannya. Berdasarkan deskriptor-deskriptor yang nampak selama proses pengamatan, ditentukanlah skor kinerja siswa dengan berpe-doman pada kriteria penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam mengembangkan metode ini adalah: kejelasan karakter penampilan yang akan dinilai, pengembangan tugas atau latihan (sifat, materi, jumlah), dan prosedur pen-skoran meliputi teknik, pencatatan hasil, identifikasi dan keterampilan penilaian. Sebagai contoh, aspek-aspek kinerja iswa apa saja yang akan dinilai? Sifatnya individual atau kelompok? Prosedur penyekorannya meng-gunakan skala, rubrik atau catatan harian? Bagaimana kriteria penilaian dari masing-masing aspek kinerja siswa? Selain itu sangat dibutuhkan pelibatan siswa secara penuh mulai dari perencanaan, pengembangan dan peng-gunaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar untuk tugas-tugas sebelumnya harus ditetapkan secara jelas termasuk juga identifikasi prestasi yang harus didemonstrasikan, kondisi demonstrasi dan standar kualitas yang ditetapkan. Demikian pula kriteria penilaian dari tiap-tiap kinerja siswa yang akan diamati harus sudah di-mengerti dan disepakati bersama siswa. Melalui cara tersebut, penilaian ter-hadap kinerja siswa dapat dirasakan lebih terbuka dan adil bagi semua siswa, karena siswa mempunyai acuan yang jelas dalam mengerjakan tugas dari guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas-tugas (Task) dalam Asesmen Kinerja Siswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan penilaian jenis apa pun menuntut adanya kegiatan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas secara jelas. Menurut Marc Tucker (dalam Marzano, 1993:15), guru tidak dapat menilai kinerja siswa tanpa memberikan tugas-tugas kepada siswa; begitu juga guru tidak dapat menilai tingkat prestasi siswa tanpa adanya bukti otentik adanya tugas-tugas yang dikerjakan siswa secara nyata. Dengan demikian apabila ases-men kinerja diterapkan guru, maka dengan sendirinya siswa terberi kesem-patan untuk mengungkapkan pengetahuan sebelumnya, menunjukkan pen-guasaan terhadap pengetahuan dan keterampilan baru dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas-tugas kinerja dalam pengajaran Sains di SD hendaknya dipilih atau diciptakan secara menarik dan disesuaikan dengan tujuan pembela-jaran dan tingkat perkembangan siswa. Hal demikian diduga dapat men-ingkatkan motivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan pembe-lajaran yang memiliki kadar on-task, hands-on, dan minds-on yang relatif tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetapan Kriteria &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria perlu ditetapkan karena mempunyai kegunaan untuk menen-tukan validitas, keadilan dan konsistensi penilaian. Menurut para ahli psi-komotor, kriteria yang paling penting yang dapat digunakan untuk menilai tugas-tugas berkaitan dengan kinerja siswa adalah faktor kesamaan (Pop-ham, 1994 : 147). Selanjutnya dikemukakan bahwa ada tujuh kriteria penilaian yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memilih salah satu tugas kinerja atau menciptakan tugas-tugas dalam penilaian kinerja. Ketujuh kriteria tersebut adalah: keumuman (generalizabil-ity), keaslian (authenticity), berfokus ganda (multiple foci), keadilan (fairness), bisa tidaknya diajarkan ( teachability), kepraktisan (feasibility) dan bisa ti-daknya tugas tersebut diberi skor (scorability). Untuk setiap kriteria yang dipilih, skala angka secara khusus dapat digunakan, sehingga kriteria untuk setiap respon siswa mungkin ditetapkan skala, 0 (nol) hingga 6 (enam). Menurut Popham (1994: 149), kadang-kadang skala ini dilengkapi dengan penjelasan atau gambaran verbal, kadang-kadang tidak. Dalam proses penil-ian kinerja, sebaiknya siswa mengetahui aspek-aspek apa saja yang akan dinilai berikut kriteria penilaiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reliabilitas dan Validitas dalam Penilaian Kinerja &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri penilaian kinerja adalah adanya ketergantungan terhadap pertimbangan manusia (guru) dalam menentukan skor terhadap kinerja (performansi) siswa. Kenyataan ini menyebabkan tidak dapat dihindarinya faktor subyektivitas penilaian terhadap performansi siswa, mengingat per-sepsi atau interpretasi seseorang dalam memandang sesuatu cenderung ber-beda meskipun dalam waktu dan momen yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tercapai penilaian kinerja yang reliabel, diperlukan upaya un-tuk meminimalkan adanya faktor penyebab perbedaan keputusan pen-skoran terhadap kinerja yang sama. Reliabilitas (konsistensi) dalam pen-skoran sangat dituntut demi keadilan bagi peserta didik. Upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain penetapan kriteria yang jelas, pemahaman yang seragam dari sejumlah penilai terhadap kriteria, proses pengukuran tidak hanya dilakukan oleh satu orang, tidak menangguhkan penilaian, serta dila-kukan konsesus secara berulang terhadap pemahaman kriteria (Herman, 1992). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pengukuran yang konsisten, diperlukan juga alat ukur yang sahih (valid). Validitas (kesahihan) alat ukur berkaitan dengan kesesuaian antara alat ukur dengan aspek-aspek yang hendak diukur. Menurut Wayan Nurkancana (1986:127) alat ukur dapat dikatakan sahih apabila alat ukur tersebut dapat mengukur dengan tepat apa yang hendak diukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian Berbasis Asesmen pada Kurikulum 2004: Penilaian Kelas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Kurikulum yang berbasis kompetensi ini menghendaki adanya perubahan kegiatan pembelajaran di kelas, baik dalam cara guru mengajar maupun dalam melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa. Dengan penekanan pada penguasaan kompetensi, maka jenis penilaian juga harus disesuaikan dengan kekhasan masing-masing kompe-tensi. Bentuk penilaian yang sama (model pilihan ganda) untuk menilai se-mua mata pelajaran yang selama ini digunakan oleh guru tidak bisa digunakan untuk menilai kompetensi yang beragam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum ber-basis kompetensi. Penilaian kelas adalah proses pengumpulan dan peng-gunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar siswa berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga didapatkan pot-ret/profil kemampuan siswa sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Penilaian kelas dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar-mengajar. Penilaian dapat dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, di dalam kelas, di luar kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar-mengajar atau dilakukan pada waktu yang khusus. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti tes tertulis (paper and pencil test), penilaian hasil kerja siswa melalui kumpulan hasil kerja (karya) siswa (portofolio), penilaian produk 3 dimensi, dan penilaian, unjuk kerja (performance) siswa. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dila-kukan melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan informasi me-lalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar siswa, pe-laporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tujuan penilaian dilakukan guru, antara lain untuk grading (membedakan kedudukan hasil kerja siswa dibandingkan dengan siswa lain dalam satu kelas), alat seleksi (memisahkan antara siswa yang ma-suk dalam kategori tertentu dan yang tidak, atau untuk menentukan seorang siswa dapat masuk atau tidak di sekolah tertentu), menguasai kompetensi (me-nentukan apakah seorang siswa telah menguasai kompetensi tertentu atau belum), bimbingan (mengevaluasi hasil belajar siswa dalam rangka mem-bantu siswa memahami dirinya, membuat keputusan yang harus dilakukan siswa, atau untuk menetapkan penjurusan), alat prediksi (mendapatkan in-formasi yang digunakan untuk memprediksi kinerja siswa pada pendidikan berikutnya) dan alat diagnosis (melihat kesulitan belajar atau dalam hal apa siswa memiliki prestasi untuk menentukan perlu remediasi atau pen-gayaan). Dalam kaitannya dengan pelaksanaan penilaian berbasis kelas, jenis penilaian diagnosis, bimbingan, dan pencapaian penguasaan kompe-tensi harus menjadi perhatian utama guru pada setiap kali mengajar. Guru dituntut mampu melaksanakan penilaian mulai dari awal sampai akhir proses belajar mengajar. Untuk menilai sejauhmana siswa telah menguasai beragam kompetensi, tentu saja berbagai jenis penilaian perlu diberikan se-suai dengan kompetensi yang akan dinilai, seperti unjuk kerja/kinerja (per-formance), penugasan (proyek), hasil karya (produk), kumpulan hasil kerja siswa (portofolio), dan penilaian tertulis (paper and pencil test). Penilaian ber-basis kelas merupakan suatu proses yang dilakukan guru melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar siswa, pelaporan, dan penggunaan informasi ten-tang hasil belajar siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, peran penilaian berbasis kelas adalah memberikan masukan atau informasi secara komprehensif tentang hasil belajar siswa dilihat ketika kegiatan pembelajaran sedang berlangsung hingga hasil akhirnya dengan menggunakan berbagai cara penilaian sesuai dengan kompetensi yang di-harapkan dicapai siswa. Dengan demikian Penilaian Kelas merupakan penilaian yang dilakukan guru baik yang mencakup aktivitas penilaian un-tuk mendapatkan nilai kualitatif maupun aktivitas pengukuran untuk men-dapatkan nilai kuantitatif (angka). Perlu diingat bahwa penilaian kelas dila-kukan terutama untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar siswa yang dapat digunakan sebagai diagnosis dan masukan dalam membimbing siswa dan untuk menetapkan tindak lanjut yang perlu dilakukan guru dalam rangka meningkatkan pencapaian kompetensi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0405edi.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-6646737281643028014?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/6646737281643028014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/asesmen-dalam-pembelajaran-sains-sd.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6646737281643028014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6646737281643028014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/asesmen-dalam-pembelajaran-sains-sd.html' title='Asesmen dalam Pembelajaran Sains SD'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-8212085182332355956</id><published>2009-05-17T23:36:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:37:13.715-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan</title><content type='html'>Selasa, 26 Februari 2008 07:16:49 - oleh : redaksi&lt;br /&gt;TATIK REJEKI SPd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga mengkonsumsi minuman keras dan narkotika. Bahkan sudah ada gejala peredaran adegan porno yang perankan oleh para pelajar. Fenomena ini tentunya tidak akan terjadi apabila orang tua dan lembaga pendidikan berhasil mengajarkan nilai moral yang berlaku di masyarakat.&lt;br /&gt;Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam diri siswa adalah nilai-nilai nurani (values of being) yang meliputi ketaqwaan kepada Tuhan YME, kejujuran, rasa percaya diri, kesabaran, ketertiban, dan keberanian. Sedangkan nilai-nilai yang memberi (values of giving) meliputi kesetiaan, dapat dipercaya, menghormati, empati dan simpati, kasih sayang, ramah, dan adil. &lt;br /&gt;Pendidikan nilai sebenarnya sudah didapatkan anak semenjak berada di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Secara sadar atau tidak, mereka sudah mulai mengembangkan pendidikan nilai melalui pengamatan terhadap orang tua, teman, media, yang pada akhirnya mereka akan meniru apa yang telah mereka lihat setiap hari. Pengembangan pendidikan nilai dilanjutkan pada lembaga pendidikan atau sekolah.&lt;br /&gt;Bagaimana metode pendidikan nilai yang menyenangkan? Sebagai guru pertama bagi anak, orangtua berperan penting menjadi pelaku nilai, baik nilai-nilai nurani maupun nilai-nilai memberi. Mulailah dari hal kecil seperti membiasakan salam, berkata santun, hingga pada hal paten seperti salat lima waktu bagi keluarga muslim. Sebagai teladan, orangtua harus menunjukkan kepada anak bahwa orangtua “menjunjung tinggi nilai itu”. &lt;br /&gt;Selanjutnya sekolah sebagai subkontraktor pendidikan nilai mempunyai tanggung jawab melanjutkan penanaman pendidikan nilai. Di sekolah ada  guru yang mengajarkan pendidikan agama, guru pendidikan kewarganegaraan, dan bahkan guru bimbingan dan konseling, tetapi pada kenyataannya jam pelajaran sangatlah minim dibandingkan dengan kuantitas jam pelajaran pada disiplin ilmu lainnya. &lt;br /&gt;Karena itu seharusnya guru yang mengajarkan disiplin ilmu lain, ikut aktif menanamkan pendidikan nilai. Sehingga pelaksanaannya kontinyu tidak terpusat pada satu atau dua mata pelajaran. Sehingga  semua yang terlibat pada proses pembelajaran di sekolah, bisa menjadi pelaku nilai moral, karena seorang guru panutan bagi siswanya baik dalam berucap ataupun bersikap. &lt;br /&gt;Kegagalan orang tua atau guru dalam menanamkan pendidikan nilai bisa jadi karena metode yang kita gunakan kurang efisien atau membosankan. Untuk itu sudah saatnya kita mencoba membenahinya dengan metode lainnya, sehingga tujuan akan tercapai. Pertama, diskusi atau problem solving dimana anak kita libatkan untuk mengemukakan ide dalam mencari solusi masalah yang sering mereka alami. &lt;br /&gt;Sementara kita membantu mereka mengembangkan minat dan kemampuan mereka sendiri untuk berbicara. Nilai-nilai yang kita ajarkan perlahan-lahan namun pasti akan menular kepada mereka apabila kita sering berinteraksi. Kedua, permainan (game) skenario kita betul-betul menempatkan diri anak dalam situasi yang memperlihatkan konsekuensi serta hubungan sebab akibat dalam berbagai pilihan atau perilaku. &lt;br /&gt;Ketiga, penghargaan dan pujian yang positif,  perhatian positif yang kita berikan saat seorang anak menunjukkan citra diri (self - image) dan individualitasnya dapat membangun rasa percaya dirinya dan hal ini diperlukan untuk mendapatkan keandalan diri (self - reliance). Pujilah mereka saat menunjukkan tindakan pengembangan nilai karena akan membuat mereka bangga dan merasa dapat diandalkan. &lt;br /&gt;Keempat, membiasakan pepatah-pepatah atau kata-kata bijak, untuk menanamkan nilai moral yang kuat kedalam benak seorang anak kita harus  membiasakan pepatah atau kata bijak yang menyatakan suatu nilai moral. Kelima, out bond. kegiatan out bond sangat menyenangkan bagi siswa, karena out bond bisa menumbuhkan keberanian dalam menghadapi tantangan, menentukan keputusan, dan juga melatih kerja sama.&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya pendidikan nilai pada anak, sudah seharusnya orang tua dan lembaga pendidikan berbenah diri dengan mengubah tradisi dan memanfaatkan sarana prasana yang menunjang  pengembangan pendidikan nilai. Mari bahu membahu untuk mewujudkan pribadi generasi kita yang mengaplikasikan pendidikan nilai. Oleh karena itu pendidikan nilai harus kita berikan sekarang dan seterusnya.&lt;br /&gt;http://www.koranpendidikan.com/artikel/409/konsep-pendidikan-nilai-yang-menyenangkan.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-8212085182332355956?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/8212085182332355956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/konsep-pendidikan-nilai-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/8212085182332355956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/8212085182332355956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/konsep-pendidikan-nilai-yang.html' title='Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-3509661767042255609</id><published>2009-05-17T23:34:00.002-07:00</published><updated>2009-05-17T23:36:03.239-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>Beri Kami Otonomi Pengelolaan Pembelajaran</title><content type='html'>Beri Kami Otonomi Pengelolaan Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WIJI UTAMI SPd *)&lt;br /&gt;Pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar yang sedianya untuk pengenalan bergeser menjadi beban karena sulitnya pengerjaan ujian setiap akhir semester, khususnya kelas IV dan V. Diawali sekitar tahun 2000, pengenalan Bahasa Inggris di SD menjadi salah satu cara peningkatan kualitas siswa menyambut era millennium. Dan itu merupakan terobosan yang positif mengingat pendidikan bahasa lebih afdol jika dilakukan sejak dini.&lt;br /&gt;Disamping itu merupakan kebijakan yang menguntungkan bagi lulusan –lulusan yang belum tertampung pada lapangan kerja yang memadai. Sehingga otomatis mengurangi pengangguran. Pembelajaran bahasa inggris masih terasa menyenangkan dan membanggakan bagi siswa sampai bergulirnya kurikulum baru yang cenderung tidak fokus dan menggantung. &lt;br /&gt;Jika pada kurikulum sebelumnya tema yang diajarkan telah ditentukan untuk setiap kelas sehingga siswa tidak mengalami kesulitan yang berarti mengerjakan ujian akhir semester karena seputar tema yang telah diajarkan guru dalam satu semester tersebut. Disamping itu bentuk soalnya juga sesuai dengan dua kemampuan bahasa dari empat yang ada, yaitu reading dan writing. Sedangkan untuk speaking dan listening dilakukan secara praktis oleh guru. Namun kenyataanya pada sekitar lima thun terakhir yang katanya KBK maupun KTSP memberikan kebebasan menentukan tema pada guru tidak dibarengi dengan hak untuk membuat soal sendiri. Dan yang terjadi soal ujian akhir semester menjadi sulit dikerjakan karena melenceng dari tema yang diajarkan terlebih lagi ada materi kemampuan bahasa yang seharusnya diujikan secara praktik dilakukan secara tertulis dengan kisaran 50 sampai 70 persen dari soal.&lt;br /&gt;Haruskah peribahasa “Tak kenal Maka Tak Sayang” yang mengandung arti setelah kenal maka semakin sayang menjadi setelah kenal maka semakin bimbang. Mengapa? Karena nilai harian siswa yang cenderung bagus selalu jeblok setiap ujian akhir semester dikarenakan kurikulum yang ngeculno ndhase dighandoli buntute. Secara psikologis siswa akan frustasi karena apa yang dipelajari selama hampir enam bulan tidak memberi hasil yang diharapkan.&lt;br /&gt;Disamping beban mental guru bahasa inggris yang mayoritas honorer menghadapi anggapan wali murid akan kesungguhan dalam mengajar dalam semester tersebut.&lt;br /&gt;Maka dengan ini kami memohon penanganan yang bijaksana dari pihak terkait. Terlebih Malang sebagai kota Pendidikan tidak kekurangan pakar bahasa yang bisa dimintai kontribusi untuk memberikan sumbangsih mengenai pembelajaran Bahasa Inggris untuk siswa SD sebagai pembelajaran bahasa asing pemula.Dan jelas membutuhkan penanganan khusus dan berbeda dengan pembelajar sekolah menengah agar mencapai long lasting achievement. Atau kalau memang terasa memberatkan, berikanlah kami otonomi dalam pengelolaan pembelajaran Bahasa Inggris pada siswa. Toh selama ini kami belum pernah mendapatkan sosialisasi dan pelatihan yang memadai sehubungan dengan kurikulum yang baru, kecuali hanya kewajiban untuk membeli soal dari dinas.&lt;br /&gt;http://www.koranpendidikan.com/artikel/3401/beri-kami-otonomi-pengelolaan-pembelajaran.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-3509661767042255609?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/3509661767042255609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/beri-kami-otonomi-pengelolaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/3509661767042255609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/3509661767042255609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/beri-kami-otonomi-pengelolaan.html' title='Beri Kami Otonomi Pengelolaan Pembelajaran'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-330292807992804622</id><published>2009-05-17T23:34:00.001-07:00</published><updated>2009-05-17T23:34:46.660-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru</title><content type='html'>Judul: PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Muh. Syukur Salman &lt;br /&gt;Saya Guru di Parepare &lt;br /&gt;Topik: PAKEM &lt;br /&gt;Tanggal: 30 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan zaman serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka tak bisa ditawar keharusan untuk terus mengadakan pembaharuan disegala lini kehidupan. Terutama sekali yang bersentuhan langsung dengan kemajuan Iptek itu sendiri, yakni Pendidikan. Sistem yang ada di dalam pendidikan harus terus mengadakan "mutasi" kearah yang positif demi mendukung sinergitas dengan kemajuan tadi. Pembelajaran di dalam kelas sebagai suatu sub system yang sangat penting dalam pendidikan tak ayal harus berbenah juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran gencar ditelorkan demi menghasilkan transfer pengetahuan dari guru ke siswa yang lebih optimal. Salah satu yang sangat gencar diperkenalkan dan dilatihkan adalah Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (Pakem). Hakikat Pakem sebenarnya adalah memberi rasa nyaman dan betah siswa (anak didik) dalam menerima pelajaran. Oleh karena itu Pakem sangat memperhatikan keinginan atau kegemaran anak, yakni bermain. Pembelajaran diolah sedemikian rupa sehingga terdapat unsur permainan di dalamnya. Mulai pembelajaran dalam bentuk lomba, kerjasama atau diskusi, sampai pembelajaran yang dilakukan di luar kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan Pakem sebenarnya disebabkan adanya indikasi bahwa siswa jenuh terhadap pembelajaran yang selama ini diterapkan. Pembelajaran yang monoton (tidak kreatif), hanya mendengarkan guru berceramah (pasif, tidak aktif), kurangnya transfer ilmu yang dapat bertahan lama pada siswa (tidak efektif), dan terakhir tentu saja sangat membosankan (tidak menyenangkan). Demikianlah nuansa pembelajaran yang kebanyakan dilakukan oleh guru selama ini. Pembelajaran yang demikian itu, yang selama ini banyak dilakukan, disebutlah sebagai pembelajaran konvensional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berbicara tentang pembelajaran yang konvensional, maka akan terasimilasi pada pembelajaran yang negatif, dalam arti sebaiknya tidak dilakukan lagi. Jika kita bertanya kepada seorang guru atas pilihannya antara Pakem dan pembelajaran yang konvensional tadi, maka dapat dipastikan jawabannya akan memilih Pakem, meskipun nyata-nyata dalam keseharian di sekolah, guru tersebut mempraktekkan pembelajaran yang konvensional tadi. Jika kita kembali menanyakan tentang "keengganannya" mengaplikasikan Pakem, maka dapat saja dia mengatakan bahwa tanpa Pakem pun pembelajaran dapat terlaksana dan lebih mudah pelaksanaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena ketidaktahuan mereka terhadap aplikasi Pakem di kelas, tapi lebih disebabkan unsur mudah dan sukarnya pembelajaran itu diterapkan. Lalu, mengapa pembelajaran yang "konvensional" tadi mudah diterapkan dan Pakem terasa sangat sulit untuk diaplikasikan? Sesuatu yang selalu atau berulang-ulang kita lakukan pastilah akan terasa mudah bagi kita untuk mengerjakannya. Hal ini pulalah yang terjadi pada pembelajaran yang dikatakan konvensional tadi. Hampir setiap hari guru melakukan pembelajaran dengan teknik dan metode yang begitu-begitu saja, maka terasa kemudahan dalam penerapannya. Sedangkan Pakem, mendengarnya saja mungkin ada di antara guru kita yang sudah membayangkan kesulitan yang dihadapi nantinya di kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita kembali untuk mengamati secara lebih teliti pembelajaran yang selama ini menjadi kegandrungan guru dalam menerapkannya, maka akan membuat kita bertanya-tanya, dimana fungsi didaktik dan metodik yang selama ini kita sebagai guru telah fahami dalam pendidikan keguruan, karena tanpa unsur didaktik dan metodik sekalipun pembelajaran konvensional tadi dapat terlaksana. Jika demikian, pada akhirnya akan kita sepakati bahwa meski bukan seorang guru sekalipun pembelajaran yang konvensional tadi, akan dapat terlaksana. Lalu, dimana profesionalitas kita sebagai guru? Kemana kemampuan lebih kita dalam proses pembelajaran dibanding yang bukan guru? Apa hanya dengan memikirkan mudah dan sukarnya penerapan itu, kita korbankan identitas guru kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita tarik benang merah terhadap persoalan di atas. Bahan kita adalah, bahwa Pakem sebenarnya bukanlah pembelajaran yang benar-benar baru bagi guru. Sejak dalam penggodokan di sekolah keguruan kita telah menerima berbagai kiat dalam menggairahkan suasana kelas sehingga siswa belajar atau kemauannya sendiri dan pada akhirnya pengetahuan yang diperolehnya akan bertahan lama. Selain itu, guru tentu lebih banyak tahu teknik dalam menggairahkan siswa dalam proses pembelajaran. Hanya dengan sedikit berpikir (sesuatu yang harus selalu ada pada diri guru) mereka akan mampu menemukan sinkronisasi antara materi yang akan diajarkan dengan teknik yang menggairahkan siswa (Pakem). Lalu, bagaimana kita dapat menerima tantangan bahwa teknik konvensional tadi lebih mudah? Gampang! Jadikan Pakem menjadi pembelajaran yang konvensional, maka jadilah dia (Pakem) itu mudah dilaksanakan. Mulailah hari ini kita terapkan Pakem di kelas kita. Sulit? Bulatkan tekad kita untuk menjadi guru yang benar-benar guru, sehingga kesulitan yang memang biasa dialami jika awal kita melaksanakan tidak akan terasa. Esok hari dan seterusnya, Pakem menjadi pilihan utama kita dalam pembelajaran di kelas, maka jadilah Pakem sebagai pembelajaran yang Konvensional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakem sebagai pembelajaran konvensional tentu saja tidak lagi terkesan negatif, justru akan lebih baik. Pakem dianggap oleh guru sebagai pembelajaran yang mudah direalisasikan dalam pembelajaran di kelas bahkan setiap hari sekalipun. Pakem sebenarnya meneguhkan identitas kita sebagai guru. Seorang guru harus mampu memilih atau berkreasi sendiri atas metode yang akan dilaksanakan sehingga proses trasfer pengetahuan berjalan dengan baik. Guru harus mampu memanfaatkan atau membuat sendiri peraga yang akan digunakan dalam proses pembelajaran demi perhatian siswa dan lebih memudahkan konsep materi yang akan ditransfer. Guru harus mampu mengelola kelas agar bergairah dan menyenangkan siswa. Kesemua kemampuan itu tentu saja hanya dapat dipunyai dan diaplikasikan oleh seorang guru. Oleh karena itu mari kita mantapkan identitas kita sebagai guru dengan mengaplikasikan Pakem sebagai pembelajaran konvensional yang kita gandrungi. Sekian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/syukur1208.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-330292807992804622?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/330292807992804622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pakem-sebagai-pembelajaran-konvensional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/330292807992804622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/330292807992804622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pakem-sebagai-pembelajaran-konvensional.html' title='PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-7858430486338748142</id><published>2009-05-17T23:32:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:34:00.676-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>MENCIPTAKAN PENDIDIKAN EFEKTIF</title><content type='html'>Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Marjohan &lt;br /&gt;Saya Guru di batusangkar &lt;br /&gt;Topik: pendidikan efektif &lt;br /&gt;Tanggal: 15 november 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENCIPTAKAN PENDIDIKAN EFEKTIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Marjohan. &lt;br /&gt;marjohanusman@yahoo.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata efektif adalah sebuah kata yang mudah untuk diucapkan namun butuh usaha maksimum dan kontinyu untuk memperolehnya. Kata ini dapat bergabung dengan kata pendidikan menjadi "pendidikan yang efektif" dan selanjutnya kita dapat bertanya sudah efektifkah pendidikan kita atau hanya sekedar asal-asalan saja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiga bentuk pendidikan yaitu pendidikan formal, informal dan non formal, maka pendidikan formal paling banyak disorot mulai dari mutu sampai dengan keefektifannya. Pendidikan formal yang mencakupi kurikulum, sarana, dan prasarananya dan lingkungan masyarakat yang ikut mempengaruhinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah suatu pendidikan yang diselenggarakan sejak dari bangku SD sampai perguruan tinggi atau paling kurang sampai untuk tingkat SLTA sudah efektif atau belum. Keefektifan sebuah sekolah sangat dipengaruhi oleh latar belakang rumah tangga tempat asal anak-anak didik dan keadaan masyarakat sekeliling sekolah. Rumah tangga dan masyarakat yang memiliki SDM yang sangat memadai dan kondisi keuangan yang cukup mapan akan membantu terselenggaranya suatu sekolah yang efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang efektif tentu akan menjadi sekolah idola dan akan diserbu oleh banyak calon anak didik setiap awal tahun pelajaran dimulai. Anak yang efektif sangat ditentukan oleh faktor rumah dan faktor sekolah yaitu rumah yang efektif dan sekolah yang efektif pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas seorang anak didik sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh budaya dan suasana belajar di rumah dan di sekolah. Beberapa faktor pendukung kualitas anak di rumah adalah seperti tingkat sosial ekonomi dan Sumber Daya Manusia (SDM) orang tua serta pengaruh teman bermain dan hiburan. Sedangkan faktor pendukung di lingkungan sekolah adalah seperti tingkat SDM dan kehangatan pribadi guru, fasilitas penunjang, sarana belajar dan pengaruh budaya dan iklim belajar di sekolah itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari separoh waktu kehidupan anak dihabiskan di rumah. Famili dan orang tua mempunyai peranan sangat besar dalam menentukan pribadi anak. Kualitas mereka sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan (SDM) orang tua dalam mendidik dan menumbuhkembangkan konsep belajar dalam keluarga. Kemampuan ekonomi orang tua punya peran dalam menyediakan fasilitas belajar. Ada anak dengan tingkat pendidikan orang tua rendah, biasa berhasil dalam belajar karena orang tua cukup tebal isi kantongnya untuk membiayai saran belajar. Ada lagi sebagian anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu, tetapi juga berhasil dalam belajar, karena orang tuanya sendiri kaya dengan wawasan SDM. Yang sangat beruntung adalah anak yang memiliki orang tua dengan SDM tinggi, kantong tebal dan teman-teman bermain memberikan pengaruh positif dalam belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang efektif tentu akan didukung oleh komponen-komponen yang juga efektif. Mereka adalah seperti sekolah efektif, kepala sekolah efektif, guru efektif dan murid yang efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang efektif tentu mempunyai standar indikator seperti yang digambarkan oleh Sergio Vanio. Ia mengatakan bahwa kalau sekolah efektif murid-muridnya dinilai setiap tahun oleh pihak yang independen maka skor penilaiannya selalu meningkat. Murid-murid di sekolah itu sangat antusias dalam belajar dan ini tercermin dalam peningkatan prosentase kehadirannya. Guru sangat konsekwen dalam memberikan pekerjaan rumah (PR) dan menilai PR itu dengan konsisten. Sekolah memiliki program dan jadwal ekstrakurikuler di sekolah itu terdapat partisipasi orang tua dan masyarakat untuk peduli terhadap perkembangan dan kemajuan sekolah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah efektif sangat menghargai waktu dan akan memanfaatkannya ibarat memanfaatkan uang. Tentu saja sebagian besar waktu itu digunakan untuk belajar. Guru-guru di sekolah yang efektif mampu melaksanakan proses belajar mengajar yang bebas dari gangguan dan memberikan pekerjaan rumah dengan cara bertanggung jawab. Sekolah ini mulai dan mengakhiri kegiatan belajar betul-betul tepat waktu. Sementara itu dalam sekolah yang tidak efektif, guru-guru cenderung tidak mendukung pemahaman tujuan sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang efektif tentu berada di belakang pimpinan kepala sekolah yang efektif pula. Seorang kepala sekolah akan menentukan jatuh atau bangunnya kualitas suatu sekolah. Kepala sekolah asal-asalan cenderung untuk menghancurkan budaya dan iklim belajar sekolah. Sedangkan kepala sekolah yang efektif selalu komit dengan misi dan visi yang mengangkat dan melestarikan kualitas sekolahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salfen Hasri (2004;20) mendeskripsikan tentang kepala sekolah yang efektif, yang antara lain sebagai berikut: punya visi dan merealisasikannya bersama guru dan staf. Ia mempunyai harapan yang tinggi pada prestasi, selalu mengamati kualitas guru dan kualitas anak didik serta mendorong pemanfaatan waktu. Disamping itu seorang kepala sekolah yang efektif selalu memonitor prestasi individu guru, staff, siswa dan sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah yang efektif sangat sadar bahwa keberadaan siswa adalah titik pokok dalam dunia pendidikan (di sekolah), maka ia sangat memonitor perkembangan siswa yang tercermin dalam peningkatan kualitas nilai tes yang bersih dari rekayasa dan manipulasi data. Ia melowongkan waktu (punya jadwal) untuk mengamati guru dalam kelas dan senantiasa berdialog tentang problem dan perbaikan pengajaran/kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah menjadi efektif karena ia mampu menjadi pemimpin yang efektif. Me Clure (dalam Salfen Hasri, 2004) mengatakan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu dalam berbagi tugas bersama siapa yang memiliki kompetensi untuk pekerjaan khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin yang efektif harus mampu untuk melaksanakan "problem solving" dan "decision making", memiliki bakat memimpin serta mampu untuk bersosial yaitu untuk bekerja sama. Namun dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah sedikit sekali yang menghabiskan waktu untuk urusan kurikulum dan pengajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marjohan, Guru SMA Negeri 3 (Program Layanan Keunggulan) Batusangkar. Sumatra Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/1107marjohan.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-7858430486338748142?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/7858430486338748142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/menciptakan-pendidikan-efektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/7858430486338748142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/7858430486338748142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/menciptakan-pendidikan-efektif.html' title='MENCIPTAKAN PENDIDIKAN EFEKTIF'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-5063527404971091076</id><published>2009-05-17T23:31:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:32:05.152-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>E-learning di Sekolah dan KTSP</title><content type='html'>Judul: E-learning di Sekolah dan KTSP&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Drs. Sutrisno, M.Sc., Ph.D &lt;br /&gt;Saya Dosen di Universitas Jambi &lt;br /&gt;Topik: Pembelajaran di Sekolah &lt;br /&gt;Tanggal: 17 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-learning di Sekolah dan KTSP &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran paradigma dalam pranata pendidikan yang semula terpusat menjadi desentralistis membawa konsekuensi dalam pengelolaan pendidikan, khususnya di tingkat sekolah. Kebijakan tersebut dapat dimaknai sebagai pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada sekolah dalam mengelola sekolah, termasuk di dalamnya berinovasi dalam pengembangan kurikulum dan model-model pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonomi yang luas itu, hendaknya diimbangi dengan perubahan yang berorientasi kepada kinerja dan partisipasi secara menyeluruh dari komponen pendidikan yang terkait. Kondisi ini gayut dengan perubahan kurikulum yang sedang diluncurkan dewasa ini oleh pemerintah, yakni kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Konsekuensi yang harus ditanggung oleh sekolah adalah restrukturisasi dalam pengelolaan sekolah (capacity building), profesionalisme guru, penyiapan infrastruktur, kesiapan siswa dalam proses belajar dan iklim akademik sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan penerapan KTSP dan pemberian otonomi pendidikan juga diharapkan melahirkan organisasi sekolah yang sehat serta terciptanya daya saing sekolah. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan pembelajaran berbasis teknologi informasi yang sangat pesat, hendaknya sekolah menyikapinya dengan seksama agar apa yang dicita-citakan dalam perubahan paradigma pendidikan dapat segera terwujud. Kecenderungan yang telah dikembangkan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran adalah program e-learning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam istilah dan batasan telah dikemukakan oleh para ahli teknologi informasi dan pakar pendidikan. Secara sederhana e-learning dapat difahami sebagai suatu proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer yang dilengkapi dengan sarana telekomunikasi (internet, intranet, ekstranet) dan multimedia (grafis, audio, video) sebagai media utama dalam penyampaian materi dan interaksi antara pengajar (guru/dosen) dan pembelajar (siswa/mahasiswa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran berbasis TIK dengan menggunakan e-learning berakibat pada perubahan budaya belajar dalam kontek pembelajarannya. Setidaknya ada empat komponen penting dalam membangun budaya belajar dengan menggunakan model e-learning di sekolah. Pertama, siswa dituntut secara mandiri dalam belajar dengan berbagai pendekatan yang sesuai agar siswa mampu mengarahkan, memotivasi, mengatur dirinya sendiri dalam pembelajaran. Kedua, guru mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan, memfasilitasi dalam pembelajaran, memahami belajar dan hal-hal yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Ketiga tersedianya infrastruktur yang memadai dan yang ke empat administrator yang kreatif serta penyiapan infrastrukur dalam memfasilitasi pembelejaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang dihadapi sekolah saat ini adalah pada tingkat kesiapan peserta belajar, guru, infrastruktur sekolah, pembiayaan, efektifitas pembelajaran, sistem penyelenggaraan dan daya dukung sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK. Lalu, apakah mungkin program e-learning dapat dilaksanakan di sekolah? Ini yang menjadi esensi dari kebermaknaan e-learning di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyiapkan program e-learning &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman menunjukan dalam menyiapkan program e-learning tidaklah sesulit dalam bayangan kita, asalkan kita memiliki kemauan dan komitmen yang kuat untuk menuju ke arah itu. Tanpa komitmen dan dukungan secara teknis maka program e-learning di sekolah tidak mungkin akan terealiasi. Ada tip tentang kunci sukses terealisasinya program e-learning, sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Bates, 2005) dalam journal of e-learning volume 5 tahun 2005, yakni adanya perencanaan dan leadership yang terarah dengan mempertimbangkan efektifitas dalam pembiayaan, integritas sistem teknologi serta kemampuan guru dalam mengadapsi perubahan model pembelajaran yang baru yang sudah barang tentu didukung kemampuan mencari bahan pembelajaran melalui internet serta mempersiapkan budaya belajar bagi siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat langkah dalam manajemen pengelolaan program e-learning yakni pertama menentukan strategi yang jelas tentang target audience, pembelajarannya, lokasi audience, ketersediannya infrastruktur, budget dan pengembalian investasi yang tidak hanya berupa uang tunai. Kedua menentukan peralatan misalnya hoste vs installed LMS dan Commercial or OS-LMS, ketiga adalah adanya hubungan dengan perusahan yang mengembangkan penelitian berkaitan dengan program e-learning yang dikembangkan di sekolah. Ke empat menyiapkan bahan-bahan yang akan dibutuhkan bersifat spesifik, usulan yang dapat diimplementasikan serta menyiapkan short response time. Kesemuanya itu, hendaknya perlu dipikirkan masak-masak dalam konteks investasi jangka panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membudayakan belajar berbasis TIK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya teknologi pembelajaran berbasis TIK mulai tahun 1995 an, salah satu kendalanya adalah menyiapkan peserta didik dalam budaya belajar berbasis teknologi informasi serta kurang trampilnya dalam menggunakan perangkat komputer sebagai sarana belajar, serta masih terbatasnya ahli dalam teknologi multimedia khususnya terkait dengan model-model pembelajan. Untuk mempersiapkan budaya belajar berbasis TIK adalah keterlibatan orang tua murid dan kultur masyarakat akan teknologi serta dukungan dari lingkungan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan. Pembentukan kominitas TIK sangat mendukung untuk membudayakan anak didik dengan teknologi. Model ini telah dikembangkan di Jepang tepatnya di Shuyukan High School dengan membentuk club yang dinamai (Information Science Club), yakni sebagai wadah siswa untuk bersinggungan dengan budaya teknologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi guru dalam pembelajaran Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning. Pertama kemampuan untuk membuat desain instruksional (instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelelajaran. Kedua, penguasaan TIK dalam pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas dan yang ketiga adalah penguasaan materi pembelajaran (subject metter) sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam bentuk power point dengan didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa. Bahan pengayaan (additional matter) hendaknya diberikan melalui link ke situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah mendapatkannya. Setelah bahan tersebut selesai maka secara teknis guru tinggal meng-upload ke situs e-learning yang telah dibuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penetapan kualitas pembelejaran dengan menggunakan model e-learning telah dikembangkan oleh lembaga Qualitative Standards Scholarship Assessed: An Evaluation of the Professoriate yang dikembangkan oleh Glassick, Huber and Maeroff, (2005), dengan indikator-indikator instrumen yang telah dikembangkan meliputi: kejelasan tujuan pembelajaran, persiapan bahan pembelajaran yang cukup, penyiapan metoda belajar yang sesuai, menghasilkan hasil pembelajaran yang signifikan positif, efektifitas dalam mempresentasikan bahan pelajaran serta umpan balik yang kritis dari peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu dicermati dalam menyelenggarakan program e-learning / digital classroom adalah guru menggunakan internet dan email untuk berinteraksi dengan siswa untuk mengukur kemajuan belajar siswa, siswa mampu mengatur waktu belajar, dan pengaturan efektifitas pemanfaatan internet dalam ruang multi media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mencermati perkembangan teknologi informasi dalam dunia pendidikan dan beberapa komponen penting yang perlu disiapkan serta pengalaman penulis dalam mengembangkan program e-learning maka program e-learning di sekolah bukanlah suatu hayalan belaka bahkan sesegera mungkin untuk diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0807sutrisno2.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-5063527404971091076?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/5063527404971091076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/e-learning-di-sekolah-dan-ktsp.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5063527404971091076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5063527404971091076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/e-learning-di-sekolah-dan-ktsp.html' title='E-learning di Sekolah dan KTSP'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-7288335184515406351</id><published>2009-05-17T23:30:00.001-07:00</published><updated>2009-05-17T23:30:59.870-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DAN QUANTUM LEARNING</title><content type='html'>Metodologi / Methodology &lt;br /&gt;Saturday, March 10, 2007 11:09:14 Clicks: 1955 &lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah &lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): &lt;br /&gt;JELARWIN DABUTAR &lt;br /&gt;butar_lbt@yahoo.co.id &lt;br /&gt;Saya Guru di SMK NEG.1 LAGUBOTI-TOBA SAMOSIR SUMUT &lt;br /&gt;Tanggal: 21/2/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DAN QUANTUM LEARNING &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui, di dalam dua tiga dasa warsa terakhir ini perkembangan teknologi itu berjalan dengan amat cepat. Teknologi yang di hari keamarin masih dianggap modern (sunrise teohnology ) bukan tak mungkin hari ini sudah mulai basi (sunset technology). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi baru terutama multimedia mempunyai peranan semakin penting dalarn pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana learning with effort akan dapat digantikan dengan learning with fun. Apalagi dalam pembelajaran orang dewasa, learning with effort menjadi hal yang cukup menyulitkan untuk dilaksanakan karena berbagai faktor pembatas, seperti kemauan berusaha, mudah bosan dll. Jadi proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, tidak membosankan menjadi pilihan para guru/fasilitator. Jika situasi belajar seperti ini tidak tercipta, paling tidak multimedia dapat membuat belajar lebih efektif menurut pendapat beberapa pengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini kita semua memahami bahwa proses belajar dipandang sebagai proses yang aktif dan partisipatif, konstruktif, kumulatif, dan berorientasi pada tujuan pembelajaran, baik Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) maupun Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) untuk mencapai kompetensi tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMK yang sudah mapan pada umumnya menggunakan teknologi multimedia di dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pada beberapa tahun lalu yang masih menggunakan Overhead Projector (OHP) dan menggunakan media Overhead Transparancy (OHT), pada saat ini menjadi tidak mode dan mulai ditinggalkan. Beberapa kelebihan multimedia seperti tidak perlu pencetakan hard copy dan dapat dibuat/diedit pada saat mengajar menjadi hal yang memudahkan guru dalam penyampaian materinya. Berbagai variasi tampilan/visual bahkan audio mulai dicoba seperti animasi bergerak, potongan video, rekaman audio, paduan warna dll dibuat untuk mendapatkan sarana bantu mengajar yang sebaik-baiknya. Bahkan pada beberapa kesempatan telah diadakan ToT Multimedia dan juga In House Training &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran yang Efektif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini multimedia mampu mengubah pembelajaran secara drastis dan fundamental. Namun pertanyaannya adalah, kapan multimedia efektif digunakan dalam proses pembelajaran peserta diktat ? dan mengapa efektif ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat menjawab pertanyaan di atas, kita harus merniliki pemahaman yang menyeluruh tentang multimedia. Ketika membahas multimedia, biasanya yang kita maksudkan adalah gabungan alat-alat teknik seperti komputer, memori elektronik, jaringan informasi, dan alat-alat display yang dapat menyajikan informasi melalui berbagai format seperti teks, gambar nyata atau grafik dan melalui multi saluran sensorik. Hal ini analog dengan pernikiran jika kita menganggap komputer sebagai mesin tik misalnya. Padahal komputer jelas-jelas merniliki berbagai fungsi dan manfaat yang lebih banyak dibanding mesin tik manual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kesalahan konsep mengenai multimedia dapat diringkas sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sebagian besar pengguna teknologi multi media masih menganggap multi media hanya sebagai alat penampil suatu materi yang akan disampaikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Multimedia dipandang sebagai wahana yang selalu memberikan dampak positif pada pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Karena multimedia memanfaatkan banyak ragam media (audio, visual, animasi gerak, dll) maka serta merta akan menghasilkan proses kognitif yang banyak pula. Dengan bahasa sederhana dikatakan bahwa dengan memberikan banyak hal (teks, gambar, animasi, dll.) maka peserta didik akan mendapatkan lebih banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada topik terkemuka, sebelum kita mencari jawaban atas pertanyaan di atas hendaknya kita memaharni level-level pada multimedia. Secara keseluruhan, multimedia terdiri dari tiga level (Mayer, 2001) yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Level teknis, yaitu multimedia berkaitan dengan alat-alat teknis ; alat-alat ini dapat diartikan sebagai wahana yang meliputi tanda-tanda (signs). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Level semiotik, yaitu representasi hasil multimedia seperti teks, gambar, grafik, tabel, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Level sensorik, yaitu yang berkaitan dengan saluran sensorik yang berfungsi untuk menerima tanda (signs). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memanfaatkan ketiga level di atas diharapkan kita dapat mengoptimalkan multimedia dan mendapatkan efektifitas pemanfaatan multimedia pada proses pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini dipaparkan hasil-hasil penelitian berkaitan dengan pemanfaatan multimedia. Pengaruh multimedia dalam pembelajaran menurut YG Harto Pramono antara lain : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Multi bentuk representasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Animasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Multi saluran sensorik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.Pembelajaran non-linearitas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.Interaktivitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Multi Bentuk Representasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan multi bentuk representasi adalah perpaduan antara teks, gambar nyata, atau grafik. Berdasarkan hasil penelitian tentang pemanfaatan multi bentuk representasi, informasi/materi pengajaran melalui teks dapat diingat dengan baik jika disertai dengan gambar. Hal ini dijelaskan dengan dual coding theory (Paivio, 1986). Menurut teori ini, sistem kognitif manusia terdiri dua sub sistem : sistem verbal dan sistem gambar (visual). Kata dan kalimat biasanya hanya diproses dalam sistem verbal (kecuali untuk materi yang bersifat kongkrit), sedangkan gambar diproses melalui sistem gambar maupun sistem verbal. Jadi dengan adanya gambar dalam teks dapat meningkatkan memori oleh karena adanya dual coding dalam memori (bandingkan dengan single coding). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang membaca/memahami teks yang disertai gambar, aktifitas yang dilakukannya yaitu : memilih informasi yang relevan dari teks, membentuk representasi proporsi berdasarkan teks tersebut, dan kemudian mengorganisasi informasi verbal yang diperoleh ke dalam mental model verbal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga ia memilih informasi yang relevan dari gambar, lalu membentuk image, dan mengorganisasi informasi visual yang dipilih ke dalam mental mode visual. Tahap terakhir adalah menghubungkan 'model' yang dibentuk dari teks dengan model yang dibentuk dari gambar .Model ini kemudian dapat menjelaskan mengapa gambar dalam teks dapat menunjang memori dan pemahaman peserta didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitur penting lain dalam multimedia adalah animasi. Berbagai fungsi animasi antara lain : untuk mengarahkan perhatian peserta diklat pada aspek penting dari materi yang sedang dipelajari (tetapi awas, animasi dapat juga mengalihkan perhatian peserta dari topik utama), Menurut Schnotz dan Bannert (2003), pemahaman melalui teks dan gambar dapat mendukung pembentukan mental model melalui berbagai route (yang juga ditunjang oleh latar belakang pengetahuan sebelurnnya atau prior knowledge). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut model ini, gambar dapat menggantikan teks dan demikian pula sebaliknya. Model ini dapat juga menjelaskan perbedaan tiap-tiap individu dalam belajar menggunakan multimedia Beberapa hasil penelitian menunjukkan peserta diklat yang memiliki latar belakang pengetahuan sebelurnnya (prior knowledge) tinggi tidak memperoleh banyak keuntungan dengan adanya gambar pada teks, sedangkan peserta diklat dengan prior knowledge rendang sangat terbantu dengan adanya gambar pada teks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti bagi guru/fasilitator cukup jelas kapan menggunakan gambar pada teks dan kapan tidak menggunakannya. Tetapi perlu diingat juga bahwa pada dasarnya gambar sebagai penunjang penjelasan substansi materi yang tertera pada teks, jadi jangan sekali-sekali porsi gambar melebihi teks yang ada. Juga gambar harus relevan dan berkaitan dengan narasi pada teks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Animasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Reiber (1994) bagian penting lain pada multimedia adalah animasi. Animasi dapat digunakan untuk menarik perhatian peserta diklat jika digunakan secara tepat, tetapi sebaliknya anirnasi juga dapat mengalihkan perhatian dari substansi materi yang disampaikan ke hiasan animatif yang justru tidak penting. Animasi dapat membantu proses pelajaran jika peserta diklat banya akan dapat melakukan proses kognitif jika dibantu dengan animasi, sedangkan tanpa animasi proses kognitif tidak dapat dilakukan. Berdasarkan penelitian, peserta diklat yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengetahuan rendah cenderung memerlukan bantuan, salah satunya animasi, untuk menangkap konsep materi yang disampaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Multi Saluran Sensorik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penggunaan multimedia, peserta diklat sangat dimungkinkan mendapatkan berbagai variasi pemaparan materi. Atau sebaliknya guru/fasilitator dapat menggunakan berbagai saluran sensorik yang tersedia pada media tersebut. Dengan penggunaan multi saluran sensorik, dimungkinkan penggunaan bentuk-bentuk auditif dan visual. Menurut basil penelitian, pemerolehan pengetahuan melalui teks yang menggunakan gambar disertai animasi, basil belajar peserta akan lebih baik jika teks disajikan dalam bentuk auditif dari pada visual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Pembelajaran Non Linear &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran non linear dirnaksudkan sebagai proses pembelajaran yang tidak hanya mengandalkan materi-materi dari guru/widyaiswara, tetapi peserta diklat hendaknya menambah pengetahuan dan ketrampilan dari berbagai somber ekstemal seperti narasumber di lapangan, studi literatur dari beberapa perpustakaan, situs internet, dan sumber-sumber lain yang relevan dan menunjang peningkatan diri. Berdasarkan suatu penelitian dikatakan bahwa tingkat pemahaman dengan sistem pembelajaran non linear merniliki hasil yang lebih baik dibanding peserta diktat mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan hanya dari fasilitator. Jadi tugas guru/fasilitator untuk dapat merangsang dan menciptakan suatu kondisi semangat menambah ilmu para peserta diklat dari berbagai sumber lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Interaktivitas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaktivitas disini diterjermahkan sebagai tingkat interaksi dengan media pembelajaran yang digunakan, yakni multimedia. Karena kelebihan yang dimiliki multimedia, memungkinkan bagi siapapun (guru/fasilitator dan peserta diklat) untuk eksplore dengan memanfaatkan detail-detail di dalam multimedia dalam menunjang kegiatan pembelajaran. Permasalahannya tinggal bagaimana aktivitas behavioristik terhadap multimedia memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak (guru &amp; peserta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/jelarwindabutar3-07.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-7288335184515406351?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/7288335184515406351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/strategi-pembelajaran-quantum-teaching.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/7288335184515406351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/7288335184515406351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/strategi-pembelajaran-quantum-teaching.html' title='STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DAN QUANTUM LEARNING'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-6075985313979561915</id><published>2009-05-17T23:20:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:21:20.491-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>Pendidikan Yang Demokratis</title><content type='html'>Judul: Pendidikan Yang Demokratis&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Ign.Sumarya SJ &lt;br /&gt;Saya Pengamat di Jakarta &lt;br /&gt;Topik: Pendidikan demokrasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh konkret:&lt;br /&gt;1. Di SMP Kanisius Jl.Menteng Raya 24 Jakarta, salah satu kegiatan proses belajar mengajar adalah semacam 'forum terbuka' yang diasuh oleh kepala sekolah. Dalam kegiatan ini anak-anak (per kelas) selama kurang lebih satu jam pelajaran diminta menyampaikan keluh-kesah, suka-duka, harapan, tantangan dst.. selama belajar. Menarik kami beberapa reaksi dari anak-anak: 'Apakah kalau kami ramai di kelas hukumannya ulangan umum?', 'Terlambat masuk beberapa menit saja dihukum harus menyapu'Dst. Sang pengasuh pun menuntun anak-anak ini secara konkret, semacam refleksi bersama, melihat keuntungan dan kerugian berbagai tindakan atau perilaku yang menyimpang di sekolah. Salah satu buah kegiatan macam itu antara lain: seorang murid klas I diajar fisika oleh gurunya: guru mengatakan bahwa semua benda yang dipanasi akan memuai, tetapi ada anak yang bertanya 'lho telor itu dipanasi tidak memuai, tetapi malah menjadi padat, gimana itu'. Dengan rendah hati guru pun minta maaf belum dapat menjawab saat itu, dan akan dicarikan jawabannya kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Contoh di atas hemat kami merupakan salah satu perwujudan motto bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro -&gt; 'ing madyo ambangun karso' (=pemberdayaan). Hemat kami 'pemberdayaan' ini lemah sekali di dalam proses pendidikan atau pembelajaran kita saat ini yang sangat didominasi oleh sistem indoktrinasi. Dampaknya adalah manusia-manusia robot, kurang kreatif, pasif dst... Maka kami mengajak segenap pecinta, pengamat, pelaksana proses pembelajaran/pendidikan di tingkat apapun marilah kita wujudkan motto bapak pendidikan kita di atas, di mana kehadiran setiap pendidik/pembina akan menggairahkan atau memberdayakan para murid/peserta didik, sehingga mereka bermental eksploratif, bukan konsumptif dan pasif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk mendukung pelaksanaan sistem tersebut di atas perlu dihayati bahwa pendidikan adalah 'proses'. Proses berarti mulai dari sesuatu apa adanya dan sedikit-demi sedikit ditumbuh-kembangkan bersama-sama. Disini pendidik dan peserta didik sama-sama berdiri sebagai subyek/pribadi yang sama-sama masih butuh tumbuh dan berkembang. Dari pihak pendidik memang dituntut sikap terbuka, rendah hati, sabar, mendengarkan dst... Ingat berproses bukan ingin cepat-cepat jadi/instant. Berpartisipasi dalam proses pertumbuhan dan perkembangan dapat belajar dari 'ibu yang sedang mengandung anaknya' atau 'petani yang merawat tanamannya'. Keutamaan-keutamaan macam apa yang dibutuhkan oleh ibu atau petani tersebut juga dibutuhkan oleh seorang guru atau pendidik. &lt;br /&gt;ign, sumarya sj Tanggal: 7 Desember 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/art05-74.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-6075985313979561915?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/6075985313979561915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-yang-demokratis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6075985313979561915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6075985313979561915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-yang-demokratis.html' title='Pendidikan Yang Demokratis'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-763364791993878401</id><published>2009-05-17T23:15:00.001-07:00</published><updated>2009-05-17T23:16:05.569-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>Menggairahkan Nafsu Belajar Siswa Melalui Penciptaan Nilai Estetika</title><content type='html'>Judul: Menggairahkan Nafsu Belajar Siswa Melalui Penciptaan Nilai Estetika&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Sekolah Dasar bagian SEKOLAH / SCHOOLS.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Mohammad Juri,S.Pd, MMPd &lt;br /&gt;Saya Guru di Sekolah Dasar Kecamatan Omben Kabupaten Sampang - Jawa Timur &lt;br /&gt;Topik: Menggairahkan Nafsu Belajar Siswa Melalui Penciptaan Nilai Estetika &lt;br /&gt;Tanggal: 19 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggairahkan Nafsu Belajar Siswa dengan Penciptaan Lingkungan Belajar Bernilai Estetis Pengelolaan kelas dan lingkungan yang memanfaatkan nilai estetika merupakan merupakan langkah inovatif untuk menggairahkan nafsu belajar siswa dan menghapus langkah konvensional &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Mohamad Juri,S.Pd, MMPd &lt;br /&gt;Guru Sekolah Dasar SDN Omben II &lt;br /&gt;Sampang Madura &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita temukan dilapangan bahwa kondisi persekolahan kita, khususnya Sekolah Dasar dikelola apa adanya dan ala kadarnya. Terutama hal yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan sekolah dan keadaan ruangan kelas. Seperti terlihat pada kondisi ruang kelas yang ditata monoton dan konvensional , dengan tampilan apa adanya seperti tampak pada pengecatan dinding sekolah ataupun ruangan kelas yang kebanyakan dicat dengan warna putih polos, kuning polos, dan warna -warna lain yang serba polos. Ini sudah lumayan bagus, artinya kondisi kelas yang demikian sudah terlihat bersih. Gambar - gambar yang dapat menciptakan nuansa keindahan dan nuansa lain dari suatu kegiatan dan kebiasaan yang bersifat konvensional jarang kita temukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kita sadari bahwa eksistensi persekolahan di negara kita tercinta ini cukup bervariasi, mulai dari yang tidak layak pakai mungkin karena dinding mau roboh, genteng yang mau berjatuhan, plafon banyak yang jebol, dan siap untuk berjatuhan dan berbagai kondisi lain yang sangat memprihatinkan. Pada kondisi yang semacam ini penulis tidak bisa banyak berkomentar, hanya harapan penulis kondisi yang sedemikian parah semacam ini segera dibenahi dan ditangani. Karena bagaimana bisa kita menciptakan suatu lingkungan yang indah kalau kondisinya saja sangat memprihatinkan. Namun tidak berarti bahwa komunitas yang ada pada sekolah yang ada pada kondisi yang demikian menjadikan guru dan warga sekolahnya menjadi kehilangan kreatifitas untuk menciptakan hal -hal yang inovatif demi terciptanya lingkungan belajar yang indah, asri dan elok dipandang mata sehingga pada akhirnya tercipta suasana yang menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat penulis melalui artikel ini mengacu pada adanya suatu inovasi, yaitu bagaimana mengoptimalkan kondisi kelas ( classical conditioning ) dan penciptaan lingkungan sekolah agar dapat dipakai dan dimanfaatkan, dan dioptimalkan sehingga merupakan bagian yang tidak terpisahkan atau merupakan bagian yang integral dengan kegiatan pembelajaran. Artinya ruangan kelas jangan hanya menjadi dinding pembatas yang membatasi siswa di ruang kelas pada satu sisi, dengan lingkungan di luar kelar kelas pada sisi lain. Demikian pula dengan lingkungan sekitar sekolah, terutama dinding - dinding sekolah jangan hanya menjadi benda mati yang menjadi dinding pemisah antar lokal yang satu dengan lokal yang lain, atau menjadi pembatas antara lingkungan sekolah sendiri dengan lingkungan luar sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah inovatif yang dapat dilakukan dan telah penulis lakukan adalah bagaimana eksistensi dinding -dinding kelas yang pada dasarnya benda mati tersebut menjadi bermakna dan berbicara terhadap siswa pada khususnya dan bagi seluruh warga sekolah pada umumnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menciptakan dinding - dinding sekolah dan ruang - ruang kelas yang mati ini menjadi lebih hidup, menjadi bermakna, dan pada akhirnya dapat menggairahkan nafsu belajar siswa ? Jawaban dari pertanyaan ini merupakan ide pokok dari eksistensi dari artikel ini sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban dari pertanyaan diatas tidak lain adalah diperlukan suatu langkah kreatifitas dari seorang guru, dan hal ini tentunya merupakan suatu langkah inovatif yang pada kenyataannya akan berbeda dengan kondisi realita dan mayoritas yang ada di lapangan saat ini. Pada kebanyakan orang dan pada kebanyakan guru bisa saja hal ini dianggap kegiatan yang mengada -ada. Namun justru disinilah letak nilai inovatif itu sendiri muncul, sebab kegiatan yang bersiafat inovatif akan dirasakan hal yang asing oleh orang lain, sebab hal semacam itu sebelumnya jarang atau bahkan mungkin belum ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang mungkin timbul yaitu bagaimana, dan kreatifitas semacam apa yang dapat membedakan kondisi ruang kelas dan kondisi lingkungan sekolah konvensional dengan kondisi ruang kelas dan lingungan sekolah yang disentuh dengan nuansa kreatifitas sehingga memiliki nuansa estetis dan bermakna bagi siswa ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang telah penulis lakukan dan hal ini merupakan suatu keniscayaan untuk dilakukan juga oleh teman -teman guru di lapangan , yaitu dengan memberikan sentuhan - sentuhan seni pada dinding - dinding ruang kelas, gedung , dan pagar sekolah. Sentuhan seni itu berupa penuangan warna- warna ceria, serasi dan kolaborasi beberapa warna pada dinding kelas ataupun dinding sekolah. Tidak hanya sampai disini disamping pemaduan beberapa warna ceria yang relevan dengan dunia anak, kita juga harus mengisi ruang -ruang yang kosong dari dinding tersebut, dengan lukisan yang sengaja dibuat oleh guru, bersifat monomental dan bernilai estetis. Disamping itu dapat dipadukan gambar- gambar yang bervariasi dan relevan dengan pembelajaran. Relevan dengan pembelajaran maksuknya gambar yang dituangkan merupakan upaya untuk mendekatkan anak dengan materi pelajaran yang dipelajari pada kelas tertentu, misalnya pada pelajaran IPA, ada meteri-materi tertentu yang bisa berupa sajian gambar yang menarik siswa bila dituankan pada dinding sekolah, seperti : gambar gerhana, solar sistem, simbiosis, pertumbuhan tumbuhan, cara - cara perkembangbiakan, dan lain -lain. Demikian juga seperti materi pelajaran IPS seperti gambar tipe -tipe hewan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asiatis , Peralihan, Australis, dan gambar bendera dan lambang ASEAN, merupakan gambar yang sangat menarik bagi siswa. Apabila materi semacam ini disajikan berupa lukisan atau gambar yang menarik pada dinding sekolah, materi tersebut pada akhirnya bukan merupakan hal yang asing bagi siswa. Sebab setiap hari dan setiap saat siswa dapat mengamati dan melihatnya. Hal itulah yang dimaksudkan oleh penulis bahwa supaya dinding sekolah dan ruang kelas menjadi suatu yang integral dengan kegiatan pembelajaran bernuansa estetis dan menyenangkan . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan yang tertuang harus menciptakan nuansa dan nilai keindahan artinya bila kita memandang lukisan itu dapat tercipta suasana batin yang damai, menyejukkan kalbu. Kondisi semacan ini akan memiliki dampak psikologis yang sangat dalam bagi penikmat lukisan tersebut khususnya siswa, yaitu dapat memberikan nuansa rekreatif yang dapat menciptakan suasana relaksasi bagi otot -otot syaraf yang tegang stress dan semacamnya. Hanya saja hal yang harus diperhatikan yaitu tata letak dan penempatan dari lukisan itu sendiri. Lukisan hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga eksistensinya tidak memecahkan konsentrasi siswa pada saat menerima pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal semacam ini memang berbeda dan dapat menghapus cara -cara lama dalam memanfaatkan ruangan kelas pada hkususnya dan lingkungan sekitar agar lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa. untuk tetap berada di dalamnya. Sehingga dengan kondisi kelas yang semacam ini siswa dan guru atau siapa saja yang masuk ke kelas ini beranggapan dan merasa bahwa kelasku adalah istanaku, atau dia beranggapan bahwa sekolahku adalah sorgaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan ruang kelas dan lingkungan sekolah yang sedemikian rupa memang memerlukan kerja ekstra, sebab tidak semua guru dapat melukis. Apabila hal itu terjadi tentu perlu mengundang orang yang pandai melukis. Upaya -upaya seperti yang telah dipaparkan oleh penulis tidak lain adalah suatu kiat agar siswa tidak bosan di sekolah, siswa lebih bergairah dalam pembelajaran yang pada akhirnya tentunya tercapainya prestasi siswa yang optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat - kiat diatas telah dilakukan oleh penulis dan merupakan upaya untuk berbagi pengalaman terhadap sesama rekan guru sekolah Dasar di Jawa Timur sehingga penyelenggaraan pendidikan di jawa Timur tidak terpaku pada hal - hal yang monoton dan konvensional. Alhamdulillah kiat - kiat dari penulis ini menjadikan tampilan sekolah lebih indah dan bernilai estetis, animo masyarakat untuk menyekolahkan putera - puterinya ke sekolah kami cukup banyak, dan untuk prestasi siswa khususnya IPA lumayan bagus ( ada peningkatan yang cukup signifikan ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/juri1208.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-763364791993878401?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/763364791993878401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/artikel-menggairahkan-nafsu-belajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/763364791993878401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/763364791993878401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/artikel-menggairahkan-nafsu-belajar.html' title='Menggairahkan Nafsu Belajar Siswa Melalui Penciptaan Nilai Estetika'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-8076166545468445568</id><published>2009-05-17T23:13:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:14:45.605-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>Sinergi, Menyatukan Energi Dalam Mendidik</title><content type='html'>Judul: Sinergi, Menyatukan Energi Dalam Mendidik&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): FX. Gus Setyono &lt;br /&gt;Saya Masyarakat di Pati - Jawa Tengah &lt;br /&gt;Topik: &lt;br /&gt;Tanggal: 16 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINERGI, MENYATUKAN ENERGI DALAM MENDIDIK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Gus Setyono, F.X.* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru dan orang tua adalah dua petani ilmu yang berbeda lahan persemaian, yakni sekolah dan keluarga. Mereka perlu bersinergi, karena sama-sama bertanggungjawab terhadap keberhasilan pendidikan dan masa depan para generasi bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinergi dalam konteks mendidik dapat diartikan suatu bentuk kerjasama yang harmonis untuk menanam benih-benih pengetahuan. Kerja sama tersebut dijabarkan dalam program-program realistis yang dapat diimplementasikan secara kontinyu, dengan gerak yang sinkron, serta konsisten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinergi dibutuhkan untuk menghindari sikap saling menyalahkan saat menemui kenyataan bahwa banyak kerikil tajam yang menghambat proses pendidikan. Sekolah tidak boleh melemparkan kesalahan begitu melihat kurangnya dasar-dasar pengetahuan yang dibangun oleh keluarga. Orang tua juga dilarang menyudutkan pihak sekolah, ketika menyaksikan kepandaian anak tidak sesuai dengan yang diharapakan. Bagaimanapun, seperti telah diyakinkan oleh Mochtar Buchori (2006), pendidikan akan lebih menemui kesempurnaan bila dilaksanakan oleh sekolah dan keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam prakteknya sering dijumpai ketidakharmonisan antar pendidik. Mereka tidak menyadari bahwa harmonisasi akan menyatukan energi sehingga menciptakan tenaga dan spirit yang lebih besar dalam mendidik. Kenyataan ini merupakan ekses dari beberapa faktor seperti : perbedaan pemahaman tentang cara mendidik, beda paham tentang suatu pengetahuan serta kesen- jangan kemampuan antar pendidik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya dalam memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai. Dari perspektif cara menga- jar, guru berpandangan bahwa nilai-nilai (termasuk religius) tidak ada bedanya dengan ilmu lain, yang tuntas diberikan pada tahap aktivitas belajar di kelas. Sedangkan pada pengertian orang tua, nilai-nilai merupakan sikap atau sifat yang mesti diterapkan dalam perilaku sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya bisa benar bisa salah. Prestasi pendidikan nilai memang dapat diukur dari sebera- pa besar anak mampu melaksanakan nilai-nilai dalam kehidupannya. Namun bila pelaksanaan nilai tersebut tanpa didasari dengan teori keilmuan, maka pemahaman anak tentang nilai sebatas kulit luar- nya. Anak tidak tahu apa arti dan mengapa nilai tersebut perlu diterapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus lain, akibat guru yang kurang mengikuti perkembangan didaktika, dia menerap- kan standard mendidik sama seperti masa kecilnya. Sementara orang tua ada yang justru telah mengetahui bagaimana metode pendidikan modern dan motivasi yang dapat mengembangkan potensi anak secara maksimal. Akibatnya, saat orang tua berusaha membangun karakter, menggali potensi dan kepercayaan diri, ada guru yang malah merusaknya dengan berbagai sikap atau perkataan yang melemahkan dan menyinggung harga diri si anak, atau tanpa disadari menciptakan suasana belajar-mengajar di sekolah menjadi sangat membosankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ada juga kejadian dimana saat guru berusaha menanamkan nilai kasih sayang, di rumah anak menemui suasana keluarga yang berantakan, sama sekali berbeda dengan yang telah diterima di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada situasi lain, guru berusaha memacu pengetahuan akademik. Sementara itu, karena ba- nyak orang tua yang kurang memiliki pengetahuan akademik maka keinginan anak untuk belajar di rumah dengan bimbingan orang tuanya tidak terlunasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat cara mendidik yang tidak sinkron, anak tenggelam dalam kebingungan. Mana yang mesti diserap, mana yang benar dan yang salah. Sehingga, saat anak terjerembab di lingkungan dengan perilaku serta budaya yang cenderung negatif akibat laju globalisasi, mereka tidak bisa memutuskan mana yang baik dan yang buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah-buah Sinergi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinergi sangat penting untuk mencapai persamaan persepsi. Pemahaman yang rancu tentang cara mendidik serta perbedaan pengertian mengenai sebuah pengetahuan bisa diminimalkan. Para generasi bangsa memahami setiap pengetahuan secara mendalam, mendetail dan kompleks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinergi membentuk kesempurnaan pengertian mengenai suatu pengetahuan, bagi para pen- didik sendiri. Mereka bisa saling melengkapi dan mengingatkan bila ada kekurangan. Dengan saling mengingatkan, kesalahan-kesalahan dapat segera diperbaiki supaya tidak berpengaruh buruk bagi perkembangan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinergi juga berguna untuk mengetahui sedini mungkin problematika yang mendera anak untuk ditemukan solusinya. Kondisi ini membebaskan anak dari gempuran persoalan yang membata- si gerak perkembangannya. Terapi penyembuhan terhadap persoalan seorang anak membutuhkan kerjasama yang kuat antara guru dengan orang tua, supaya penanganannya tidak berbenturan. Guru dan orang tua perlu saling mendukung dan menguatkan dalam menghadapi problema anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sinergi, keduabelah pihak bertanggung jawab atas keberhasilan pendidikan anak. Mereka sama-sama memiliki persepsi membangun kemampuan dan pribadi anak, dan bukannya saling menjatuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinkron Dan Konsisten &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai cara dapat dilakukan untuk mencapai sinergi yang positif. Bentuk yang paling sederhana dan sering dilakukan adalah pertemuan rutin antara guru dengan orang tua. Pertemuan ini penting dilaksanakan, untuk mencapai kompromi-kompromi dalam mendidik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk lain dari sinergi ini ialah dengan bertukar informasi mengenai perkembangan anak. Tahap-tahap penyampaian materi pengetahuan juga perlu dikomunikasikan, agar keduanya memberikan porsi atau tingkatan pengetahuan secara berimbang kepada anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting digarisbawahi dalam sinergi ini, selain dikembangkannya koordinasi, juga perlu dibangun suasana harmonis antar pendidik. Diusahakan agar anak dapat melihat bahwa dua sosok yang sangat dihormati memberikan pengertian, pengetahuan dan contoh yang sinkron serta konsisten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis anak confidence menerima segala informasi dari guru dan orang tuanya. Benturan mental yang mungkin terjadi karena ketidaksinkronan para pendidiknya dapat dihindarkan. Anak terbebas dari konflik batin, kemampuan untuk menganalisa dan memutuskan di antara berbagai pilihan menjadi terasah tajam. Generasi-generasi bangsa tumbuh menjadi pribadi yang sempurna. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/fx0708.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-8076166545468445568?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/8076166545468445568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/sinergi-menyatukan-energi-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/8076166545468445568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/8076166545468445568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/sinergi-menyatukan-energi-dalam.html' title='Sinergi, Menyatukan Energi Dalam Mendidik'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-1596204705791267665</id><published>2009-05-17T23:12:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:13:52.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>INFRASTRUKTUR PENDIDIKAN JARAK JAUH</title><content type='html'>Judul: INFRASTRUKTUR PENDIDIKAN JARAK JAUH&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Jelarwin Dabutar &lt;br /&gt;Saya Guru di SMK Negeri 1 Laguboti &lt;br /&gt;Topik: TREN PENDIDIKAN &lt;br /&gt;Tanggal: 8 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFRASTRUKTUR PENDIDIKAN JARAK JAUH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan pesat di bidang teknologi dan komunikasi mengilhami Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk memperkenalkan program pendidikan jarak jauh (PPJJ) atau distance learning. PPJJ dengan cara ini diperkenalkan dalam seminar nasional bertemakan "Peranan Pendidikan dan Pelatihan Terbuka/Jarak Jauh Dalam Menunjang Pelaksanaan Otonomi Daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom) Depdiknas Arief S. Sadiman mengatakan, upaya PPJJ ini ditempuh karena pendidikan secara konvensional di sekolah-sekolah sudah tak memungkinkan lagi untuk tetap diteruskan, terlebih sejak anggaran pendidikan nasional dipangkas pemerintah pada tahun anggaran ini. Karena itulah dengan menggunakan infrastruktur PPJJ bisa dijadikan alternatif agar pendidikan formal, nonformal, atau di tempat kerja tetap dapat berjalan terus. PPJJ dengan mengaplikasikan cara tersebut biaya mampu ditekan jika masing-masing penyelenggara pendidikan di setiap kabupaten bisa melakukan sinergi dengan PT Telkom selaku pemilik infrastruktur di daerahnya sebagai upaya pengembangan SDM pada otonomi daerah. Tentang tingkat efektivitas PPJJ dengan metode ini, tidak perlu dikhawatirkan karena dari survei yang dilakukan oleh Depdiknas pada berbagai lembaga pemerintah yang telah mencoba cara ini sejak dua tahun lalu terlihat banyak sisi positifnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas menargetkan dapat menghubungkan seluruh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melalui wide area network dalam kota (WAN Kota) berteknologi Hotspot nirkabel tahun 2006/2007. Sepanjang tahun ini, instansi tersebut berencana mengembangkan jaringan tersebut ke 30 lokasi WAN Kota di kabupaten atau kotamadya untuk melengkapi 40 lokasi yang sudah ada sejak Tahun 2003. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) mengatakan WAN Kota disiapkan sebagai infrastruktur untuk kegiatan belajar dan sumber informasi telematika jarak jauh.Yang terhubung dalam WAN Kota, lanjutnya, akan dikembangkan menjadi ICT (Information and Communication Technology) Centre sebagai pusat pelatihan guru untuk mata ajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBAHASAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. APA ITU PENDIDIKAN JARAK JAUH (DISTANCE LEARNING) ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan jarak jauh adalah sekumpulan metoda pengajaran dimana aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar. Pemisah kedua kegiatan tersebut dapat berupa jarak fisik, misalnya karena peserta ajar bertempat tinggal jauh dari lokasi institusi pendidikan. Pemisah dapat pula jarak non-fisik yaitu berupa keadaan yang memaksa seseorang yang tempat tinggalnya dekat dari lokasi institusi pendidikan namun tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran di institusi tersebut. Keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan belajar adalah ciri yang khas dari pendidikan jarak jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan jarak jauh merupakan suatu alternatif pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Sistem ini dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat keterbatasan tenaga pengajar yang berkualitas. Pada sistem pendidikan pelatihan ini tenaga pengajar dan peserta didik tidak harus berada dalam lingkungan geografi yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari pembangunan sistem ini antara lain menerapkan aplikasi-aplikasi pendidikan jarak jauh berbasis web pada situs-situs pendidikan jarak jauh yang dikembangkan di lingkungan di Indonesia yakni bekerja dengan sama mitra-mitra lainnya. Secara sederaha dipahami sistem ini terdiri dari kumpulan aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam kegiatan pendidikan jarak jauh hingga penyampaian materi pendidikan jarak jauh tersebut dapat dilakukan dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana penunjang dari pendidikan jarak jauh ini adalah teknologi informasi. Kemunculan teknologi informasi dan komunikasi pada pendidikan jarak jauh ini sangat membantu sekali. Seperti dapat dilihat, dengan munculnya berbagai pendidikan secara online, baik pendidikan formal atau non-formal, dengan menggunakan fasilitas Internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan sistem pengajaran yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengajaran secara langsung (real time) ataupun dengan cara menggunakan sistem sebagai tempat pemusatan pengetahuan (knowledge).Hal ini memungkinkan terbentuknya kesempatan bagi siapa saja untuk mengikuti berbagai jenjang pendidikan. Seorang lulusan sarjana dapat melanjutkan ke pendidikan magister secara online ke salah satu Perguruan tinggi yang diminatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman ini banyak orang berbicara Distance Education atau pendidikan jarak jauh. Ciri-ciri dari distance learning (DL) antara lain adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Sistem pendidikan yang pelaksanaannya memisahkan guru dan siswa. Mereka terpisahkan karena faktor jarak, waktu, atau kombinasi dari keduanya; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Karena guru dan siswa terpisahkan, maka penyampaian bahan ajar dilaksanakan dengan bantuan media-e-learning, seperti media cetak, media elektronik (audio, video), atau komputer dengan segala keunggulan yang dimilikinya; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Bahan ajarnya bersifat "mandiri". Untuk e-learning atau on-line course bahan ajarnya disimpan dan disajikan di komputer; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Komunikasinya dua arah, baik yang disampaikan secara langsung (synchronuous) maupun secara tidak langsung (asynchronuous); &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Sistem pembelajarannya dilakukan secara sistemik (terstruktur), teratur dalam kurun waktu tertentu. Kadang-kadang juga dilakukan pertemuan antara guru dan siswa, entah dalam forum diskusi, tutorial, atau dengan pertemuan tatap muka ("residential class"). Namun, pertemuan tatap muka tidak boleh mendominasi pelaksanaan pendidikan; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Paradigma baru yang terjadi dalam DL adalah peran guru yang lebih bersifat "fasilitator" dan siswa sebagai "peserta aktif" dalam proses belajar-mengajar. Karena itu, guru dituntut untuk menciptakan teknik mengajar yang baik, menyajikan bahan ajar yang menarik, sementara siswa dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kasus, hasil DL ini cukup membanggakan dan tidak kalah dengan hasil pendidikan tatap muka. Tentu saja kalau DL tersebut dilaksanakan secara baik dan benar. Sebaliknya, masalah yang sering dihadapi dalam pelaksanaan DL umumnya adalah kurang tersedianya infrastruktur dan sumber daya pendukungnya, kurang siapnya SDM yang terlibat (baik guru, siswa maupun teknisi), cara penyampaiannya yang tidak memerhatikan kaidah-kaidah DL dan kurang atau tidak adanya dukungan kebijakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, masyarakat juga sering punya persepsi yang keliru tentang DL. Misalnya, kualitasnya kurang menjamin, biayanya mahal, tidak diakreditasi oleh pemerintah, tidak asyik karena tidak ada interaksi antara siswa dan siswa atau siswa dan guru. Hal seperti ini mestinya tidak perlu terjadi kalau mereka mengerti dan kalau DL itu dilaksanakan secara baik dan benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kenyataan, jarang sekali ditemui DL yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilaksanakan dengan e-learning atau on-line learning. Untuk memperkecil kritik terhadap DL, maka blended DL (campuran antara on-line course dan tatap muka) adalah solusinya. Juga dalam blended DL ini tidak juga perlu membentuk lembaga pendidikan sendiri, seperti universitas terbuka, tetapi cukup membuat unit yang khusus menangani blended DL ini. Dengan demikian, pelajaran yang dilakukan secara on-line learning dapat hanya satu atau beberapa saja: tutorialnya saja, satu program studi saja, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman negara lain dan juga pengalaman distance learning di Indonesia ternyata menunjukkan sukses yang signifikan, antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mampu meningkatkan pemerataan pendidikan;Ø &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mengurangi angka putus sekolah atau putus kuliah atau putus sekolah;Ø &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meningkatkan prestasi belajar;Ø &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meningkatkan kehadiran siswa di kelas,Ø &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meningkatkan rasa percaya diri;Ø &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meningkatkan wawasan (outwaØrd looking); &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mengatasi kekurangan tenaga pendidikan; danØ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meningkatkan efisiensi.Ø &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. PERGESERAN DRASTIS PARADIGMA DUNIA PENDIDIKAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi krisis moneter dengan kompetisi bebas di ambang pintu, ada baiknya kita berpikir sejenak tentang kondisi dan pengkondisian Sumber Daya Manusia yang ada di Indonesia. Sudah siapkah kita, mengertikah kita. Tulisan ini akan mengupas beberapa pergeseran mendasar dan drastis paradigma dunia pendidikan karena perkembangan pesat teknologi informasi khususnya internet yang pada akhirnya mempercepat aliran ilmu pengetahuan menembus batas-batas dimensi ruang, birokrasi, kemapanan dan waktu. Kita perlu menyadari bahwa di internet bukan hanya ilmu pengetahuan yang dapat ditransmisikan pada kecepatan tinggi akan tetapi juga data dan informasi. Kemampuan untuk mengakumulasi, mengolah, menganalisa, mensintesa data menjadi informasi kemudian menjadi ilmu pengetahuan yang bermanfaat sangat penting artinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasyarat lain yang akan mempercepat pergeseran paradigma dunia pendidikan adalah kompetisi bebas, free trade dan hilangnya monopoli. Kemungkinan prasyarat ini yang akan menghambat di Indonesia karena lambatnya adopsi kompetisi bebas di Indonesia. Akan tetapi saya yakin, cepat atau lambat dan mau tidak mau kompetisi bebas akan berjalan di Indonesia karena desakan dunia global. Bagi kami yang bergerak dan betul-betul hidup mengambil manfaat dalam dunia informasi berbasis internet, sebetulnya kompetisi bebas dan perdagangan bebas telah beberapa tahun ini kami nikmati - bahkan resesi ekonomi belum terlalu parah dirasakan. Mudah-mudahan hal ini dapat menggugah sedikit sebagian dari kita yang belum mengambil manfaat masksimal dari internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa konsekuensi logis percepatan aliran ilmu pengetahuan yang akan menantang sistem pendidikan konvensional yang selama ini berjalan antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sumber ilmu pengetahuan tidak lagi ter pusat pada lembaga pendidikan formal yang konvensional. Akan tetapi sumber pengetahuan akan tersebar di mana-mana dan setiap orang akan dengan mudah memperoleh pengetahuan tanpa kesulitan. Paradigma ini dikenal sebagai distributed intellegence (distributed knowledge). Fungsi guru lembaga pendidikan akhirnya beralih dari sebuah sumber ilmu pengetahuan menjadi mediator dari ilmu penge tahuan tersebut. Proses long life learning dalam dunia informal yang sifatnya lebih learning based daripada teaching based akan menjadi kunci perkembangan SDM. Web, homepage, Search Engine, CD-ROM merupakan alat bantu yang akan mempercepat distributed knowlegde ini berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ilmu pengetahuan akan terbentuk secara kolektif dari banyak pemikiran yang sifatnya konsensus bersama. Pemahaman akan sebuah konsep akan dilakukan secara bersama. Guru tidak lagi dapat memaksakan pandangan dan kehendaknya karena mungkin para siswa memiliki pengetahuan yang lebih dari informasi yang mereka peroleh selama ini. Keadaan ini dikenal sebagai generation lap (kebalikan dari generation gap). Proses interaksi elektronik, diskusi melalu berbagai internet, mailing list, newsgroup, IRC, Webchat merupakan kunci proses pembentukan collective wisdom ini. Yang menarik di sini adalah dari sisi kurikulum, tidak akan pernah terjadi kurikulum resmi yang rigid - kurikulum akan selalu berubah beradaptasi dengan berbagai perkembangan sesuai dengan collective wisdom yang diperoleh dari waktu ke waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Akreditasi, sertifikasi, pengakuan akan lebih banyak ditentukan oleh masyarakat profesional. Dengan kata lain masyarakat profesional yang akan menjadi penilai (quality control) dari lembaga pendidikan yang ada. Kontrol dilakukan dari kemampuan para alumni, sehingga setiap lembaga pendidikan /dosen/guru secara individual akan dinilai langsung oleh masyarakat profesional. Hal ini merupakan tantangan yang berat bagi konsep-konsep lama di lembaga pendidikan formal, konsep kompetisi perlu dikembangkan bagi dunia pendidikan, jadi UN sebaiknya berfungsi sebagai lembaga untuk melakukan penilaian (rangking) bagi masing-masing lembaga pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lembaga pendidikan harus melakukan investasi secara periodik bagi guru, jika ingin tetap memimpin di dunia pendidikan. Kegagalan dalam investasi guru akan berakibat kalah dalam persaingan merebut siswa terbaiknya. Intensif bagi guru untuk mendidik diri sendiri bukan datang dari jalur struktural/jabatan; juga bukan dari jenjang kepangkatan tradisional. Reward yang lebih besar akan lebih banyak diperoleh dari pengakuan yang diberikan langsung oleh masyarakat. Akhirnya semua kembali kepada masyarakat profesional yang akan menilai kualitas sebenarnya seseorang. Setelah mengetahui perubahan yang mendasar dari paradigma ini, apa yang perlu dan bisa kita lakukan sebagai bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Terus terang pendapat kami pribadi sebagai orang Indonesia akan sangat sederhana yaitu mari kita manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang semakin terbuka untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan sertifikasi profesional ini untuk kebaikan nasib kita masing-masing. Pendidikan formal bukan lagi satu-satunya media untuk mengembangkan diri, karena ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja. Sertifikasi dan akreditasi pun sebetulnya dapat diperoleh dari mana saja. Bahasa Inggris akan menjadi salah satu aset yang sangat penting untuk dapat mengakses sumber ilmu yang terdistribusi dan menjadi rantai dalam collective wisdom ini. Selain berbahasa Inggris, kemampuan untuk membaca, mencerna dan menulis (menghasilkan) informasi/pengetahuan dengan menggunakan teknologi informasi (internet) akan sangat strategis untuk dapat memperoleh keuntungan dan manfaat yang besar dari keberadaan teknologi informasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Akan tetapi perlu dihayati bahwa kom petisi akan cukup ketat untuk memperoleh akreditasi dan sertifikasi terbaik. Kerja keras dan kerja sama kemitraan strategis dalam sebuah kelompok akan sangat menentukan keberhasilan kita dalam menentukan keberhasilan kita ke dalam penetrasi pasar. Belajar di kelas saja tanpa mempunyai visi dan kemauan yang kuat untuk bertempur di dunia profesional tidak akan cukup. Bagi dunia pendidikan, skala ekonomi akan dapat dengan mudah dikembangkan dengan bermutu pada teknologi informasi beberapa strategis mendasar yang akan membantu antara lain adalah: Berikan akses internet bagi siswa, penggunaan konsep warung internet yang sifatnya self-finance akan sangat me-nguntungkan bagi investasi dan operasional warung tersebut. Akhirnya siswa dan lembaga pendidikan yang akan diuntungkan. Terus terang, dalam bisnis plan maka modal/investasi sebuah warung internet dengan 5 s.d. 10 komputer di sebuah sekolah dengan sebuah saluran telepon ke internet akan kembali dalam jangka waktu 8-12 bulan saja. Jadi pendekatan warung internet akan menjadi sangat menarik, kunci keberhasilan berdasar pada kemampuan teknik dan manajemen SDM yang menjalankan warung tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. SISTEM PENDIDIKAN JARAK JAUH. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun teknologi merupakan bagian integral dari pendidikan jarak jauh, namun program pendidikan harus fokus pada kebutuhan instruksional siswa, dari pada teknologinya sendiri. Perlu juga untuk dipertimbangkan; umur, kultur, latar belakang sosioekonomi, interes, pengalaman, level pendidikan, dan terbiasa dengan metoda pendidikan jarak jauh. Faktor yang penting untuk keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh adalah perhatian, percaya diri dosen, pengalaman, mudah menggunakan perlatan, kreatif menggunakan alat, dan menjalin interkasi dengan mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pembangunan sistem perlu diperhatikan tentang disain dan pengembangan sistem, interactivity, active learning, visual imagery, dan komunikasi yang efektif. Disain dan pengembangan sistem. Proses pengembangan instruksional untuk pendidikan jarak jauh, terdiri dari tahap perancangan, pengembangan, evaluasi, dan revisi. Dalam mendesain instruksi pendidikan jarak jauh yang efektif, harus diperhatikan, tidak saja tujuan, kebutuhan, dan karakteristik guru dan siswa, tetapi juga kebutuhan isi dan hambatan teknis yang mungkin terjadi. Revisi dilakukan berdasarkan masukan dari instruktur, spesialis pembuat isi, dan siswa selama dalam proses berjalan Interactivity. Keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh antara lain ditentukan oleh adanya interaksi antara Guru dan siswa, antara siswa dan lingkungan pendidikan, dan antara siswaActive learning. Partisipasi aktif peserta pendidikan jarak jauh mempengaruhi cara bagaimana mereka berhubungan dengan materi yang akan dipelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visual imagery. Pembelajaran lewat televisi dapat memotivasi dan merangsang keinginan dalam proses pembelajaran. Namun jangan sampai terjadi distorsi karena adanya hiburan. Harus ada penseleksian antara informasi yang tidak berguna dengan yang berkualitas, menentukan mana yang layak dan tidak, mengidentifikasi penyimpangan, membedakan fakta dari yang bukan fakta, dan mengerti bagaimana teknologi dapat memberikan informasi berkualitas. Komunikasi yang efektif. Desain instruksional dimulai dengan mengerti harapan pemakai, dan mengenal mereka sebagai individual yang mempunyai pandangan berbeda dengan perancang sistem. Dengan memahami keingingan pemakai maka dapat dibangun suatu komunikasi yang efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audio Conferencing &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Group Conferencing &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pendidikan Jarak Jauh Secara Online &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi selalu mempunyai peran yang sangat tinggi dan ikut memberikan arah perkembangan dunia pendidikan. Dalam sejarah perkembangan pendidikan, teknologi informasi adalah bagian dari media yang digunakan untuk menyampaikan pesan ilmu pada orang banyak, mulai dari teknologi percetakan beberapa abad yang lalu, seperti buku yang dicetak, hingga media telekomunikasi seperti, suara yang direkam pada kaset, video, televisi, dan CD. Perkembangan teknologi informasi saat ini, Internet, mengarahkan sejarah teknologi pendidikan pada alur yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan online dalam pendidikan baik bergelar maupun tidak bergelar pada dasarnya adalah memberikan pelayanan pendidikan bagi pengguna (siswa) dengan menggunakan internet sebagai media. Layanan online ini dapat terdiri dari berbagai tahapan dari proses program pendidikan seperti: pendaftaran, test masuk, pembayaran, penugasan kasus, pembahasan kasus, ujian, penilaian, diskusi, pengumuman, dll. Pendidikan jarak jauh dapat memanfaatkan teknologi internet secara maksimal, dapat memberikan efektifitas dalam hal waktu, tempat dan bahkan meningkatkan kualitas pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor utama dalam Pendidikan jarak jauh secara online yang dikenal sebagai distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara Guru dan siswanya. Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio atau real video, dan online meeting. Yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup, dan buletin board. Dengan cara diatas interaksi guru dan siswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%. Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi guru dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat di download oleh siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh guru dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Penyelesaian administratif juga dapat diselesaikan langsung dalam satu proses registrasi saja, apalagi di dukung dengan metode pembayaran online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan jarak jauh secara online mengatasi keterbatasan yang ada pada jenis-jenis pendidikan jarak jauh yang lain (yang sebenarnya juga sudah sarat teknologi), yaitu pendidikan jarak jauh dengan satelit serta teknologi televisi. Pada kedua teknologi di atas, siswa masih harus berjalan ke fasilitas-fasilitas pendidikannya; sedangkan peralatannya bersifat khusus dan mahal. Kini dengan pendidikan online lewat internet, mahasiswa dapat belajar sendiri dari rumah dengan peralatan komputer sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari Sudut Pandang GuruØ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang guru, solusi pendidikan online ini harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mudah digunakan§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memungkinkan pembuatan bahan pelajaran online dan kelas online dengan cepat dan mudah§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hanya memerlukan pelatihan minimal§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memungkinkan pengajaran dengan cara mereka sendiri§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memungkinkan mereka mengendalikan lingkungan pengajaran§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari Sudut PandangØ Siswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut siswa yang dicari adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Fleksibilitas dalam mengambil mata pelajaran§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bahan pelajaran yang lebih kaya dibandingkan yang didapat di kelas§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berjalan di komputer yang sudah mereka miliki§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menyertakan kolaborasi antar siswa seperti cara tradisional§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mencakup konsultasi dengan guru, diskusi kelas, teman belajar, dan proyek-proyek bersama.§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pendidikan Jarak Jauh Berbasis Web Secara Online &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kembali ke konsep dasar pada suatu sistem pendidikan tradisional yang dilakukan saat ini, para siswa dan guru bertemu pada suatu tempat dan waktu tertentu. Sistem pendidikan tradisional ini kelak akan bergeser kepada pendidikan jarak jauh dengan dilandasi bahwa agak sulit untuk mengumpulkan peserta kursus, training atau pendidikan pada satu waktu dan tempat tertentu sedangkan peserta tersebar di wilayah yang berbeda-beda dan pada dasarnya materi-materi yang seharusnya disampaikan di kelas, dapat diberikan tanpa kehadiran para peserta dan tutor secara langsung di kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini, khususnya perkembangan teknologi internet turut mendorong berkembangnya konsep pembelajaran jarak jauh ini. Ciri teknologi internet yang selalu dapat diakses kapan saja, dimana saja, multiuser serta menawarkan segala kemudahannya telah menjadikan internet suatu media yang sangat tepat bagi perkembangan pendidikan jarak jauh selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan teknologi informasi dalam menunjang suatu sistem pendidikan jarak jauh harus diperhatikan dari bentuk pendidikan yang diberikan. Suatu kursus bahasa Inggris salah satunya, pada akhir pelajaran siswa dituntut untuk mempunyai reading dan listening skill yang baik, untuk itu medianya dapat berupa sound, gambar dan bentuk multimedia lainnya yang dapat di kirimkan melalui internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibatasi pada web based distance learning maka pengguna, dalam hal ini guru dan siswa memerlukan fasilitas internet untuk tetap menjaga konektivitas dengan pendidikan jarak jauh tersebut. Kemampuan mahasiswa untuk tetap menjaga konektivitas menentukan bagi kesinambungan suatu sistem pendidikan jarak jauh. Apabila kita umpamakan suatu pendidikan jarak jauh berbasis web sebagai suatu community maka di dalamnya harus dapat memfasilitasi bertemunya atau berinteraksinya siswa dan guru. Agak sulit memang untuk memindahkan apa yang biasa dilakukan oleh guru di depan kelas kepada suatu bentuk web yang harus melibatkan interaksi berbagai komponen di dalamnya. Adanya sistem ini membuat mentalitas guru dan siswa harus berubah, perbedaan karakteristik guru dalam mengajar tidak tampak dalam metode ini. Seperti layaknya sebuah perguruan tinggi, metode ini juga harus mampu memberikan informasi perkuliahan kepada mahasiswa. Informasi itu harus selalu dapat diakses oleh siswa dan guru serta selalu diperbaharui setiap waktu siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki unsur sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web basedü distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan siswa, dimana siswa dapat menambah kemampuan, membaca materi pelajaran, mencari informasi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Interaksi dalam grup; Para siswa dapat berinteraksi satu sama lainü untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan guru. Guru dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sistem administrasi siswa; dimana para siswa dapat melihat informasiü mengenai status siswa, prestasi siswa dan sebagainya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pendalaman materi dan ujian; Biasanya guru sering mengadakanü quiz singkat dan tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini üjuga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning  Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan,ü diperlukan juga bahan bacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswa lainnya melalui web. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewujudkan ide dan keinginan di atas dalam suatu bentuk realitas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah tapi bila kita lihat ke negara lain yang telah lama mengembangkan web based distance learning, sudah banyak sekali institusi atau lembaga yang memanfaatkan metode ini. Bukan hanya skill yang dimiliki oleh para engineer yang diperlukan tapi juga berbagai kebijaksanaan dalam bidang pendidikan sangat mempengaruhi perkembangannya. Jika dilihat dari kesiapan sarana pendukung misalnya hardware maka agaknya hal ini tidak perlu diragukan lagi. Hanya satu yang selalu menjadi perhatian utama pengguna internet di Indonesia yaitu masalah bandwidth, tentunya dengan bandwidth yang terbatas ini mengurangi kenyamanan khususnya pada non text based material. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. INFRASTRUKTUR PENDIDIKAN JARAK JAUH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Jaringan Internet &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jaringan Informasi Sekolah (JIS)Ø &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(School Information Networking) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; WAN Kota (Wide Area Networks)Ø &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ICT CenterØ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Information and Communication Technology Center) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jaringan Intranet/InternetØ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Program TV Edukasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan TV Edukasi : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Receiver TVE : menerima siaran langsung &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Receiver dan Relay TVE : menerima siaran TVE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Receiver, Relay dan Studio Mini TVE : menerima siaran TVE, Menyebarluaskan siaran TVE, memancarkan siaran mandiri TV Lokal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Type Pemancar TV Edukasi : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Penerimaan Siaran Satelit dilengkapi dengan Receiver Parabola : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan yang digunakan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Antena parabola sebagai receiver§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Televisi dan DVD Player untuk penampilan siaran§ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima siaran menggunkan parabola dan ditampilkan dengan beberapa televisi dalam sutu lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Konfigurasi TV EdukasiØ (1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Receiver dan Relay TV Edukasi dilengkapi dengan Receiver Parabola, Peralatan Relay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan yang digunakan adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Antena Parabola sebagai Receiver &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Antena Pemancar sebagai Relay &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Televisi DVD Player untuk menampilkan siaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima siara dari stasiun pusat TV Edukasi di Pustekkom &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memancarkan (relay) siaran TV Edukasi ke Daerah sekitarnya dalam radius 15 - 35 km. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Receiver, Relay dan Studio Mini TV Edukasi dilengkapi Receiver Parabola, Peralatan Relay, Studio Mini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Peralatan yang digunakan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Antena Parabola sebagai receiver &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Antena Pemancar sebagai Relai &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Televisi dan DVD Player untuk menampilkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Studio Mini sebagai Unit Produksi Siaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Menerima siaran dari Stasiun Pusat TV Edukasi di Pustekkom &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Memancarkan (relay) siaran TV Edukasi ke Daerah sekitarnya dalam radius 15 - 35 km &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Dapat melakukan siaran Televisi lokal secara mandiri dalam muatan lokal secara mandiri dengan muatan lokal dan dipancarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Memanfaatkan jam kosong/jam tertentu untuk siaran pengulangan siaran program yang relevan, terutama untuk bidang-bidang tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Integrasi TV Edukasi dan ICT Center &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KESIMPULAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :Keberhasilan pendidikan jarak jauh ditunjang oleh adanya interaksi maksimal antara Guru dan siswa, antara siswa dengan berbagai fasilitas pendidikan, antara siswa dengan siswa lainnya, adanya pola pendidikan aktif dalam interaksi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pendidikan bebasis pada web, maka diperlukan adanya pusat kegiatan mahasiswa, interaksi antar grup, administrasi penunjang sistem, pendalaman materi, ujian, perpustakan digital, dan materi online. Dari sisi Teknologi informasi; dunia Internet memungkinkan perombakan total konsep-konsep pendidikan yang selama ini berlaku. Teknologi informasi &amp; telekomunikasi dengan murah &amp; mudah akan menghilangkan batasan-batasan ruang &amp; waktu yang selama ini membatasi dunia pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa konsekuensi logis yang terjadi antara lain adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Siswa dapat dengan mudah mengambil matakuliah dimanapun di dunia tanpa terbatas lagi pada batasan institusi &amp; negara; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Siswa dapat dengan mudah berguru pada orang-orang ahli / pakar di bidang yang diminatinya. Cukup banyak pakar di dunia ini yang dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan yang datang; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Belajar bahkan dapat dengan mudah diambil di berbagai penjuru dunia tanpa tergantung pada si siswa belajar. Artinya konsep Pendidikan terbuka akan semakin membaur pada zaman ini. Konsekuensi yang akan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Program-program yang telah disebut dahulu umumnya berhubungan dengan institusi pendidikan formal. Akan tetapi jika kita lihat volume keluaran institusi pendidikan formal, maka kita masih membutuhkan banyak SDM lagi. Selain itu, bidang IT umumnya tidak membutuhkan gelar melainkan kemampuan (skill). Untuk itu perlu adanya program pendidikan yang sifatnya profesional dan terus menerus. Khususnya di bidang IT, kegiatan ini dapat dinaungi di tempat yang sering disebut sebagai IT Training Center. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. S A R A N &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk menunjang Pendidikan Jarak Jauh ada beberapa hal yang perlu agar pendidikn tersebut dapat berjalan dengan baik : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Upaya penyiapan SDM sebaiknya didukung oleh teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan Internet memungkinkan seseorang belajar dari jarak jauh. Konsep pendidikan terbuka dan jarak jauh (distance learning) dapat diterapkan untuk membina SDM IT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Adanya Internet juga memungkinkan pengembangan Digital Library yang dibutuhkan agar siswa atau pelajar dapat mengakses informasi terbaru. Selain digital library, perpustakaan konvensional masih tetap dibutuhkan. Toko buku juga sangat dibutuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pendekatan Open Source (membuka source code software) dan Open Content (membuka cara mendistribusi tulisan atau karya lain yang bukan program komputer) juga perlu diperluas agar mempermudah penyebaran informasi dan pengetahuan. Pendekatan ini juga tidak melanggar HaKI (Intellectual Property Right, IPR).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0807jelarwin.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-1596204705791267665?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/1596204705791267665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/infrastruktur-pendidikan-jarak-jauh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1596204705791267665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1596204705791267665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/infrastruktur-pendidikan-jarak-jauh.html' title='INFRASTRUKTUR PENDIDIKAN JARAK JAUH'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-6648847744477505694</id><published>2009-05-17T23:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:12:25.778-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>Pendidikan Usia Dini yang Baik Landasan Keberhasilan Pendidikan Masa Depan</title><content type='html'>Judul: Pendidikan Usia Dini yang Baik Landasan Keberhasilan Pendidikan Masa Depan&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Drs. H. Agus Ruslan, M.MPd &lt;br /&gt;Saya di Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma'arif Bandung &lt;br /&gt;Topik: Pendidikan Usian Dini &lt;br /&gt;Tanggal: 31 Mei 2007   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN USIA DINI YANG BAIK LANDASAN KEBERHASILAN PENDIDIKAN MASA DEPAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan anak usia dini merupakan landasan bagi keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. Usia dini merupakan "usia emas" bagi seseorang, artinya bila seseorang pada masa itu mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh kesiapan belajar yang baik yang merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan belajarnya pada jenjang berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan pentingnya PAUD cukup tinggi di negara maju,  10 tahun yang lalu, dan±sedangkan di Indonesia baru berlangsung pada  hingga pada saat ini belum banyak disadari masyarakat begitu juga praktisi pendidikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Martin Luther (1483 - 1546) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Martin Luther tujuan utama sekolah adalah mengajarkan agama, dan keluarga merupakan institusi penting dalam pendidikan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Martin Luther ini sejalan dengan tujuan madrasah (sekolah Islam) yaitu pendidikan agama Islam, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian integral dari agama Islam. Dengan demikian pendidikan di madrasah akan menghasilkan ulul-albaab (QS. 3 : 190 - 191), yaitu penguasaan iptek yang dapat digunakan dalam kehidupan dengan ahlak mulia, berdampak rahmatan lil alaminn, yang dijanjikan Allah akan ditingkatkan derajatnya (QS. 58 : 11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Jean - Jacques Rousseau (1712 - 1718) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukunya Du de 'education, menggambarkan cara pendidikan anak sejak lahir hingga remaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rousseau: "Tuhan menciptakan segalanya dengan baik; adanya campur tangan manusia menjadikannya jahat (God make every things good; man meddles with them and they become evil). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rousseau menyarankan "kembali ke alam" atau "back to nature", dan pendekatan yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak yaitu : "naturalisme". Naturalisme berarti, pendidikan akan diperoleh dari alam, manusia atau benda, bersifat alamiah sehingga memacu berkembangnya mutu, seperti kebahagiaan, sportivitas dan rasa ingin tahu. Dalam prakteknya naturalisme menolak pakaian seragam (dress code), standarisasi keterampilan dasar yang minimum, dan sangat mendorong kebebasan anak dalam belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak dibekali potensi bawaan (QS. 16 : 78) yaitu potensi indrawi (psikomotorik), IQ, EQ dan SQ. Semua manusia perlu mensyukuri pembekalan dari Allah SWT, dengan mengaktualisasikannya menjadi kompetensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Johan Heindrich Pestalozzi (1746 - 1827) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya "Emile" ia sangat terkesan dengan "back to nature". Ia mengintegrasikan kehidupan rumah, pendidikan vokasional dan pendidikan baca tulis. Pestalozzi yakin segala bentuk pendidikan adalah melalui panca indra dan melalui pengalamannya potensi untuk dikembangkan. Belajar yang terbaik adalah mengenal beberapa konsep dengan panca indra. Ibu adalah seorang pahlawan dalam dunia pendidikan, yang dilakukannya sejak awal kehidupan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Frederich Wilhelm Froebel (1782 - 1852) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Froebel menciptakan "Kindergarten" atau taman kanak-kanak, oleh karena itu ia dijadikan sebagai "bapak PAUD". Pandangan Froebel terhadap pendidikan dikaitkan dengan hubungan individu, Tuhan dan alam. Ia menggunakan taman atau kebun milik anak di Blankenburg Jerman, sebagai milik anak. Bermain merupakan metode pendidikan anak dalam "meniru" kehidupan orang dewasa dengan wajar. Kurikulum PAUD dari Froebel meliputi : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Seni dan keahlian dalam konstruksi, melalui permainan lilin dan tanah liat, balok-balok kayu, menggunting kertas, menganyam, melipat kertas, meronce dengan benang, menggambar dan menyulam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menyanyi dan kegiatan permainan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bahasa dan Aritmatika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Froebel guru bertanggung jawab dalam membimbing, mengarahkan agar anak menjadi kreatif, dengan kurikulum terencana dan sistematis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru adalah manajer kelas yang bertanggung jawab dalam merencanakan, mengorganisasikan, memotivasi, membimbing, mengawasi dan mengevaluasi proses ataupun hasil belajar. Tanpa program yang sistematis penyelenggaraan PAUD bisa membahayakan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. John Dewey (1859 - 1952) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas, seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed", bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Aplikasi ide Dewey, anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik, baru peminatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan pendapat Dewey tsb dengan sabda Rasulullah SAW "didiklah anak-anakmu untuk jamannya yang bukan jamanmu" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Maria Montessori (1870 - 1952) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang dokter dan antropolog wanita Italy yang pertama, ia berminat terhadap pendidikan anak terbelakang, yang ternyata metodenya dapat digunakan pada anak normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1907 ia mendirikan sekolah "Dei Bambini" atau rumah anak di daerah kumuh di Roma. Metode Montessori adalah pengembangan kecakapan indrawi untuk menguasai iptek untuk diorganisasikan dalam pikirannya, dengan menggunakan peralatan yang didesain khusus. Belajar membaca dan menulis diajarkan bersamaan. Montessori berpendapat anak usia 2 - 6 tahun paling cepat untuk belajar membaca dan menulis. Kritik terhadap Montessori adalah karena kurang menekankan pada perkembangan bahasa dan sosial, kreatifitas, musik dan seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijtihad dengan hasil yang benar bernilai dua, apabila hasilnya salah nilainya satu, sedangkan taklid atau mengikuti bernilai nol, jadi berfikir kreatif itu dikehendaki oleh Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. McMiller Bersaudara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rachel dan Margaret mendirikan sekolah Nursery yang pertama di London pada tahun 1911. sekolah ini mementingkan kreatifitas dan bermain termasuk seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Jean Piaget (1896 - 1980) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan Swiss ini tertarik pada ilmu pengetahuan proses belajar dan berfikir, meskipun ia sendiri ahli dalam biologi. Menurut Piaget ada tiga cara anak mengetahui sesuatu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, melalui interaksi sosial, Kedua, melalui interaksi dengan lingkungan dan pengetahuan fisik, Ketiga, Logica Mathematical, melalui konstruksi mental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Benjamin Bloom &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bloom (1964) mengamati kecerdasan anak dalam rentang waktu tertentu, yang menghasilkan taksanomi Bloom. Kecerdasan anak pada usia 15 tahun merupakan hasil PAUD. Pendapat ini dukung oleh Hunt yang menyatakan bahwa PAUD memberi dampak pada pengembangan kecerdasan anak selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. David Werkart &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pengajarannya menggunakan prinsip-prinsip :&lt;br /&gt;- Memberikan lingkungan yang nyaman,&lt;br /&gt;- Memberikan dukungan terhadap tingkah laku dan bahasa anak,&lt;br /&gt;- Membantu anak dalam menentukan pilihan dan keputusan,&lt;br /&gt;- Membantu anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri dengan melakukannya sendiri.&lt;br /&gt;Werkart mendirikan lembaga High Scope Education (1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan bagi Anak Usia Dini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak usia dini meliputi usia 0 - 6 tahun. Pada usia 0 - 2 tahun pertumbuhan fisik jasmaniah dan pertumbuhan otak dilakukan melalui yandu (pelayanan terpadu) antara Depertemen Kesehatan, Depsosial, BKKBN dan Depdiknas. Dalam program PAUD, diharapkan Depdiknas menjadi "Leading Sector". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 2 - 4 tahun layanan dilakukan melalui penitipan anak (TPA) atau Play Group. Pada usia 4 - 6 tahun layanan dilakukan melalui Taman Kanak-kanak (TK - A dan TK - B). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Kepribadian dan Kognitif Anak Usia Dini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Teori perkembangan Psikososial Erikson &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat tingkat perkembangan anak menurut Erikson, yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust Vs mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan "trust" pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan "mistrust" yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, usia 2 - 3 tahun, yaitu autonomy Vs shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua/guru yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila guru tidak sabar, banyak melarang anak, menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Jangan membuat anak merasa malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, usia 4 - 5 tahun, yaitu Inisiative Vs Guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Guru dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak (ingat metode Chaining nya Gagne), maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyakan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, usia 6 - 11 tahun, yaitu Industry Vs Inferiority, bila anak dianggap sebagai "anak kecil" baik oleh orang tua, guru maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual, dan kurang percaya diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Teori perkembangan Konitif Piaget &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga tahapan perkembangan kognitif anak menurut piaget, yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tahap sensori motorik (usia 0 - 2 tahun) anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan indranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tahap praoperasional. Anak berusaha menguasai simbol-simbol, (kata-kata) dan mampu mengungkapkan pengalamannya, meskipun tidak logis (pra-logis). Pada saat ini anak bersifat ego centris, melihat sesuatu dari dirinya (perception centration), yaitu melihat sesuatu dari satu ciri, sedangkan ciri lainnya diabaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak memahami dan berfikir yang bersifat kongkrit belum abstrak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tahap operasional formal. Pada tahap ini anak mampu berfikir abstrak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum PAUD &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum TK dikembangkan berdasarkan integrated curriculum (kurikulum terintegrasi) dengan pendekatan tematik. Kurikulum diorganisasikan melalui suatu topik atau tema. Katz dan Chard (1989) yang dikutip oleh Soemiarti Patmonodewo (2003) menetapkan kriteria untuk memilih tema yaitu: ada keterkaitannya, kesempatan untuk menerapkan keterampilan, kemungkinan adanya sumber, minat guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan untuk mengembangkan tema antara lain :&lt;br /&gt;a) Lingkungan anak seperti : rumah, keluarga, sekolah, permainan, diri sendiri. &lt;br /&gt;b) Lingkungan : kebun, alat transportasi, pasar, toko, museum.&lt;br /&gt;c) Peristiwa : 17 Agustus, hari Ibu, upacara perkawinan. &lt;br /&gt;d) Tempat : Jalan raya, sungai, tempat bersejarah&lt;br /&gt;e) Waktu : jam, kalender, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program PAUD &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Day Care atau TPA (Taman Penitipan Anak), yang berfungsi sebagai pelengkap pengasuhan orang tua. TPA dirancang khusus dengan program dan sarananya, untuk membantu pengasuhan anak selama ibunya bekerja. Pengasuhan dilakukan dalam bentuk peningkatan gizi, pengembangan intelektual, emosional dan sosial anak. TPA di Indonesia sudah berkembang dalam bentuk: TPA perkantoran, TPA perumahan, TPA industri, TPA perkebunan, TPA pasar. Sekarang banyak bermunculan TPA keluarga, yang diselenggarakan di rumah-rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Pusat pengembangan anak yang terintegrasi yang memberikan pelayanan perbaikan gizi dan kesehatan dengan tujuan peningkatan kualitas hidup anak. Di Indonesia dikenal dengan nama Posyandu (pos pelayanan terpadu) yang memberikan pelayanan makanan bergizi, imunisasi, penimbangan berat badan anak, layanan kesehatan oleh dokter, pemeriksaan kesehatan keluarga berencana. Pelatih dan pelaksana semuanya relawan yang sebelumnya mendapat pelatihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Pendidikan Ibu dan Anak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi tujuan adalah pendidikan ibu yang memiliki balita, dalam hal pendidikan dan pengasuhan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pendidikan seperti ini berkembang menjadi HIPPY (Home Instruction Programme for Preschool Youngster) di Israel Pendidikan orang dewasa dengan pendekatan kelompok juga dilaksanakan oleh Indonesia, Cina, Jamaica, dan Kolumbia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia dikenal dengan program Bina Keluarga Balita, yang dikoordinasikan oleh Meneg Urusan Peranan Wanita dan BKKBN dengan bantuan UNICEF, yang dilaksanakan sejak 1980. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Program Melalui Media &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media yang digunakan bisa media cetak, TV, Radio, dan Internet. Tahun 1980 Venezuela program dengan media dikenal sebagai "Project to Familia", dengan tujuan untuk meningkatkan kecerdasan anak sejak lahir hingga usia 6 tahun, yang diberikan kepada Ibu. Program melalui TV saat ini bisa mengangkat jauh ke pelosok desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Program "Dari Anak Untuk Anak" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuhan adik oleh kakaknya terjadi secara spontan. Kakaknya diajarkan tentang pentingnya vaksinasi, gizi, dab bagaimana mendorong adik untuk berbicara, mengajak bermain, dan menyuapi adik, yang kemudian dipraktekkan dirumah. Pola ini punya beberapa keuntungan antara lain yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Si Kakak, telah mendapatkan keterampilan untuk menjadi orang tua dengan pola pengasuhan anak yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Si Kakak ini bisa menularkan keterampilannya kepada teman sebayanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keterampilan si kakak tadi dapat diterapkan dilingkungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini dilakukan di sekolah formal dengan bekerja sama dengan pusat kesehatan, BKKBN, Departemen sosial dan pramuka. Program ini untuk pertama kalinya dilakukan di London. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. "Head Start" di Amerika &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan "Head Start" adalah untuk memerangi kemiskinan, dengan cara membantu anak-anak untuk mempersiapkan mereka memasuki sekolah. Head Start memberikan sarana pendidikan, sosial, kesehatan, gigi, gizi dan kesehatan mental anak-anak yang berasal dari keluarga miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. Taman Kanak-kanak atau Kindergarten &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TK merupakan buah fikiran Froebel dari Jerman, melalui konsep belajar melalui bermain yang berdasarkan minat anak, dimana anak sebagai pusat (child centered). Pola belajar sebelumnya adalah teacher centered seperti yang dilaksanakan di Amerika dengan menitikberatkan pada mata pelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Nebraska Department of Education di Amerika memberikan saran tentang bentuk TK yang baik yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada kerjasama sekolah dan orang tua dalam memberi pengalaman belajar bagi anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pengalaman anak hendaknya dirancang untuk terjadi exploration and discovery, tidak hanya duduk dengan kertas diatas meja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak belajar melalui alat permainan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak belajar menyukai buku dan bahasa melalui kegiatan bercerita dengan bahasanya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak melakukan kegiatan sehari-hari melatih motorik kasar dan halus, dengan berlari, melompat, melambung bola, menjahit, kartu, bermain dengan lilin, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak berlatih mengembangkan logika matematika, dengan bermain pasir, unit balok, alat bantu hitung, . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak berlatih mengembangkan rasa ingin tahu tentang alam, melalui pengamatan percobaan dan menarik kesimpulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak mengenal berbagai irama musik dan alatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak berlatih menyukai seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kegiatan TK dirancang untuk mengembangkan self image yang positif, serta sikap baik pada teman dan sekolah; dengan bermain sebagai media belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Model Penyelenggaraan TK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuhan bagi anak-anak dapat dilakukan secara home based atau center based. Ada tiga model center based. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Model Montessori &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya, sekolah model Montessori didirikan pada tahun 1907 di Breka di Italia, dan beberapa tahun kemudian berkembang di Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa filsafat Montessori dalam belajar yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Absorbent minds (ingatan yang meresap) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- The prepared environment (limgkungan yang dipersiapkan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sensitive period (periode sensitive) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat-alat yang digunakan dalam pendidikan model Montessori terbagi dalam empat kelompok, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Alat pengembangan keterampilan, untuk menumbuhkan disiplin diri, kemandirian, konsentrasi dan kepercayaan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Alat pengembangan fungsi sensoris untuk memperhalus fungsi indra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Alat pengembangan akademis, seperti huruf-huruf yang bisa ditempelkan di papan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Alat pengembangan artistik yang berorientasi pada budaya, agar anak belajar menyukai dan menghargai musik, belajar seni dan keselarasan musik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model Montessori, anak bebas memilih aktifitas, yang berhubungan dengan "auto - education" dimana anak harus mendidik diri sendiri tanpa di dikte guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, menurut American Montessori Society (1984), tujuan pendidikan Montessori adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pengembangan konsentrasi, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keterampilan mengamati, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keselarasan memahami tingkatan dan urutan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Koordinasi kesadaran dalam melakukan persepsi dan keterampilan praktis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Konsep yang bersifat matematis, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keterampilan membaca dan menulis, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keterampilan berbahasa, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Terbiasa dengan kesenian yang kreatif, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Memahami dunia alam lingkungan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Memahami ilmu sosial, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Berpengalaman dalam menyelesaikan masalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Model Tingkah Laku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ini didasarkan atas teori John B. Watson, E Thorn dan B.F Skinner, yang meyakini bahwa tingkah laku dapat dibentuk dengan "stimulus" dan "respons", dan "operant conditioning". Tingkah laku dikontrol oleh "reward" dan "punishment". Model ini kurang memperhatikan pengembangan fisik dan emosi, karena mereka berpendapat bahwa anak akan memperoleh "Self Esteem" apabila anak berhasil dalam prestasi intelektualnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Model Interaksionis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ini didasari oleh teori Piaget, contohnya adalah program "The High Scope" yang dikembangkan oleh David Weikart, "Educating the Young Thinker" yang dikembangkan oleh Irvan Siegel dalam "Piaget of Early Education" yang dikembangkan oleh Contance Kamii dan Rheta Devries. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Piaget, belajar adalah proses yang didasarkan atas "Intrinsic Motivation". Kemampuan berfikir tumbuh hingga tahapan berfikir abstrak dan logis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan model ini adalah untuk menstimulasi seluruh area perkembangan anak, baik fisik, sosial, emosional maupun perkembangannya kognitif, yang kesemuanya dianggap sama pentingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamii dan Devries (1979) menyatakan bahwa pendidikan harus bertujuan jangka panjang, suatu perkembangan dari seluruh kepribadian, intelektual dan moral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piaget menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menyiapkan manusia yang mampu membuat sesuatu yang baru, kreatif, berdaya cipta, nalar dengan baik, kritis, dan bukan hanya mengulangi dan meniru sesuatu yang telah terjadi dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain Sebagai Proses Belajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain merupakan proses pembelajaran di TK, yang berupa bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan bermain yang diarahkan. Bentuk-bentuk bermain antara lain bermain sosial, bermain dengan benda dan bermain sosio dramatis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain sosial terdiri dari bermain seorang diri (solitary play), bermain dimana anak hanya sebagai penonton (onlooker play), bermain paralel (parallel play), bermain asosiatif (associative play) dan bermain kooperatif (cooperative play). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Tingkah Laku dan Bermain &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi bermain dalam tingkat sensori motoris, dengan menjelajahi benda dan manusia yang ditemuinya, dan menyelidikinya. Pada akhir usia satu tahun ia mulai bermain dengan Ciluk - Ba. Kemudian ia bermain dengan menggunakan alat, dan pada usia menjelang sekolah ia bermain konstruktif, dengan benda dan beberapa aturan. Anak usia 3 tahun dapat bermain dengan berperan sebagai keluarga. Anak bisa bermain dengan peraturan, pada usia 7 - 12 tahun dan menunjukkan bahwa ia berada pada tahap kongkrit operasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Orang Tua dan PAUD &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua merupakan guru yang pertama bagi anak-anaknya. Apabila ada kerjasama antara orang tua dan anak akan menghasilkan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Peningkatan konsep diri pada orang tua dan anak, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Peningkatan motivasi belajar, dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Peningkatan hasil belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan orang tua, ada tiga kemungkinan, yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Orientasi pada tugas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Orientasi pada proses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Orientasi pada perkembangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi antara sekolah dengan orang tua bisa bersifat komunikasi resmi atau tidak resmi, kunjungan ke rumah, pertemuan orang tua, dan laporan berkala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah pengasuh pondok pesantren Darul Ma'arif Bandung&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/agusruslan31-5-2.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-6648847744477505694?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/6648847744477505694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-usia-dini-yang-baik-landasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6648847744477505694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6648847744477505694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-usia-dini-yang-baik-landasan.html' title='Pendidikan Usia Dini yang Baik Landasan Keberhasilan Pendidikan Masa Depan'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-2458779930582920267</id><published>2009-05-17T23:10:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:11:10.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>Pendidikan kontekstual</title><content type='html'>Judul: Pendidikan kontekstual&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Dian Noviyanti &lt;br /&gt;Saya Guru di Jakarta &lt;br /&gt;Topik: &lt;br /&gt;Tanggal: 27 agustus 2006   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN KONTEKSTUAL &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah berbagai persoalan yang kerap diseru oleh para praktisi pendidikan; dari mulai sekolah mahal, kesenjangan kualitas pendidikan di kota besar dan kecil akibat tidak adanya standarisasi antara kualitas ajar, keterbatasan bahan ajar, penghasilan guru yang pas-pas-an hingga bangunan sekolah yang tidak layak huni. Di kota besarpun walau terlihat lebih terfasilitasi tetap terganjal persoalan mahalnya cost yang dikeluarkan agar anak dapat mengecap sekolah bermutu. Walau definisi sekolah bermutupun belum jelas pula. Biasanya lebih terkait dengan fasilitas fisik bangunan, latar pendidikan guru, dan metoda atau acuan kurikulum yang digunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali mengikuti kegiatan seminar, para guru yang datang dari penjuru Indonesia kerapkali mengeluhkan bagaimana mungkin mereka mampu menyamai Jakarta dalam menghasilkan anak didik yang bermutu. Anak didik bermutu adalah terkait dengan siswa yang berhasil masuk universitas negeri, mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan ke luar negeri, terampil berbahasa inggris dan setelah lulus mendapat pekerjaan di perusahaan besar, perusahaan asing atau minimal BUMN. Demikian opini yang terbangun dalam benak mereka. Sama sekali tidak salah kalau memang ada yang mampu menjalani mekanisme demikian. Tapi kalau kemudian hal itu dijadikan standard yang harus dicapai setiap orang, tentu menjadi salah kaprah. Konsep keberhasilan sangat luas dan mendalam, tidak bisa dikerutkan hanya pada capaian jangka pendek seperti itu. Setiap sekolah harusnya punya punya kepercayaan diri yang kuat untuk membangun konsep tersendiri dalam menjalankan fungsi akademisnya. Tidak hanya sekedar meniru sesuatu hal yang belum tentu pas dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah di daerah sekarang berlomba untuk membangun sekolah internasional, sekolah terpadu atau minimal nasional plus dengan mengutip biaya yang tidak sedikit. Sekali lagi tidak ada yang salah dengan pilihan demikian. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak terakomodir dalam sistem itu? Apakah kemudian menjadi prediksi suramnya masa depan seseorang? Yang lebih mengkhawatirkan bila rasa "gagal" tidak terakomodir dalam sekolah mahal itu kemudian menumbuhkan agresivitas aktif maupun pasif; dari yang ekstrem berupa kenakalan remaja, demonstrasi yang destruktif hingga yang lebih mendasar berupa rasa minder, menyalahkan keadaan yang tidak mendukung hingga menghujat Tuhan. Heemm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mengenaskan kalau ini juga berdampak pada para pendidik. Apabila seorang guru tidak punya konsep atau visi yang kuat mengenai arti pendidikan dan tujuannya, mereka juga akan mudah terbawa pada pandangan mengenai tujuan pragmatis pendidikan. Tidak terakomodir dalam sistem yang dipandang sebagai stándar keberhasilan membuat para guru pesimis terhadap masa depan anak didiknya maupun dirinya sendiri. Pola pikir seperti itu tentu akan mempengaruhi perlakuan atau cara seorang guru dalam menangani anak didiknya. Perasaan tersisih, gagal, tidak bermasa depan, minder akan mewarnai sikap seseorang dalam menghadapi persoalan. Seolah pintu sudah tertutup, tiada celah untuk memperbaiki masa depan. Akibatnya? Mencari kambing hitam, adalah defense mechanism yang lazim dilakukan seseorang yang merasa tertekan. Tertekan oleh apa? Oleh beban pikirannya sendiri, tentu. Hal ini bisa dilihat bila dalam suatu kongres atau seminar ada wacana baru yang dihadirkan sebagai alternatif pendekatan pengajaran, para guru akan berkeluh-kesah dulu kemudian menuntut pembicara untuk segera membuat juklak yang langsung bisa dipraktekkan di tempat masing-masing. Mereka sudah lama terbiasa menjadi operator kurikulum, sehingga wacana baru tidak cukup menggairahkan mereka untuk berbuat sesuatu yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun visi para pendidik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau disoal elemen apakah yang paling crucial untuk dibenahi, tiada lain adalah guru sebagai elemen yang paling utama. Kurikulum sekalipun hanyalah alat yang dibuat oleh manusia, ia akan menjadi sesuatu yang hidup tergantung oleh yang menyampaikannya. Menurut saya pribadi yang harus segera dibenahi adalah mengkonstruk struktur berpikir para guru mengenai pendidikan. Hal ini menjadi penting agar kita tidak mudah putus asa dan mendorong kita agar berkreativitas dengan sumber daya yang kita miliki saat ini. Saya amati, di Jakarta sekalipun, banayak sekolah kebingungan untuk mengadopsi metoda yang tepat. Bahkan ada sekolah yang mengadopsi beberapa metoda sekaligus tanpa memahami esensi atau key-point dari masing-masing metoda tersebut, sehingga prakteknya tetap tidak terlihat sesuatu yang istimewa. Menariknya ada sekolah dasar dan taman kanak-kanak yang mengklaim berbasis active learning tapi juga menggunakan pojok montessori, sekaligus multiple intellegences, dengan preferences agama tertentu. Belum lagi program-program tambahan lainnya. Ffuuih...seperti hyper-market saja layaknya. Semua ada. Prakteknya? Belum tentu sesuai dengan yang diharapkan. Pokoknya semakin lengkap program atau metoda, maka semakin menyakinkan untuk disebut sekolah bermutu, itu opini kebanyakan orangtua murid. Sekolah seperti ini biasa disebut sekolah terpadu, nasional plus atau berwawasan internasional:p &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau masing-masing kita ditanya arti pendidikan dan tujuannya, mungkin kita akan menarik garis tegas antara tataran konsep dan praktisnya. Konsep boleh setinggi langit. Tapi tetap yang menjadi capaian adalah target jangka pendek. Seperti misalnya, anak TK harus belajar calistung agar dapat masuk SD favorit, demikian pula di tahapan selanjutnya bagaimana agar siswa didik dapat melewati satu fase dan menempuh fase berikutnya. Akibatnya guru seringkali terfokus hanya dengan bagaimana caranya menyampaikan materi sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bagi yang minat akademisnya tinggi didukung kemampuan mencerap / mengimitasi yang tinggi tentu tidak terlalu menjadi problem. Mereka dapat dengan mulus melampaui apa yang diharapkan dalam target materi. Yang dikhawatirkan bila pola 'menyuapi' seperti ini dibiasakan, maka anak didik akan kehilangan inisiatif, mereka hanya terbiasa meniru dan bekerja berdasar instruksi. Didikte. Tidak perduli apakah yang mereka kerjakan memiliki kontribusi bagi masyarakat sekitar atau tidak. Fenomena ini sangat rentan melahirkan pribadi egois, individualistis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem menjadi lebih hebat bila anak didik tidak mampu mengikuti standard tersebut. Akibatnya guru dengan mudah melabeli anak dengan sebutan tertentu dan mengirim anak pada psikolog atau guru BP. Bahkan bagi guru yang lugu, mereka akan dengan mudah menyebut anak didik mereka ber-IQ rendah. Mengenaskan sekali, sudah miskin, tinggal di desa IDT yang terbelakang, kemudian dianugerahi otak yang bodoh pula. Itu keluhan para pengajar di daerah. Tapi menariknya dengan kondisi yang serba terbatas demikian, toh mereka tetap mampu berdikari, dapat bertahan hidup, beranak-pinak membangun keluarga turun temurun. Pasti ada kecerdasan tertentu yang diberikan alam sehingga mereka dapat bertahan. Kalau mereka bodoh pasti kelompok mereka sudah lenyap dari muka bumi. yang menjadi masalah mungkin adalah cara penyampaian yang tidak tepat bagi komunitas tertentu. Guru cenderung menyampaikan sesuatu sesuai dengan pengalaman yang ia terima, ia kemudian hanya melakukan pengulangan. Mengimitasi dari pola yang telah ia pelajari. Tentu akan terjadi banyak benturan bila fokus kita hanyalah pada metoda tertentu, hanya berbasis pada pola pengajaran yang pernah kita terima semasa sekolah dulu. Tanpa didukung oleh visi yang jelas dan kuat yang terinternalisasi didalam diri, kita akan mudah terjebak pada penghitam-putihan. Tidak terbangun motivasi atau inspirasi untuk mengkreasi suatu hal yang baru. Kita terbiasa berpikir linier; bila tidak A, maka gagal. Bukannya bila tidak A maka ada B, C, dst, sebagai ciri orang yang mampu berpikir lateral atau kompleks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak mau berkutat dengan persoalan mendefinisi arti dan tujuan pendidikan. Setiap orang harus mampu membangun visi tersebut dalam dirinya masing-masing. Kalaupun ada tokoh atau instansi tertentu yang mampu menelorkan visi yang bernas mengenai pendidikan, tetap menjadi kerja berat dalam mensosialisasikannya agar berbuah menjadi tindak laku nyata, tidak sekedar menjadi slogan semata. Bagi saya pribadi, konsep pendidikan yang terpahami adalah bahwa setiap orang dilahirkan dengan membawa talenta dari Tuhan. Tugas pendidik adalah mencari cara dalam mendidik yang tepat agar dapat memancing talenta tersebut, mengasahnya agar dapat memberikan manfaat bagi umat. Talenta dimaksud tentu luas sekali, tidak terbatas dengan produk yang kita kenal sekarang. Kita harus berangkat pada pemikiran bahwa anak didik kita membawa sesuatu yang belum kita kenali. Namun tetap ada clue yang secara umum bisa kita tengarai, yaitu lingkungan dimana ia tinggal dan dibesarkan sebagai salah satu aspek penting dalam mengenali jati diri pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif solusi: pendekatan kontekstual &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita amati bagaimana masing-masing daerah memiliki keunikan dari ragam hayati dan nabatinya? Dari kondisi geografisnya? Dari manusianya?. Misalnya, mengapa kota Malang terkenal dengan apelnya? Kota peliatan terkenal dengan penari legongnya? Kota Garut terkenal dengan dombanya? Kota Bunaken terkenal dengan taman lautnya? Bugis terkenal dengan para pelaut tangguhnya? Dan kota Ampek angkek terkenal dengan penjahit ulungnya?. Belum lagi bahasanya yang unik, tiap daerah punya kosakata berbeda untuk menyatakan sesuatu, dengan kekayaan aksen dan logat yang spesifik pada masing-masing daerah. Bayangkan keterampilan yang dimiliki setiap suku bangsa, kita tidak akan menafikannya, bukan?. Kehidupan keseharian para penduduk yang belajar melalui alam menjadi aset penting bagi kita dalam menemukan metoda yang pas dalam mendidik mereka. Guru harus berupaya menemukan metoda dengan memberdayakan potensi lokal, yang berbasis pada kebutuhan kultural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kelemahan pendidikan kita adalah me'menara-gading'kan pendidikan dengan tidak menyentuh aspek kontekstual masyarakat sekitar. Pembelajaran seolah menjadi materi tersendiri yang tidak berkesinambung dengan kehidupan keseharian. Materi yang diberikanpun tidak terintegrasi satu sama lain. Secara logika, bagaimana mungkin belajar ilmu bumi dengan memisahkan antara fisika, biologi, kimia dan matematika?. Contoh riil, ketika seorang anak belajar mengenai tumbuhan, harusnya dia belajar bagaimana proses menanam tanaman, juga mempelajari proses kapilarisasi, meneliti unsur kimia tanah / hara yang mempengaruhi perkembangan tanaman, mengamati proses fotosintesa, mengukur tiap inchi perkembangannya, mempelajari bentuknya, menghapal nama latin dari bagian-bagian tanaman, menggambar, membuat prakarya dari bagian tanaman, belajar cycle of life dari tanaman tersebut, dan sebagainya. Project akhirnya adalah membuat presentasi; entah berupa unsur tanaman yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, mendisain operet mengenai kehidupan imajinasi tanaman, atau sekedar menceritakan salah satu proses yang telah mereka pelajari. Menarik bukan? Dari satu tema semua materi dapat terintegrasi. Apalagi kalau daerah tersebut memiliki lahan luas seperti pedesaan dan berbasis agrobisnis, wah pasti akan lebih kaya lagi materi yang bisa digali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ini bisa dilaksanakan, maka kita tidak akan terfokus pada ruang-ruang kelas yang statis, keluhan standarisasi kurikulum, kurangnya fasilitas hingga keterbatasan guru. Kita bisa menyertakan masyarakat sekitar yang handal dalam bidangnya untuk terlibat dalam project sesuai tema yang ditetapkan. Dan utamanya, anak didik menjadi berperan aktif untuk mengeksporasi minatnya, tanpa dibatasi kekhawatiran atas mata pelajaran tertentu. Tumbuhnya minat tersebut yang akan memotivasi mereka untuk belajar secara mandiri, tanpa didikte guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sekolah sudah membuktikan keberhasilan dengan pendekatan kontekstual, ingat 3 siswa SMP alternatif Qaryah Thayyibah di salatiga , yang berhasil lulus ujian nasional? Dari seluruh siswa kelas 3, hanya mereka yang mengikuti ujian tersebut. Alasannya sekedar ingin menguji apakah mereka dapat mengikuti standar yang diberikan. Nyatanya mereka dapat lulus. Padahal mereka belajar mandiri. Teman-temannya yang lain bahkan sudah tidak mempedulikan dengan ujian tersebut karena asyik menyiapkan project masing-masing. Mereka demikian percaya dirinya dengan keputusan yang mereka ambil yang cenderung "melawan arus", dimana saat itu setiap orang berlomba agar dapat lulus ujian walau dengan menempuh cara-cara yang tidak dibenarkan. Di Jogyakarta ada sebuah TK yang mengembangkan pendidikan prasekolah komunitas yang mendekatkan anak dengan lingkungan sekitarnya. Mereka menggunakan istilah racik-racik untuk melatih motorik halus, ngewot galengan atau meniti pematang sawah sambil belajar dan dolanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian ini hanya merupakan wacana yang membutuhkan lebih banyak diskusi untuk mematangkan detilnya. Lebih urgensi lagi, dibutuhkan keberanian dari masing-masing diri untuk menguji-coba wacana ini hingga dapat diimplementasi dalam sistem pendidikan kita.&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0806dian2.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-2458779930582920267?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/2458779930582920267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-kontekstual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2458779930582920267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2458779930582920267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-kontekstual.html' title='Pendidikan kontekstual'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-27744992302279602</id><published>2009-05-17T23:09:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:10:09.971-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>TUHAN MENGHENDAKI KITA PINTAR, BELAJARLAH</title><content type='html'>Judul: TUHAN MENGHENDAKI KITA PINTAR, BELAJARLAH&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): M. Sobry Sutikno &lt;br /&gt;Saya Mahasiswa di S.3 UNJ &lt;br /&gt;Topik: PENDIDIKAN &lt;br /&gt;Tanggal: 16-04-06 &lt;br /&gt;TUHAN MENGHENDAKI KITA PINTAR, BELAJARLAH !!! &lt;br /&gt;(Menelusuri Sumber Proses Pendidikan Manusia) &lt;br /&gt;M. Sobry Sutikno*   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lahir ke dunia, ummat manusia diwajibkan oleh Allah SWT untuk menuntut ilmu pengetahuan. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam al qur'an ayat pertama yang berbunyi: IQRA' (Bacalah). Ayat ini mensiratkan bahwa umat islam harus menjadi orang-orang yang pintar, dan upaya yang dapat ditempuh agar bisa pintar adalah, harus belajar (menuntut ilmu). Hal ini dipertegas oleh hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya "Menuntut ilmu adalah wajib bagi kaum laki-laki dan perempuan". Dalam hadits lain yang artinya "Tuntutlah ilmu walaupun di Negeri Cina". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat serta Hadits Nabi di atas mengingatkan kepada kita betapa pentingnya menuntut ilmu. Allah menghendaki kita semua menjadi insan yang pintar agar tidak mudah diperdaya dan agar lebih mudah mensikapi serta menjalani hidup di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya proses pendidikan manusia didapati melalui tiga sumber, yaitu (1) pendidikan Orang Tua, (2) pendidikan sekolah (pendidikan Formal), dan (3) pengalaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendidikan Orang Tua &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak merupakan amanah Allah kepada orang tua (Ibu, Bapa). Dari Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w bersabda: "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu-bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad, Malik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anak lahir ke dunia, maka kewajiban orang tuanyalah yang mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia yang terdidik dan pintar. Dalam arti kata bahwa kreativitas anak erat hubungannya dengan pola asuh yang diberikan oleh orangtua. Mendidik anak pada hakikatnya merupakan usaha nyata dari pihak orang tua untuk mengembangkan totalitas potensi yang ada pada diri anak. Melalui pendidikan, orang tua memegang peranan sebagai mediator antara anak dan masyarakatnya, antara anak dengan norma-norma kehidupan, antara anak dengan orang dewasa dan sudah tentu dengan visi orang tua masing-masing. Melalui pendidikan dalam keluarga anak akan memenuhi sifat-sifat kemanusiaannya dan berkembang untuk belajar terhadap respon-respon yang diterimanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan pendidikan agama sedini mungkin menjadi faktor utama pembentukan karakter dan jiwa anak. Dengan agama akan tercapai keseimbangan lahir dan batin. Pendidikan agama harus di tanamkan sejak kanak-kanak dengan membiasakan anak bertingkah laku dan berakhlak sesuai ajaran agama. Pendidikan agama ini mempunyai dua aspek penting: Pendidikan agama bertujuan menumbuhkan jiwa atau peribadi yang syarat dengan muatan peraturan yang baik sesuai dengan ajaran agama, Pendidikan agama merupakan pemenuhan aspek kognitif dari anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat orang tua (ibu dan bapak) merupakan orang yang paling banyak berinteraksi langsung dengan anak-anaknya, maka orang tua harus mendidik anak dengan serius dan tulus. Jauhi anak-anak dari didikan yang tidak mendidik, misalya sejak kecil anak-anak sudah diperdengarkan ucapan-ucapan kotor dan kasar, terlalu memanjakan anak, mencontohkan perilaku yang suka lalai dalam ibadah, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendidikan Sekolah (Pendidikan Formal) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber pendidikan kedua adalah pendidikan Sekolah (Pendidikan Formal). Secara umum pendidikan sebagai kebutuhan hidup, memainkan peranan sosial atau dukungan terhadap pertumbuhan dan juga memandu perjalanan umat manusia, baik itu perorangan, masyarakat, bangsa dan negara. Maka posisi pendidikan menjadi sebuah kegiatan yang merangkum kepentingan jangka panjang atau masa depan. Bukan sekedar kebutuhan dalam pengertian yang umum, tetapi sebagai kebutuhan mendasar. Pendidikan juga sering disebut sebagai investasi sumber daya manusia, dan sebagai modal sosial seseorang. Sehingga tidak akan mungkin selesai, tetapi berkelanjutan. Jadi membicarakan pendidikan adalah membicarakan masa depan. Dan masa depan selalu mengalami perubahan yang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum ahli pendidikan masa depan Alvin Pufler menegaskan bahwa pendidikan terkait dengan perkembangan masa depan. Rasulullah Muhammad SAW telah bersabda "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka adalah anak generasi zaman berbeda dengan zaman kamu". Jadi harus memberikan hal-hal yang terkait dengan pertumbuhan, perubahan, pembaharuan, dan juga hal-hal yang terus berlangsung. Karena hidup itu terus berlangsung, maka menangani pendidikan sebetulnya sama dengan menangani masa depan. Oleh karena itu harus terus-menerus diperbaharui, dipertegas dan dipertajam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulallah Muhammad telah menyampaikan bahwa pendidikan itu dimulai dari bayi sampai liang lahat. Kemudian muncul istilah belajar sepanjang hayat, life long learning, pendidikan usia dini, dan sebagainya. Itu istilah-istilah akademis, dalam prakteknya sudah berjalan. Agar hal itu menjadi sistematis maka dibangunlah sistem, sehingga setiap negara membangun sistem pendidikannya. Dan tentu hal itu semua dikaitkan dengan lingkungan geografis, sospol, agama dan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam UUD 45, setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan pendidikan bahkan wajib memperoleh pelayanan pendidikan yang baik. Karena pendidikan adalah untuk masa depan yang tidak bisa mudah diprediksikan tentu dengan UUD tersebut dapat lebih mudah diprediksi. Tentu hal ini memerlukan dukungan fasilitas dan biaya yang luar biasa besarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan di sekolah akan membuka wawasan berfikir anak. Empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal (Sekolah/Perguruan Tinggi), yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat pilar pendidikan tersebut diharapkan mampu diaplikasikan oleh peserta didik setelah mengenyam pendidikan formal di sekolah maupun perguruan tinggi. Dengan demikian, tuntutan pendidikan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengalaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping pendidikan Orang Tua, Pendidikan Formal (pendidikan yang diselenggarakan di Sekolah maupun Perguruan Tinggi), proses pendidikan juga bisa didapat melalui pengalaman. Orang bijak bilang "pengalaman adalah guru terbaik." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan bisa kita peroleh melalui pengalaman berdasarkan fenomena-fenomena yang kita lihat, kita saksikan, dan kita alami melalui proses interaksi dengan lingkungan tempat di mana kita berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman itu sebetulnya tidak harus pengalaman diri sendiri, tetapi, pengalaman orang lain juga merupakan guru terbaik. Meniru pengalaman orang-orang yang sukses juga akan lebih baik. Mungkin ada yang mengatakan tidak mungkin menemukan jalan yang sama persis. Betul, tetapi kita akan menemukan bagaimana orang berhasil menghadapi rintangan dan bagaimana mengatasinya. Misalnya, tentang terpaan dan didikan keras dari orang tua sehingga mereka dulu kehilangan masa remaja, disiplin terhadap waktu, ketaatan pada janji, pergi pagi sekali ketika orang masih terlelap, pulang saat larut malam, terus mencoba sesuatu tanpa putus asa, menjaga kepercayaan, dan masih banyak lagi yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjemput masa depan adalah sebuah proses. Di situlah peran pendidikan. Pendidikan tidak pernah berakhir, yang dikenal dengan istilah Life Long Education. Pendidikan adalah aset masa depan dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Makin banyak dan makin tinggi pendidikan seseorang makin baik, bahkan, tiap warga negara diharapkan agar terus belajar sepanjang hayat. Dengan demikian, pendidikan merupakan faktor prioritas yang perlu dibangun dan ditingkatkan mutunya. "Belajarlah, karena tuhan tidak menginginkan kita bodoh. Tuhan menginginkan kita pintar." Ingat, "Kecantikan yang abadi terletak pada keelokkan adab dan ketinggian ilmu seseorang, bukan terletak pada wajah dan pakaiannya." "Tidak ada orang yang bodo di dunia ini, yang ada hanyalah orang yang malas belajar (menuntut ilmu)." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah: Tode Dasan, Desa Goa, Kec. Jereweh KSB (Direktur Eksekutif YNTP Research and Development Propinsi NTB) Info tentang Penulis, silahkan hubungi: www.sobrycenter.com&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0406sobri.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-27744992302279602?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/27744992302279602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/tuhan-menghendaki-kita-pintar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/27744992302279602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/27744992302279602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/tuhan-menghendaki-kita-pintar.html' title='TUHAN MENGHENDAKI KITA PINTAR, BELAJARLAH'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-5738973011287141463</id><published>2009-05-17T23:08:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:09:18.177-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>MERANCANG PENDIDIKAN MORAL &amp; BUDI PEKERTI</title><content type='html'>Judul: MERANCANG PENDIDIKAN MORAL &amp; BUDI PEKERTI&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Lewa Karma &lt;br /&gt;Saya Mahasiswa di IKIP N Singaraja-Bali &lt;br /&gt;Topik: Pendidikan &lt;br /&gt;Tanggal: 9 April 2004   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MERANCANG PENDIDIKAN MORAL &amp; BUDI PEKERTI DALAM ATMOSFER PENDIDIKAN FORMAL &lt;br /&gt;(Morale Force Dealectict) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia Indonesia menempati posisi sentral dan strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional, sehingga diperlukan adanya pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara optimal. Pengembangan SDM dapat dilakukan melalui pendidikan mulai dari dalam keluarga, hingga lingkungan sekolah dan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu SDM yang dimaksud bisa berupa generasi muda (young generation) sebagai estafet pembaharu merupakan kader pembangunan yang sifatnya masih potensial, perlu dibina dan dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan melalui lembaga pendidikan sekolah. Beberapa fungsi pentingnya pendidikan sekolah antara lain untuk : 1) perkembangan pribadi dan pembentukan kepribadian, 2) transmisi cultural, 3) integrasi social, 4) inovasi, dan 5) pra seleksi dan pra alokasi tenaga kerja ( Bachtiar Rifai). Dalam hal ini jelas bahwa tugas pendidikan sekolah adalah untuk mengembangkan segi-segi kognitif, afektif dan psikomotorik yang dapat dikembangkan melalui pendidikan moral. Dengan memperhatikan fungsi pendidikan sekolah di atas, maka setidaknya terdapat 3 alasan penting yang melandasi pelaksanaan pendidikan moral di sekolah, antara lain : 1). Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia yang meliputi pikiran yang kuat, hati dan kemauan yang berkualitas, seperti : memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan, dan dorongan moral yang kuat untuk bisa bekerja dengan rasa cinta sebagai ciri kematangan hidup manusia. 2). Sekolah merupakan tempat yang lebih baik dan lebih kondusif untuk melaksanakan proses belajar mengajar. 3).Pendidikan moral sangat esensial untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan membangun masyarakat yang bermoral (Lickona, 1996 , P.1993). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan pendidikan moral ini sangat penting, karena hampir seluruh masyarakat di dunia, khususnya di Indonesia, kini sedang mengalami patologi social yang amat kronis. Bahkan sebagian besar pelajar dan masyarakat kita tercerabut dari peradaban eastenisasi (ketimuran) yang beradab, santun dan beragama. Akan tetapi hal ini kiranya tidak terlalu aneh dalam masyarakat dan lapisan social di Indonesia yang hedonis dan menelan peradaban barat tanpa seleksi yang matang. Di samping itu system [pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang eqivalen dengan peningkatan IQ (intelengence Quetiont) yang walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ (Emotional Quetiont). Sedangkan warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas yang tinggi kemudian tergadai dan lebih banyak digemari oleh orang lain di luar negeri kita, yaitu SQ (Spiritual Quetiont). Oleh sebab itu, perlu kiranya dalam pengembangan pendidikan moral ini eksistensi SQ harus terintegrasi dalam target peningkatan IQ dan EQ siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari hanyutnya SQ pada pribadi masyarakat dan siswa pada umumnya menimbulkan efek-efek social yang buruk. Bermacam-macam masalah sosial dan masalah-masalahh moral yang timbul di Indonesia seperti : 1). meningkatnya pembrontakan remaja atau dekadensi etika/sopan santun pelajar, 2). meningkatnya kertidakjujuran, seperti suka bolos, nyontek, tawuran dari sekolah dan suka mencuri, 3). berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan terhadap figur-figur yang berwenang, 4). meningkatnya kelompok teman sebaya yang bersifat kejam dan bengis, 5) munculnya kejahatan yang memiliki sikap fanatik dan penuh kebencian, 6). berbahsa tidak sopan, 7). merosotnya etika kerja, 8). meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara, 9). timbulnya gelombang perilaku yang merusak diri sendiri seperti perilaku seksual premature, penyalahgunaan mirasantika/narkoba dan perilaku bunuh diri, 10). timbulnya ketidaktahuan sopan santun termasuk mengabaikan pengetahuan moral sebagai dasar hidup, seperti adanya kecenderungan untuk memeras tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku yang membahayakan terhadap diri sendiri atau orang lain, tanpa berpikir bahwa hal itu salah (Koyan, 2000, P.74). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merespon gejala kemerosotan moral tersebut, maka peningkatan dan intensitas pelaksanan pendidikan moral di sekolah merupakan tugas yang sangat penting dan sangat mendesak bagi kita, dan perlu dilaksanakan secara komprehensif dan dengan menggunakan strategi serta model pendekatan secara terpadu, yaitu dengan melibatkan semua unsur yang terkait dalam proses pembelajaran atau pendidikan seperti : guru-guru, kepala sekolah orang tua murid dan tokoh-tokoh masyarakat. Tujuan pendidikan moral tidak semata-mata untuk menyiapkan peserta didik untuk menelan mentah konsep-konsep pendidikan moral, tetapi yang lebih penting adalah terbentuknya karakter yang baik, yaitu pribadi yang memiliki pengetahuan moral, peranan perasaan moral dan tindakan atau perilaku moral (Lickona, 1992. P. 53 ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, dewasa ini pelaksanan pendidikan moral di sekolah diberikan melalui pembelajaran pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan Pendidikan agama akan tetapi masih tampak kurang pada keterpaduan dalam model dan strategi pembelajarannya Di samping penyajian materi pendidikan moral di sekolah, tampaknya lebih berorientasi pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks, dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat, sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalah-masalah moral yang terjadi dalam masyarakat Bagi para siswa,adalah lebih banyak untuk menghadapi ulangan atau ujian, dan terlepas dari isu-isu moral esensial kehidupan mereka sehari-hari. Materi pelajaran PPKn dirasakah sebagai beban, dihafalkan dan dipahami, tidak menghayati atau dirasakan secara tidak diamalkan dalam perilaku kehidupan hari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya untuk meningkatkan kematangan moral dan pembentukann karakter siswa. Secara optimal ,maka penyajian materi pendidikan moral kepada para siswa hendaknya dilaksanakan secara terpadu kepada semua pelajaran dan dengan mengunakan strategi dan model pembelajaran seccara terpadu, yaitu dengan melibatkan semua guru, kepala sekolah ,orang tua murid, tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Dengan demikian timbul pertanyaan,bahan kajian apa sajakah yang diperlukan untuk merancang model pembelajaran pendidikan moral dengan mengunakan pendekatan terpadu ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan strategi dan model pembelajaran pendidikan moral dengan menggunakan pendekatan terpadu ,diperlukan adanya analisis kebutuhan (needs assessment) siswa dalam belajar pendidikan moral. Dalam kaitan ini diperlukan adanya serangkaian kegiatan, antara lain : (1) mengidentifikasikan isu-isu sentral yang bermuatan moral dalam masyarakat untuk dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode klarifikasi nilai (2) mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran pendidikan moral agar tercapai kematangan moral yang komprehensif yaitu kematangan dalam pengetahuan moral perasaan moral,dan tindakan moral, (3) mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah dan kendala-kendala instruksional yang dihadapi oleh para guru di sekolah dan para orang tua murid di tua murid dirumah dalam usaha membina perkembangan moral siswa,serta berupaya memformulasikan alternatif pemecahannya, (4) mengidentifikasi dan mengklarifikasi nilai-nilai moral yang inti dan universal yang dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam proses pendidikan moral, (5) mengidentifikasi sumber-sumber lain yang relevan dengan kebutuhan belajar pendidikan moral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan kegiatan yang perlu dilakukan dalam proses aplikasi pendidikan moral tersebut, kaitannya dengan kurikulum yang senantiasa berubah sesuai dengan akselerasi politik dalam negeri, maka sebaiknya pendidikan moral juga dilakukan penngkajian ulang untuk mengikuti competetion velocities dalam persaingan global. Bagaimanapun negeri ini memerlukan generasi yang cerdas, bijak dan bermoral sehingga bisa menyeimbangkan pembangunan dalam keselarasan keimanan dan kemajuan jaman. Pertanyaannya adalah siapkah lingkungan sekolah (formal-informal), masyarakat dan keluarga untuk membangun komitmen bersama mendukung keinginan tersebut ? Karena nasib bangsa Indonesia ini terletak dan tergantung pada moralitas generasi mudanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;br /&gt;Lewa Karma &lt;br /&gt;Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia IKIP N Singaraja &lt;br /&gt;Sekretaris Umum LPICS (Lembaga Pendidikan Insan Cita Singaraja) &lt;br /&gt;Alamat : Jalan Kartini 32 Singaraja-Bali(081805563218)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-5738973011287141463?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/5738973011287141463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/merancang-pendidikan-moral-budi-pekerti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5738973011287141463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5738973011287141463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/merancang-pendidikan-moral-budi-pekerti.html' title='MERANCANG PENDIDIKAN MORAL &amp; BUDI PEKERTI'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-8165121145691510796</id><published>2009-05-17T23:06:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:07:32.437-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MANAJEMEN PEMBELAJARAN'/><title type='text'>Pendidikan Sekarang Dan Masa Depan</title><content type='html'>Judul: Topik: Pendidikan Sekarang Dan Masa Depan&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): M. Sobry Sutikno&lt;br /&gt;Saya: Dari: Mataram - Pengamat NTB &lt;br /&gt;Tanggal: 8-2-2005   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat.Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan". Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertimbangkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah plat fotografik yang tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka merealisasikan 'learning to know', Guru seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses "learning to live together" (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kecenderungan merosotnya pencapaian hasil pendidikan selama ini, langkah antisipatif yang perlu ditempuh adalah mengupayakan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap dunia pendidikan, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, serta perbaikan manajemen di setiap jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah, khususnya di kabupaten/kota, seyogyanya dikaji lebih dulu kondisi obyektif dari unsur-unsur yang terkait pada mutu pendidikan, yaitu: (1) Bagaimana kondisi gurunya? (persebaran, kualifikasi, kompetensi penguasaan materi, kompetensi pembelajaran, kompetensi sosial-personal, tingkat kesejahteraan); (2) Bagaimana kurikulum disikapi dan diperlakukan oleh guru dan pejabat pendidikan daerah?; (3) Bagaimana bahan belajar yang dipakai oleh siswa dan guru? (proporsi buku dengan siswa, kualitas buku pelajaran); (4) Apa saja yang dirujuk sebagai sumber belajar oleh guru dan siswa?; (5) Bagaimana kondisi prasarana belajar yang ada?; (6) Adakah sarana pendukung belajar lainnya? (jaringan sekolah dan masyarakat, jaringan antarsekolah, jaringan sekolah dengan pusat-pusat informasi); (7) Bagaimana kondisi iklim belajar yang ada saat ini?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian pembenahan terhadap segala persoalan yang dihadapi. Pembenahan itu dapat berupa pembenahan terhadap kurikulum pendidikan yang dapat memberikan kemampuan dan keterampilan dasar minimal, menerapkan konsep belajar tuntas dan membangkitkan sikap kreatif, demokratis dan mandiri. Perlu diidentifikasi unsur-unsur yang ada di daerah yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses peningkatan mutu pendidikan, selain pemerintah daerah, misalnya kelompok pakar, paguyuban mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat daerah, perguruan tinggi, organisasi massa, organisasi politik, pusat penerbitan, studio radio/TV daerah, media masa/cetak daerah, situs internet, dan sanggar belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: M. Sobry Sutikno (Mahasiswa S.3 UNJ / Direktur Eksekutif YNTP Research and Development NTB) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOLONG DIKOMENTAR YA???&lt;br /&gt;TERIMAKASIH&lt;br /&gt;E-mail Pengirim: sobry@sobrysutikno.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-8165121145691510796?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/8165121145691510796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-sekarang-dan-masa-depan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/8165121145691510796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/8165121145691510796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-sekarang-dan-masa-depan.html' title='Pendidikan Sekarang Dan Masa Depan'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-5556104750716080169</id><published>2009-05-17T23:01:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:02:22.628-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMBIAYAAN PENDIDIKAN'/><title type='text'>BHP dan Daya Jual PT</title><content type='html'>Judul: BHP dan Daya Jual PT&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Nining Parlina &lt;br /&gt;Saya Mahasiswa di Jurusan Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta &lt;br /&gt;Topik: pendidikan &lt;br /&gt;Tanggal: 28 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BHP dan Daya Jual PT &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dian Ayu Novalia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingar bingar UU Badan Hukum Pendidikan memadati pikiran dan tenaga sebagian orang, baik para perancang UU BHP ataupun penolakan beberapa orang atau sekelompok orang. Jelas, menguras tenaga, pikiran serta finansial ketika UU BHP ini disahkan nantinya. Para perancang sibuk merumuskan sedangkan para pemerhati sibuk menolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem pendidikan seolah seperti permen karet yang tak pernah habis dikunyah. Pernak-pernik kerunyamannya kian menghiasi wajah pendidikan yang terus menampakkan kemuraman rautnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranah edukasi memang tak bosan-bosannya mengalami keresahan, baik dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Khususnya di pendidikan tinggi (PT), di wadah inilah para calon pengganti pemimpin bangsa (intelektual-intelektual muda) akan berkembang dan berkarya. Lepas dari baju siswa ke posisi yang lebih tinggi membuat mereka harus bekerja keras dengan adaptasi dan beraksi. Adaptasi pemikiran, sikap dan perilaku harus disertai tindakan (aksi) cermin mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU BHP sedang menjadi hot news. Tak dipungkiri, kecemasan pun tengah menghimpit paru-paru dunia PT Indonesia. Berbagai gejolak sempat beberapa kali terhembus, baik dari kalangan mahasiswa dan dosen. Segelintir mahasiswa tengah meneriakkan kontra BHP. Beberapa aspirasi tolak BHP ini pun membanjiri tembok-tembok dan buletin-buletin atau pun essay-essay lepas sampai aksi di depan gedung rektorat. Beberapa dosen yang dapat dihitung jari pun ikut bersuara walaupun hanya melalui tulisan. Pendidikan mahal jelas menjadi alasan penolakan BHP. Butir-butir dalam UU BHP seharusnya mengandung unsur keadilan, pemerataan dan kemanusiaan. Bukan malah meminggirkan rakyat miskin dengan mengusung dialektika demi kemandirian satuan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila UI, UGM, ITB dan IPB dapat dikatakan mampu secara finansial dengan berbagai pungutan mahal ataupun mengkomersialisasikan produk-produk kampus. Apakah semua Perguruan Tinggi dapat disamaratakan? Sedangkan dapat digeneralisasikan bahwa sebagian besar mahasiswa yang masuk kampus negeri sekarang ini karena secara finansial lebih murah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, penelitian-penelitian yang dapat dikatakan bisa dijadikan jalan pun kembang kempis. Penelitian yang menggandeng mahasiswa pun terkesan mahasiswa hanya sebagai robot. Entah pembelajaran atau sekadar pendapatan yang diperoleh. Bahkan beberapa skripsi pun dibuat hanya untuk sekadar lulus. Bisa dilihat hak paten UNJ tiap tahunnya, nihil. Padahal dengan mengedepankan karya-karya kreatif dan inovatif mahasiswa atau dosen dari hasil penelitian, dapat dijadikan sumber kuat PT, baik bila BHP sah ataupun tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi masuknya BHP seharusnya sudah dipikirkan dengan matang oleh jurusan-jurusan di tiap fakultas. Jurusan atau fakultas dapat berdialog untuk memikirkan nasib mereka selanjutnya. Kesinergisan pun berpeluang untuk merumuskan berbagai alternatif solusi mengenai BHP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping terus berkoar-koar untuk tolak BHP, lebih bijak bila PT sendiri sedia payung sebelum hujan BHP mulai terimplementasi secara nyata nantinya Langkah-langkah apa yang harus dipersiapkan? Apa yang dapat dijual di masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga tidak harus menaikkan SPP mahasiswa? Faktanya, di perguruan tinggi, tak semua produk inovatif dapat dikomersialisasikan. Parker dan Mainelli (2001) mencatat bahwa dari 100 ide penelitian di perguruan tinggi Amerika saja hanya 10 yang kemudian direalisasikan dalam proyek penelitian. Dari ke-sepuluh proyek ini hanya dua yang dinilai memiliki potensi komersial dan hanya satu dari keduanya yang kemudian benar-benar menguntungkan. Bagaimana dengan Indonesia? Jangan-jangan UU BHP ini hanya bagian untuk membuat pendidikan sebagai proyek peradaban (makin) terbengkalai saja. Semoga tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/nining11208.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-5556104750716080169?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/5556104750716080169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/bhp-dan-daya-jual-pt.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5556104750716080169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/5556104750716080169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/bhp-dan-daya-jual-pt.html' title='BHP dan Daya Jual PT'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-3489219926576714531</id><published>2009-05-17T23:00:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:01:09.252-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMBIAYAAN PENDIDIKAN'/><title type='text'>Pemenuhan 20 %, Kabar Baik Yang Mengkhawatirkan</title><content type='html'>Judul: Pemenuhan 20 %, Kabar Baik Yang Mengkhawatirkan&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): REZA TAOFIK &lt;br /&gt;Saya Mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta &lt;br /&gt;Topik: Anggaran Pendidikan &lt;br /&gt;Tanggal: 15 Sepember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenuhan 20 %, Kabar Baik yang Mengkhawatirkan&lt;br /&gt;Penulis : Reza Taofik &lt;br /&gt;Mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Jakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realisasi anggaran pendidikan 20 %, senantiasa menjadi menu kritikan favorit dunia pendidikan nasional selama 5 tahun kebelakang ini. Berlandas pada amanat konstitusi Negara yang menghendaki anggaran pendidikan sebesar 20 %, para pegiat pendidikan kerap berteriak dan menggugat komitmen pemerintah yang memacetkan pemenuhan anggaran pendidikan 20 %. Tetapi penantian itu kini telah berakhir, melalui pidato kenegaraannya tentang perumusan APBN 2009, pemerintah akhirnya mengabulkan amanat konstitusi 20 %. Sikap insyaf pemerintah ini muncul, sebagai akibat dari ultimatum Mahkamah Konstitusi No. 13/PUU-VI/2008 tentang inkonstitusional pemerintah terhadap UU No. 16 Tahun 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicermati lebih mendalam, apakah kesediaan pemerintah memenuhi 20 % anggaran pendidikan ini murni kesadaran atau hanya keputusan yang dipolitisir demi menaikan citra di panggung pemilu 2009? Karena mengapa baru saat menjelang pemilu 2009, pemerintah baru bersedia memenuhi janji konstitusinya. Sinyalemen lainnya dilihat dari keseriusan pemerintah yang lebih berprospek pada kesejahteraan guru, dimana 27 % rencana anggaran pendidikan APBN 2009 dikhususkan untuk kesejahteraan guru. Kesan yang ditangkap pemerintah mencari simpati pada sosok guru, padahal sarana prasarana dan fasilitas pendidikan juga perlu mendapat prioritas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bisa memberi harapan segar bagi dunia pendidikan nasional, pemenuhan anggaran pendidikan 20 % disambut skeptis oleh para pemerhati pendidikan. Timbul kekhawatiran besar dana besar ini memberi kesempatan besar pula bagi penyelewengan anggaran pendidikan. Indikasi ini berkaca pada pengalaman pengelolaan anggaran pendidikan di tahun 2007. Hasil evaluasi BPK pada semester I tahun 2007 memberikan stempel disclaimer (buruk) pada laporan keuangan departemen pendidikan. Daya serap anggaran pendidikan ini bisa dikatakan cukup minim pada semester I tahun 2007 ini, salah satu faktor penyebabnya dikarenakan ketidaktertiban catatan laporan keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak efektifnya daya serap hingga semester I tahun 2007 ini, mengharuskan pemerintah mengebut pengeluarannya pada semester II (akhir tahun anggaran). Banyak pelaksanaan proyek pemerintah yang hanya berorientasi pada pengejaran target semata yang bersifat jangka pendek. Sehingga lahir usulan dari kekhawatiran penyelewengan ini adalah perlu adanya pengawasan atas realisasi anggaran ini. Pengawasan ini diperlukan agar pengelolaan anggaran pendidikan berjalan baik, tepat sasaran alokasi dan pembelanjaannnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen pemerintah pusat untuk merealisasikan 20 % anggaran pendidikan, perlu diikuti juga dengan komitmen pemerintah daerah. Miris melihat fakta yang terjadi sekarang, hanya 10 % atau 44 Kabupaten dari 483 seluruh Kabupaten di Indonesia yang memenuhui anggaran 20 %. 90 % dari total kabupaten anggarannya dibawah 10 %, dan bahkan 10 % anggarannya dibawah 5 %. Fakta ini perlu mendapat evaluasi dan koreksi yang signifikan agar rencana realisasi 20 % anggaran di tahun 2009 tepat sasaran. Hal yang perlu diperhatikan lagi adalah pematangan konsep pembangunan pendidikan yang perlu dirancang sedemikian rupa demi orientasi jangka panjang. Besarnya anggaran pendidikan perlu diikuti dengan kerangka besar konsep pembangunan pendidikan, sehingga istilah disclaimer laporan keuangan tak terulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/reza1509.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-3489219926576714531?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/3489219926576714531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pemenuhan-20-kabar-baik-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/3489219926576714531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/3489219926576714531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pemenuhan-20-kabar-baik-yang.html' title='Pemenuhan 20 %, Kabar Baik Yang Mengkhawatirkan'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-8204179147402843750</id><published>2009-05-17T22:59:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T23:00:16.662-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMBIAYAAN PENDIDIKAN'/><title type='text'>Pendidikan Gratis tapi Mahal</title><content type='html'>Judul: Pendidikan Gratis tapi Mahal&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): User &lt;br /&gt;Saya Guru di SDN 066656 Medan &lt;br /&gt;Topik: Pendidikan Gratis Tapi Mahal &lt;br /&gt;Tanggal: 02 November 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mungkin bukan seorang praktisi pendidikan yang memiliki gelar dan pengalaman selayaknya para pengamat pendidikan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan memahami benar semua seluk beluk pendidikan, dan saya juga bukan tenaga kependidikan yang memiliki sertifikasi dan gelar sarjana kependidikan. Melainkan saya adalah tenaga pengajar yang hanya berstatus sebagai sarjana non kependidikan yang berusaha terjun dalam dunia pendidikan secara totalitas. Dalam session artikel ini saya tidak ingin mengungkapkan keluhan terhadap apa yang saya terima terlebih status yang selama delapan tahun saya bertugas nggak berubah-ubah melainkan dalam tulisan ini saya berusaha bagaimana semua orang dapat memprioritaskan pendidikan sebagai mediasi untuk bekal menjalani kehidupan dan menjadi tenaga yang expertis disela bidang permintaan dunia kerja nantinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan keputusan yang telah ditelurkan oleh pemerintah dengan menaikkan anggaran dunia pendidikan sebanyak 20% dari APBN negara tentu sebuah realitas yang luar biasa dan hal ini baru terjadi era pemerintahan bapak Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, sampai-sampai dalam menyikapi keputusan tersebut Mendiknas menyambutnya dengan air mata haru, nggak tahu harunya untuk apa, bingung dalam mengalokasikan dana tersebut atau bingung untuk menghabiskannya. Hal ini saya ungkapkan bukan pesimis dalam menyikapi fakta yang ada melainkan melihat fakta yang ada belum menunjukkan arah perubahan yang signifikan bahkan cenderung adem-adem aja. Bagaimana tidak alokasi 20% dana pendidikan hingga saat ini muaranya belum terealisasi dengan benar dan system yang cenderung saling sunat menyunat menjadikan apa yang diharapkan masih jauh dari kenyataan. Untuk itu dibutuhkan transparansi dan kerjasama antara pihak yang saling berkaitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan seharusnya berorientasi kepada peserta didik sebagai instrument akhir pembuktian atas keberhasilan pendidikan itu sendiri. Pelajar adalah objek yang harus menerima pelajaran dengan baik dan melalui kegiatan belajar mengajar mereka dapat mengenyam masa depan yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Namun permasalahannya bagaimana mereka harus belajar dengan baik jika mereka masih tetap dibingungkan oleh kebijakan yang senantiasa berubah-ubah, belum lagi permasalahan dilingkungannya yang keluh kesahnya toh bermuara kepada perekonomian keluarga dan berikut pernak pernik lainnya sebagai suatu permasalahan yang kompleks. Kompleksitas permasalahan yang ada menjadikan mereka sebagai generasi yang kerdil dan tidak siap dengan perubahan yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman yang saya rasakan selama bertugas disalah satu sekolah dasar negeri di kota Medan. Rhytme harian proses belajar mengajar yang saya rasakan belum begitu interaktif dan komunikatif bahkan cenderung monoton. Dari satu sisi sebagai pelaksana dari proses KBM tentu maunya hasil yang dituai nantinya mendekati 100%, namun bagaimana bisa bila sianak didik pergi kesekolah masih terbebani oleh permasalahan ekonomi keluarganya dirumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/penulis1108.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-8204179147402843750?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/8204179147402843750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-gratis-tapi-mahal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/8204179147402843750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/8204179147402843750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/pendidikan-gratis-tapi-mahal.html' title='Pendidikan Gratis tapi Mahal'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-1093044399777910975</id><published>2009-05-17T22:58:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T22:59:25.735-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMBIAYAAN PENDIDIKAN'/><title type='text'>BHP dan PSB</title><content type='html'>Judul: BHP dan PSB&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Ridza Gandara &lt;br /&gt;Saya Mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia &lt;br /&gt;Topik: kajian Isu Terkini Seputar BHP dan PSB &lt;br /&gt;Tanggal: 8 Juli 2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Masa sih masuk sekolah harus bayar 30 juta ?' 'Eit, ini beneran lho De, kalo ntar Dede ditagih bayarnya pake apa nih ?' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah buah percakapan antara seorang anak dengan saudaranya yang sudah dewasa dalam sebuah ruang tunggu di kantor Ibu anak tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu Terkini Seputar BHP &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana perkembangan Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP) telah dirasakan cukup oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) hingga hari Senin kemarin telah ada kontak dengan Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU BHP dari Komisi X DPR RI, Dr. Anwar Ariefin yang menjabat pula sebagai pimpinan Komisi X DPR RI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat, perkataan Pak Malik Fajar saat menjadi Mendiknas di era Mbak Mega, bahwa ia menyatakan tidak apa bila menterinya diganti, asalkan sistemnya tidak dirusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apabila saat ini kebijakan pendidikan, RUU BHP yang dahulu telah digarap Depdiknas oleh suatu tim khusus yang akhirnya menyatakan siap membahas bersama Panja RUU BHP, itulah salah satu indikator dimana mereka masih menggunakan draft RUU yang terus dimodifikasi sejak digagas pada era pemerintahan Pak Malik Fajar di Depdiknas; dan mereka memang tidak merusak sistem yang ada dalam Depdiknas, akan tetapi mereka, dalam kepemimpinan Mendiknas Bambang Sudibyo hanya memodifikasi elemen-elemennya saja agar menjadi layak dipakai,seperti yang mereka lakukan terhadap draft RUU BHP versi Juli 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, beragam isu persoalan yang masih melekat dalam RUU BHP pada masa kini adalah; 1) konsep otonomi perguruan tinggi vs komersialisasi pendidikan tinggi; 2) eksistensi yayasan dan lembaga penyelenggara pendidikan tinggi dari unsur masyarakat; 3) tanggungjawab pemerintah terhadap pendidikan tinggi; 4) kelayakan implementasi BHP-Milik Negara atas seluruh satuan pendidikan formal (TK,SD,MI,SDLB,SMP,Mts,SMPLB,SMA,SMK,SMALB,MA dan MAK); 5) kontroversi audit keuangan dan pelaporan BHP; 6) keterlibatan Notaris sebagai legalisator akta BHP bersama Mendiknas; 7) ekses miss-leading BHP berpotensi mengeksploitasi dana masyarakat; 8) eksistensi model administrasi dan pola manajerial lembaga pendidikan BHP; 9) ekses utang-piutang biaya penyelenggaraan BHP; 10) eksistensi dan sustainabilitas jaminan pendidikan formal yang bermutu dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi; 11) kesiapan sumber daya kependidikan menjelang pemberlakuan BHP; 12) kewajiban Pendidikan Tinggi terhadap negara dan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, demikianlah kiranya isu seputar BHP yang masih umum, namun dapat dipaparkan dengan jelas ketika diadakan sebuah lokakarya atau mimbar ilmiah yang tepat mengenainya dalam sebuah forum yang mencakup perwakilan stakeholder pendidikan formal nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Harta di Masa Rekrutmen Peserta Didik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, bahwa harta yang merupakan aset bagi penyelenggaraan pendidikan formal adalah benar. Tidak dapat dipungkiri bahwa peran aset berbentuk; 1) uang, sebagai alat tukar yang sah; 2) tanah dan bangunan; 3) alat mobilisasi, transportasi dan komunikasi dan hal lainnya yang memiliki nilai khusus untuk ditukar dengan suatu produk berupa jasa dan benda adalah sangat penting bagi pelaksanaan fungsi administrasi kependidikan yang dimulai sejak; persiapan, assesmen, desain, permodelan, implementasi, hingga monitoring dan evaluasi serta supeevisi program kependidikan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal yang sangat penting dan harus dijadikan prinsip utama dalam penyelenggaraan pendidikan formal di Indonesia sebagai salah satu pengejawantahan amanat UUD 1945 hasil amandemen dalam konteks pendidikan adalah tidak ada instruksi jual-beli pendidikan dalam pendidikan nasional. Artinya, saat sistem pendidikan yang bersifat nirlaba dan berorientasi pelayanan publik, dalam tataran input pendidikan, tidak dibolehkan ada penawaran harga (apalagi tinggi) dari semua pihak; baik dari pihak penyelenggara atau pihak masyarakat yang akan menjadi calon peserta didik atau calon pendukung peserta didik dalam hal penerimaan peserta didik baru (lebih dikenal PSB atau Penerimaan Siswa baru). Begitu pula halnya saat masa Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di seluruh lembaga pendidikan tinggi. Namun, agak sulit kiranya dalam mekanisme Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang diatur oleh Forum Rektor sebagai media rekrutmen peserta didik untuk lembaga pendidikan tinggi yang mereka kelola saat ini di seluruh wilayah Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jual-beli bangku sekolah atau bangku kuliah bisa saja terjadi sebagai suatu indikator jual-beli pendidikan, namun tidak demikian stigma bagi SPMB, karena sistem SPMB hanya memberikan akses kontak yang terbatas antara PTN dengan masyarakat, hingga anomali yang muncul, paling seputar; 1) joki peserta SPMB; 2) jual kelulusan SPMB (tapi kasus yang satu ini sulit dibuktikan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, masalah jalur Penelusuran Minat Dan Keahlian (PMDK) yang digagas pada era kepemimpinan Dr. A.M. Satari pada Institut Pertanian Bogor (IPB) sehingga diadaptasi secara nasional, hal ini masih memiliki integritas yang cukup baik, kecuali pada beberapa PTN atau bahkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang menggunakan label PMDK untuk melakukan penjaringan calon mahasiswa dengan atau tanpa tes ujian saringan masuk, namun para oknum dalam PTN atau PTS tersebut mengeruk uang dari banyaknya calon mahasiswa yang melamar ke lembaga pendidikan tinggi mereka, misalnya dengan nominal RP 50.000,-, tapi sang pelamar tidak masuk PTN tersebut, sebaliknya di PTS bisa saja diterima, karena faktor sumbangan nominal yang lebih besar dapat memiliki pengaruh yang signifikan bagi keputusan untuk menerima sang pelamar tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, adanya jenis PMB dengan istilah jalur khusus, pada kenyataannya merupakan inisiatif penyelenggara pendidikan dengan alasan subsidi silang; dimana para calon peserta didik yang memiliki uang yang dapat disetorkan kepada mereka dalam nilai rupiah yang pas, maka sang pelamar akan langsung diterima di lembaga mereka dengan memenuhi kriteria; 1) memiliki nilai akademik yang layak (sebagai bukti obyektif bahwa dia pintar); 2) memiliki kemampuan mengikuti tes kelayakan (sebagai bukti otentik bahwa dia juga diuji). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, pada saat kalangan tertentu mempertanyakan tentang, mengapakah harus membayar mahal untuk memasuki lembaga pendidikan ? atau mengapakah sepertinya, ada transaksi jual-beli bangku seperti itu ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pihak penyelenggara jalur khusus itu dapat dengan mudah berargumen, bahwa tidak ada komersialisasi atau praktik jual-beli pendidikan, seperti yang ditanyakan kepada mereka, karena mereka menerima calon peserta didik yang pintar dan mengikuti ujian seleksi pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, saat ditanya, mengapakah calon harus membayar sekian rupiah, lalu diterima ?. Maka, mereka akan mengemukakan bukti adanya calon yang sanggup membayar lebih besar, namun sang calon tidak memiliki nilai akademik yang layak dan hasil tes seleksi yang cukup, maka ia pun tidak mereka terima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, akan sangat kentara kesan, tidak ada komersialisasi pendidikan dalam lembaga mereka, meskipun sesungguhnya, mereka tak mungkin menerima calon peserta didik yang hanya mampu membayar sumbangan pengembangan; admission fee, tuitition fee, atau apapun istilah yang dipergunakan guna menamai fungsi uang yang disetor kepada mereka itu, jika hanya berjumlah Rp 500.000,-. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Institut Teknologi Bandung (ITB) eks Technichse Hogeschool ini, pada 2007 memiliki istilah sumbangan pengembangan akademik pada jalur penerimaan USM (Ujian Saringan Masuk) dengan nilai rupiah sebesar Rp 45.000.000,- untuksetiap program studi S-1, kecuali untuk Sekolah Manajemen dan Bisnis, Rp 60.000.000,-. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah dengan satuan pendidikan tingkat kanak-kanak, pendidikan dasar dan menengah ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah SD yang dikelola oleh unsur kelompok masyarakat, memiliki nominal biaya PSB sebesar Rp 8.000.000,-, tapi jika pendaftar memenuhinya pada masa penerimaan gelombang I, maka akan di-discount sebesar Rp. 1.000.000,- dan pada gelombang II, discount-nya hanya RP. 500.000,- saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada yang lebih hebat lagi, lembaga pendidikan swasta di Jakarta Selatan, menampakkan nominal biaya masuk untuk satuan pendidikan setingkat TK sebesar Rp 35.000.000,- dan yang setingkat SD berbayar Rp 40.000.000,-. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Wah, ini aktifitas jualan produk atau aktifitas pembiayaan layanan nirlaba nih ?' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, bila untuk sekolah yang berada di hutan dan daerah terpencil, yang gurunya itu relawan lulusan universitas, kemudian tidak ada biaya PSB yang harus dibayar dengan uang, akan tetapi masyarakat di sana hanya memberikan umbi hutan saja, sesungguhnya tidak perlu ada nilai harta berupa uang dalam jumlah besar saja untuk mendapatkan pendidikan yang mencerdaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Bagaimanakah menurut pendapat Anda tentang semua ini ?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0707ridza.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-1093044399777910975?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/1093044399777910975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/bhp-dan-psb.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1093044399777910975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1093044399777910975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/bhp-dan-psb.html' title='BHP dan PSB'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-2413482179939303104</id><published>2009-05-17T22:57:00.001-07:00</published><updated>2009-05-17T22:57:56.436-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMBIAYAAN PENDIDIKAN'/><title type='text'>RUU-BHP BELUM SAH</title><content type='html'>Judul: RUU-BHP BELUM SAH&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): zulkarnain patunrangi &lt;br /&gt;Saya Mahasiswa di palu sulteng &lt;br /&gt;Topik: ss &lt;br /&gt;Tanggal: 8 Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUU-BHP BELUM SAH &lt;br /&gt;SDOPT UNTAD JALAN LURUS &lt;br /&gt;Oleh : Zulkarnain Patunrangi* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya pendidikan makin mahal, Rancangan Undang-Undang badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) belum disahkan akan tetapi pungutan dan biaya dibebankan kepada masyarakat (calon mahasiswa baru) sudah di terapkan di Universitas Tadulako sejak 2003 dan kemungkinan akan berlanjut sampai batas waktu yang tidak ditentukan, dengan alasan Sumbangan dana persiapan otonomi kampus (SDOPT). Bukankah ini membebani masyarakat dalam mendapatkan pendidikan yang layak?. Mungkin, belum ada survei atau penelitian berapa banyak calon mahasiswa yang tidak mampu untuk membayar biaya yang dikenakan kepadanya dalam menikmati universitas terbesar di Sulteng? Ataukah memang pendidikan sengaja diperuntukkan kepada orang-orang yang mampu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau penulis mencermati rencana mem-BHP-kan lembaga pendidikan adalah upaya komersialisasi dan tak lebih dari representasi neoliberalisme. Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) dituding berada di balik rencana ini. Ini jelas agenda neoliberalisme, pemerintah terlihat ingin cuci tangan dari tanggung jawabnya pada pembiayaan pendidikan. Seharusnya pemerintah tidak boleh lepas tangan sama sekali. Pada akhirnya memberi batas alokasi minimal pada pembiayaan pendidikan sebesar 20%, dalam RUU BHP tidak terdapat kewajiban pemerintah untuk memberi dana rutin. Ujung-ujngnya nanti hanya orang kaya yang bisa masuk. Lama-lama tidak akan terjangkau oleh orang yang tidak mampu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakekatnya masyarakat mengetahui bahwa mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan itu tidak murah. Butuh biaya. Akan tetapi tidak harus mahal dan membebani kepada masyarakat. Penulis mempertanyakan bagaimana kondisi sosial masyarakat kita saat ini?. Apa sudah mampu untuk menanganinya dengan biaya yang cukup mahal?. Disisi lain harus memenuhi kebutuhan kesehariannya?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakekatnya Badan Hukum Perguruan Tinggi (BHPT), tidak harus membebani klien-nya (mahasiswa) akan tetapi bagaimana kreatifitas pada pucuk pimpinan untuk menghidupi institusinya dan mendapatkan dana sebesar-besarnya, inilah yang terkadang memberi interpretasi yang salah, utamanya kepada orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari bisnis Perguruan Tinggi. Sehingga masyarakatlah yang dijadikan korban dalam mendapatkan keuangan demi menghidupi perguruan tinggi. Mulailah dibebani dengan alasan pembayaran- pembayaran yang dapat meloloskan anaknya untuk masuk ke Universitas. Mengikut pembayaran Biaya operasional pendidikan (BOP) serta SPP yang mahal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2010 pemerintah mencanangkan otonomi pada semua perguruan tinggi negeri. Ini akan memberi dampak negatif kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Transisi inilah nantinya akan membenani biaya kepada masyarakat, karena selama ini perguruan tinggi negeri tergantung kepada pemerintah. Dengan menguras kantong masyarakat untuk menjadikan BHPT di Untad pada tahun 2010 bukanlah solusi yang tepat, karena kondisi masyarakat saat ini belum mampu untuk memberi biaya sepenuhnya kepada universitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SDOPT yang berasal dari masyarakat bukanlah solusi tepat dalam menjalakan otonomi kampus pada tahun 2010. Kesiapan kampus dalam memberi pelayanan dan fasilitas lengkap serta out-putnya juga harus dipertanyakan dan menjadi hal yang utama. Jangan sampai kampus untad hanya menjadi tempat komersialisasi dan tidak merakyat. Kemampuan analisis masa depan sekaligus manajemen perubahan yang handal mutlak diperlukan pada pimpinan di Untad utamanya senat selaku lembaga pengontrol kebijakan pimpinan. Selain itu, kemampuan sosial pun wajib dimiliki demi membangun komunikasi yang cerdas, elegan, dan egaliter dengan semua pihak yang terkait dengan universitas seperti dosen, karyawan, dan mahasiswa yang berjumlah lebih dari 15.000 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis menilai Kebijakan mengenai pungutan SDOPT di Untad adalah hal yang sangat memberi beban kepada masyarakat dengan tidak melihat kondisi dan keberadaan masyarakat. Kebijakan ini juga belum ada evaluasi bagaimana perkembangannya apakah telah memenuhi standarisasi terhadap pelayanan di perguruan tinggi dan kondisi ekonomi calon mahasiswa? Begitupula dengan pembuatan kebijakan yang telah diterapkan selama empat tahun terakhir damana kebijakan ini tidak ada legitimasi atas anggota senat. Seharusnya senat dan pimpinan di Untad meninjau kembali keputusan ini sebelum di berlakukan kepada calon mahasiswa mahasiswa tahun 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, bentuk apa pun suatu perguruan tinggi, selama dimaksudkan untuk memperluas akses masyarakat mendapatkan pendidikan, semakin bagus dan Saat Sekarang kita tinggal menunggu suara senat selaku lembaga yang representatif perwakilan civitas akademika untuk memperjuangkan masyarakat kecil untuk tetap mendaptakan kursi di UNTAD? Serta kebijakan pimpinan UNTAD untuk meninjau kembali keputusan tentang SDOPT dan jangan sampai mengundang protes masyarakat dengan berteriak, "Orang miskin dilarang kuliah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0707zulkarnain.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-2413482179939303104?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/2413482179939303104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/ruu-bhp-belum-sah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2413482179939303104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/2413482179939303104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/ruu-bhp-belum-sah.html' title='RUU-BHP BELUM SAH'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-6771336648919812480</id><published>2009-05-17T22:56:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T22:57:04.906-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMBIAYAAN PENDIDIKAN'/><title type='text'>Mahalnya Biaya Pendidikan Sekarang ini</title><content type='html'>Judul: Mahalnya Biaya Pendidikan Sekarang ini&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Putri Sandra N &lt;br /&gt;Saya Mahasiswi di Universitas Negeri Malang &lt;br /&gt;Topik: Biaya Pendidikan &lt;br /&gt;Tanggal: 06 Juni 2007   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan faktor kebutuhan yang paling utama dalam kehidupan. Biaya pendidikan sekarang ini tidak murah lagi karena dilihat dari penghasilan rakyat Indonesia setiap harinya. Mahalnya biaya pendidikan tidak hanya pendidikan di perguruan tinggi melainkan juga biaya pendidikan di sekolah dasar sampai sekolah menengah keatas walaupun sekarang ini sekolah sudah mendapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) semuanya masih belum mencukupi biaya pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan di Indonesia masih meupakan investasi yang mahal sehingga diperlukan perencanaan keuangan serta disiapkan dana pendidikan sejak dini. Setiap keluarga harus memiliki perencanaan terhadap keluarganya sehingga dengan adanya perencanaan keuangan sejak awal maka pendidikan yang diberikan pada anak akan terus sehingga anak tidak akan putus sekolah. Tanggung jawab orang tua sangatlah berat karena harus membiayai anak sejak dia lahir sampai ke jenjang yang lebih tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahalnya biaya pendidikan sekarang in dan banyaknya masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan sehingga tidak begitu peduli atau memperhatikan pentingnya pendidikan bagi sang buah hatinya, sehingga membuat anak putus sekolah, anak tersebut hanya mendapat pendidikan sampai pada jenjang sekolah menengah pertama artau sekolah menengah keatas. Padahal pemerintah ingin menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. Jika masalah ini tidak mendapat perhatian maka program tersebut tidak akan terealisasi. Banyak anak yang putus sekolah karena orng tua tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kami berharap pada pemerintah untuk memberikan kebijakan dan peduli terhadap pendidikan dan masyarakat Indonesia, karena sekarang ini bangsa Indonesia banyak mengalami problema khususnya problema bencana alam yang mengakibatkan rusaknya lembaga pendidikan. &lt;br /&gt;Saya Putri Sandra N setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0607putri.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-6771336648919812480?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/6771336648919812480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/mahalnya-biaya-pendidikan-sekarang-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6771336648919812480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/6771336648919812480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/mahalnya-biaya-pendidikan-sekarang-ini.html' title='Mahalnya Biaya Pendidikan Sekarang ini'/><author><name>chandra blog danger area</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12365409302713241761</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__-sWbl1rpuE/SaJPY3YWt1I/AAAAAAAAAAc/fe4Us_n8g5E/S220/_CuTe+angeL_(481).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4374489117210903020.post-1335886639581041598</id><published>2009-05-17T22:54:00.002-07:00</published><updated>2009-05-17T22:56:06.658-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMBIAYAAN PENDIDIKAN'/><title type='text'>Permasalahan Pendidikan Sekarang Ini</title><content type='html'>Judul: Permasalahan Pendidikan Sekarang Ini&lt;br /&gt;Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;Nama &amp; E-mail (Penulis): Wulan Agustin Herdiana &lt;br /&gt;Saya Mahasiswi di Universitas Negeri Malang &lt;br /&gt;Topik: Masalah Pendidikan &lt;br /&gt;Tanggal: 6 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERMASALAHAN PENDIDIKAN SEKARANG INI  &lt;br /&gt;Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tecermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang anggaran pendidikan ini memang sangat dilematis. Dalam kenyataannya, permasalahan utama sebenarnya bukan pada nilai anggaran saja. Hal ini terbukti bahwa meskipun anggaran kita kurang dari angka 20 persen dari APBN. Tetapi dalam hal ini pemerintah berusaha menaikkan anggaran pendidikan dari tahun ke tahun. Pertanyaannya adalah bahwa, apakah kenaikan anggaran itu telah dapat mendongkrak pencapaian hakikat penyelenggaran pendidikan itu sendiri? Belum lagi adanya berbagai penyalahgunaan anggaran pendidikan, mulai dari masih maraknya pungutan liar dari tingkat perguruan tinggi sampai dengan penyelewengan dana BOS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan angaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pingiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa masalah utama pendidikan kita saat ini yang perlu dicermati, yaitu rendahnya kualitas SDM pendidikan dan sistem pendidikan yang kita pakai. Banyaknya pelajar Indonesia masih belajar dalam taraf menghafal saja. Dimana hanya berbekal hafalan tidak membuat tambahnya suatu kecerdasan maupun tambahnya kedewasaan seseorang.Untuk mengatasi masalah itu, perlu usaha keras dari pelajar, pangajar, dan pemerintah sebagai pemegang berwenang dan mengelola dana. Bagaimana agar pelajar dapat mengembangkan potensi yang dimiliki para anak didik melalui kendali dan kontrol dari guru. Sedangkan pemerintah sebagai penyedia sarana dan prasarana ada upaya agar tercukupi. Dengan buruknya sarana dan prasarana pendidikan dan kurikulum yang kurang efektif. Semua itu berasal dari hal yang terpisah-pisah, yaitu sistem pendidikan dan taraf kemampuan SDM pendidikan.Untuk meningkatkan alokasi dana pendidikan yang memadai dengan meletakkan pembangunan pendidikan sebagai perioritas pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dengan meningkatkan kesejahteraan dan penghargaan terhadap peran guru sebagai pilar utama pendidikan dan pembangunan bangsa. Posisi guru dan pendidik harus dihargai sebagai profesi yang mulia. Namun, peningkatan kesejahteraan guru ini tidak hanya meningkatkan gaji saja, melainkan pada saat yang sama mutu pendidikan harus lebih meningkat. Tanggung jawab sejauh mana kontrol guru terhadap murid, terhadap proses belajar mengajar. Apakah anak didik telah mampu menerima materi yang disampaikan hingga dapat bermanfaat sebagai bekal hidup dan matinya. Karena itu, sistem penggajian harus dikaitkan dengan peningkatan kinerja dan kepribadian pengajar.&lt;br /&gt;http://re-searchengines.com/0607wulan.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4374489117210903020-1335886639581041598?l=umakrenzbetdah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/feeds/1335886639581041598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blogspot.com/2009/05/permasalahan-pendidikan-sekarang-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1335886639581041598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4374489117210903020/posts/default/1335886639581041598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umakrenzbetdah.blog
